Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.
Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Lembar Baru yang Tertulis dengan Kepercayaan
Malam itu, angin di teras rumah keluarga Saraswati berhembus lebih dingin dari biasanya. Tiga minggu sudah skandal penggelapan dana yang menyeret nama perusahaan keluarga menjadi berita utama, meninggalkan retakan di mana-mana: investor yang mengancam mundur, karyawan yang berbisik gelisah, bahkan kerabat jauh yang tiba-tiba datang hanya untuk mengambil bagian sebelum semuanya hancur. Di ruang tengah, lampu gantung yang redup menyinari lima wajah tegang: Ibu Saras, Agung, Larasati, Denok sang pengurus rumah yang sudah puluhan tahun mengabdi, dan Pak Harto, pengacara kepercayaan keluarga yang baru saja mengeluarkan amplop cokelat tua dari brankas rahasia Bu Wulan—amplop yang baru ditemukan tiga hari lalu, terselip di balik tumpukan buku catatan kebun bunga kesayangannya.
“Ini surat wasiat rahasia Ibu Wulan,” suara Pak Harto memecah keheningan. “Beliau menulisnya enam bulan sebelum ia dipanggil Tuhan, dengan pesan khusus: hanya boleh dibuka jika keluarga berada di ambang perpecahan atau kehancuran.”
Agung merapatkan jemarinya di atas meja. Di sampingnya, Larasati mengulurkan tangan, menyelipkan jari-jarinya di sela jari Agung tanpa berkata apa-apa. Gerakan kecil itu saja yang membuat pundak Agung sedikit merenggang—sejak skandal meletus, ia tidak pernah merasa sendirian lagi, dan itu semua karena wanita di sampingnya.
Pak Harto membuka amplop, lalu membacakan tulisan tangan Bu Wulan yang kaku namun tetap terasa hangat, seolah wanita itu sedang duduk di antara mereka:
Kepada keluargaku yang paling kusayang,
Jika surat ini dibacakan, berarti aku sudah tidak ada di sisi kalian, dan badai pasti sedang menerjang rumah ini. Aku tidak menulis ini untuk membagi harta—itu sudah ada di wasiat resmi. Aku menulis ini untuk berbagi rahasia yang selama ini kusimpan sendiri, karena aku berharap rahasia ini tidak pernah perlu kalian ketahui. Tapi ternyata, Tuhan punya rencana lain.
Pertama, untuk Agung dan Larasati. Sejak pertama kali Larasati datang ke rumah ini membawa nasi goreng buatanku yang terlalu asin, aku tahu dia adalah wanita yang akan menjaga cucuku bukan hanya dengan cinta, tapi dengan keberanian yang bahkan Agung sendiri tidak punya. Oleh karena itu, di balik surat ini ada surat kuasa resmi: aku memberikan 30% saham perusahaanku atas nama Larasati, bukan sebagai hadiah, tapi sebagai tanggung jawab. Perusahaan ini butuh hati selain otak, dan Larasati memilikinya. Agung, jangan pernah merasa dia di bawahmu. Kalian berdua adalah dua sisi mata uang—tidak bisa bernilai jika terpisah.
Kedua, rahasia keluarga. Aku tahu siapa yang selama ini menggerogoti perusahaan dari dalam. Bukan orang asing, tapi sepupu jauh ayahmu, Saras—Surya Wijaya. Dia datang meminta bantuan 20 tahun lalu, kita beri dia jabatan, tapi hatinya penuh iri sejak ayahmu meninggal dan aku yang memimpin. Aku sudah mengumpulkan bukti-bukti transaksi mencurigakannya selama setahun terakhir, semuanya tersimpan di brankas kecil di balik lukisan bunga melati di ruang kerjaku. Dia yang akan memicu skandal ini, aku sudah menduganya. Aku hanya tidak sempat mengungkapnya sebelum sakitku parah.
Ketiga, untukmu, Saras. Ada satu hal lagi yang harus kamu ketahui. Adikmu, Aditya, dia tidak meninggal dalam kecelakaan sungai 25 tahun lalu. Dia pergi karena malu—dia membuat kesalahan besar yang membuat perusahaan hampir bangkrut saat itu, dan dia tidak berani menghadapimu. Aku tahu dia masih hidup. Setiap tahun, ada kiriman bunga melati dari kota yang berbeda di hari ulang tahunmu, dan itu bukan dari siapa-siapa selain dia. Jika dia pernah kembali, terimalah dia. Maafkanlah, seperti aku sudah memaafkannya.
