NovelToon NovelToon
Takluknya Boss Kecil Mafia

Takluknya Boss Kecil Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: NoorBee

Aruna (25tahun) adalah wanita karir sukses, cantik, dan mandiri yang hidupnya terusik oleh teror "kapan nikah" dari orang tuanya. Lelah dengan tekanan tersebut, Aruna memutuskan melepas penat di sebuah kelab malam bersama sepupu-sepupunya. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol, ia terlibat cinta satu malam (one night stand) dengan seorang pria tampan nan karismatik. Betapa terkejutnya Aruna saat terbangun di apartemen dan mendapati pria tersebut adalah teman akrab sepupunya sendiri. Syoknya bertambah berkali-kali lipat saat mengetahui fakta baru: pria itu ternyata seorang berondong yang usianya jauh di bawah Aruna. Hubungan tak terduga ini mendadak rumit ketika si pria enggan menjauh dan justru menawarkan solusi gila untuk menghadapi orang tua Aruna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NoorBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

07.Enemies-to-lovers korporat

"Kenapa nggak diangkat, Run? Nyokap tuh," tegur Evan dari kursi belakang sembari membuka botol air mineral.

Aruna menelan ludah, dan menarik nafas dalam, menekan tombol hijau, lalu menempelkan ponsel ke telinganya.

"Halo, Ma?" ucap Aruna, berusaha membuat suaranya terdengar serileks mungkin.

"Aruna! Kamu di mana? Jam segini kok belum sampai rumah?" Suara melengking ibunya langsung terdengar memenuhi speaker ponsel, bahkan cukup keras hingga bisa didengar oleh Gavin dan evan

"Mama sama Papa sudah nunggu di ruang tamu. Ini Mas Bagas, anak temen Mama yang PNS itu, sudah jalan ke rumah kita! Kamu jangan bikin Mama malu ya, cepat pulang!"

Aruna memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri.

"Iya, Ma. Ini Aruna lagi di jalan, kok. Kebetulan lagi bareng Ka Evan juga."

"Oh, ada Evan anak mamah yang paling ganteng?" ucap inda dengan nada yang berbeda

" mamah, i lope you pull" teriak evan membuat inda tertawa

"Bagus deh. Bilang ke Evan jangan bawa mobil ngebut-ngebut. Dan kamu, Aruna, sudah dandan belum? Jangan pakai baju kantor yang kusut-kusut begitu di depan calon suami!"

Mendengar kata 'calon suami', Gavin yang sedang memegang kemudi mendadak mendengus pelan, hampir saja tertawa. Aruna langsung melotot tajam ke arah berondong di sebelahnya itu, memberi isyarat maut agar Gavin tetap diam.

"Iya, Ma, Aruna rapi kok. Ini pakai syal juga. Sudah ya, Ma, Aruna tutup dulu karena lagi di jalan," potong Aruna cepat sebelum ibunya membahas urusan umur lagi.

"Iya, cepat ya! Awas kamu kalau telat!"

Pip. Sambungan telepon terputus.

Aruna menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya ke kursi dengan perasaan frustrasi yang teramat sangat.

Cobaan hidupnya hari ini benar-benar datang bertubi-tubi. Malam melakukan one night stand, pagi menyadari korbannya adalah berondong sahabat sepupu, siang mengetahui pria itu adik orang terkaya dan sangat disegani oleh banyak pihak, dan sore ini ia harus menghadapi kencan buta paksaan ibunya.

Dari kursi tengah, Evan menggeleng-gelengkan kepala penuh simpati.

 "Buset, nyokap lo masih gencar aja ya, run, nyariin jodoh? Kasihan banget hidup lo, dikejar-kejar target maut kayak sales asuransi."

Gavin memindahkan persneling dan mulai menginjak gas, membawa mobil kembali membelah kemacetan jalan raya. Sambil menatap lurus ke depan, Gavin membuka suara dengan nada santai namun penuh intrik terselubung.

"Kalau Kak Aruna stres banget sama perjodohan itu..." gavin menjeda kalimatnya sengaja, membuat Aruna menoleh waspada.

