Menikah adalah hal yang membahagiakan. Tapi tidak saat aku menikah. Menikah membawaku kedalam jurang kesakitan. Dilukai berkali-kali. Menyaksikan suamiku berganti pasangan setiap hari adalah hal yang lumrah untuk ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewi wahyuningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Naina hanya bisa menghela nafasnya beberapa kali. Bagaimana tidak? rencana bulan madu benar-benar terjadi rupanya. Sebenarnya, Naina agak kurang setuju dengan ini. Tapi mau bagaimana lagi? Arsen tetaplah Arsen yang keras kepala. Sekali dia berencana, maka tidak akan ada yang bisa menghalanginya. Termasuk, drama pagi ini. Tomi merengek untuk menunda bulan madu Tuannya. Selain mendadak, Tomi juga memiliki rencana yang sudah direncanakan dari beberapa bulan yang lalu. Meski sudah memohon, tidak ada ubahnya. Bahkan, hujan badai, petir, banjir bandang, atau apapun itu, tidak akan bisa menghalangi niat Arsen yang sudah bulat.
" Hentikan helaan nafas mu! " Titah Arsen tapi dengan nada rendahnya.
" Apa bulan madu begitu penting? " Naina menatap manik mata Arsen yang terus saja menatapnya tanpa henti. Naina hanya mendapatkan anggukan tanpa suara dari bibir Arsen. Entahlah, pria itu semakin aneh setiap harinya.
" Apa kau tidak iba melihat Tomi terus merengek? aku baru tahu, ternyata dia bisa bertingkah seperti bayi. "Ujar Naina sembari mengingat apa hang dilakukan Tomi tadi pagi.
" Iba? " Arsen menatap Naina dengan ekspresi yang sulit untuk Naina artikan. Dia hanya bisa menebak melalui ekspresinya. Memang apa salahnya kata-kata Iba? batinnya mendengus.
" Kata-kata itu lebih cocok untuk dirimu sendiri. " Ujar Arsen sembari mengecup singkat bibir Naina.
Orang ini jadi hobi mencium ya? padahal, dulu tidak pernah mengizinkan siapapun untuk mencium bibirnya. Sungguh aneh!
" Memang kenapa aku harus iba terhadap diriku sendiri? " Tanya Naina bingung.
Arsen mengacak rambut Naina. Tidak perlu dijawab. Gadis itu hanya akan banyak bertanya dan dia tidak bisa menjawabnya. Sekarang yang paling penting bagi Arsen adalah kebahagian mereka. Dan anak untuk mengikat Naina seumur hidup bersamanya.
" Tidurlah, perjalanan ini lumayan lama. "
Naina mendengus kesal. Arsen selalu mengatakan hal-hal yang membuatnya penasaran. Tapi, tidak pernah berniat menjelaskan. Itu sudah biasa batin Naina.
Arsen menggenggam tangan Naina erat. Dia tidak lagi memandang wanita pujaannya itu. Kalau dia tetap melakukanya, sudah pasti Naina tidak akan tertidur kan? Arsen menghela nafasnya sesaat setelah memastikan Naina sudah tertidur. Pikirannya melayang memikirkan segala yang terjadi.
Bagaimana ingatan kecilmu hingga remaja menghilang? apa sebabnya? semoga, setelah kita pulang nanti, aku bisa mengetahui semua jawaban itu. Kau harus mengingatnya, Naina. Karena, ada aku di ingatan mu yang menghilang. Aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Kau harus menepati janjimu padaku. Karena aku, sudah menepati janjiku padamu.
Beberapa jam sebelum keberangkatan Naina dan Arsen.
" Tuan yakin? " Tanya Tomi sembari menatap Tuannya butuh kepastian.
" Iya. Pakai segala cara yang kita bisa. " Ujar Arsen sembari menjauhkan cangkir bekas kopinya.
" Tuan, saya sudah pernah mencari tahu kan? peristiwa hilangnya ingatan Nona Naina seolah sengaja disimpan rapat-rapat. Tapi yang pasti, Naina adalah anak kandung. Bukan anak pungut yang diangkat menjadi anak kandung karena amnesia. " Cicit Tomi sembari menegakkan posisi duduknya.
Arsen menghela nafasnya. Tentu saja dia bisa menebak kalau Naina memang anak kandung. Karena wajah Naina dan Ibunya lumayan mirip. Arsen mengalihkan pandangan ke langit-langit sembari menyenderkan punggungnya di senderan sofa. Sungguh tidak masuk akal! lalu kenapa Ibunya Naina lebih menyayangi Riana? seolah-olah dia berhutang nyawa tujuh turunan.
Arsen kembali menegakkan tubuhnya dengan tiba-tiba. Wajahnya juga berubah menjadi kesal secara mendadak. Tomi yang terkesiap melihat polah Tuannya itu, sejenak mengamati apa yang sedang dipikirkan Tuannya melalui mimik wajahnya. Tapi entahlah, Tomi tidak juga mendapatkan jawabannya. Tomi memberanikan diri untuk bertanya dari pada berperang dengan pikirannya yang terus menebak-nebak tidak pasti.
