Di dalam sebuah kamar sewaan yang sempit dan berbau lembap, seorang pemuda tiba-tiba tersentak bangun. Napasnya memburu, matanya yang tajam memancarkan kilatan cahaya keemasan sebelum akhirnya meredup dan berubah menjadi hitam pekat.
"Ini... di mana?"
Fang Yuan melihat kedua telapak tangannya. Halus, kurus, dan tidak ada bekas luka. Ini bukan tubuh kedagingan seorang Sovereign yang bisa menghancurkan galaksi dengan satu pukulan.
Dia menoleh ke meja belajar. Sebuah ponsel jadul menunjukkan tanggal: 20 Juni 2016.
Fang Yuan tertegun, lalu tawa pelan keluar dari tenggorokannya. Tawa itu semakin lama semakin keras, menggema di dalam kamar sempit tersebut.
"Hahaha! Kesengsaraan Surgawi sembilan warna ternyata tidak menghancurkanku! Aku, Fang Yuan, Sang Penguasa Surgawi Cangqiong, justru kembali ke masa usiaku delapan belas tahun?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26.Kesombongan palsu
"Lancang!!!"
Raungan Master Qingxu meledak bagai guntur di dalam aula. Wajahnya yang semula agung dan tenang kini berubah menjadi topeng kemarahan yang luar biasa. Selama puluhan tahun dia berkultivasi di Gunung Kunlun dan dihormati layaknya dewa oleh para petinggi dunia fana, belum pernah ada satu orang pun yang berani merendahkan dirinya, apalagi menghina leluhur sektenya!
*Wusssss!*
Master Qingxu mengibaskan *fuchen* (kibasan bulu) di tangannya dengan kekuatan penuh. Ribuan jarum es yang sejak tadi mengambang beku di udara seketika bergetar hebat, memancarkan aura pembunuh yang membekukan jiwa.
"Karena kamu menolak belas kasihan Sekte Gerbang Langit, maka pergilah ke neraka dengan kesombonganmu! ***Badai Es Penembus Jiwa!***" teriak Master Qingxu.
Ribuan jarum es tajam itu melesat serentak ke arah Fang Yuan dengan kecepatan suara, merobek udara dan menciptakan suara siulan maut yang memekakkan telinga. Setiap jarum es tersebut mengandung *Qi* murni yang sanggup menembus pelat baja tank tempur dengan mudah.
Su Ruyi dan Tang Xiu yang berada di belakang pilar menjerit tertahan, menutup mata mereka karena tidak sanggup melihat badai kehancuran itu.
Namun, target dari serangan mematikan itu, Fang Yuan, bahkan tidak berkedip. Kedua tangannya tetap berada di dalam saku celananya. Rambut biru keputih-putihannya tidak lagi ditiup oleh angin dingin, melainkan mulai bergerak perlahan ke atas seolah menentang gravitasi.
Senyum nakal yang sedingin es abadi terukir di wajah tampannya.
"Mainan anak-anak," gumam Fang Yuan datar.
Tepat saat ribuan jarum es itu berjarak satu meter dari tubuh Fang Yuan, mata kirinya yang berwarna emas murni berkilat terang.
*BUMMM!!!*
Sebuah dinding energi berupa *Api Jiwa Cangqiong* berwarna biru keperakan meledak keluar dari tubuh Fang Yuan, membentuk perisai bola api yang membakar udara di sekitarnya. Ribuan jarum es maut milik Master Qingxu yang menyentuh dinding api itu bahkan tidak sempat mencair menjadi air—mereka langsung menguap menjadi ketiadaan murni dalam pecahan detik!
"A-Apa?! Mustahil!" Master Qingxu melotot jantungan, tubuhnya yang melayang di udara nyaris terjatuh. "Api spiritual macam apa itu?! Bahkan Api Inti Bumi milik Tetua Sekte-ku tidak mungkin bisa membakar elemen es murniku semudah itu!"
