NovelToon NovelToon
Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Rumah Tangga
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.

Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.

Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Liam

Tak lama kemudian, motor yang ditumpangi Ainun akhirnya berhenti di halaman masjid.

Ia segera turun, lalu melepaskan helm dari kepalanya dan menyerahkannya kepada pengemudi ojek.

“Terima kasih, Bang,” ucap Ainun pelan.

Setelah itu, ia merogoh dompet di dalam tasnya, lalu mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu rupiah dan menyerahkannya.

“Ini, Bang. Kembaliannya ambil saja.”

Pengemudi ojek tampak tersenyum lebar.

“Wah, terima kasih banyak, Neng. Semoga rezekinya makin lancar.”

Ainun hanya membalas dengan senyum tipis.

“Iya, Bang.”

Tak lama kemudian, motor itu melaju meninggalkan halaman masjid.

Ainun mengembuskan napas perlahan sebelum melangkah menuju tempat wudu yang berada di samping bangunan masjid.

'Semoga setelah nanti hatiku lebih tenang.'

Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, sebuah suara yang terdengar begitu akrab membuat langkahnya terhenti.

“Bu Ainun?”

Ainun menoleh.

Kedua matanya membulat sesaat saat mendapati Pak Faizan berdiri tak jauh darinya. Pria itu mengenakan kemeja lengan panjang berwarna abu-abu dengan peci hitam di kepalanya.

'Pak Faizan... kenapa beliau ada di sini juga?'

Pak Faizan tersenyum ramah sambil menghampiri beberapa langkah.

“Bu Ainun juga mau salat?” tanyanya.

Ainun menganggukkan kepala pelan.

“Iya, Pak,” jawabnya lirih.

“Alhamdulillah,” balas Pak Faizan sambil mengangguk. “Kalau begitu saya duluan ke dalam masjid.”

“Iya, Pak. Silakan.”

Pak Faizan mengangkat tangan singkat sebagai pamit, lalu berbalik melangkah menuju masjid.

Tatapan Ainun tanpa sadar mengikuti punggung pria itu hingga sosoknya menghilang di balik pintu.

'Beliau memang selalu ramah kepada semua orang.'

Pikiran itu segera ditepisnya.

'Astaghfirullah... jangan berpikir yang bukan-bukan, Ainun. Kamu sudah punya batas yang nggak boleh dilanggar.'

Ia menarik napas panjang, lalu mengalihkan pandangannya ke arah tempat wudu.

Tanpa menunda lagi, Ainun kembali melangkah, bersiap menyucikan diri sebelum menghadap Sang Pencipta.

 . . .

Di dalam masjid, suasana terasa begitu tenang.

Semilir angin dari jendela yang terbuka membawa kesejukan, berpadu dengan lantunan zikir pelan dari beberapa jemaah yang telah lebih dahulu datang.

Ainun melangkah perlahan melewati serambi masjid.

Saat hendak menuju saf perempuan, tanpa sengaja pandangannya beralih ke arah saf laki-laki yang berada di bagian depan.

Di sana, Pak Faizan tampak berdiri dengan tenang, menunggu azan selesai berkumandang.

Seolah merasakan tatapan seseorang, pria itu menoleh.

Pandangan mereka bertemu.

Pak Faizan mengulas senyum ramah, lalu menganggukkan kepala tipis sebagai sapaan.

Ainun sedikit tertegun.

Beberapa saat kemudian, ia membalas dengan senyum tipis sambil menganggukkan kepala pelan.

'Pak Faizan memang selalu menyapa siapa pun dengan ramah.'

Ainun segera mengalihkan pandangannya.

'Aku nggak boleh terlalu memikirkan beliau.'

Ia menundukkan kepala, lalu mempercepat langkah menuju saf perempuan.

Setelah menemukan tempat yang masih kosong, Ainun berdiri dengan tenang.

Kedua tangannya merapikan mukena yang dikenakannya, sementara jemarinya saling menggenggam untuk meredakan gemuruh di dalam dada.

'Ya Allah... setelah salat ini, tolong berikan aku petunjuk.'

'Aku benar-benar nggak tahu harus bagaimana menghadapi semua ini.'

Perlahan, Ainun memejamkan mata sejenak.

Ia mengembuskan napas panjang, berusaha menyerahkan seluruh kegelisahan yang memenuhi hatinya hanya kepada Sang Pencipta.