 "...gimana kalau gue aja yang maju jadi pacar sewaan Kakak di depan nyokap?"

Evan langsung tersedak air mineral yang sedang diminumnya.

 "Uhuk! Hah? Lo ngomong apa, Vin? Lo mau jadi pacar sewaan sepupu gue?!"

Aruna sendiri hampir kehilangan suaranya. Ia menatap profil samping wajah Gavin dengan mata membelalak, menyadari bahwa berondong di sebelahnya ini baru saja melemparkan sebuah umpan gila di depan sepupunya sendiri.

Evan langsung tertawa terbahak-bahak hingga memukul sandaran kursi depan. Suara tawanya yang menggelegar memenuhi seisi kabin mobil, memecah ketegangan yang sempat memuncak.

"Gila lo, vin! Selera humor lo makin absurd aja," ujar Evan sambil menyeka air mata fiktif di sudut matanya.

"Muka lo tadi pas ngomong itu lempeng banget lagi. Sumpah, lo cocok ikut audisi stand-up comedy!"

" Bener bener lo sama dom beda banget, Tante Valeri ngidam apa sih sebebernya " tambah evan

Gavin hanya menanggapi dengan senyum miring yang penuh arti, tetap fokus menatap jalanan di depannya tanpa membantah. Evan kemudian memajukan tubuhnya, menepuk bahu gavin dengan akrab.

"Lagian nih ya, vin, lo sadar kamera kagak? Maknya Sepupu gue ini tipenya tinggi banget. Dia carinya bos-bos mapan sekelas manajer atau direktur korporat yang setara sama anaknya. Lah lo? Biar kata startup lo dapet dana gede, status lo di KTP itu masih 'Mahasiswa', Bro! Bisa jantungan tante inda kalau tahu anaknya bawa pulang berondong yang umur paspornya baru lewat batas legal."

Aruna menarik napas lega dalam-dalam. Untung saja Evan menganggapnya sebagai lelucon konyol. Namun, ia tetap melemparkan tatapan peringatan maut kepada Gavin agar tidak melanjutkan kegilaan ini.

"Tuh, dengerin temen kamu sendiri, gavin" sahut Aruna dengan nada meremehkan yang dibuat-buat, mencoba mengembalikan wibawanya.

" Gw bukan temen Evan. Dia temennya Dom" jawab gavin santai, evan hanya mendengus

 "Seleramu boleh juga buat ukuran bahan bercandaan. Tapi maaf, saya tidak butuh bantuan dari anak kuliahan yang urusan bangun paginya saja masih berantakan."

Gavin sama sekali tidak tersinggung dengan sindiran tajam Aruna maupun olok-olok dari evan.

Saat mobil harus berhenti lagi karena lampu merah, gavin mengetuk-ngetuk setir kemudi dengan santai.

Ia melirik Aruna melalui kaca spion samping, lalu berbicara dengan nada yang cukup rendah namun jelas.

"Gue nggak bercanda kok, Van. Kan kasihan Kak Aruna kalau harus senyum terpaksa di depan mas-mas PNS narsis itu nanti malam. Ya nggak, Kak?"

Evan kembali terpingkal-pingkal di belakang.

 "Udah, Vin, udah! Jangan dilanjutin godain sepupu gue. Tuh liat, muka Kak Aruna udah sepet banget kayak kesemek, bisa-bisa lo diturunin di pinggir tol kalau dia ngamuk!"

Aruna hanya bisa mengepalkan tangannya di atas pangkuan, menahan kekesalan yang sudah sampai ke ubun-ubun karena gavin terus-menerus memojokkannya dengan kedok bercanda.

Di kursi depan, Aruna tidak lagi mendengarkan celotehan Evan yang masih asyik mengolok-olok Gavin. Fokusnya kini beralih total pada strategi bertahan hidup. Sebagai seorang Manajer Pemasaran yang terbiasa menangani krisis mendadak di perusahaan, otak Aruna mulai bekerja dengan kecepatan penuh untuk menyusun rencana darurat.Ia memejamkan mata sejenak, memetakan situasi di kepalanya seperti menyusun flowchart presentasi bisnis.