Terakhir untuk semuanya: rumah ini tidak kokoh karena temboknya atau hartanya. Rumah ini kokoh karena kita saling percaya, bahkan ketika dunia mengatakan sebaliknya. Jangan biarkan badai merenggut itu.
Pak Harto selesai membaca. Ruang tengah kembali hening, hanya terdengar isak tangis Ibu Saras yang menutup wajahnya dengan kedua tangan. Selama 25 tahun, ia memendam rasa bersalah mengira adiknya meninggal karena pertengkaran mereka hari itu—pertengkaran tentang siapa yang lebih pantas memimpin perusahaan setelah ayah mereka tiada. Agung menatap Larasati, matanya berbinar; Larasati membalas tatapannya dengan senyum tipis yang penuh pengertian—Bu Wulan sudah memberikan mereka pondasi yang bahkan tidak mereka sadari mereka butuhkan.
Tepat saat Denok hendak mengambilkan air minum untuk Ibu Saras, bel pintu rumah berbunyi nyaring, memotong keheningan itu.
“Jam 11 malam, siapa yang datang?” gumam Agung bangkit.
Ia membuka pintu, dan napasnya tersekat seketika.
Di ambang pintu berdiri seorang pria berusia sekitar 50 tahun, rambutnya memutih di pelipis, wajahnya memiliki kemiripan yang mencolok dengan Ibu Saras—hanya lebih kasar, terbakar matahari, dengan bekas luka tipis di alis kirinya. Di tangannya, ia memegang seikat bunga melati putih yang masih segar.
“Maaf mengganggu di jam seperti ini,” suaranya parau namun lembut. “Aku… aku mencari adikku, Saraswati. Namaku Aditya.”
Ibu Saras yang berjalan ke arah pintu terhenti langkahnya. Tubuhnya gemetar hebat, air matanya tumpah tanpa bisa ditahan lagi. Selama 25 tahun ia memimpikan momen ini, dan ketika tiba, ia tidak percaya matanya sendiri. Tanpa berkata apa-apa, Aditya menjatuhkan lututnya di lantai teras, menunduk dalam-dalam.
“Maafkan aku, Saras. Maafkan aku karena lari dari tanggung jawab, karena membuatmu menangis sendirian selama ini. Aku kembali bukan untuk meminta apa-apa. Aku hanya ingin menebus kesalahanku—aku tahu Surya Wijaya berencana menghancurkan perusahaan. Aku punya bukti tambahan yang Bu Wulan tidak punya. Aku ingin membantumu memperbaikinya.”
Malam itu, lembaran lama tertutup rapat, dan lembar baru benar-benar terbuka—dengan rahasia yang terungkap, dan sosok yang kembali untuk memperbaiki apa yang rusak.
Tiga minggu kemudian, tekanan di perusahaan keluarga justru semakin berat. Meskipun bukti dari Bu Wulan dan Aditya berhasil menyeret Surya Wijaya ke jalur hukum, kerusakan yang ditinggalkannya sudah telanjur parah: nilai saham anjlok 40%, dua klien besar memutus kontrak, dan banyak karyawan senior yang mengajukan pengunduran diri karena tidak yakin perusahaan bisa bangkit. Di tengah semua itu, Agung dan Larasati resmi memimpin bersama—sesuai wasiat Bu Wulan—dengan jabatan Direktur Utama dan Direktur Operasional.
Ini adalah ujian cinta terberat yang pernah mereka hadapi. Bukan cemburu, bukan perselisihan keluarga, tapi ujian tentang apakah cinta mereka bisa bertahan di tengah beban yang bisa menghancurkan orang dewasa sekalipun: tenggat waktu yang menyesakkan, rapat yang berakhir dengan teriakan, malam-malam yang dihabiskan di kantor sampai subuh, dan upaya pihak-pihak yang tidak senang dengan kepemimpinan mereka untuk memecah belah.
Suatu sore, setelah rapat dengan investor yang hampir gagal, Agung masuk ke ruang kerja Larasati dengan wajah lelah. Ia menemukan Larasati sedang duduk di balik meja, menatap tumpukan dokumen dengan mata merah—baru saja ia dimaki oleh salah satu komisaris tua yang meremehkannya karena “hanya menantu yang tidak punya darah keluarga”.
“Dia bilang aku tidak pantas duduk di kursi ini,” suara Larasati pecah saat melihat Agung. “Dia bilang aku hanya numpang nama, dan kalau perusahaan hancur, itu semua salahku karena aku tidak cukup pintar.”