.

 Sementara itu, di gedung Dirgantara Group, suasana siang di lantai paling atas masih diselimuti keheningan.

Di dalam ruang kerjanya, Sagara duduk tegak di balik meja.

Tatapannya tertuju pada layar ponsel yang menampilkan laporan lokasi Ainun.

Keningnya berkerut tipis.

“Kenapa dia ke klinik obstetri dan ginekologi?” gumamnya pelan.

Jemarinya mengetuk pelan permukaan meja.

“Apa dia sakit?”

Pikiran itu membuat rahangnya mengeras.

Belum sempat ia memikirkan kemungkinan lainnya, suara ketukan terdengar dari balik pintu.

Tok... tok...

“Masuk.”

Pintu segera terbuka.

Liam melangkah masuk sambil membawa sebuah paper bag berlogo restoran langganan Sagara.

“Permisi, Pak,” ucapnya sopan.

Ia berjalan mendekat, lalu meletakkan paper bag itu di atas meja kerja.

“Pesanan makan siang Anda sudah datang.”

Sagara hanya melirik sekilas paper bag tersebut sebelum kembali mengalihkan pandangannya kepada Liam.

“Liam.”

“Iya, Pak?” Liam langsung menegakkan tubuhnya.

Tatapan Sagara mengunci wajah asistennya.

“Apa kamu tahu,” ucapnya datar, “kenapa wanita itu pergi ke klinik obstetri dan ginekologi?”

Ruangan kembali sunyi.

Sorot mata Sagara tetap tajam, menunggu jawaban dari pria yang berdiri di hadapannya.

 Tubuh Liam seketika menegang. Jemarinya yang semula tergantung di sisi tubuh perlahan mengepal.

“Saya...” suaranya menggantung.

“Jawab.”

Nada suara Sagara tetap datar, tetapi terdengar begitu menekan.

“Saya tidak suka menunggu.”

Jantung Liam berdegup lebih cepat.

'Apa aku harus mengatakan yang sebenarnya?'

Bayangan wajah Ainun yang memohon sambil menahan tangis kembali terlintas di benaknya.

‘Kalau kamu memberitahu, dia akan menyuruhku menggugurkan anak ini.’

Liam mengatupkan rahang.

'Kalau ucapan Bu Ainun benar... dan Pak Sagara benar-benar memaksa menggugurkan kandungannya... bukankah itu berarti aku ikut menjadi penyebabnya?'

Ia menarik napas pelan.

'Sial... kenapa aku harus dihadapkan pada pilihan seperti ini?'

“Liam.”

Suara Sagara kembali terdengar.

Liam tersentak kecil dan segera mengangkat kepalanya.

Sorot mata pria itu masih tertuju lurus kepadanya, seolah mampu membaca setiap kebohongan.

Liam berusaha menelan ludah yang terasa sulit.

“I-itu, Pak,” ucapnya dengan senyum tipis yang dipaksakan, “Bu Ainun bilang sedang menjenguk istri rekan kerjanya.”

Ia berhenti sejenak, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang.

“Kebetulan hari ini rekannya itu melahirkan di klinik tersebut.”

Selesai berkata, Liam hanya bisa menunggu.

'Tolong... percaya saja.'

Beberapa detik berlalu. Tatapan Sagara masih belum bergeser dari wajahnya.

Liam berusaha mempertahankan ekspresi setenang mungkin meski telapak tangannya mulai berkeringat.

Akhirnya, Sagara mengangguk tipis.

“Oke,” ucapnya singkat. “Lanjutkan pekerjaanmu.”

Tanpa sadar Liam mengembuskan napas lega.

'Syukurlah... beliau percaya.'

Ia segera membungkukkan badan tipis.

“Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi.”

“Hm.”

Liam berbalik dan melangkah menuju pintu.

Sesaat setelah keluar dari ruang kerja itu dan pintu tertutup rapat di belakangnya, bahunya langsung mengendur.

Ia mengusap wajahnya pelan.

'Ya Allah... rasanya lebih menegangkan daripada menghadapi rapat direksi.'

Sudut bibirnya berkedut tipis.

'Kerja sama bos yang wajahnya selalu datar begini benar-benar bisa bikin umur pendek.'

