seorang wanita yang mencintai sahabat kecilnya, dia merelakan cinta pertamanya bersama dengan wanita pilihannya. dalam diamnya dia harus memendam perasaan yang teramat menyiksa, tapi cinta yang teramat besar dengan sahabatnya menjadikan dia harus mengorbankan semuanya untuk laki laki yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertengkaran.
"kamu tidur di kamar Niko, aku akan tidur di kamarku sendiri."
Neta membuka kamar milik Niko yang biasa di tempati saat Niko datang ke apartemen Neta, James masuk kedalam kamar Niko dia melihat sekeliling kamar itu dengan tatapan meneliti setiap sudut ruangan.
"AC di kamar ini mati Neta...? Aku tidak bisa tidur tanpa AC."
Kedua mata Neta mengeryit, dia penasaran bagaimana mungkin James tahu jika AC di kamar Niko tengah mati dan belum di perbaiki.
"sewaktu kamu masuk rumah sakit aku pernah tidur di apartemen milikmu satu malam, dan kamu ingat jika aku yang sudah membersihkan apartemen milikmu. Apa kamu tahu di mana malam itu aku tidur...?"
Neta melihat ke arah James, dia masih menatapnya dengan penuh rasa penasaran.
"aku tidur di kamarmu."
James melangkah keluar dari kamar Niko, dia tidak peduli jika Neta nanti akan merasa keberatan jika James tidur satu ranjang dengannya.
"James... ya tuhan..."
Neta mengejar James yang masuk ke dalam kamarnya, melihat James yang sudah merebahkan dirinya di atas ranjang milik Neta. Membuat Neta sudah tidak bisa mengusir James untuk segera pergi atau keluar dari kamar pribadinya.
helaan nafas Neta terdengar sampai membuat James tersenyum penuh kemenangan, malam ini James akan tidur satu ranjang dengan sahabatnya.
Neta yang awalnya keberatan kini hanya bisa pasrah, dia tahu sifat James yang tidak akan bisa mengalah atau menyerah jika sudah mempunyai keinginan atau niat.
Neta segera menggambil baju ganti, dia memilih akan membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum beristirahat.
malam semakin larut, suara klakson mobil semakin terdengar samar dan jarang. Neta yang akan membaringkan tubuh lelahnya di samping James terlihat sedikit ragu, dia berulang kali menatap James yang terlihat sudah menutup kedua matanya.
Neta duduk dan perlahan berbaring di samping James, Neta mengambil guling untuk memberikan pembatas bagi dirinya dan James.
"dia ternyata sudah lelap tertidur, hmm.... Mungin dia sudah terlalu capek hari ini."
Neta menarik selimutnya, rasa hangat tiba tiba mulai terasa di tubuh bagian bawahnya yang tertutup selimut tebal.
Kedua mata Neta perlahan tertutup, rasa lelah dan kantuk yang Neta rasa membuatnya segera terbawa ke alam mimpi.
James yang ada di samping Neta perlahan membuka kedua matanya, dengkuran halus daei neta dapat james dengar dengan jelas.
tangan james terulur menyentuh rambut halus neta, pandagan mata james tertuju ke arah wajah cantik neta. Kedua mata james dapat melihat jelas kelelahan di wajah wanita cantik yang kini terlelap dalam mimpi.
"neta... Entah kenapa hatiku merasa sakit saat melihatmu dengan eric, sedangkan aku sadar jika kamu adalah sahabatku, dan kamu juga sudah aku anggap sebagai adik ku."
Batin james masih menatap wajah neta dengan sangat lekat.
Lenguhan neta terdengar saat james mengelus pipi putih neta, sepertinya neta terganggu dengan tindakkan yang jamws lakukan.
kesokkan harinya neta yang bangun lebih dulu merasakan kehangatan yang tidak biasa, seakan dinginnya ac di kamar tidak berarti.
Kedua mata terbuka perlahan, pemandangan pertama yang neta lihat adalah dada james yang dengan kaos putih yang di pakainya tidur semalam. Neta terkejut saat menyadari jika posisinya saat ini berada di pelukan james, harum wangi parfum milik james dapat neta cium walau samar.
