NovelToon NovelToon
Permainan Takdir

Permainan Takdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Contest / Peningkatan diri-peningkatan identitas/sifat protagonis / Tamat
Popularitas:966.4k
Nilai: 5
Nama Author: cietyameyzha

Adnan dipertemukan kembali dengan Alina, gadis yang sama 6 tahun lalu. Satu kejadian membuat Alina bernadzar sesuatu. Dan Adnan adalah saksi hidup yang mendengarnya.

Rentetan kejadian demi kejadian seolah teratur sempurna untuk mengikat keduanya. Puzzle kehidupan Alina yang kelam dan penuh air mata mulai terkuak.

Dua hati dengan watak yang berbeda kini bersatu. Saling bertabrakan dan tak jarang beradu argumen.


Bagaimana kisahnya?
Apa mereka tetap bisa berjalan bersama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siuman

Ibu adalah sosok wanita tangguh. Ia mampu menjadi apa pun agar terus bisa melihat senyuman anak-anaknya.

❤️❤️❤️

Setelah mendapatkan kabar tersebut. Alina dan Adnan segera meluncur ke rumah sakit. Raut wajah Alina berbinar penuh syukur. Hatinya berdebar seperti akan bertemu sosok yang telah hilang bertahun-tahun. Bersiap menyambut dekapan hangat dari seorang Ibu

Singkat cerita, keduanya telah sampai di rumah sakit. Alina berjalan setengah lari. Perasaannya berkecambuk, ingin menatap netra yang indah. Tatapan yang teduh penuh kelembutan. Tenang bagaikan mata air di sungai.

Sesampainya di sebuah ruangan bercat putih, Alina masuk dengan mengucap salam. Netranya mendapati Pak Wily, dan seorang dokter lelaki berdiri di samping ranjang. Dengan langkah teratur, ia berjalan dan semakin mendekat. Benar, mata indah itu telah terbuka. Meski, alat rumah sakit masih terpasang. Mentari telah kembali menyinari dunai Alina.

"Bunda ...," lirih Alina sembari menahan getaran kuat dalam dada. Matanya mulai beranak sungai, tak kuasa tertahan meski sekejap. "Ini Alina."

Bu Winda menatap penuh kerinduaan pada anak perempuannya, seolah ia mengatakan ada tumpukan rindu yang semakin menggunung.

Alina semakin mendekat, meraih tangan yang kini bisa bergerak. "Bunda, Alina kangen."

Isak tangis tak terbendung. Netra Bu Winda pun mulai berembun tatkala melihat anak gadisnya telah tumbuh menjadi wanita dewasa. Jari jemari Bu Widia menggenggam erat, seakan tak ingin lepas walau sekejap. Memastikan pegangan tangan itu tetap kuat, dan berharap tak ada lagi jarak yang memisahkan.

"Alina ...," lirih Bu Winda yang masih terbaring. "Anaknya Bunda jangan nangis."

Sontak Alina mengusap pelan jejak air mata di sudut mata. Memastikan semua terhapus tanpa tersisa, lalu menggantinya dengan untaian senyuman manis. "Alina engga nangis lagi, Bunda."

Adnan memperhatikan di ambang pintu. Kakinya berat, untuk melangkah ke dalam. Membiarkan sang Istri menikmati waktu yang berharga. Meluapkan segala rindu yang tertahan bertahun-tahun lamanya.

Pak Willy menyaksikan adegan mengharu biru tersebut. Tak terasa ada genangan air mata di pelupuk mata. Hatinya berbunga-bunga melihat ikatan batin Istri dan anaknya.

"Bunda istirahat dulu. Jangan banyak gerak," cakap Alina.

"Winda, aku pamit pulang dulu sebentar," pamit Pak Willy. Wanita itu hanya mengangguk sembari tersenyum, sedangkan Alina hanya diam tak memberi respon apa pun.