Tanpa ingin berlama-lama memikirkan hal itu, Liam kembali melangkah menyusuri koridor, berusaha menenangkan debar jantungnya yang belum juga kembali normal.

Ruangan kembali diselimuti keheningan.

Suara pintu yang baru saja tertutup perlahan menghilang, menyisakan Sagara seorang diri di balik meja kerjanya.

Tatapannya kembali jatuh pada layar ponsel yang masih berada di genggamannya.

Sebuah titik merah bergerak perlahan di peta digital.

Keningnya berkerut tipis ketika melihat lokasi terbaru yang dituju Ainun.

'Masjid?'

Jemarinya mengetuk pelan sisi meja. Sorot matanya tetap terpaku pada layar.

'Bukankah dia baru keluar dari klinik?'

Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.

Beberapa saat kemudian, titik merah itu berhenti.

Tepat di area masjid.

Sagara menyandarkan punggungnya ke kursi.

Rahangnya mengeras.

Entah mengapa, sejak menerima laporan bahwa Ainun pergi ke klinik obstetri dan ginekologi, pikirannya terasa sulit tenang.

Tatapannya kembali menyipit menatap layar ponsel.

'Apa benar hanya menjenguk rekan kerjanya?'

Ia mematikan layar ponsel, lalu meletakkannya perlahan di atas meja.

Meski begitu, pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepalanya tak juga menghilang.

 

1
merry
jgn cepat ksh ainum ktmu dgn Sagara terlalu cepat biar orang saraf kyk Sagara nyesel,, 🙏🙏🙏
merry
iblis busuk km bini dan ank gk diksh mknn
merry
otak y gk tau di mn ya heran aku emang pendidikan tingginya bisa didik ank dgn baik blm tentu x pak justru blansak ia,, klo Sagara jodoh y ainum jgn ksh Sagara nikh sm liona ksh ajj penyesalan trs biar ainum Lhirinn ank solehah hebat genius buat bungkam mulut Bpk dan kakek ya yg jht itu
Nia nurhayati
dasar laki"gilaaa kamu sagara
Ais: nah bnr kak emang gila sagara ini
total 1 replies
Nia nurhayati
Sagara dan BP nya sama brengsekkk laki"kurang ajarrrr😡😡😡
merry
gila bini y gk. diksh mkn minum kata ya cinta marah bini y di dekati org,, emng dikurung tnp mkn minum blm lg memar muka tangan gk diobati,, moga kmu dan pelakor itu dpt karna ya 🙏🙏🙏🙏ainum jgn lemah donk jgn perempuan jgn minta maaf klo ngk salh hrs lawan ke jwb ke kan Sagara juga mau nikah kn sm lion lion itu sdgkn kmu ngk nkh ngk pcarann juga cm ddk bareng knp di perlakuan seperti penjahat,,, hrs disini Sagara salh besar loh dh mau nikah lg,,, kasar lg
merry
egois bgtt si,, istri di seret di tampar gk di akuin org mana tau klo ainum istri mu gara,,, emng org dukun tau ainum bini mu 🤭🤭🤭🤭
Ais
psikopat dan egosi sagara ini ternyata
Ais
wah plot twist banget thor ternyata selama ini sagara mencintai ainun tp knp kayak psikopat gn seh sikap dan kelakuannya apalag pas berhubungan suami istri yg disebut malah nama kakaknya istri mana yg ngak salah paham dan menganggap dirinya hny istri sementara ngak salah dong ainun bersikap dan berkata begitu
Ais: nah bnr kak emang psikopat si sagara ini mungkin dia panggil si musang betina pengen bikin ainun insecure sekaligus cemburu kak🤣
total 2 replies
Arra Bella
saat liona datang sagara tidak akan melepaskanmu ainun
Arra Bella
aku yakin liona bakal nyesel
Ais
semangat updatenya thor bagus alur kisahnya
Arra Bella
salam kenal kakak
Soviani
up lagi dong , ceritanya seru
Skyline Scribe
halo kak aku mampir,
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪
Inarrr Ulfah
gimna mau pergi hp Ainun aja di sadap
Inarrr Ulfah
setelah itu pergi yang jauh Ainun,, hidup bahagia bersama anak mu..
partini
pengantin pengganti nyesek Ampe ulu hati, happy nanti kalau suami udah sreg di hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!