Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.
Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa
Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.
Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inara 1
"Mas, kamu nggak sarapan dulu?" tanya Inara saat melihat Mahesa keluar dari dalam kamarnya dan melewati dirinya yang sudah menunggu di meja makan dengan sarapan yang dia buat dari subuh.
"Bukankah sudah aku katakan, jangan terlalu berle-bihan! Bersikap biasa saja, Inara. Aku tak bisa memberikan hatiku untukmu. Walau kita sudah menikah selama satu tahun. Tapi aku tak bisa mencintai kamu. Berhenti berusaha membuat aku jatuh cinta dengan semuanya!"
Inara mem-be-ku. Sendok sayur yang dia pegang masih meng gan-tung di udara, membiarkan uap tipis dari sup ayam favorit Mahesa mengabur di depan matanya.
"Satu tahun, Mas," suara Inara nyaris tak terdengar, serak dan ge-me-tar.
Dia meletakkan sendok itu pelan, menimbulkan bunyi dentang logam yang me-me-cah keheningan.
"Aku tidak sedang memintamu menye-rah-kan seluruh hidupmu pagi ini. Aku hanya memintamu makan." Inara berbicara pelan mencoba menggeng-gam kedua tangannya sendiri yang mulai ber-ge-tar karena mena-han rasa sakit di hatinya.
Mahesa mende-ngus, jema-rinya sibuk merapikan simpul dasi di depan cermin besar dekat pintu masuk.
"Makan malam, sarapan, bekal kantor! itu bukan sekadar makanan, Inara. Itu jebakan rasa bersalah yang kau susun rapi setiap hari supaya aku merasa jadi pria paling jahat di dunia karena tidak bisa menyentuhmu."
Inara berjalan mendekat, langkahnya pelan namun pasti. Berhenti tepat di belakang punggung tegap itu.
"Jebakan? Aku istrimu, Mahesa. Secara hukum, secara agama. Apa menyiapkan sarapan sekarang dianggap sebagai tindak kriminal? Apa aku salah sebagai seorang istri bersikap seperti ini, Mas?"
Mahesa berbalik dengan kilat amarah yang dingin di matanya.
"Istri karena selembar kertas dan paksaan keluarga! Jangan bertingkah seolah kita sedang berada di dalam drama romantis. Aku muak melihat wajahmu yang selalu memasang ekspresi seperti 'korban' setiap kali aku mengabaikanmu."
Air mata yang sejak tadi ditahan Inara akhirnya luruh, jatuh membasahi keramik dingin.
"Lalu aku harus bagaimana? Menjadi batu? Menjadi hantu di rumah ini agar kau nyaman?"
"Jadilah asing," desis Mahesa tepat di depan wajahnya.
"Masaklah untuk dirimu sendiri. Hiduplah untuk dirimu sendiri. Karena bahkan jika kau memasak seluruh isi bumi ini untukku, rasa hambar di hatiku tidak akan berubah jadi cinta."
Mahesa menyambar kunci mobilnya di atas meja. Tanpa menoleh lagi, dia melangkah keluar, membanting pintu depan dengan dentuman yang menggetarkan seluruh ruangan.
Inara jatuh terduduk lantai dia kembali ke meja makan. Di depannya, piring-piring itu masih tertata cantik, hasil jerih payahnya sejak pukul empat pagi. Dia mengambil satu suapan nasi yang kini mulai mendingin, mengunyahnya perlahan di antara isak tangis yang menyesakkan dada.
Rasanya memang benar. Asin oleh air mata, dan hambar oleh luka.
Inara menghapus air matanya dengan kasar. Dia tidak punya waktu untuk hancur sekarang. Ironi terbesar dalam hidupnya bukan hanya berbagi atap dengan pria yang membencinya, tapi juga harus berbagi udara yang sama di gedung berlantai dua puluh tempat mereka bekerja.
