NovelToon NovelToon
Gadis Culun Milik Tuan Marco

Gadis Culun Milik Tuan Marco

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lily Quinza

NOVEL INI MENGANDUNG BACAAN DEWASA || PILIHLAH BACAAN YANG BIJAK. DILARANG PLAGIARISME!

JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM: LilyQuinza || info update visual disana yah 🥰❤

"Liora, mungkin ini semua salah mengingat aku Pamanmu, tapi, jika mengingat kita tak sedarah, aku tidak perduli!"

"MarcoI—itu apa?"

"Kau harus membiasakan diri baby, cobalah berkenalan dengannya."

"Gila benda itu tidak akan cukup jika—"

"Ssstttt, Cobalah... "

"Ini sakit!"

"Sial! Kau sangat cantik saat kau tidak memakai kacamata itu!"

"Berhenti menggodaku, aku bisa gila Marco!"

Liora adalah gadis culun yang selalu menyembunyikan kecantikannya di balik kacamata tebal, pakaian sederhana, dan sikap pemalu. Ia hanya ingin menjalani kehidupan kampus dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, semua berubah karena Marco.

Marco adalah adik angkat ibu kandung Liora yang usianya hanya terpaut lima tahun darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Suasana pagi di Amsterdam semakin terasa saat jalanan dipenuhi pejalan kaki yang menikmati sinar matahari di musim semi. Deretan pesepeda berlalu-lalang dengan tertib, sementara suara lonceng sepeda dan percakapan ringan terdengar bersahutan di sepanjang kanal.

Ntah, sejak kapan ia menyukainya. Karena saat ia tinggal bersama Audrey, ia tidak merasakan kebebasan seperti saat ini.

Bahkan saat gadis itu kuliah pun, ia hanya berjalan kaki.

"Aku suka, ini sangat indah" gumamnya pelan.

Marco tertegun menatap Liora seperti seseorang yang tidak pernah mengetahui seisi kota ini. Padahal mereka tinggal tak jauh.

"Kau tahu? Jika malam hari, ini akan lebih indah."

"Benarkah?"

Marco mengangguk. "Ya, tapi kalau kau masih kuat untuk berkeliling menggunakan sepedamu itu."

Mata Liora menyipit tajam. "Hmmm, sepertinya kau sedang mengataiku."

Belum sempat percakapan mereka berlanjut, suara perempuan memanggil dari kejauhan, membuat keduanya menoleh cepat.

"Hai, Marco!"

Pria itu menoleh ke arah sumber suara itu, lalu matanya membulat saat tahu itu siapa.

"Shelly?"

Seorang wanita muda berjalan menghampiri mereka dengan senyum cerah yang menghiasi wajahnya cantik.

Gadis itu berambut pirang kecokelatan sedikit bergelombang, mengenakan mantel krem dipadukan gaun biru muda. Penampilannya anggun dan menarik perhatian banyak orang yang melintas.

Begitu sampai di hadapan Marco, Shelly tersenyum lebar.

"Astaga, ini benar-benar kau! Sudah lama sekali kita tidak bertemu."

Marco membalas cepat, "Aku juga tidak menyangka bertemu denganmu di sini."

Shelly tertawa kecil. "Terakhir kita bertemu setelah kelulusan S1 yah?"

Marco berdehem. "Hmm sepertinya begitu."

Liora yang berdiri di samping mereka hanya memperhatikan dalam diam.

Shelly menatap Marco beberapa saat, lalu mengatakan, "Kau tidak berubah sama sekali. Masih sama seperti waktu kuliah dulu."

Marco terkekeh pelan. "Begitu juga denganmu."

'Mereka terlihat sangat akrab,' batin gadis itu.

Shelly kemudian berkata sambil tersenyum jahil, "Aku masih mengingat dulu hampir semua mahasiswi di kampus mengagumimu."

Marco menghela napas pelan. "Jangan memulainya."

"Tapi itu memang kenyataannya."

Shelly tertawa pelan. "Dulu kau sangat populer. Banyak yang mencoba mendekatimu."

Liora yang mendengar itu diam-diam melirik Marco. "Wo,jadi dia memang seterkenal itu sejak kuliah?"

"Aku bahkan sempat sering makan siang bersamamu."

Marco mengangguk, "Ya, kau selalu makan bersamaku."

"Semua orang waktu itu mengira kita sedang berpacaran."

"Itu Hanya rumor." sahutnya.

Shelly menimpalinya. "Benar. Padahal kita hanya berteman dekat."

Entah mengapa. Kalimat 'berteman dekat' justru membuat dada Liora terasa sedikit sesak. Ia menundukkan kepala sambil memainkan tali kameranya.

Sementara itu, Marco dan Shelly masih mengenang masa-masa kuliah mereka. Dan keduanya larut dalam percakapan masing-masing.

"Masih ingat Profesor Hendrick?" tanya Shelly.

Marco langsung tertawa.

"Yang selalu menyuruhku presentasi mendadak?"

"Iya! Dan kau selalu bisa menjawab semuanya. Kau sangat hebat Marco."

