Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.
Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.
Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.
Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembelaan Sang suami Tersembunyi
"Apa kamu bilang ? Ini Rekayasa?" Devan melangkah pelan memutari mejanya, mendekati Clara dengan aura penguasa yang sangat mengintimidasi. Setiap langkah sepatunya bergaung di atas lantai kayu tebal. "Sistem kamera pengawas PT Dirgantara menggunakan enkripsi tingkat militer yang langsung terhubung ke server utama saya. Tidak ada satu orang pun yang bisa memanipulasi rekaman ini."
Devan memberi isyarat mata pada Pak Bagas. Pak Bagas melangkah ke samping dan menunjukkan sebuah folder cokelat yang sedikit berdebu namun masih utuh disegel, folder yang baru saja diambil oleh petugas keamanan dari tumpukan dus bekas lima menit yang lalu atas perintah Devan.
"Berkasnya sudah diamankan sebelum truk pengangkut sampah gedung berangkat pukul satu siang tadi," kata Pak Bagas tenang.
Mbak Maya menghela napas lega yang luar biasa, sementara Clara mundur dua langkah hingga punggungnya membentur dinding dingin ruangan.
Devan berdiri tepat di depan Clara, menatap wanita itu dengan pandangan jijik dan penuh keharusan. "Mencuri dokumen rahasia negara/korporat, melakukan sabotase terhadap rekan kerja, dan mencoba merugikan tender perusahaan senilai triliunan rupiah ... Kamu pikir aku tidak tahu alasan di balik kelakuan beracunmu selama sebulan terakhir ini, Clara?"
"P-Pak Devan ... tolong ampuni saya ... saya khilaf ..." tangis Clara akhirnya pecah. Ia berlutut di lantai, memegangi ujung celana Devan dengan rasa takut yang luar biasa. "Saya hanya ... saya hanya cemburu dan kesal karena Alina selalu mendapat perhatian lebih! Saya mohon, Pak ... jangan hancurkan karir saya!"
Devan mengibaskan kakinya pelan, menolak disentuh oleh wanita itu. Matanya berubah setajam sembilu.
Tentu, saya lanjutkan adegannya dengan fokus pada pembelaan Clara, keterkejutan Maya, dan pengungkapan bukti yang semakin memperkuat bahwa Clara memang pelakunya.
Clara berusaha bangkit dari lantai. Wajahnya sudah basah oleh air mata, tetapi sorot matanya masih menunjukkan perlawanan.
“Pak Devan, saya memang salah karena iri kepada Alina, tetapi saya tidak pernah berniat menghancurkan perusahaan!” Clara menggeleng cepat. “Saya hanya membuang berkas itu karena saya pikir berkas tersebut sudah tidak terpakai. Saya tidak tahu kalau itu dokumen penting!”
Maya yang berdiri beberapa langkah dari mereka langsung terbelalak.
“Clara ...”
Wanita itu menoleh.
“Kamu bilang tadi berkas itu tidak penting?”
Clara terdiam.
Maya melangkah mendekat dengan wajah penuh ketidakpercayaan. “Aku sendiri melihatmu membawa map itu keluar dari ruang arsip. Kamu bahkan melarangku menyentuhnya. Katamu itu perintah dari bagian legal.”
“Aku...” Clara tergagap.
“Kenapa sekarang ceritanya berubah?”
Clara mengepalkan tangannya. “Aku panik!”
“Panik?” Maya tertawa kecil karena saking tidak percayanya. “Jadi selama ini kamu yang membuat semua orang mencurigai Alina?”
Clara segera menggeleng.
“Bukan! Aku tidak pernah menjebak Alina!”
Devan yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat satu tangan.
“Cukup.”
Suara itu tidak keras, tetapi membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.
Devan menatap Clara tanpa berkedip.
“Kalau kamu ingin membela diri, gunakan fakta. Jangan gunakan kebohongan baru untuk menutupi kebohongan sebelumnya.”
Clara menelan ludah.
“Saya tidak bohong, Pak.”
“Benarkah?”
Devan memberi isyarat kepada Pak Bagas.
Pria itu segera membuka folder cokelat yang tadi diamankan. Ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen, kemudian meletakkannya di atas meja.
“Ini salinan daftar akses ruang arsip,” ujar Pak Bagas. “Pukul 10.17, kartu akses milik Clara digunakan untuk membuka ruangan. Pukul 10.24, kamera merekam Clara keluar membawa sebuah map berwarna biru.”
Maya langsung menutup mulutnya.
“Ya Tuhan ...”
Clara semakin pucat.
Pak Bagas melanjutkan, “Pukul 10.41, kamera di lantai belakang merekam orang yang sama memasukkan map tersebut ke dalam dus bekas.”
“Tidak mungkin!” Clara menyela. “Kamera itu bisa saja salah mengenali wajah!”
Devan mengangkat alis.
“Dan bagaimana dengan kartu aksesmu?”
Clara membisu.
“Apakah kamera juga memalsukan kartu aksesmu?”
“Pak ...”
“Belum selesai.”
Devan mengambil sebuah foto dari meja.
“Ini rekaman ketika kamu memasuki ruang arsip. Dan ini rekaman ketika kamu keluar.”
Ia menaruh dua foto itu berdampingan.
“Pakaian yang sama. Sepatu yang sama. Jam tangan yang sama.”
Clara semakin gemetar.
Maya menatap semua bukti itu dengan dada sesak. Selama ini ia tidak pernah menyangka orang yang sering bekerja bersamanya ternyata sanggup melakukan sabotase sebesar itu.
“Jadi ...” suara Maya bergetar, “selama ini memang kamu, Clara?”
Clara menatap Maya dengan mata merah.
