Zifara, seorang gadis cantik terpaksa menikah dengan Daniel Anggoro karena sebuah kesalah fahaman.
Dalam pernikahan tak ada cinta sama sekali untuknya, bahkan Daniel menganggapnya sebagai pembantu, hingga membuatnya jenuh dan terpaksa pergi dari rumah dalam keadaan hamil.
Dan di saat itulah cinta Daniel mulai tumbuh, namun terlambat, Zifa terlanjur pergi dan tak di ketahui keberadaannya.
Perceraian pun di ajukan Zifara setelah melahirkan, dan tak memberi kesempatan untuk Daniel,
Hingga akhirnya Zifara bertemu dengan Dimas Kurniawan, kekasih lamanya.
Meskipun sudah menjadi Janda, Dimas tetap kekeh menikahinya, namun itu bukan awal kebahagiaannya, karena sehari setelah menikah Dimas meninggal karena kecelakaan,
Sedangkan Zifara mengalami kebutaan,bagaimana nasib Zifara selanjutnya dan pada siapa cintanya itu kembali berlabuh,
Begitu pun nasib adiknya Devina yang tak kalah sengsara darinya, apakah keduanya bisa mendapatkan kebahagiaan, mampukah keduanya menjalani rumitnya kehidupan? ''
kita kepoin saja ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadziroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan
Devina menggeliat kala tubuhnya terasa kaku, remuk pun di rasa sambil mengelus pelipisnya yang masih terasa pusing,
Dengan pelan ia membuka matanya, ia menatap langit langit kamarnya yang berbeda.
Di mana ini, batinnya menyusuri setiap sudut kamar yang ia tempati,.
Membulatkan matanya sambil memutar otaknya mengingat kejadian semalam,
Dengan spontan wanita itu menoleh ke arah samping, di lihatnya pria tampan yang masih memejamkan matanya dengan badan setengah telanjang..
Kak Kevin, batinnya seraya mengangkat tubuhnya.
Devina menyibak selimutnya, dan lebih terkejut lagi saat mendapati tubuhnya masih polos tanpa sehelai benang,.
Apa ini, apa yang aku lakukan semalam dan kak Kevin, Bahkan dalam hati pun hanya menggantung ucapannya.
Air matanya mulai menetes namun ia ingat betul kalau itu memang kesalahannya.
Devina terpaku, dan menutup telinganya,
Tidak, tidak ini nggak mungkin terjadi, batinnya lagi mengelak .
Menepuk nepuk pipinya meyakinkan kalau ini bukanlah mimpi.
Devina menarik selimut serta bajunya yang tercecer dan pergi ke kamar mandi,
Selama beberapa menit, Devina pun keluar dengan baju yang sudah rapi, di tatapnya lagi Kevin yang masih juga terbang di alam mimpi.
Devina jalan mengendap endap mengambil tasnya lalu keluar meninggalkan Kevin.
Ruangan yang sepi hanya ada beberapa orang yang membersihkan tempat itu, mereka pun melihat Devina dan tersenyum.
Sedangkan Devina tak membalas senyuman itu dan terus menunduk malu, apa lagi mungkin orang yang di sana tau apa yang di perbuat semalam.
Setelah lolos dari gedung yang menjeratnya dalam dosa itu, Devina memakai helmnya dan melajukan motornya.
Kevin yang mulai sadarkan diri itu pun hanya bisa melongo saat disisinya ternyata Kosong.
''Dev, panggilnya, barang kali gadis itu ke kamar mandi, dengan sigap Kevin beranjak menuju kamar mandi dan ternyata kosong.
Di lihatnya selimut yang berserakan di lantai depan pintu kamar mandi,
Tak mau berlama lama Kevin pun segera keluar berharap masih bisa menemukan Devina.
Namun nihil, di depan juga tak mendapati siapapun selain pegawai klub.
Sial, Kenama dia, kenapa dia tidak membangunkanku, apa dia bisa menghadapi masalah itu sendiri, batinnya kesal.
¤¤¤¤¤¤
''Bapak nggak ngantor?'', tanya Zifara sambil menata makanan yang ia masak ,karena pria itu dari tadi tak bergeming padahal sudah waktunya bekerja.
''Hari ini aku mau keluar kota , kamu siapkan baju yang mau aku bawa, titahnya dengan nada datar.
Dengan langkah gontainya Zifara berjalan menuju kamar Daniel.
''Pak... panggilnya saat tiba di depan pintu.
Tak menunggu lama pria berpawakan tinggi dengan hidung mancung dan alis yang tebal itu nampak di ujung tangga.
''Berapa hari, dan warna apa saja, dari pada nanti salah, ucapnya sembari membuka pintu kamar Daniel.
Zifara menuju walk in closet mengambil koper dan membuka lemarinya, di pilihkan baju yang memang Daniel pinta dan kebutuhan yang lain,
''Sudah, ucapnya setelah beberapa baju ia kepak lalu kembali menutup koper.
