Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.
Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.
"Kamu siapa ?"
"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"
Duarrr...
Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.
"Sayang ! Siapa yang datang ?"
Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.
Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.
Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Bab 24: Kejutan dan Kerinduan yang Meluap
Sore itu, matahari belum sepenuhnya tenggelam,
masih menyisakan cahaya keemasan yang memancar lembut menerpa halaman rumah luas milik keluarga Wijaya.
Biasanya, Arga baru akan pulang saat senja mulai turun,
Tetapi hari ini ia memutuskan untuk menyelesaikan semua pekerjaannya lebih cepat.
Sejak pagi, pikirannya terus melayang ke rumah, membayangkan wajah senyum Diana, dan rasa rindu itu terasa semakin menekan dadanya seiring berjalannya waktu.
Begitu mobil memasuki halaman dan deru mesinnya terdengar jelas,
Diana yang sedang duduk santai di ruang tamu langsung mengangkat kepalanya.
"Mas Arga !" Ujarnya dengan riang.
Ia mengenali suara mobil itu, bahkan tanpa perlu melihat kendaraannya sekalipun.
Wajahnya seketika berseri-seri, senyum merekah lebar di bibirnya.
Ia segera berdiri, sedikit berlari mendekati pintu utama, ingin menyambut suaminya.
Di luar, Arga baru saja melangkah turun dari mobil.
Senyum tidak pernah lepas dari wajahnya sejak tadi pagi.
Di kedua tangannya begitu banyak barang: satu buket bunga mawar merah segar yang sangat indah, masih memancarkan aroma wangi yang lembut,
serta beberapa kotak dan bungkusan lainnya yang berisi berbagai hadiah yang sengaja ia pilihkan untuk istrinya.
Tidak hanya Arga, Radit pun ikut mengangkat beberapa kantong kertas besar yang terlihat cukup berat.
"Sudah semuanya?" Tanya Arga sebelum masuk.
"Sudah Tuan!" Jawab Radit sedikit lesu
Dengan langkah penuh semangat,
Arga melangkah mendekati pintu.
Begitu pintu terbuka lebar, matanya langsung bertemu dengan pandangan Diana.
Ia sempat terkejut sesaat, tapi kemudian tersenyum lebih lebar lagi, matanya menyiratkan rasa bahagia yang mendalam.
"Sayang !"
"Mas !"
Mereka menyambut secara bersamaan.
Diana sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membulat tak percaya melihat apa yang dibawa suaminya.
Bunga mawar yang indah itu, serta tumpukan bungkusan di tangan Arga, membuat hatinya terasa hangat dan penuh rasa haru.
“Mas… ini semua buat aku?” tanyanya dengan suara bergetar karena terkejut dan bahagia.
Arga mengangguk sambil tersenyum lembut, lalu menyodorkan buket bunga itu ke hadapan istrinya. “Iya, Sayang. Ini semua buat kamu. Lihat, kamu suka?”
Diana segera menerima bunga itu, mencium wanginya dalam-dalam, lalu mengangkat wajahnya kembali menatap Arga.
“Sangat suka, Mas… terima kasih banyak. Rasanya aku tidak tahu harus berkata apa lagi.”
Di belakang mereka, Bi Mari dan beberapa pelayan yang kebetulan lewat ikut tersenyum melihat pemandangan itu.
Mereka merasa senang melihat tuannya begitu menyayangi istrinya, membuat suasana rumah terasa makin hangat.
Tetapi, berbeda dengan Radit yang berdiri di samping sambil menahan napas panjang, wajahnya terlihat sedikit masam.
Di dalam hatinya, ia mengeluh pelan:
Astaga… semua ini tuan yang dapat pujiannya, padahal tadi di toko, tuan hanya duduk santai sambil memerintah. Harus yang begini, harus yang begitu, warnanya harus pas, bahannya harus terbaik. Bahkan dia sempat mengancamku, kalau Nyonya tidak suka pilihannya, maka bonus bulan ini akan dipotong. Sekarang lihat, tuan yang terlihat gagah di mata nyonya, sedangkan aku? Tanganku sudah pegal.
Namun, Radit hanya bisa mendesah dalam hati, tidak berani mengungkapkan kekesalannya itu.
"Mas, kamu romantis banget, makasih banyak yah! Aku suka!"
Diana terus memuji dan mengucapkan terima kasih berulang kali, matanya berbinar penuh kebahagiaan.
Ia memandang Arga seolah pria di hadapannya itu adalah harta paling berharga yang pernah ia miliki.
“Bi Mari, tolong bawa semua ini ke kamar. Jangan ada yang tertinggal,” perintah Arga dengan nada lembut, sambil menyerahkan sebagian barang bawaannya kepada pelayan yang sudah siap menunggu.
Setelah semuanya dibawa masuk, Arga menoleh ke arah Radit yang sudah bersiap untuk pamit.
"Kalau begitu, saya pamit undur diri, Tuan-Nyonya, Selamat beristirahat" Ujar Radit sambil membungkukkan badannya
Tetapi...
Sebelum asistennya itu melangkah pergi,
Arga tersenyum tipis dan berkata dengan suara yang cukup keras agar didengar jelas:
“ Radit. Kerjamu hari ini sangat memuaskan. Bonusmu bulan ini aku naikan tiga kali lipat dari biasanya.”
Mendengar kalimat itu, wajah masam Radit seketika berubah menjadi cerah seperti matahari pagi.