Neta perlahan melepaskan pelukkan james, tapi usahanya sia sia. James yang ternyata terbangun tidak ingin melepaskan neta begitu saja, neta yang merasa jika james melakukannya dengan sengaja dengan kesal mencubit perut james.
" aduh neta, sakit..." keluh james merasa jika cubitan dari neta ternyata terasa menyakitkan kulit arinya.
"bagun james, enggap tahu..." seru neta terdengar kesal.
James perlahan melepaskan pelukkannya, dia tersenyum menatap neta yang terlihat bangun perlahan dengan wajah kesalnya.
Neta berjalan menjauh dari tempat tidur, hal yang pertama kali dia lakukan adalah berjalan ke dalam kamar mandi. Rasanya kandung kemihnya sudah terasa penuh dan semakin penuh karena menahannya dari tadi, karena ulah james.
James segera terduduk, dia menguap beberapa kali agar dirinya tersadar sepenuhnya.
Deringan ponsel Neta membuat atensi James teralihkan menatap ponsel yang ada di atas meja nakas, James segera melihat siapa pagi pagi yang telah menghubungi Neta tanpa tahu waktu.
"Eric..." batin James melihat nama pemanggil di layar, James mendengus kesal dan segera bangun dari tidurnya.
Neta yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap gerak gerik James yang tak biasa, dia berusaha tidak terprovokasi dengan tingkah James yang seperti anak kecil.
"Neta, sudah lama kita tidak pulang. Bagaimana kalau liburan ini kita pulang ke bandung bersama, pasti mama dan papa serta om dan Tante kaget melihat kepulangan kita."
Kepalanya Neta menoleh ke arah James, dia terkejut mendengar permintaan James yang di luar prediksi BMKG.
"maaf James, rencananya liburan ini aku akan pulang bersama Eric. kami ingin menemui mama dan papa, jadi..."
Belum juga Neta menyelesaikan ucapannya, dengan kesal James membanting jas kerjanya yang baru saja dia ambil.
"Eric... Eric.. Dan Eric... Apa di dunia ini hanya ada Eric di pikiranmu Neta, apa tidak ada namaku lagi di pikiranmu. Sebenarnya apa istimewanya dia, sampai dia bisa membuat persahabatan kita menjadi renggang seperti ini...!!!"
suara James yang terdengar meninggi membuat Neta merasa ketakutan, dia seakan terintimidasi dengan ucapan James yang terdengar sangat menyakitkan hati Neta.
"jangan lupa James, dia sekarang adalah kekasihku. Dan aku harap kamu tahu di mana posisimu saat ini...? Kita adalah sahabat, dan sampai kapanpun itu kita akan menjadi sahabat. Aku juga tidak pernah mengganggu hubunganmu dengan Clara, aku juga tidak pernah mempermasalahkan hubungan kalian. Jadi aku mohon, jangan pernah usik kebahagiaanku dengan Eric. Karena kami sedang memulai hubungan awal kami James."
James menatap Neta tajam, dia tahu jika ucapan Neta terdengar serius. Kali ini James kalah telak, dia sadar jika hubungan persahabatannya dengan Neta akan semakin memburuk jika James berdebat dengan Neta untuk sekarang.
tanpa berkata apapun James memilih pergi meninggalkan Neta yang terlihat kesal, helaan nafas Neta terdengar sangat berat, dia merasa jika hubungan persahabatannya dengan James semakin lama semakin tidak baik baik saja.
"James... Apa yang sebenarnya kamu mau...? Saat aku bersama dengan orang lain kamu selalu begitu, apa kamu setidak ingin itu melihatku bahagia James."
tatapan Neta menerawang menatap langit langit kamar, pikirannya berkelana entah kemana.
jam dinding di kamar Neta semakin berjalan cepat, dia mendengus kesal mengingat jika hari ini dia akan ada meting bersama James.
Neta segera mengganti bajunya, ya... walau hubungan Neta dan James terlihat tidak baik baik saja, tapi jika masalah pekerjaan Neta akan konsisten melakukan semuanya dengan sepenuh hati.