NovelToon NovelToon
Unexpected Scenario

Unexpected Scenario

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:577
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

❣️ Update : 19.00 WIB ❣️

Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11 - Untouchable

Cuaca masih cerah, sama seperti saat aku keluar rumah tadi. Berbanding terbalik dengan hatiku sekarang.

Aku terus memikirkan hal-hal yang akan segera kulewati.

Menikah.

Berpisah dengan orang tua.

Beberapa saat lalu semua itu masih terasa samar. Ada di radarku, tapi jauh. Namun sekarang semuanya tiba-tiba terlihat jelas. Terlalu jelas untuk seseorang sepertiku yang bahkan belum benar-benar mengerti bagaimana hubungan dua arah itu berjalan.

Kulirik Javier yang sedang fokus menyetir. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibanding tadi pagi. Bahkan... terlihat lega. Seperti seseorang yang akhirnya berhasil mendapatkan sesuatu yang sudah lama ia inginkan.

Memangnya apa yang Javier inginkan?

Menikah?

Rasanya tidak mungkin.

Rumah?

Atau... sesuatu yang bahkan tidak kuketahui?

Aku sebenarnya bukan tipe orang yang selalu ingin tahu urusan orang lain. Tapi karena sekarang aku ikut terlibat di dalam hidup Javier, mau tidak mau aku jadi penasaran.

“Mas...” panggilku pelan.

“Hm?” Javier masih menatap jalanan di depan.

“Setelah proses pembelian rumah tadi kamu kelihatan lega banget.” Aku menatapnya sekilas. “Kayak nggak ada beban padahal beli rumahnya pakai KPR.”

Javier tersenyum tipis.

“Karena akhirnya aku bisa punya rumah sendiri.”

Aku diam mendengarkan.

“Bisa pergi dari rumah dan terbebas dari papa.”

Hah?

Aku langsung menoleh kaget ke arahnya.

“Biasanya orang kalau pisah sama orang tua malah sedih. Kamu kok malah lega?” ucapku heran. “Kalau bukan karena perjodohan, aku juga nggak mau pisah sama orang tua.”

“Kalau orang tuaku masih lengkap dan papa masih kayak dulu...” Javier menggantung ucapannya sebentar. “Aku juga nggak akan mau pergi dari rumah.”

Aku terdiam.

“Sejak papa nikah sama Mama Soraya dan Janessa lahir, papa berubah.” Javier tersenyum hambar. “Rumah itu jadi terasa asing.”

Entah kenapa dadaku mendadak terasa sesak mendengar kalimat terakhirnya.

“Memang papa kamu nuntut apa?” tanyaku pelan.

Javier menoleh ke arahku sesaat. Tatapannya membuatku mendadak gugup.

“Ehm... kalau kamu nggak mau cerita juga nggak apa-apa,” ucapku cepat sambil menunduk menatap ponsel. “Aku juga bukan siapa-siapa kamu.”

Beberapa detik mobil kembali hening.

“Papa...” Javier mulai bicara lagi.

Aku langsung menoleh ke arahnya.

“Selalu nuntut aku jadi laki-laki yang benar-benar laki-laki menurut versi dia.” Javier tersenyum kecil, tapi tidak terlihat benar-benar tersenyum. “Aku nggak boleh masak. Katanya masak itu kerjaannya perempuan.”

Aku mengernyit pelan.

“Dan aku harus selalu menjaga dan melindungi Janessa.”

“Lha bukannya memang seharusnya begitu?” ucapku refleks. “Kamu kan kakaknya. Ya meskipun kalian saudara tiri sih.”

Javier menoleh sebentar ke arahku lalu kembali fokus ke jalan.

“Iya. Tapi papa terlalu memprioritaskan Janessa sampai lupa kalau aku juga anaknya.”

Aku langsung terdiam.

“Papa nggak pernah nanya aku capek atau nggak. Aku mampu atau nggak.” Javier menghela napas pelan. “Kalau Janessa kenapa-kenapa, aku yang selalu disalahkan.”

Aku tidak tahu harus merespon apa.

“Udah lama sebenarnya aku pengen pergi dari rumah.”

Suara Javier terdengar jauh lebih pelan sekarang.

“Pengen bebas.”

Aku diam mendengarkan.

“Tapi baru sekarang aku punya uang buat beli rumah.” Javier tersenyum tipis. “Beberapa tahun terakhir aku fokus bangun usaha sendiri. Bangun Ruang Rindu. Aku cuma pengen buktiin ke papa kalau laki-laki yang bisa masak itu nggak salah.”

Aku menatap Javier tanpa sadar.

Ternyata... ada cerita seperti itu di balik dirinya.

“Mas... kenapa nama rumah makannya Ruang Rindu?” tanyaku penasaran.