Mereka tertawa bersama. Liora melirik jam di ponselnya. Beberapa menit berlalu. Percakapan mereka belum juga selesai.

Liora mulai bosan, ia memilih pergi. "Aku seperti tidak dianggap ada."

Ia membunyikan bel sepedanya pelan.

Ting. Namun, suara itu tenggelam oleh keramaian jalan.

Shelly masih berbicara seolah tanpa basa basi. "Jujur saja, Marco, dulu aku sempat menyukaimu."

Mata Marco membulat, "Dan kau baru mengatakan sekarang?"

"Ya, karena sekarang sudah tidak ada gunanya disembunyikan."

Ia mengangkat bahu santai. "Tapi kau terlalu sulit didekati. Kau selalu baik kepada semua orang, tapi tidak pernah memberi harapan lebih kepada mereka."

Marco hanya tersenyum kecil tanpa menanggapi lebih jauh. Ucapan itu justru membuat Liora semakin tidak nyaman.

Ia menggigit pelan bibir bawahnya.

"Tidak seharusnya aku marah kan, ini perasaan yang aneh."

Tanpa sadar, ia menaiki sepedanya. Dan berjalan lebih dulu, "Aku jalan dulu paman."

Marco langsung menoleh. Ia melupakan jika dirinya sedang bersama Liora.

"Liora?" panggilnya.

"Aku ingin mencari spot foto paman."

Nada suaranya terdengar tenang, tetapi Marco menangkap perubahan ekspresi di wajahnya.

Shelly mengikuti arah pandangan Marco.

"Apa dia temanmu?"

"Dia keponakanku."

Shelly menyapa gadis itu, "Halo. Maaf ya, aku terlalu asyik bernostalgia dengan pamanmu."

Liora membalas dengan senyum sopan.

"Tidak apa-apa bibi." Namun, setelah mengucapkannya, ia langsung mengayuh sepedanya perlahan menjauh.

Marco memperhatikan punggung gadis itu beberapa saat. Ada sesuatu dalam langkah Liora yang terasa berbeda. Seolah menyimpan perasaan yang tidak ingin diperlihatkan.

Marco kembali menoleh kepada Shelly.

"Maaf, Shelly. Senang bertemu denganmu, tapi aku tidak bisa membiarkannya pergi sendirian."

Shelly mengikuti arah pandangan Marco, lalu tersenyum kecil. "Pergilah."

Ia mengangguk pelan. "Jangan buat gadis manis itu menunggu terlalu lama."

Marco sedikit terdiam, lalu mengangguk.

"Sampai jumpa lagi."

"Sampai jumpa."

Marco segera mengayuh sepedanya menyusul Liora yang sudah berada beberapa puluh meter di depan.

Sementara Shelly memandang kepergian mereka dengan senyum tipis.

"Jadi, akhirnya ada seseorang yang bisa membuatmu pergi lebih cepat ya Marco, kau bahkan tidak terlihat seperti paman, dan keponakan, semoga aku tidak salah." gumamnya pelan sambil berbalik melanjutkan langkahnya.

***

Marco akhirnya berhasil menyusul Liora di sebuah jembatan kecil yang membentang di atas kanal. Gadis itu menghentikan sepedanya di tepi pagar besi, berpura-pura sibuk memotret air kanal yang tenang dan bunga-bunga di tepi kanal.

"Liora," panggil Marco pelan.

Tak ada jawaban.

"Liora."

"Ya paman?" sahutnya singkat tanpa menoleh.

"Apa kau marah?"

"Tidak." Jawaban itu singkat.

Justru karena terlalu singkat, ia tahu Liora sedang menyembunyikan sesuatu

"Kalau kau tidak marah, kenapa kau pergi meninggalkanku?"

Liora akhirnya menoleh. Kedua pipinya sedikit menggembung menahan kesal. "Aku bosan berdiri di sana, mendengar paman dan bibi itu saling bercerita."

"Hanya itu?"

"Iya."

Marco menatapnya beberapa saat. "Liora. Kau tidak pandai berbohong."

Liora mendengus pelan. "Memangnya kenapa kalau aku kesal?"

"Jadi memang benar kau marah kepadaku."

Liora langsung berkacak pinggang. "Bagaimana bisa, kau berbincang dengan bibi itu lalu aku hanya menonton kalian yang sedang asyik."

Marco hendak menyela, tetapi Liora lebih dulu melanjutkan.

"Aku berdiri di sana seperti patung. Kalian tertawa, mengobrol, mengenang masa kuliah. Bahkan aku sampai membunyikan bel sepeda dua kali. Paman tidak mendengarnya. Tapi kalian sama sekali tidak memperhatikanku."

Marco mengusap tengkuknya yang tidak gatal, "Aku memang salah."

Liora memalingkan wajah. "Dia cantik paman."

Marco mengernyit. "Siapa?"

"Bibo Shelly."

Liora menggigit bibir bawahnya pelan.

"Dia cantik, anggun, pintar. Teman kuliahmh lagi. Kurasa, kalian memang terlihat cocok."