Agung tidak langsung berkata apa-apa. Ia berjalan mendekat, menarik kursi di samping Larasati, lalu menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Ia membiarkan Larasati menangis sepuasnya di bahunya, mengusap punggungnya dengan gerakan lambat yang menenangkan—sama seperti yang selalu Larasati lakukan untuknya saat ia merasa gagal.
“Dengar aku,” bisik Agung setelah tangis Larasati mereda, melepaskan pelukan tapi tetap memegang kedua bahunya, menatap matanya dalam-dalam. “Aku tidak peduli apa yang dikatakan komisaris itu, atau siapa pun di luar sana. Aku tahu siapa kamu. Kamu yang bertahan sampai jam 3 pagi memperbaiki laporan keuangan yang berantakan. Kamu yang datang ke pabrik di hari Minggu hanya untuk mendengarkan keluhan karyawan yang tidak berani bicara padaku. Kamu yang mengingatkanku untuk makan ketika aku terlalu fokus bekerja sampai lupa dunia. Perusahaan ini tidak akan bertahan tiga minggu ini tanpamu. Dan aku… aku tidak akan menjadi apa-apa tanpamu.”
Ia mengusap sisa air mata di pipi Larasati dengan ibu jarinya, senyum tipis terukir di wajahnya yang lelah namun penuh kasih.
“Bu Wulan benar. Kita adalah tim. Tidak ada yang di atas, tidak ada yang di bawah. Apa pun yang terjadi, kita hadapi bersama. Kalau mereka mau memaki, mari mereka memaki kita berdua. Kalau mereka mau meragukan, mari mereka meragukan kita berdua. Tapi tidak ada yang boleh meragukan kamu sendirian, selagi aku masih ada di sini.”
Malam itu, mereka tidak pulang ke rumah. Mereka tidur di sofa ruang kerja Agung, berbagi selimut tipis, dengan tumpukan dokumen di lantai di sekitar mereka. Sebelum terlelap, Larasati bersandar di dada Agung, mendengar detak jantung pria itu yang teratur, tenang.
“Agung,” bisiknya pelan.
“Hmm?”
“Kamu tidak pernah meragukanku, ya? Bahkan ketika semua orang meragukan kita.”
Agung mengecup ubun-ubun Larasati, pelan sekali.
“Meragukanmu sama saja dengan meragukan separuh diriku sendiri. Aku sudah memilihmu untuk berjalan seumur hidup. Itu artinya aku memilih semua bagian dari kamu—bagian yang kuat, bagian yang takut, bagian yang menangis, bagian yang marah. Aku tidak akan pernah lari dari salah satunya.”
Ujian itu datang dengan puncaknya dua minggu kemudian. Pihak Surya Wijaya yang masih bebas di luar penjara mencoba membalas dendam: mereka menyebarkan berita bohong di media sosial bahwa Larasati pernah terlibat kasus penipuan di kota asalnya lima tahun lalu, dan ia menikahi Agung hanya untuk menguasai harta keluarga. Berita itu menyebar seperti api, bahkan menjadi trending topic di media sosial, membuat tekanan dari publik dan investor semakin tak tertahankan.
Rapat dewan komisaris darurat diadakan keesokan harinya. Semua mata tertuju pada Agung dan Larasati—beberapa penuh simpati, tapi sebagian besar penuh keraguan. Salah satu komisaris tua bahkan secara terang-terangan menuntut Larasati mengundurkan diri demi nama baik perusahaan.
Saat Larasati hendak bangkit untuk membela diri, Agung justru lebih dulu berdiri. Suaranya tegas, menggelegar di ruang rapat, tanpa keraguan sedikit pun.
“Sebelum ada yang bicara soal pengunduran diri, dengarkan aku dulu.” Agung menatap satu per satu wajah di ruangan itu. “Berita yang beredar itu bohong. Saya sudah menyelidikinya sejak kemarin malam, dan saya punya bukti lengkap bahwa foto-foto itu diedit, saksi-saksinya dibayar. Tapi bukan itu yang ingin saya bicarakan.”
Ia berhenti sejenak, lalu melangkah ke samping Larasati, menggenggam tangan wanita itu erat-erat, mengangkatnya sehingga semua orang bisa melihatnya.