“Karena itu cara aku mengobati rasa rinduku sama mama,” jawab Javier pelan. “Beberapa menu di sana juga resep masakan mama.”

Eh?

Aku menatap Javier beberapa detik.

“Aku kira kamu cuma cowok yang pengen buka usaha makanan aja,” ucapku jujur. “Ternyata alasannya nggak sesederhana itu.”

Javier tersenyum tipis.

“Makanya jangan lihat orang cuma dari luarnya aja,” ucapnya santai. “Kadang kita cuma lihat hasil akhirnya tanpa tahu alasan di balik semua itu.”

Aku mengangguk pelan.

“Iya...”

Beberapa saat mobil kembali hening.

“Ngomong-ngomong...” Aku kembali menoleh ke arahnya. “Kalau kamu punya anak nanti, kamu bakal nuntut anakmu kayak papa kamu nuntut kamu?”

“Ya nggak lah,” jawab Javier cepat tanpa berpikir lama.

Aku mengangguk kecil.

“Eh, Nay...” Javier kembali bicara.

“Hm?”

“Ngomong-ngomong... anak aku sama siapa?”

Hah?

Aku langsung terdiam.

“몰라. 어쨌든 나랑은 아니야. (Nggak tahu. Yang jelas bukan sama aku.)” jawabku spontan karena panik.

Javier langsung menoleh bingung.

“Apa?”

“Bukan apa-apa,” jawabku cepat sambil menghindari tatapannya.

“Kamu nggak ngomong sama kamu, kan?” tanya Javier curiga.

“Apanya yang sama aku?” tanyaku pura-pura tidak mengerti.

“Anaknya.”

“Nggak lah.” Aku langsung menggeleng cepat. “Ngapain juga aku punya anak sama kamu? Aku aja nggak suka sama kamu.”

“Oke...” Javier mengangguk kecil. “Tapi, Nay... banyak lho orang yang akhirnya jilat ludah sendiri.”

Aku langsung menoleh tidak percaya.

“Itu nggak berlaku buat aku!” protesku cepat sebelum kembali memalingkan wajah ke arah jendela.

Dan seperti biasa... jantungku mulai aneh lagi. Berdetak terlalu cepat tanpa alasan yang jelas.

“Oke.” Javier terkekeh kecil. “Tapi jangan terlalu benci sama aku, Nay.”

Aku diam.

“Bisa jadi nanti aku malah jadi orang yang kamu cintai.”

Aku langsung menoleh ke arahnya.

“Ihh... pede banget.” Aku mengerutkan dahi. “Emang kamu siapa? Satu-satunya cowok yang aku suka itu Lee Jun-ha.”

“Aku ngomongnya cinta, bukan suka.”

Aku langsung terdiam sesaat.

“Mau cinta atau suka tetap nggak bakal,” ucapku cepat. “Lagian... kalau suatu hari aku benar-benar cinta sama kamu...” Aku menatap Javier ragu. “Apa kamu bakal cinta sama aku juga?”

Javier langsung menoleh ke arahku.

Untuk pertama kalinya sejak tadi, ekspresinya benar-benar terlihat terkejut.

Namun beberapa detik kemudian ia kembali menatap jalan di depan tanpa mengatakan apa pun.

Mobil mendadak terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya.

Kenapa dia diam?

Kenapa dia tidak langsung mengatakan tidak?

Bukankah dia memang tidak menyukaiku?

Setelah itu tidak ada lagi percakapan di antara kami. Hanya suara mesin mobil dan jalanan yang sesekali terdengar dari luar.

Hingga beberapa menit kemudian mobil Javier akhirnya berhenti di depan rumahku.

“Makasih,” ucapku pelan.

“Iya.” Javier mengangguk kecil.

Aku mulai melepaskan sabuk pengaman ketika Javier kembali membuka suara.

“Nay...”

Aku menoleh ke arahnya setelah sabuk pengamanku terlepas.

“Kalau kamu terbebani soal isi rumah nanti...” Javier terlihat ragu sesaat. “Biar aku aja yang beli semuanya.”

Aku langsung mengernyit.

“Kamu pikir yang aku permasalahkan itu biaya buat beli isi rumah?” tanyaku tidak percaya.

Javier terlihat bingung.

“Terus?”

Aku menghela napas pelan.

“Kenapa sih kamu selalu berspekulasi sendiri tanpa tanya aku dulu?” ucapku mulai kesal. “Yang aku permasalahkan itu bukan uang buat beli perabotannya.”

Aku menatap Javier beberapa detik sebelum melanjutkan.

“Tapi perabotannya itu sendiri.”

Javier diam mendengarkan.

“Kenapa kita harus beli semua itu kalau ujung-ujungnya kita bakal cerai?”