Ia langsung kembali membungkuk dalam-dalam, rasa dongkol yang tadi ada langsung hilang seketika tergantikan rasa bahagia.
“Baik, Tuan! Terima kasih banyak, Tuan! Kalau begitu saya pamit dulu, Tuan, Nyonya.”
Arga dan Diana mengangguk bersamaan.
"Mas, kenapa tadi aku lihat Radit kayak lagi kesel" Tanya Diana, sekilas tadi dia melihat raut wajah asisten suaminya itu
Arga tertawa pelan, dia tau, pasti asistennya dongkol saat tadi berbelanja di Mall, tetapi mana mungkin dia mengatakan itu pada istrinya,
"Mungkin karena dia iri sama kita sayang, dia kan jomblo!" Ujar Arga terkekeh geli
Nah kan, jika Radit mendengarnya. Sudah pasti dia akan mengucapkan sumpah serapahnya dalam hati.
Sudah Radit bilang, sebenarnya keluarga Wijaya ini aslinya asbun semua.
Mendengar itu, Diana menepuk pelan dada bidang suaminya.
"Mulutmu Loh Mas!" Kekeh Diana
Setelah Radit benar-benar pergi
Diana segera menggandeng lengan suaminya dan membawanya masuk ke ruang tengah.
Ia meminta Arga duduk dengan nyaman, lalu segera mengambilkan segelas air putih hangat untuk suaminya.
“Minum dulu, Mas. Pasti capek seharian kerja,” ucapnya lembut, lalu mulai memijat lembut bahu Arga yang terasa tegang.
Tetapi, Arga segera menahan tangan istrinya itu, lalu memutar tubuhnya agar bisa menatap wajah Diana.
“Sudah, Sayang. Jangan memijat, nanti tangan kamu pegel. Aku nggak apa-apa, apalagi lihat senyummu seperti ini, rasa lelah itu langsung hilang seketika.”
"Nggak apa-apa, Mas. Tangan aku kuat kok!" Ujar Diana sambil memijat lengan suaminya
"Mas juga kuat, sayang. apalagi kalau di kamar" Mata Arga mengerling nakal
Arga berdiri, lalu menggandeng tangan Diana menuju lantai atas menuju kamar mereka.
Begitu masuk ke dalam kamar yang tertata rapi dan wangi,
Arga segera melepaskan jas kerjanya dengan bantuan Diana,
"Sini Mas, aku bantu!"
"Makasih, Sayang!"
Arga kemudian melepas kancing lengan kemejanya.
Tanpa berlama-lama lagi, ia juga segera melepaskan dasi yang seharian melilit lehernya,
lalu membuka dua kancing bagian atas kemejanya, menampakkan bagian dada yang bidang dan berotot yang terlihat sangat maskulin.
Kenapa aku selalu tergoda saat melihatnya, Batin Diana
Dia menatap dada bidang itu tanpa sadar, matanya terpaku pada bagian dada yang sedikit berbulu itu, dan tangannya terasa gatal ingin menyentuhnya.
Jantungnya berdegup kencang, rasa hangat perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Pegang sepuasmu sayang, semua ini milikmu!" Arga menuntun tangan mungil itu ke dadanya lalu turun ke perut sixpack nya .
Diana semakin berani, tangannya semakin turun ke bagian yang paling bawah, menekannya perlahan, bibirnya terbuka, dan matanya semakin binal
"Sayangghhh..." Arga menggeram tertahan merasakan ada yang semakin membesar di dalam dekapan tangan istrinya.
Ia sudah sangat merindukan istrinya ini, rasanya sudah lama sekali tidak memeluk dan menciumnya sepuas hati.
Diana juga menikmatinya,
Arga segera menarik tubuh istrinya itu mendekat, lalu mendaratkan ciuman singkat dan hangat di bibirnya.
“Aku sangat merindukanmu, Sayang…” bisiknya dengan suara berat dan sedikit mendesah.
Diana tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mengangkat wajahnya dan membalas dengan mencium kedua pipi suaminya secara bergantian, lembut dan penuh kasih sayang.
Lalu beralih pada bibir tebal suaminya.
Tindakan itu membuat Arga semakin tergoda dan gemas.
Ia memeluk pinggang ramping Diana erat-erat, lalu kembali mencium bibirnya, kali ini lebih dalam dan penuh hasrat.
Tangan Diana masih nakal berada di sana, mengurutnya pelan.
Keduanya saling mengecap, saling melumat bibir satu sama lain dengan lembut dan penuh gair*h.
"Eunghhh.."
Suara desah*n halus keluar dari mulut Diana, membuat Arga semakin memperdalam cium*nnya, membiarkan rasa rindu yang telah terpendam seharian itu meluap tanpa tersisa.
“Mas… aku juga kangen…” bisik Diana di sela cium*n, napasnya terasa memburu.
Tanpa banyak bicara lagi, Arga menggendong tubuh istrinya, lalu melangkah menuju kamar mandi.
Pintu tertutup rapat, menyisakan privasi bagi keduanya.
Di dalam sana, suara air yang mengalir bercampur dengan desah*n dan erang*n manja yang penuh kenikmat*n,
menjadi bukti betapa besarnya kerinduan yang mereka pendam.
Mereka melupakan sejenak segala urusan di luar, masalah keluarga, urusan kantor, dan hanya terfokus pada satu sama lain, menyatukan rasa cinta dan rindu yang terasa begitu dalam.