" Tuan, baik-baik saja? "
Arsen nampak berpikir sesaat sebelum manik matanya menatap Tomi dengan serius. " Menurutmu, apa yang harus aku lakukan untuk menghukum orang-orang yang sudah menyakiti istriku?
Tomi mengeryitkan keningnya menatap sembari mencerna pertanyaan Tuannya itu.
Tuan juga termasuk tidak nih? kan Tuan yang paling menyakiti Nona Naina. Jadi, harus bagaimana aku menjawab?
" Jangan bilang, kau sedang memikirkan ku. " Tebak Arsen yang sialnya, itu benar seratus persen. Tapi mana mungkin Tomi mengakuinya. Lebih baik berbohong lah, bohong kan tidak dosa kalau demi kebaikan. Kebaikan dirinya maksudnya.
" Bu, bukan, Tuan. Saya hanya bingung, siapa yang Tuan maksud. " Dalih Tomi yang tak berani menatap manik mata Tuannya.
Arsen berdecih melihat gelagat Tomi yang sama sekali tidak bisa menyembunyikan kebohongannya. Arsen adalah orang yang paling mengenal Tomi setelah istrinya Tomi sendiri. Jadi, mana mungkin Arsen tidak tahu kalau Tomi berbohong.
" Dengar, beberapa waktu lalu, aku memang adalah orang yang paling senang menyakitinya. Tapi mulai sekarang, aku adalah orang yang paling mencintainya. Tentu aku akan menjaganya dengan baik dan menjadikannya satu-satunya wanita ku. " Panjang lebar Arsen menuturkan, hanya mendapat satu anggukan dari Tomi. Seolah-olah, dia tidak mempercayai Tuannya.
Semoga ya, semoga. Jangan ada lagi cabe-cabean yang hilaf kau bawa pulang, Tuan. Hiduplah bahagia agar aku dan istri tercintaku juga bisa hidup bahagia. Dia selalu menyalahkan mu karena kami belum memiliki baby. Bahkan, istriku sering salah paham, dia mengira aku dan Tuan memiliki hubungan gelap dan sulit terpisahkan. Huh....! sungguh tidak masuk akal!
***
Hampir tujuh belas jam mereka berada di perjalanan udara. Kini, mereka sudah sampai ke bandara dan segera menuju ke hotel. Arsen membangunkan istrinya dengan lembut ketika private jet sudah mendarat dengan sempurna. Agak sulit memang membangunkan Naina kalau sudah nyenyak. Tapi, pada akhirnya dia bisa membuka mata setelah Arsen mendaratkan ciuman beserta gigitan kecil dibibirnya. Naina mendengus kesal meski tak mengatakan apapun.
" Ah! aku masih mengantuk rasanya. " Naina mendahului Arsen yang baru saja membuka pintu kamar. Dia celingukan mencari tempat tidur dan, bruk... dia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang yang benar-benar empuk. Nikmat sekali rasanya. Setelah panjangnya perjalanan Naina habiskan dengan tidur dalam posisi setengah duduk yang membuat pinggangnya terasa ingin patah.
Arsen tersenyum memandangi tingkah istrinya itu. Entahlah, semakin hari semakin besar pula rasa cintanya. Dia terus memandangi Naina yang terlentang se enaknya. Sungguh, Arsen begitu bersyukur atas takdir yang begitu baik padanya. Dia masih tak menyangka, jika dia akan mencintai orang yang pernah membuatnya terpaksa berjanji menikahinya. Kadang-kadang, Arsen juga berpikir, Sungguh menyesal karena pernah membuat Naina membencinya. Tapi sudahlah, semua sudah berlalu. Mulai sekarang, dia hanya akan fokus kepada Naina dan membuat bayi untuk mereka.
" Pergilah mandi. Aku akan memesan makan malam untukmu. Setelah makan, kau bisa tidur lagi. " Ucap Arsen seraya mendekati Naina dan mengelus rambutnya.
Naina membuka matanya dan menatap Arsen yang tengah duduk disampingnya.
" Aku ingin mendapat jawaban kali ini. " Naina bangkit lalu menatap manik mata Arsen dengan tegas.
" Apa yang ingin kau tanyakan? "
" Kenapa kau begitu berubah akhir-akhir ini? " Tanya Naina dengan tatapan yang menuntut untuk mendapatkan sebuah jawaban.
Arsen tersenyum lalu menggendong tubuh Naina dan memasuki kamar mandi.
" Apa yang kau lakukan?! " Naina memukul punggung Arsen tapi tak menggunakan kekuatan besar.
" Kau akan tahu jawabannya nanti. " Arsen menyeringai dan, pintu kamar mandi tertutup.
......................