“Nay...” Javier menatapku pelan. “Kita nggak tahu masa depan bakal kayak apa.”

“Maksud kamu...” Aku mengerutkan dahi. “Ada kemungkinan kita nggak bakal cerai?”

Javier mengangguk kecil.

“Kita saling mencintai gitu?” tanyaku lagi, setengah tidak percaya.

Dan Javier kembali mengangguk.

Aku langsung mendecakkan lidah pelan.

“Nggak usah kasih harapan palsu deh.” Aku memalingkan wajah sebentar. “Kamu ngomong gini cuma supaya aku mau tinggal di rumah itu dan kamu bisa cepat pergi dari rumah, kan?”

Javier langsung terdiam.

Aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini lagi. Aku langsung membuka pintu mobil, tapi tiba-tiba Javier menahan tanganku.

“Nay...”

Aku menoleh.

Namun Javier perlahan melepaskan tangannya lagi.

“Aku cuma nggak mau kamu terbebani sama pernikahan kita nanti.”

Aku terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas panjang.

“Sejak pengumuman perjodohan kita...” Aku menunduk pelan. “Semua ini udah jadi beban buatku.”

Javier diam mendengarkan.

“Aku biasanya cuma mikirin kerjaan, hidup tenang di dunia Koreaku sendiri...” Aku tertawa hambar. “Sekarang tiba-tiba harus mikirin pernikahan.”

Aku berhenti sebentar.

“Dan soal isi rumah tadi...”

Aku menggigit bibir bawahku pelan.

“Aku cuma nggak mau cerai.”

Kulihat Javier langsung terdiam.

“Aku maunya nikah sekali seumur hidup,” lanjutku pelan. “Sama orang yang aku cintai. Kami menua bersama sampai maut misahin kami.”

Dadaku terasa sesak saat mengatakan itu.

“Tapi ternyata...” Aku tersenyum kecil, entah kepada siapa. “Skenario yang aku inginkan sama skenario yang Tuhan tulis beda.”

“Nay... bisa aja nanti kita...”

“Stop.” Aku langsung memotong ucapan Javier cepat. “Jangan kasih aku harapan palsu.”

Aku menatap Javier lurus-lurus.

“Aku nggak mau sakit hati.”

Suasana di dalam mobil mendadak terasa jauh lebih sunyi.

“Kita bisa jatuh cinta dalam waktu tiga detik...” lanjutku pelan. “Tapi untuk melupakan seseorang bisa butuh waktu seumur hidup.”

Eh?

Apa yang baru saja kukatakan?

Kenapa aku bicara seperti itu?

Sepertinya aku benar-benar terlalu banyak menonton drama Korea.

Kulihat Javier hanya diam menatapku.

Entah karena terkejut dengan ucapanku atau memang tidak tahu harus menjawab apa.

Aku sendiri juga tidak tahu harus berkata apa lagi.

Tanpa menunggu lebih lama, aku langsung keluar dari mobil lalu berjalan cepat menuju rumah.

Saat tanganku hendak membuka pintu, pintu itu lebih dulu terbuka dari dalam.

“Nay... Javier mana?” tanya ibu.

“Itu... mau pulang,” jawabku singkat sambil masuk ke dalam rumah.

“Eh, kok nggak disuruh mampir dulu?”

Aku tidak menjawab. Aku langsung berjalan menuju kamar lalu merebahkan tubuh di atas kasur.

Tak lama kemudian suara mobil Javier terdengar dari luar rumah sebelum akhirnya perlahan menjauh dan menghilang.

Javier sepertinya sudah pergi.

Aku menatap langit-langit kamar tanpa berkedip, memikirkan semua yang terjadi hari ini.

Padahal awalnya kami hanya ingin melihat rumah yang nantinya akan kami tinggali setelah menikah.

Tapi entah kenapa semuanya malah berubah jadi pembicaraan tentang perasaan, harapan, dan ketakutan yang bahkan belum tentu terjadi.

Dan yang paling membuatku bingung...

Kenapa tadi aku bisa mengatakan semua itu pada Javier?

Seolah-olah suatu hari nanti aku benar-benar bisa membuka hati untuknya.

Dan lebih parahnya lagi...

Seolah-olah aku sudah takut kehilangan Javier bahkan sebelum aku benar-benar memilikinya.

1
Mamah Dini11
kok takut bknnya bagus., dan teganya javer biarkan kmu hujan2an,kalau dia. punya mobil kan bisa anterin kmu. jadi gk kehujanan , atau blm punya kali.
Mamah Dini11
kmu terlalu jauuuh mikirnya nay , coba mikirny yg positif2 aja biar ringan kedepan nya, ok. permisi thor ikutan ni..
Mamah Dini11
thor maaf setiap episodnya. bisa tambah bhs, indo. kuring ngerti aku mh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!