Fang Yuan perlahan mengeluarkan tangan kanannya dari saku celana. Dia melangkah maju menembus sisa-sisa uap air di udara. Tekanan spiritual yang selama ini dia sembunyikan akhirnya bocor sedikit, namun itu sudah cukup untuk membuat ruang dan waktu di dalam aula terasa seperti membeku.
"Es murni? Jangan membuatku tertawa," ucap Fang Yuan dingin. Dia mengangkat tangan kanannya dan membuat gerakan meremas ke arah udara kosong di depannya.
*KRETEK!*
"AAAKKKHH!"
Tanpa ada kontak fisik sama sekali, Master Qingxu tiba-tiba menjerit histeris. Lehernya seolah dicekik oleh telapak tangan raksasa tak kasat mata. Tubuhnya ditarik paksa dari udara dan dibanting keras berlutut di atas lantai marmer tepat di depan kaki Fang Yuan. Kibasan bulu pusakanya hancur berkeping-keping.
Tekanan *Qi* Tahap Pengumpulan Tingkat Empat milik Fang Yuan yang dimurnikan oleh Sutra Surgawi menindih tubuh Master Qingxu bagai gunung besi seberat ribuan ton. Tulang-tulang rusuk sang utusan sekte mulai retak, dan darah segar merembes keluar dari hidung dan mulutnya.
"K-Kamu... kultivasi macam apa ini... Kamu bukan manusia fana... Siapa kamu sebenarnya?!" rintih Master Qingxu dengan suara bergetar, matanya kini dipenuhi oleh kengerian dan keputusasaan yang mutlak. Seluruh kesombongannya sebagai dewa dari Gunung Kunlun hancur lebur tanpa sisa.
Fang Yuan menunduk, menatap makhluk menyedihkan di bawah kakinya dengan pandangan kosong.
"Sudah kubilang, bahkan pendirimu pun tidak layak menatap jubahku," bisik Fang Yuan dengan suara merdu yang mengantarkan maut.
Fang Yuan menjentikkan jarinya perlahan. Percikan *Api Jiwa Cangqiong* jatuh menimpa tubuh Master Qingxu.
"T-Tidaaaaakkk—!!!"
Jeritan melengking itu hanya bertahan selama dua detik sebelum tubuh Master Qingxu lenyap sepenuhnya, berubah menjadi setumpuk abu putih di atas lantai marmer. Tidak ada jiwa yang tersisa, tidak ada reinkarnasi. Eksekusi absolut dari sang Penguasa Surgawi.
Keheningan kembali menyelimuti *Istana Surgawi Cangqiong*. Tang Xiu dan Su Ruyi perlahan keluar dari tempat persembunyian mereka, menatap takjub dan ngeri pada tumpukan abu tersebut.
Fang Yuan berbalik, matanya yang berbeda warna menatap ke arah pintu masuk aula. Di sana, Jenderal Qin berdiri mematung dengan rahang terbuka lebar dan kaki bergetar hebat.
"J-Jenderal Qin," panggil Fang Yuan santai, memasukkan kembali tangannya ke dalam saku.
"S-Saya di sini, Tuan Muda Fang!" Jenderal Qin langsung bersujud dengan kepala menempel di lantai.
Senyum nakal yang sangat berbahaya kembali menghiasi wajah tampan Fang Yuan.
"Kumpulkan abu dari 'dewa' palsu ini, dan bagi menjadi tiga kotak. Kirimkan kepada kepala Keluarga Lin, Keluarga Ye, dan Keluarga Gu," perintah Fang Yuan dingin. "Sampaikan pesanku pada mereka: Waktu bermain petak umpet sudah habis. Malam ini, aku akan mencabut nyawa mereka satu per satu. Dan setelah urusanku di Ibukota selesai..."
Fang Yuan menatap ke arah barat laut, menembus awan mendung Ibukota.
"...Gunung Kunlun akan menjadi tempat selanjutnya yang kuratakan dengan tanah."