Taktik satu, Aruna akan masuk ke rumah dengan wajah selelah mungkin. Ia akan menyapa pria PNS itu sesingkat mungkin, mengeluh pusing karena migrain akibat tekanan kerja, lalu langsung mengunci diri di kamar.

Taktik dua, Aruna sadar ia tidak bisa terus-menerus menggunakan kekerasan verbal pada Gavin. Semakin ia ketus, berondong itu justru semakin tertantang. Aruna memutuskan untuk mengubah taktik menjadi negosiasi bisnis yang dingin malam ini lewat pesan teks.

Taktik tiga, Begitu mobil ini berhenti di depan pagar rumahnya, Aruna harus langsung turun, mengambil tasnya, dan masuk tanpa memberikan celah sedikit pun bagi Gavin untuk turun dari kursi kemudi atau menawarkan diri ikut masuk ke dalam rumah.

Aruna membuka matanya kembali, merapikan syal sutra di lehernya untuk memastikan jejak semalam tertutup sempurna, lalu melirik Gavin dari sudut matanya. Pria itu masih menyetir dengan satu tangan, tampak sangat santai dan tidak tahu apa yang sedang ia rencanakan.

"Oke," bisik Aruna sangat lirih pada dirinya sendiri.

Kamu pasti bisa mengatasi ini, Aruna. Jangan biarkan bocah sembilan belas tahun dan perjodohan kolot ini merusak hidupmu.

Mobil SUV hitam itu pun mulai melambat, berbelok memasuki kompleks perumahan elite tempat orang tua Aruna tinggal.

Ponsel Evan tiba-tiba berdering. Melihat nama salah satu wanita teman tidurnya di layar, Evan langsung sumringah. Ia memakai earphone dan mulai asyik mengobrol dengan suara berbisik yang genit, tenggelam sepenuhnya dalam dunianya sendiri di kursi belakang.

Melihat kesempatan itu, gavin memanfaatkan momen keheningan di kabin depan. Tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan kompleks, tangan kirinya bergerak lincah mengetik sesuatu di layar ponsel yang diletakkan di dekat tuas transmisi.

Bzzz.

Ponsel di pangkuan Aruna bergetar. Sebuah pesan masuk dari Gavin.

“Gue tahu Kakak lagi pasang muka serius buat nyusun rencana kabur di otak cantiknya itu. Rencana 1,2,3, Kak? 😉”

Aruna terbelalak. Bagaimana bisa berondong ini membaca pikirannya dengan begitu akurat? Belum sempat ia membalas dengan ketikan penuh amarah, ponselnya kembali berdenting pelan.

Jangan buang-buang energi buat mikirin cara ngusir mas-mas PNS itu nanti, Kak. Dia bukan tandingan Kakak. Lagipula, rencana Kakak buat langsung lari kunci diri di kamar nggak akan berhasil.”

“Kenapa? Karena setelah ini gue bakal ikut turun dari mobil. Gue bakal masuk ke rumah Kakak dengan alasan sopan, pamit sama Om dan Tante karena udah numpang di mobil evan.

“Gue bakal mastiin ibu Kakak ngeliat siapa pria yang sebenarnya lebih cocok berdiri di sebelah anaknya. Mending Kakak hapus rencana darurat Kakak, dan mulai kerja sama sama gue. Deal? 🤝”

Aruna meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Rencana darurat tiga yang baru saja ia susun rapi di kepalanya mendadak hancur berantakan bahkan sebelum mobil ini berhenti di depan pagar rumahnya. Gavin benar-benar selangkah lebih maju, sengaja memotong semua jalur evakuasi yang Aruna miliki.

Tepat saat itu, mobil SUV hitam mereka berhenti mulus di belakang sedan putih milik si pria PNS. Gavin menarik rem tangan, mematikan mesin.

