Pada hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya, Aruna justru dipaksa menikah dengan pria yang paling ia benci.
Pria itu adalah Adrian Mahesa, pewaris keluarga Mahesa Group yang dingin, arogan, dan terkenal tidak memiliki hati.
Pernikahan mereka bukanlah tentang cinta.
Melainkan kesepakatan.
Ayah Aruna terlilit utang besar yang mengancam keluarganya. Satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Adrian: menikah dengannya selama dua tahun.
Aruna mengira dirinya hanya akan menjadi istri pajangan.
Namun setelah menikah, ia menemukan banyak hal yang tidak masuk akal.
Mengapa Adrian diam-diam selalu melindunginya?
Mengapa pria itu menyimpan foto masa kecilnya?
Dan mengapa keluarga Mahesa tampak begitu takut jika Aruna mengetahui kebenaran tentang kematian ibunya?
Ketika rahasia masa lalu mulai terungkap, Aruna harus memilih.
Meninggalkan Adrian dan membalas dendam.
Atau tetap bersama pria yang perlahan berhasil merebut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VeLynme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinyal dari Dalam Tubuh
Biiip...
Suara elektronik itu menggema di dalam pabrik tua.
Pendek.
Tajam.
Namun efeknya jauh lebih mengerikan daripada letusan senjata.
Seluruh ruangan membeku.
Tatapan semua orang tertuju pada alat kecil di tangan Jonathan.
Aruna sendiri tidak memahami apa yang sedang terjadi.
Namun ekspresi orang-orang di sekitarnya membuat jantungnya berdegup semakin keras.
Mahendra terlihat pucat.
Ratih membelalak.
Bahkan Adrian yang selama ini berusaha tetap tenang kini tampak tegang.
Sangat tegang.
Seolah mereka semua mengenali benda itu.
Dan mengetahui sesuatu yang tidak diketahui Aruna.
"Apa itu?"
tanya Aruna.
Tidak ada yang menjawab.
Jonathan justru tersenyum.
Lalu menekan tombol sekali lagi.
Biiip...
Suara kedua terdengar.
Dan kali ini...
Alat itu mengeluarkan lampu kecil berwarna hijau.
Lampu yang berkedip perlahan.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Kemudian berhenti.
Senyum Jonathan semakin lebar.
---
"Mustahil."
bisik Mahendra.
Tangannya mengepal kuat.
Seolah berusaha mengendalikan sesuatu dalam dirinya.
"Ternyata kau benar-benar menyimpannya di dalam dirinya, Alya."
kata Jonathan pelan.
Nada suaranya hampir terdengar kagum.
Namun kekaguman itu justru terasa menyeramkan.
Karena berasal dari pria yang telah menghancurkan begitu banyak kehidupan.
"Aku tidak mengerti."
kata Aruna.
Tatapannya berpindah dari Jonathan ke Mahendra.
"Lampu itu apa?"
Mahendra menelan ludah.
Wajahnya semakin tegang.
"Itu pemindai."
Jantung Aruna berdegup keras.
"Pemindai apa?"
"Tidak sekadar pemindai."
Jonathan yang menjawab.
Ia mengangkat alat itu sedikit lebih tinggi.
"Aku menghabiskan bertahun-tahun untuk membuatnya."
Matanya berkilat.
Penuh obsesi.
Penuh kegilaan yang selama ini tersembunyi di balik sikap tenangnya.
"Alat ini dirancang untuk menemukan media penyimpanan mikro tertentu."
Keheningan langsung menyelimuti ruangan.
Dan Aruna mulai membenci arah pembicaraan ini.
Sangat membencinya.
---
"Lima belas tahun."
Jonathan tertawa kecil.
"Lima belas tahun aku mencari sesuatu yang bahkan tidak yakin masih ada."
Tatapannya tidak pernah lepas dari Aruna.
"Aku mencari dokumen."
"Tidak ada."
"Aku mencari hard drive."
"Tidak ada."
"Aku mencari rekening rahasia."
"Tidak ada."
Ia mengangkat alat itu.
"Lalu akhirnya aku berpikir berbeda."
Senyumnya perlahan melebar.
"Alya terlalu cerdas untuk menggunakan cara biasa."
Aruna merasa tenggorokannya mengering.
Karena perlahan-lahan...
Ia mulai memahami.
Dan ia berharap dirinya salah.
Sangat berharap.
---
"Tidak."
kata Dimas tiba-tiba.
Ia melangkah maju.
Meski tubuhnya masih lemah.
Meski luka dan kelelahan menggerogoti dirinya.
Namun saat itu hanya ada satu hal dalam pikirannya.
Melindungi Aruna.
"Jangan dekati dia."
Jonathan tertawa.
"Masih berpura-pura menjadi pahlawan?"
Dimas tidak menjawab.
Tatapannya tajam.
Penuh kemarahan.
Penuh kebencian.
"Jika kau menyentuhnya..."