“Aku tidak punya pilihan!”
“Tidak punya pilihan?” Maya hampir tidak percaya. “Kamu bisa saja bicara kalau merasa diperlakukan tidak adil. Kamu tidak perlu menghancurkan orang lain!”
Clara kembali menatap Devan.
“Pak Devan, saya mohon. Saya masih bisa memperbaikinya. Saya bisa mengembalikan semua dokumen. Saya bisa meminta maaf kepada Alina.”
Devan terdiam beberapa detik.
“Permintaan maafmu tidak bisa menghapus apa yang sudah kamu lakukan.”
Clara kembali menangis.
“Saya takut kehilangan pekerjaan.”
Devan menatapnya dingin.
“Seharusnya kamu memikirkan itu sebelum mencoba menghancurkan pekerjaan orang lain.”
Maya menghela napas panjang. Ia masih sulit menerima kenyataan bahwa Clara adalah orang di balik semua kekacauan selama ini.
“Jadi ... Alina tidak bersalah?”
Devan menggeleng.
“Tidak. Justru dia yang selama ini menjadi korban.”
Maya menundukkan kepala. Tiba-tiba rasa bersalah menyusup ke dadanya karena sempat meragukan Alina.
Di sisi lain, Clara hanya bisa berdiri dengan tubuh gemetar.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa tidak ada lagi jalan untuk melarikan diri dari kesalahannya.
Devan mengambil ponselnya.
“Pak Bagas, panggil bagian legal dan keamanan. Kita akan membuat laporan resmi.”
Clara langsung panik.
“Pak Devan!”
Devan berhenti, tetapi tidak menoleh.
“Dan Clara,” katanya datar, “mulai detik ini, kamu tidak lagi memiliki akses ke satu pun sistem perusahaan.”
Clara terdiam.
Wajahnya seketika kehilangan seluruh warna.
Sementara Maya hanya berdiri terpaku.
Hari itu, satu kebenaran akhirnya terbongkar.
Dan nama Alina yang selama ini dipenuhi tuduhan mulai kembali bersih.
"Pak Gunawan," perintah Devan dingin tanpa ampun. "Serahkan rekaman kamera pengawas ini dan bukti berkas fisik ke Kepolisian Pusat sekarang juga. Laporkan atas tuduhan tindak pidana pencurian dokumen rahasia perusahaan dan upaya sabotase bisnis."
"Baik, Tuan Devan," jawab Pak Gunawan sigap. Dua orang petugas keamanan berbadan tegap langsung masuk ke ruangan, memegangi kedua lengan Clara yang menangis histeris.
"Pak Devan! Tolong Pak! Jangan laporkan saya ke polisi! Alina, tolong maafkan aku! Alina!" teriak Clara memohon-mohon saat tubuhnya diseret keluar dari ruang kerja eksekutif tersebut. Suara teriakan dan tangisannya perlahan-lahan memudar seiring tertutupnya pintu ganda mahogany.
Ruangan kembali hening. Mbak Maya dan Siska masih berdiri terpaku, memproses kejadian dramatis yang baru saja berlangsung di depan mata mereka.
Devan merapikan lengan kemejanya, memalingkan pandangannya ke arah Mbak Maya. "Maya, bawa berkas asli ini dan persiapkan ruang rapat utama. Rapat dewan direksi kita mulai sepuluh menit lagi."
"B-baik, Pak Devan! Segera kami siapkan!" sahut Mbak Maya sigap. Ia meraih folder cokelat itu, mengajak Siska, lalu bergegas keluar ruangan untuk memberi waktu pribadi bagi sang CEO.
Kini, hanya tersisa Devan dan Alina di dalam ruang kerja yang luas itu.
Alina masih berdiri terpaku di tempatnya. Hatinya berkecamuk hebat, campuran antara rasa lega yang luar biasa, rasa terkejut, dan kepedihan melihat kebencian yang disimpan Clara padanya. Namun di atas semua itu, rasa haru dan kagum kepada Devan membuncah tak tertahankan di dalam dadanya.
Devan melangkah mendekati Alina. Pria itu menghentikan langkahnya tepat di depan gadis itu. Tatapan matanya yang semula dingin dan keras saat menghadapi Clara, kini melunak menjadi begitu dalam dan hangat ketika menatap Alina.
"Kenapa masih berdiri di sini?" tanya Devan dengan suara bass yang pelan dan lembut. "Masih takut?"
Alina mendongak, menatap mata hitam Devan yang kelam. Air mata harunya kembali menetes, namun kali ini diiringi oleh senyuman yang teramat tulus.
"Tidak ... saya tidak takut lagi," bisik Alina dengan suara parau. "Terima kasih, Mas Devan ... Terima kasih karena selalu percaya padaku dan melindungiku."
Devan menatap wajah cantik yang basah oleh air mata itu. Tangan kokoh Devan terangkat, jemarinya yang hangat mengusap air mata di pipi Alina dengan kelembutan yang memabukkan. Devan mendekatkan wajahnya sedikit, berbisik tepat di depan bibir Alina yang bergetar.
"Sudah kukatakan, Alina ..." ujar Devan dengan nada suara yang teramat posesif namun lembut. "Selama kamu berada di sampingku, tidak akan ada satu orang pun yang kubiarkan menyakitimu."
Jantung Alina berdegup kencang bagaikan genderang perang. Di dalam ruangan megah di lantai 20 itu, di balik dinding kaca yang menatap langit Jakarta, Alina menyadari satu hal dengan pasti: batas dingin di antara mereka telah sepenuhnya runtuh, meninggalkan benih-benih cinta yang kini mekar sempurna di tengah badai rahasia pernikahan mereka.