NovelToon NovelToon
THE DEADLY BODYGUARD

THE DEADLY BODYGUARD

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Raja Tentara/Dewa Perang / Balas Dendam
Popularitas:583
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.

Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.

Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.

Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.

Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?

"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisikan di Tebing Karang

Pendaratan di pangkalan udara logistik swasta Sektor Utara Bandar Samudra berlangsung tanpa hambatan berarti.

Pada pukul 23.57 tengah malam, roda-roda pesawat Gulfstream G550 milik PT Bravo Satria menyentuh landasan pacu yang basah dengan getaran minim. Begitu pesawat berhenti di dalam hangar tertutup yang remang-remang, sebuah kendaraan taktis SUV hitam lapis baja tipe Command Suite sudah menunggu di dalam area steril.

Proses transisi dilakukan dengan kecepatan militer. Rendra memimpin pemindahan Clara ke dalam SUV yang memiliki lapisan pelindung balistik tingkat 4 tersebut.

Di dalam kabin kendaraan yang luas, Rendra telah menyiapkan barisan monitor pemantau satelit cadangan yang langsung terhubung dengan sensor nirkabel di tubuh Nathan.

Clara duduk di kursi belakang SUV, menatap Nathan yang sedang melakukan pemeriksaan akhir pada senapan taktis MP5-Silent di tangannya.

Hati gadis itu bergetar hebat melihat seluruh perlengkapan hitam yang kini membungkus tubuh pengawalnya, dari rompi kevlar tebal, sabuk taktis dengan magasin cadangan, hingga pisau komando yang terselip di dadanya.

Nathan merunduk di pintu SUV, menatap Clara dengan pandangan mata yang tidak lagi sedingin es, melainkan membawa jaminan perlindungan yang mutlak.

"Nona Clara," ucap Nathan dengan suara beratnya yang menenangkan. "Anda akan tetap berada di dalam kendaraan ini bersama Rendra dan empat personel pengawal terbaik Bravo Satria.

Kendaraan ini tidak akan bergeser dari posisi penyamarannya di hutan cemara pantai, sekitar 500 meter dari gerbang luar resor. Jika terjadi sesuatu yang tidak terduga, Rendra memiliki otoritas penuh untuk membawa Anda menjauh ke zona aman berikutnya."

Clara menggenggam ujung lengan jaket taktis Nathan dengan erat, matanya tampak berkaca-kaca di bawah keremangan lampu kabin. "Nathan... tolong bawa kembali Ibuku. Dan berjanjilah, kamu juga harus kembali ke kendaraan ini tanpa terluka."

Nathan meletakkan telapak tangannya yang besar di atas punggung tangan Clara, memberikan satu remasan hangat yang mantap. "Saya memegang janji saya, Clara. Tetaplah berada di dalam sini."

Nathan melepaskan genggamannya perlahan, menutup pintu SUV lapis baja tersebut dengan bunyi debaman yang kokoh, lalu berjalan cepat menembus kegelapan malam menuju pesisir pantai berbatu yang berjarak hanya 200 meter dari hangar.

Hujan badai di pesisir utara Bandar Samudra terasa jauh lebih ganas dibandingkan di tengah kota Megapura. Angin laut bertiup kencang dengan kecepatan mencapai 45 knot, membawa butiran air asin yang dingin dan menusuk kulit. Gelombang laut utara menghantam barisan karang tajam di bawah tebing dengan suara gemuruh yang dahsyat, menciptakan buih-buih putih raksasa yang terbang ke udara.

Di ujung semenanjung, berdiri Resor Teluk Karang yang megah namun terisolasi. Dari posisinya di batas pantai berbatu bawah tebing, Nathan mendongak menatap siluet hitam bangunan resor yang bertengger kokoh di atas tebing batu setinggi 30 meter tersebut.

Lampu-lampu luar resor tampak padam, sengaja dimatikan oleh Hendra untuk memperketat pengawasan malam menggunakan sistem penglihatan malam aktif. Di atas jembatan beton yang menjadi satu-satunya jalur darat masuk ke resor, Nathan bisa melihat kilatan lampu sorot dari pos pemeriksaan ganda yang dijaga ketat oleh enam pengawal bersenjata senapan serbu kaliber 5.56 mm.

"Hendra telah mematikan seluruh lift eksternal tebing dan menarik tangga tali ke atas," suara Rendra berbisik melalui earpiece spiral terenkripsi milik Nathan. "Dia benar-benar memutus jalur laut karena menganggap tidak akan ada manusia yang bisa memanjat dinding batu licin itu di tengah badai dengan ombak setinggi 3 meter di bawahnya."