"Apa?"
Jonathan mengangkat alis.
"Akan kau bunuh aku?"
Ruangan kembali menegang.
Karena semua orang tahu.
Dimas bukan ancaman terbesar bagi Jonathan.
Pria tua itu tidak memiliki pasukan.
Tidak memiliki kekuasaan.
Tidak memiliki uang.
Namun ia memiliki sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Ia tidak punya apa pun lagi untuk kehilangan.
Dan orang seperti itu sering kali menjadi yang paling nekat.
---
"Benda itu tidak boleh digunakan."
kata Mahendra.
Suaranya berat.
Jonathan menoleh.
"Kenapa?"
"Kau tahu risikonya."
Senyum Jonathan sedikit memudar.
Namun hanya sesaat.
"Aku tidak peduli."
Jawaban itu membuat suasana semakin dingin.
Karena semua orang tahu.
Jonathan mengatakan kebenaran.
Ia benar-benar tidak peduli.
Tidak peduli siapa yang terluka.
Tidak peduli siapa yang mati.
Tidak peduli berapa banyak darah yang harus tumpah.
Selama ia mendapatkan apa yang diinginkannya.
---
"Apa risikonya?"
Aruna menatap Mahendra.
Pria itu tampak ragu.
Sangat ragu.
Namun akhirnya ia menjawab.
"Jika data itu benar-benar ada dalam tubuhmu..."
Ia berhenti.
Menelan ludah.
Lalu melanjutkan.
"...maka alat itu dapat menemukan lokasi tepatnya."
Jantung Aruna langsung berdegup keras.
"Dan setelah itu?"
Tidak ada yang menjawab.
Sampai Jonathan tersenyum.
"Setelah itu..."
Tatapannya dingin.
"...aku mengambilnya."
Keheningan langsung menyelimuti ruangan.
Aruna membeku.
Mengambilnya?
Dari tubuhnya?
Bagaimana caranya?
Dan mengapa cara Jonathan mengatakannya terdengar begitu mengerikan?
---
"Jangan dengarkan dia."
kata Ratih cepat.
Namun Jonathan hanya tertawa.
"Kenapa tidak?"
Ia menoleh kepada Aruna.
"Karena kau berhak tahu."
Senyumnya kembali muncul.
"Media penyimpanan itu terlalu kecil untuk ditemukan tanpa operasi."
Dunia seakan berhenti.
Operasi.
Kata itu membuat darah Aruna membeku.
Operasi.
Bukan pemeriksaan.
Bukan pemindaian.
Bukan tes sederhana.
Operasi.
Dan saat melihat ekspresi Jonathan...
Ia sadar satu hal.
Pria itu tidak peduli apakah operasi tersebut aman atau tidak.
---
Adrian langsung berdiri di depan Aruna.
Melindunginya.
Secara refleks.
Secara naluriah.
Seolah tubuhnya bergerak sendiri.
"Kau tidak akan menyentuhnya."
katanya dingin.
Jonathan tersenyum.
"Masih mencoba menjadi pahlawan?"
Tatapan Adrian tajam.
"Aku serius."
"Oh, aku juga."
Ruangan langsung dipenuhi ketegangan.
Anak buah Jonathan mempererat kepungan.
Senjata mulai terangkat lebih tinggi.
Jari-jari berada di dekat pelatuk.
Situasi bisa meledak kapan saja.
Dan semua orang mengetahuinya.
---
Aruna menatap punggung Adrian.
Punggung yang berdiri di depannya.
Melindunginya.
Seperti yang selalu dilakukan pria itu.
Meski malam ini mereka baru saja mengetahui kemungkinan bahwa mereka memiliki hubungan darah.
Kemungkinan yang masih menggantung.
Kemungkinan yang belum terbukti.
Namun Adrian tetap melindunginya.
Tanpa ragu.
Tanpa berpikir.
Dan entah kenapa...
Hal itu membuat dada Aruna terasa semakin sakit.
Karena perasaannya terhadap Adrian belum hilang.
Belum berubah.
Dan itulah yang paling menyakitkan.
---
"Tidak perlu seperti ini."
kata Jonathan.
Nada suaranya tiba-tiba menjadi lebih tenang.
Lebih halus.
Lebih berbahaya.
Karena pria seperti dirinya selalu paling berbahaya saat terlihat tenang.
"Aku hanya ingin informasi."
"Dan Alya hanya ingin kebenaran."
balas Adrian.
Tatapannya tajam.
"Namun dia mati."
Jonathan terdiam.
Sesaat.
Hanya sesaat.
Namun semua orang melihatnya.
Melihat perubahan kecil di wajahnya.
Seolah nama Alya masih mampu memengaruhinya.
Masih mampu menyentuh bagian tertentu dalam dirinya.
Bagian yang belum sepenuhnya mati.
---
"Lima belas tahun."
kata Jonathan pelan.