“Saya menikahi Larasati bukan karena harta, bukan karena keluarga, tapi karena saya mencintainya. Lebih dari itu, saya percaya padanya—lebih dari saya percaya pada diri saya sendiri. Selama tiga bulan terakhir, dialah yang menyelamatkan perusahaan ini dari kebangkrutan berkali-kali. Dialah yang membuat karyawan yang mau pergi akhirnya bertahan. Jika ada yang harus mengundurkan diri karena berita bohong ini, itu bukan dia. Itu saya—karena saya gagal melindungi istri saya dari fitnah keji seperti ini.”
Ruang rapat hening seketika. Tidak ada yang menyangka Agung akan memilih berdiri di samping istrinya sekuat itu, bahkan dengan mempertaruhkan jabatannya sendiri. Di sampingnya, Larasati menahan air matanya—bukan karena sedih, tapi karena haru yang memenuhi dadanya. Ia tahu saat itu juga: cinta mereka bukan lagi cinta muda yang hanya berbunga-bunga. Ini adalah cinta dewasa yang tumbuh dari kepercayaan, dari pilihan untuk saling berdiri di samping satu sama lain bahkan ketika dunia mendorong mereka untuk berpisah.
Tindakan Agung justru menjadi titik balik. Karyawan perusahaan yang melihat rekaman rapat itu mengunggahnya ke media sosial, dan reaksi publik berbalik 180 derajat. Mereka memuji kesetiaan Agung, keberanian Larasati, dan akhirnya bukti bahwa berita itu bohong tersebar luas. Klien yang sempat ragu kembali menghubungi, investor yang mau mundur akhirnya memutuskan bertahan, bahkan karyawan yang sudah mengajukan surat mundur menarik kembali keputusannya.
Malam hari setelah hari itu, Agung dan Larasati pulang ke rumah keluarga. Aditya dan Ibu Saras sudah menunggu di teras dengan senyum lebar—mereka juga melihat apa yang terjadi di rapat tadi. Setelah berbincang sebentar, mereka berdua berjalan ke kebun belakang rumah, tempat Bu Wulan biasa menanam bunga melati.
Bulan bersinar terang di langit. Agung berhenti di tengah kebun, lalu berbalik menghadap Larasati. Ia mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya—bukan kotak perhiasan mewah, tapi kotak kayu kecil yang diukir tangan, di dalamnya ada sepasang cincin perak sederhana dengan ukiran nama mereka di bagian dalam.
“Kita sudah menikah setahun lalu,” kata Agung, suaranya sedikit bergetar karena gugup. “Tapi saat itu kita menikah dengan terburu-buru, di tengah kesedihan karena Bu Wulan baru tiada. Aku tidak pernah sempat melakukannya dengan benar.”
Ia berlutut di depan Larasati, mengangkat kotak itu ke atas.
“Larasati, hari ini aku memintamu lagi. Bukan hanya untuk menjadi istriku, tapi untuk menjadi pasanganku seumur hidup—dalam suka maupun duka, dalam memimpin perusahaan ini sampai sukses kembali, dalam membesarkan keluarga kita nanti, dalam semua hal yang akan kita hadapi ke depannya. Aku janji akan selalu mempercayaimu, akan selalu berdiri di sampingmu, tidak akan pernah membiarkanmu menghadapi apa pun sendirian. Maukah kamu menerima aku lagi, untuk sisa hidup kita?”
Larasati tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia mengangguk cepat, sambil tersenyum lebar.
“Ya, Agung. Ya, seribu kali ya. Aku juga janji hal yang sama. Kita adalah tim. Selamanya.”
Agung memasangkan cincin itu di jari manis Larasati, lalu Larasati melakukan hal yang sama untuknya. Setelah itu, Agung berdiri, menarik istrinya ke dalam pelukan erat, lalu mengecup bibirnya dalam—lembut, penuh rasa syukur, penuh cinta yang tumbuh semakin dalam setiap kali mereka melewati ujian bersama.
Di kejauhan, Ibu Saras dan Aditya yang melihat dari balik jendela tersenyum saling berpandangan. Di antara semak melati yang harumnya memenuhi udara malam, pesan Bu Wulan benar-benar menjadi kenyataan: rumah ini kokoh kembali, bukan karena harta atau jabatan, tapi karena ada cinta yang dewasa, ada kepercayaan yang tidak tergoyahkan, dan ada keluarga yang akhirnya bersatu kembali setelah sekian lama terpisah.
Lembar baru itu tidak lagi kosong. Setiap barisnya akan ditulis bersama, dengan tangan yang saling bergandengan erat, apa pun badai yang akan datang ke depannya.