Satu jam kemudian, Inara berdiri di depan lift kantor dengan mata yang sedikit sembab, namun tertutup riasan tipis. Pintu lift terbuka, dan di sana, Mahesa berdiri dengan wibawa yang sempurna, dikelilingi oleh staf divisi pemasaran. Pria itu tampak begitu karismatik, jauh berbeda dari pria kejam yang tadi pagi menghina masakannya.
Mahesa melirik Inara sekilas, dingin dan tanpa pengakuan.
"Selamat pagi, Pak Mahesa," sapa Inara formal, suaranya stabil meski jantungnya berdenyut nyeri.
Mahesa hanya mengangguk singkat, seolah Inara hanyalah staf magang yang tak sengaja berpapasan dengannya.
"Laporan evaluasi kuartal kedua harus ada di meja saya sebelum makan siang, Bu Inara. Jangan sampai urusan pribadi atau alasan 'lelah' menghambat performa Anda."
Kata 'urusan pribadi' itu ditekankan dengan nada tajam yang hanya dipahami oleh mereka berdua. Rekan kerja di sekitar mereka mulai berbisik, mengagumi ketegasan Mahesa yang tanpa celah.
Puncaknya terjadi saat rapat besar di ruang konferensi. Inara sedang mempresentasikan proyek barunya ketika Mahesa menyela dengan suara yang menggelegar di seluruh ruangan.
"Cukup, Bu Inara," Mahesa meletakkan pulpennya dengan bunyi brak yang keras.
"Presentasi ini emosional, tidak terukur, dan berantakan. Sama seperti caramu mengelola hal lain. Apakah kamu membawa masalah pribadimu ke dalam ruang rapat ini?"
Seluruh ruangan mendadak senyap. Inara merasa seolah benar-benar di permalukan di depan semua orang. Dia berusaha melakukan yang terbaik dengan pekerjaannya. Menurutnya tak ada yang salah. Justru pira itu yang sedang membawa masalah pribadi ke sana. DIa menatap mata Mahesa, mencari sedikit saja sisa kemanusiaan di sana, namun yang ia temukan hanyalah kekosongan.
"Saya profesional, Pak," suara Inara bergetar, namun ia tetap berdiri tegak.
"Profesional tidak menangis di tengah rapat, Bu Inara," sindir Mahesa sambil menunjuk setetes air mata yang tak sengaja jatuh di pipi Inara.
"Keluar. Bereskan mentalmu, baru kembali bicara bisnis dengan saya."
Inara mengemasi dokumennya dengan tangan gemetar hebat. Di bawah meja, dia meremas roknya hingga kusut. Dia melangkah keluar ruangan di bawah tatapan kasihan dan cemoohan rekan-rekannya.
Di lorong yang sepi, Inara bersandar di dinding kaca, menatap gedung-gedung tinggi Jakarta yang tampak buram. Ternyata benar kata Mahesa. Dia harus menjadi asing. Karena di rumah dia dianggap hantu, dan di kantor, dia dianggap sampah.
Namun, saat dia hendak melangkah pergi, ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari Mahesa.
'Jangan pulang telat. Ada kolega bisnis yang akan mampir ke rumah malam ini. Pakai topeng 'istri bahagia'mu dengan becus. Itu satu-satunya kegunaanmu saat ini.'
Inara tertawa getir. Di kantor pria itu memintanya profesional, namun di rumah, dia memaksanya menjadi aktris terbaik demi sebuah sandiwara. Rasa hambar di hatinya kini berubah menjadi bara yang mulai menyulut sesuatu yang lebih gelap dari sekadar kesedihan.
Kenapa dia bisa mencintai pria seperti Mahesa? Pria yang bahkan tak memiliki perasaan sedikitpun padanya dan selalu merasa jika dia sumber segala sesuatu yang membuatnya tak bisa kembali kepada masa lalunya. Mahesa selalu memperlakukan dia dengan buruk selama pernikahan mereka. Tapi Inara selalu bersabar dan yakin jika Mahesa suatu hari akan berubah mencintai dirinya. Apalagi kedua orang tua Mahesa juga begitu baik.
sana bawa tuh cewek benalu...
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