Pak Willy pun berbalik, melangkah ke arah pintu, dan mendapati Adnan. Dengan cepat Adnan mencium telapak tangan Pak Willy sebagai bentuk rasa hormatnya terhadap mertua.

"Masuk, Nak. Temui ibu mertuamu," kata Pak Willy pada Adnan. "Istrimu sedang senang."

"Iya, Pak," sahut Adnan.

Pak Willy kembali meneruskan langkahnya keluar dari ruangan, dan Adnan pun memberanikan diri membawa langkah untuk menghampiri ketiga orang tersebut.

"As-salamu'alaikum," ujar Adnan ramah. Senyuman menghiasi wajahnya yang tampan rupawan.

"Wa'alaikum salam," jawab ketiganya.

Dokter lelaki itu ikut pamit ketika melihat Adnan masuk. Ia harus bertugas kembali. Adnan mengucapkan banyak terima kasih, lalu Dokter itu pun pergi tanpa jejak seperti Pak Willy.

Bu Winda menatap lekat pada Adnan. Pandangannya beralih ke Alina, netranya mengisyaratkan anak wanitanya untuk memberitahu siapa lelaki ini?

Sebelum Alina membuka mulut, justru Adnanlah yang berujar. "Perkenalkan saya suami Alina. Muhammad Adnan Fauzi."

Adnan mencium telapak tangan Bu Winda. Merasakan aura keibuan yang amat tajam. Energi positif yang menjalar dari tangan Bu Widia cukup besar, mampu membuat orang lain tersengat, dan merasakan kebahagiaan. Pantas saja Alina begitu mencintai ibunya.

"Suami?" tanya Bu Winda

"Iya, Bunda," balas Alina. "Maaf, Alina menikah saat Bunda masih koma."

Pelupuk mata Alina kembali basah. Ada penyesalan yang tersirat. Bukan menyesal menikah, akan tetapi menyesal karena bundanya tak menghadiri pernikahannya. Bagaimanapun seorang anak menginginkan hari pernikahan menjadi momen paling berharga dengan kehadiran kedua orang tuanya. Namun, apalah daya. Takdir berkata lain, dan nasi telah menjadi bubur.

"Kamu pemuda baik, Nak." Gerakan bibir Bu Winda mendadak mengucap kalimat tersebut. Sorot mata Adnan yang teduh membuatnya mengatakan hal itu. Ia yakin, lelaki ini bukan hanya baik, melainkan bisa membimbing anaknya lebih baik lagi. Terlihat dari penampilan Alina yang begitu cantik dengan balutan hijab dan gamis.

"Mas Adnan bukan cuman baik, Bunda," sela Alina. Ia menatap lekat-lekat suaminya. "Tapi ... lelaki paling baik seperti malaikat. Hanya saja, kekurangannya bikin gedek."

Adnan yang merasa diperbincangkan berbalik menatap istrinya. Wanita itu justru tersenyum kecil seolah meledek.

"Memang apa, Nak?" tanya Bu Winda yang penasaran.

"Orangnya dulu datar kayak papan triplek." Tawa renyah terdengar dari mulut Alina. Ia tampak jujur dari hati. "Tapi, sekarang udah engga. Kayak sayur nangka dari kulkas terus diangetin lagi. Jadinya, anget dan enak."

Bu Winda tersenyum. Meraih satu tangan Alina dan satu tangan Adnan. Menyatukan kedua tangan itu di dadanya. Ia memejamkan mata sejenak, berdoa pada Sang Khalik untuk kelanggengan rumah tangga keduanya.

"Kalian adalah pasangan suami istri. Maka, sudah sepantasnya saling menjaga, melindungi, dan melengkapi satu sama lain. Bunda berharap, kalian hidup sampai tua hingga maut memisahkan," tutur Bu Winda

"Aamiin," jawab Adnan dan Alina.

Tiga bola mata itu saling memandang. Mereka hanyut dalam suasana. Sesekali tertawa ketika Alina terus menggoda Adnan, dan Bu Winda hanya tersenyum melihat akan hal itu. Adnan tak berkutik, ia membiarkan semuanya berjalan semau istrinya.