Aruna menatap layar ponselnya dengan napas yang memburu akibat panik. Ekor matanya melirik Gavin yang sudah bersiap membuka sabuk pengamannya. Sadar bahwa waktu evakuasi tersisa kurang dari sepuluh detik, jemari Aruna bergerak secepat kilat di atas papan ketik, mengetik balasan dengan emosi yang tertahan

Kelewatan ya kamu! Oke, fine! KITA DEAL! Tapi ada syaratnya!Kamu masuk, pamit sopan, usir si PNS itu dengan cara apa pun terserah kamu, TAPI jangan berani-berani sebutkan kejadian semalam di depan orang tua saya! Dan setelah malam ini selesai, kamu HAPUS nomor saya! Kita sudah selesai! Paham?!

Aruna menekan tombol kirim dengan sangat keras, seolah ingin melampiaskan kekesalannya pada layar kaca tersebut.

Bzzz.

Hanya butuh dua detik bagi Gavin untuk membaca pesan itu. Pria itu menurunkan ponselnya kembali, lalu menoleh ke arah Aruna. Bukannya takut dengan rentetan huruf kapital penuh ancaman tersebut, Gavin justru mengulas senyum miring yang penuh kemenangan.

Ia mengulurkan tangan kanannya ke depan dada Aruna, menanti jabat tangan resmi sebagai tanda kesepakatan bisnis gila mereka.

"Deal, Kak Calon Pacar," bisik gavin sangat pelan, suaranya tenggelam di balik suara Evan yang masih asyik tertawa menelepon pacarnya di kursi belakang.

"Senang bisa bekerja sama dengan Manajer Pemasaran secantik Kakak."Aruna terpaksa menyambut jabat tangan itu dengan sangat kilat, meremas telapak tangan gavin dengan sisa-sisa harga dirinya yang terluka.

"Jangan panggil saya begitu. Ingat batasan kamu, gavin."

"Siap, Bos," sahut gavin jenaka.Tepat setelah tautan tangan mereka terlepas, Evan mematikan teleponnya dan membuka pintu mobil.

 "Vin, Run, yuk turun! Tuh mobil si PNS udah nangkring gagah banget di depan pagar."

Aruna menarik napas dalam-dalam, membetulkan letak syal sutranya untuk terakhir kali, lalu bersiap melangkah keluar mobil menuju medan perang yang sesungguhnya.

***

1
Jingga
Menarik, fresh, menghibur
Alam2719
Thor, sehari up tiga kali yah????
QueenBee: di usahkan tiga kali yah, pagi, siang sama malam🙏🙏
total 1 replies
Alam2719
gw juga kecewa kalau jadi papa fiki
Alam2719
Thor, ganteng amat si gavin!!
QueenBee: iyah aku juga merasa dia ganteng banget🤣
total 1 replies
Musafa87
Thor thor, visul yang lain dong, 🤣🤣🤣
QueenBee: hahahaha.... oke aku usahakan yah kaaaa 😍
total 2 replies
Musafa87
Gavin lo ganteng amat!!!! sesuai ekspektasi gw 😍😍😍😍😍
QueenBee: terimakasih kaaa
total 1 replies
HD1
aruna run 🤣
hayroco
berondong obses🤣
hayroco
berondong meresahkan
Anonymous333
ih seru thor!!!
Anonymous333
vin, tokcer amat lo 🤣
Jingga
sumpah, seru 🤣🤣🤣
Jingga
anjrit, hamil 🤣🤣🤣🤣
Jingga
cantik banget cewenya 😍
Bocil323
thor kapan up lagi, rame dong 🤣🤣🤣
Bocil323
ighhh ko gemes 😍😍😍
Bocil323
wkwkwkwkwkkw malah di restuin sama om fiki 🤣🤣🤣
Bocil323
please banget, mau satu berondong yang kaya gini!!!
Bocil323
evan rey, usil banget loh 🤣🤣🤣
Bocil323
aaaahhhhh!!! asli bagus banget, suka banget!!!!! karakter cowonya kuat, dan cewenya cantik banget!!! dom juga kepala mafia tapi secy banget kata gw mah!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!