"Dia melupakan satu hal, Rendra," jawab Nathan dingin, mengenakan kacamata hibrida termal-optiknya ke kepala. "Bagi seorang prajurit, rute yang dianggap paling mustahil oleh musuh adalah rute dengan tingkat keberhasilan penyusupan tertinggi."

Nathan merayap turun ke dalam air laut yang dingin membeku. Tubuhnya yang terlatih segera beradaptasi dengan suhu air yang ekstrem. Ia membiarkan dirinya tenggelam di bawah permukaan air, menghindari hantaman gelombang langsung, dan berenang dengan gerakan yang sangat efisien menuju kaki tebing karang.

Di bawah bantuan kacamata hibrida termalnya, struktur bawah laut tebing karang itu terpeta dalam gradasi warna hijau terang dan biru dingin. Nathan menghindari barisan karang tajam dengan presisi tinggi, memanfaatkan celah-celah arus bawah laut untuk mendorong tubuhnya lebih dekat ke dinding batu.

Setelah berenang sejauh 150 meter menembus arus yang ganas, Nathan akhirnya mencapai kaki tebing batu.

Ombak besar menghantam tubuhnya berulang kali, mencoba menyeretnya kembali ke tengah laut lepas atau menghantamkannya ke dinding batu. Namun, kekuatan fisik Nathan yang luar biasa memungkinkannya untuk bertahan. Kedua tangannya yang mengenakan sarung tangan taktis grip tinggi mencengkeram erat celah batu pertama.

Ia menarik tubuhnya keluar dari air, menggantung di dinding tebing yang basah dan licin.

Nathan merogoh saku taktisnya, mengeluarkan sepasang pasak jangkar mikro (micro-pitons) berbahan titanium karbon yang sangat kuat dan ringan. Alat ini dirancang khusus untuk menembus celah batu paling sempit sekalipun dan mampu menahan beban hingga 200 kilogram per titik tumpu.

Aksi pemanjatan tebing maut itu pun dimulai.

Di tengah guyuran hujan lebat yang membuat permukaan batu tebing menjadi sangat licin dan tiupan angin badai yang mencoba menghempaskan tubuhnya, Nathan bergerak naik dengan ritme yang sangat teratur. Setiap gerakan tangannya begitu presisi mencari celah batu, menancapkan pasak jangkar mikro, lalu menarik berat tubuhnya ke atas dengan kekuatan otot punggung dan lengannya yang terlatih.

Tidak ada kawat pengaman, tidak ada tali penolong. Satu kesalahan kecil, satu pegangan yang meleset, maka Nathan akan langsung jatuh dari ketinggian belasan meter menuju barakan karang tajam di bawahnya yang siap meremukkan tubuhnya dalam sekejap.

Namun di dalam kepala Nathan, tidak ada ruang untuk rasa takut. Pikirannya sepenuhnya fokus pada hitungan taktis dan visualisasi koordinat pertahanan Hendra di atas tebing.

00.25 dini hari.

Tepat 25 menit setelah memulai pemanjatan, jemari tangan kanan Nathan akhirnya berhasil mencengkeram pembatas pagar kayu di balkon luar lantai dasar resor. Ia menarik seluruh tubuhnya ke atas dengan satu sentakan tanpa suara, mendarat dengan posisi berlutut di atas lantai kayu balkon yang basah.

Nathan segera merunduk rendah, menyatu dengan bayangan pilar kayu luar. Ia melepaskan senapan submesin MP5-Silent dari bahunya, memeriksa kesiapan pengaman senjata, dan menyesuaikan sensitivitas kacamata hibrida termalnya ke mode sapuan inframerah aktif.

"Infiltrasi tebing berhasil," bisik Nathan sangat rendah ke arah komunikatornya. "Aku berada di balkon belakang sektor timur resor."

"Kerja bagus, Bos," sahut Rendra dengan nada lega yang tertahan. "Detektor emisi kami menunjukkan adanya 2 patroli bergerak di halaman belakang yang dekat dengan posisimu. Mereka bergerak berpasangan dengan rute patroli menyilang setiap 5 menit. Waktu reaksimu sangat terbatas."