"Papamu kenapa buru-buru pulang, Nak? Apa ada sesuatu yang penting? Bunda engga sabar pulang. Bunda rindu suasana rumah," kata Bu Winda yang sama sekali belum mengetahui perihal Bu Sinta dan Rio.

Alina saling melempar pandangan dengan Adnan. Ia bingung harus menjawab apa. Haruskah ia memberitahu kenyataan pahit ini? Bundanya baru saja siuman, akan sangat menyakitkan jika semua terungkap. Namun, lambat laun waktu akan mengungkap segalanya. Saat itu tiba, mungkin luka akan menggores tepat di relung hati bundanya. Menyisakan sebuah rasa sakit yang akan terus dikenang seumur hidup.

"Ibu sebaiknya istirahat dulu." Adnan menarik selimut sampai ke dada ibu mertuanya. Mengurai senyum manis. "Kami pamit keluar dulu sebentar. Nanti, kami datang lagi."

Bu Winda mengangguk. Kesehatannya belum sepenuhnya pulih. Beristirahat adalah jalan untuknya agar segera sembuh, dan pulang ke rumah.

"Alina keluar dulu, ya," pamit Alina.

"Iya, Nak," sahut Bu Winda.

"As-salamu'alaikum," ujar Adnan dan Alina.

"Wa'alaikum salam," jawab Bu Winda.

Dengan hati teriris Alina melangkah keluar menjauh dari bundanya. Dadanya bergemuruh menahan perasaan kacau dan terluka. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Manusia memang tidak bisa memilih warna takdir. Segelap apa pun, semua tetap akan berjalan semana mestinya.

Sekeluarnya dari ruangan, Adnan menarik Alina ke dalam pelukan. Memberikan sebuah rasa tenang, dan membiarkan wanita itu membenamkan wajahnya di dada. "Jangan menangis lagi. Bukannya kamu sudah berjanji padaku saat itu? Aku yakin, Ibu kuat."

...****************...

BERSAMBUNG~~~

Jangan lupa like, coment, dan vote.

Bismillah ..

Marhaban ya Ramadhan. Aku sebagai Author memohon maaf atas segala kekhilapan ataupun komen menyakitkan dalam membalas komentar kalian😊🙏

Selama bulan puasa, mungkin aku slow up. Mari, meraih sebanyak-banyaknya pahala di bulan penuh berkah. Sekali lagi mohon maaf lahir batin.

Author.

Ciety Ameyzha🥰🥰🥰

1
Ma Selly
wah suami idaman
Ma Selly
wah ,awas adnan jangan sampe tergoda sama ulet bulu/Grin//Grin/
Ma Selly
adnan bercandanyakebangetan
Ma Selly
semoga adnan selamat dari kecelakaan mautnya
Ma Selly
kira kira siapa yah yg pake mobil merah
Ma Selly
semoga lily dan riko berjodoh
Ma Selly
haaahaaaa ada ada aja adnan bercandanya
Ma Selly
iya nikakan saja tuh si kembar riki dan riko ,di barengin aja nikahnya biar tambah rame/Grin//Grin//Facepalm/
Ma Selly
rasain lo rio makanya jd orang jangan jahat
Ma Selly
kasihan bu winda ,dia ga tau kalau pak willy sudah menikah lagi
Ma Selly
mudahan ibunya alina sadar dari komanya Aamiin
Ma Selly
siapa kira kira yg merekam
Ma Selly
oh jd begitu ceritanya
Ma Selly
kasihan lily ga ada yg menemaninya
Ma Selly
ketemu mantan kali ya
Ma Selly
usil sama istri sendiri ga masalah
Ma Selly
si masnya sudah mulai bucin akut
Ma Selly
mau ada pengantin baru nih
Ma Selly
ibu dan anak yang serakah
Dina Mulyana Syafitri
masyaAllah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!