Di pandangnya lagi wajah yang cuwek mungkin masih menginginkan sesuatu lain selain itu.
kenapa dia diam, apa tugasku sudah selesai.
Zifara mematung dan menautkan tangannya di belakang pinggangnya menunggu tugas selanjutnya,
Oh.. tidak ngapain dia ke sini.
Zifara mundur satu langkah saat Daniel beranjak menghampirinya,
''Bapak mau ngapain?'', tanya Zifara dengan nada cepat dan gugup, takut kalau di pagi itu Daniel berbuat macam macam.
Daniel tersenyum kecil dan semakin mendekatkan wajahnya hingga nafas keduanya pun saling beradu hembus.
''Memangnya kenapa, kamu kan istriku, bebas dong mau ngapain saja, ucapnya tepat di telinga Zifara membuat sang empu bergidik, apa lagi nafas Daniel seperti saat mereka berhubungan badan waktu itu.
''Bapak kan belum sarapan?'', tanya Zifara mengalihkan perhatian,melirik Daniel yang kini berdiri di sampingnya, namun justru itu Memancing otak licik Daniel.
''Aku mau sarapan di kamar dengan kamu, ucapnya menyeringai meniup leher Zifara dari belakang hingga semua bulu kuduknya berdiri.
''Pak.... Ssstttt.... jangan bicara lagi, atau pak Bejo akan mendengar kita saat ini.
Bisiknya ,wanita itu pun tak bisa berkutik diam seketika.
Lagi lagi Zifara menerima perlakuan Daniel ,dengan lembutnya pria itu sangat mudahnya membawa Zifara terbang ke Nirwana, tak dapat di pungkiri kalau Daniel adalah pria yang sangat pintar membuat wanitanya itu nyaman, dan Daniel tau masih ada beberapa jam lagi untuk ia meninggalkan kota itu, dan ini kesempatan terakhir baginya untuk membuat Zifara teringat dengannya sebelum ia benar benar pergi untuk beberapa hari.
Kurang lebih satu jam mereka berdua berada di kamar, entah apa yang di lakukan, yang pastinya itu akan menguras tenaga bagi keduanya, dan bagi pak Bejo ini bukanlah sesuatu yang di pertanyakan, karena pak Bejo tau, tidak mungkin kalau Zifara itu gadis yang mau tidur dengan sembarang orang, meskipun belum pasti tau, bapak Bejo semakin yakin dengan hubungan Zifara dan Daniel.
Daniel tersenyum dengan nafas yang sedikit tersengal,,''Aku akan pergi untuk beberapa hari, ini untuk kamu, menyodorkan sebuah Atm.
Zifara tak langsung menerima, hanya di pandangnya saja, masih berfikir, apa maksudnya Daniel memberikan itu, apa itu adalah harga dirinya karena sudah tidur dengannya, atau itu pertanda bahwa Daniel membuktikan kalau dia masih harus menafkahi lahir dan batin.
''Kenapa, masih kurang, mengambil satu lagi dan kembali menggantung di atasnya.
''Maksud bapak, menarik selimut dan makin menutup seluruh tubuhnya kecuali kepala, Belum menjawab, ponsel Daniel berdering.
''Iya... jawabnya pada orang di balik telepon.
''Bapak, bentar lagi kita berangkat, kenapa bapak belum turun, ucap seseorang yang kini sudah menunggu di bawah,
Dengan sigap Daniel beranjak dan pergi ke kamar mandi.
Menggantung kan, apa maksudnya coba ,aku di hargai Atm memangnya aku apaan , wanita malam yang mau tidur dengannya hanya demi uang, menjijikkan, batinnya.
Beberapa menit Daniel keluar dari kamar mandi dan memakai pakaian yang juga di siapkan Zifara, sedangkan Zifara hanya menjadi penonton dan tak bergeming.
''Kamu tidur saja, aku berangkat dulu, ambil kartu itu, entah kenapa tubuh Daniel seperti ada sebuah dorongan untuk mencium kening Zifara sebelum dirinya benar benar pergi.
''Terima kasih sarapannya, kamu jangan lupa makan, aku akan secepatnya kembali, mengelus pucuk kepala Zifara, dan baru kali ini Zifara terharu dengan kelakuan suaminya.
Zifara mengangguk dan menatap punggung Daniel berlalu.
Daniel turun dari tangga dengan senyuman renyah dan wajah yang terlihat sumringah,.
''Bapak nggak sarapan dulu?'', tanya pak Bejo yang mematung dekat meja makan.
''Sudah tadi di kamar ,ceplosnya membuat pak Bejo melongo.
Daniel menghentikan langkahnya dan menoleh..
''Zifara membawakan makanan ke kamar tadi pak, jadi aku makan di sana karena buru buru mau pergi, ralatnya.
Cih.... sarapan ,orang tadi saya lihat non Zifara ke atas nggak bawa apa apa, pasti tubuh Non Zifara tu sarapannya.