"Tahukah kalian berapa banyak orang yang mati karena rahasia itu?"
Tidak ada yang menjawab.
Karena tidak ada yang tahu.
"Mungkin puluhan."
Ia tersenyum pahit.
"Mungkin ratusan."
Tatapannya beralih kepada Aruna.
"Dan semuanya karena satu nama."
Nama.
Bukan uang.
Bukan dokumen.
Bukan kekuasaan.
Nama.
Satu nama.
Nama seseorang yang berada di puncak segalanya.
Seseorang yang belum pernah muncul.
Namun bayangannya menghancurkan hidup begitu banyak orang.
---
Tiba-tiba...
Biiip...
Alat di tangan Jonathan berbunyi lagi.
Semua orang langsung menoleh.
Lampu hijau menyala.
Kali ini lebih terang.
Lebih lama.
Dan kemudian—
Biiip!
Biiip!
Biiip!
Bunyi itu menjadi lebih cepat.
Lebih sering.
Lebih nyaring.
Senyum Jonathan perlahan melebar.
Sementara wajah Mahendra berubah semakin pucat.
"Oh, tidak."
bisiknya.
"Apa?"
tanya Aruna.
Mahendra menatap alat itu.
Lalu menatap Aruna.
Dan untuk pertama kalinya malam itu...
Ada kepanikan nyata di matanya.
"Pindaiannya berhasil."
Jantung Aruna langsung jatuh.
---
"Tidak mungkin."
kata Ratih.
Namun suara alat itu terus berbunyi.
Terus.
Dan terus.
Seolah mengonfirmasi sesuatu.
Mengonfirmasi bahwa memang ada sesuatu dalam tubuh Aruna.
Sesuatu yang selama ini tersembunyi.
Sesuatu yang ditinggalkan Alya.
Sesuatu yang dicari begitu banyak orang.
Jonathan melihat layar kecil pada alat tersebut.
Kemudian tertawa.
Tawa pendek.
Namun penuh kemenangan.
"Akhirnya."
katanya.
"Akhirnya."
---
"Apa yang kau lihat?"
bentak Adrian.
Jonathan tidak langsung menjawab.
Ia memperhatikan layar beberapa detik lagi.
Kemudian mengangkat kepalanya perlahan.
Dan senyum di wajahnya membuat bulu kuduk semua orang berdiri.
Karena itu bukan senyum bahagia.
Bukan senyum lega.
Melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang tidak terduga.
Sesuatu yang bahkan lebih besar daripada yang ia harapkan.
"Menarik."
katanya pelan.
Sangat pelan.
Namun cukup untuk membuat seluruh ruangan menegang.
"Apa?"
teriak Mahendra.
Jonathan menatapnya.
Lalu tertawa.
Kali ini lebih keras.
Lebih lama.
Lebih menyeramkan.
Karena ada ketidakpercayaan dalam tawanya.
Ada keterkejutan.
Dan ada sedikit rasa takut.
Sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
---
"Lima belas tahun."
katanya sambil menggeleng.
"Dan ternyata kita semua salah."
Keheningan langsung memenuhi ruangan.
Aruna merasakan jantungnya berdetak semakin cepat.
Apa maksudnya?
Salah tentang apa?
Bukankah data itu ada dalam tubuhnya?
Bukankah itu yang selama ini mereka cari?
Namun ekspresi Jonathan menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Sesuatu yang jauh lebih besar.
Sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Kemudian pria itu mengangkat layar alat tersebut.
Memperlihatkannya kepada Mahendra.
Dan dalam sekejap...
Wajah Mahendra kehilangan seluruh warna.
Seolah darahnya menghilang.
Seolah dunia baru saja runtuh.
"Mustahil..."
bisiknya.
"Tidak..."
Tangannya mulai gemetar.
Tubuhnya bahkan terlihat limbung.
Dan saat melihat reaksi itu...
Jantung Aruna terasa berhenti.
Karena Mahendra bukan orang yang mudah terguncang.
Jika pria itu bereaksi seperti ini...
Maka apa yang baru ditemukan Jonathan pasti sangat mengerikan.
Sangat besar.
Sangat tidak terduga.
Lalu Jonathan menatap Aruna.
Tatapannya berbeda sekarang.
Bukan seperti orang yang melihat target.
Bukan seperti orang yang melihat alat penyimpanan.
Melainkan seperti orang yang baru memahami teka-teki terbesar dalam hidupnya.
Dan saat ia akhirnya berbicara...
Seluruh dunia Aruna kembali runtuh.
"Aruna..."
Senyumnya perlahan menghilang.
"...kau bukan tempat penyimpanan data itu."
Keheningan.
Mencekam.
Tidak ada yang bernapas.
Tidak ada yang bergerak.
Lalu Jonathan melanjutkan.
Dengan suara yang jauh lebih pelan.
Jauh lebih dingin.
Dan jauh lebih mengerikan.
"Kaulah datanya."
Bersambung...