Nathan memindai halaman belakang resor yang dipenuhi oleh rimbunnya tanaman hias cemara udang. Melalui kacamata termalnya, ia mendeteksi dua radiasi panas tubuh berwarna merah-oranye terang bergerak mendekat dari arah barat halaman.

Dua pengawal sewaan Hendra berjalan perlahan dengan jas hujan hitam panjang, memegang senapan serbu kompak. Mereka mengarahkan lampu senter mereka ke arah semak-semak, tampak sedikit malas karena dinginnya malam badai.

"Sangat sepi di belakang sini," suara salah satu pengawal terdengar samar di bawah deru angin. "Hendra terlalu paranoid. Siapa juga yang mau memanjat tebing di tengah badai seperti ini? Bahkan iblis pun akan memilih tidur hangat di dalam rumah."

"Tutup mulutmu dan tetap fokus," jawab temannya kasar. "Pria bernama Nathan itu... desas-desus dari Megapura mengatakan dia melenyapkan seluruh tim Vera Sterling dalam waktu lima belas menit sendirian. Dia bukan manusia biasa."

"Ah, itu hanya rumor untuk menakut-nakuti pengawal sipil—"

Sebelum kata-kata itu selesai diucapkan, sesosok bayangan hitam meluncur keluar dari balik rimbunnya cemara udang dengan keheningan yang mengerikan.

Pfft! Pfft!

Dua tembakan sangat senyap dari MP5-Silent milik Nathan menyalak dalam waktu kurang dari $0.2$ detik.

Dua peluru sub-sonik kaliber 9 mm meluncur mulus, menembus tepat di tengah dahi kedua pengawal tersebut sebelum mereka sempat menyadari kehadiran Nathan. Tembakan itu begitu presisi hingga tidak meninggalkan ruang untuk jeritan sedikit pun.

Nathan bergerak cepat sebelum jasad kedua pengawal itu menyentuh tanah basah yang bisa menimbulkan suara bising. Ia menangkap bahu kedua jasad tersebut, menyeretnya ke dalam kegelapan semak cemara yang paling lebat, dan menyembunyikannya secara steril.

Nathan mengambil radio komunikasi taktis dari saku dada salah satu pengawal mati, menyelaraskan dekoder frekuensi komunikatornya ke saluran operasional internal Hendra.

Di dalam saluran radio yang disadap, keheningan sempat bertahan selama beberapa detik sebelum suara Hendra sendiri terdengar keras dan penuh wibawa dari dalam rumah utama.

"Seluruh unit, laporkan status perimeter luar," perintah Hendra melalui radio. "Sektor barat, laporkan."

"Sektor barat steril, Komandan," sahut salah satu pengawal di pos darat depan.

"Sektor timur halaman belakang, laporkan posisimu," panggil Hendra kembali.

Nathan menekan tombol transmisi pada radio rampasan di tangannya. Ia tidak mencoba meniru suara pengawal yang telah tewas. Sebaliknya, ia membiarkan suara berat, dingin, dan tenangnya yang sangat khas mengudara melalui frekuensi taktis milik Hendra.

"Sektor timur halaman belakang sudah steril dari anak buahmu, Hendra," ucap Nathan dengan nada yang sangat datar namun sarat akan ancaman kematian yang begitu pekat. "Dan aku menyarankanmu untuk mulai menghitung sisa napasmu dari sekarang."

Di dalam ruang tengah resor yang hangat, Hendra yang sedang berdiri di dekat Elena Wijaya yang terikat di kursi langsung membeku mendengar suara tersebut. Ponsel radio di genggamannya bergetar hebat, dan wajahnya yang keras mendadak berubah menjadi sangat pucat pasi menahan kengerian yang luar biasa.

"N-Nathan?!" desis Hendra dengan mata membelalak panik. "Bagaimana mungkin kamu... bagaimana mungkin kamu bisa berada di sini?!"

Nathan berdiri tegak di halaman belakang resor, menatap lurus ke arah jendela kaca besar ruang tengah yang menampilkan siluet termal Hendra dan Elena di bawah sapuan kacamata hibridanya.

"Aku adalah maut yang kamu undang sendiri ke Bandar Samudra, Hendra," jawab Nathan dingin sebelum meremukkan radio rampasan di tangannya hingga hancur berkeping-keping di bawah injakan sepatu bot taktisnya.

Bintang-baki catur pertempuran di pesisir utara kini telah siap sepenuhnya, dan sang Raja Perang siap meluncurkan badai murka yang paling berdarah di atas Resor Teluk Karang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!