Kalimat terakhir itu terdengar jauh lebih lirih.

Entah mengapa, mengucapkannya saja membuat dada Liora terasa sesak.

Marco memandang gadis itu beberapa saat. Tapi ia tahu Liora seperti gadis yang sedang cemburu.

"Liora."

"Hm?"

"Apa kau cemburu?"

Liora menaikkan alis tebalnya. "Cemburu? Cemburu pada pamanku sendiri. Itu mustahil!"

"Aku dan Shelly memang pernah dekat saat kami menjadi mahasiswa." Marco mengangguk. "Tapi hanya sebagai teman."

"Lalu dia pernah menyukaimu kan paman? "

"Iya."

"Dan kau?"

"Aku tidak pernah menjalin hubungan dengannya."

Liora terdiam. Suasana mendadak hening. Angin musim semi berembus lembut di antara mereka.

Liora menundukkan kepala. "Maaf." ucapnya.

Marco menggeleng pelan. "Tidak. Seharusnya aku yang minta maaf."

Ia menatap Liora dengan sungguh-sungguh.

"Aku mengajakmu keluar hari ini."

Liora perlahan mengangkat wajah. "Artinya, seharusnya perhatianmu ada padaku, bukan pada orang lain."

Jantung Liora berdegup sedikit lebih cepat.

Marco tersenyum tipis. "Aku terlalu larut bernostalgia sampai membuatmu merasa diabaikan."

Liora menggigit bibirnya pelan. Ia kehabisan kata-kata.

Marco mengangkat satu tangan sebagai tanda menyerah. "Sebagai permintaan maaf,"

Liora menatap pria itu lekat-lekat.

"Kau boleh memilih apa pun yang ingin kau beli."

Liora masih berusaha mempertahankan wajahnya kesal. "Benarkah?"

"Benar."

"Jika begitu aku menginginkan es krim, lalu naik perahu menyusuri kanal, Makan stroopwafel lagi?"

Marco tertawa kecil. "Kau boleh meminta apapun."

Liora akhirnya tidak mampu lagi menahan senyumnya. "Hmmmm, anggap saja aku memaafkanmu."

"Terimakasih."

Meski begitu, jauh di dalam hati Liora, masih tersisa satu pertanyaan yang terus mengganggunya. Mengapa melihat Marco bersama wanita lain terasa begitu mengusik hatinya? Dan mengapa ia merasa begitu lega saat mendengar bahwa pria itu tidak pernah memiliki hubungan dengan Shelly?

Liora dan Marco kembali mengayuh sepeda mereka. Suasana yang sempat canggung perlahan mencair, meski sesekali Liora masih terlihat sedikit kesal.

"Jangan marah lagi!"

Liora mengangguk, saja. Tapi dihatinya masih terasa kekesalan itu.

Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah kawasan kanal yang lebih tenang. Di sepanjang tepinya berjajar bangku kayu dan pohon-pohon rindang yang menaungi para pejalan kaki.

Marco menghentikan sepedanya di depan sebuah toko kecil

"Tunggu sebentar."

Liora mengernyit bingung. "Mau ke mana?"

"Jangan kabur."

Liora mendengus. "Aku bukan anak-anak"

Marco tersenyum miring, sebelum masuk ke kios itu. Beberapa menit kemudian ia kembali sambil membawa dua cup es krim.

"Ini."

Liora menatap es krim rasa vanila dan stroberi yang diberikan kepadanya. "Untukku?"

"Kau mengatakan jika kau menginginkan es krim."

"Terimakasih."

Ia menerima es krim itu lalu menggigitnya sedikit. "Hmm... Ini enak."

Melihat ekspresi puas gadis itu, Marco ikut senang. "Ternyata mudah sekali membuatmu tidak marah."

Liora langsung menatapnya tajam. "Jangan salah."

Marco mengangkat sebelah alis. "Aku memaafkanmu karena kau minta maaf dengan tulus."

"Es krimnya tidak berpengaruh?"

"Hanya sedikit."

Keduanya tertawa pelan. Setelah menghabiskan es krim, mereka duduk di bangku kayu menghadap kanal. Beberapa perahu wisata melintas perlahan, membawa para turis yang menikmati keindahan kota Amsterdam.

Liora mengeluarkan ponselnya. "Paman."

"Hm?"

"Ayo kita selca."

"Lagi?"

"Iya."

"Baiklah."

Liora mengangkat ponselnya tinggi-tinggi.

"Senyum."

Marco memberikan senyum tipis.

Klik.

Liora melihat hasil fotonya lalu tersenyum puas. "Kali ini bagus."

Tanpa berpikir panjang, ia mengunggah foto itu ke Instagram Story dengan latar kanal Amsterdam dan menambahkan tulisan kecil,

'Bersepeda keliling Amsterdam hari ini. Lelah, tapi menyenangkan.' 🚲🌷

1
Lilyyy
HALLO GUYS, JANGAN LUPA BERIKAN ULASAN YA JIKA BERKENAN TRIMAKASIH UNTUK YANG SUDAH MAMPIR 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!