Menjadi sekretaris di KALUMPERRI CORP seharusnya menjadi puncak karier Aulia Putri yang elegan. Namun, realitanya jauh dari ekspektasi. Alih-alih mengurus agenda bisnis bernilai triliunan, pekerjaan Aulia lebih mirip seorang peternak: menggembala Khatyr Ali Fatih, sang CEO super malas!
Khatyr itu jenius, tapi moto hidupnya adalah rebahan. Ia hobi bolos rapat, sembunyi di bawah meja, dan tidur di gudang arsip. Saat dewan direksi mulai gerah dan mengancam posisi Khatyr, sebuah kesepakatan rahasia terjalin. Aulia menjadi "otak" di balik layar, sementara Khatyr menjadi tameng korporatnya.
Di antara kejar-kejaran kocak di lorong kantor dan intrik politik perusahaan, Aulia sadar bahwa di balik kemalasan Khatyr, ada kejeniusan berbahaya yang siap melindungi dirinya. Mampukah Aulia menjinakkan bos ajaib ini, atau justru ia yang ikut terperangkap dalam pesona santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Maaf di Lantai 42
Mendengar ancaman terakhir dari ayahnya, Tiffany tidak memiliki pilihan lain. Dengan tubuh yang gemetar hebat, ia perlahan-lahan menjatuhkan kedua lutut indahnya di atas lantai marmer yang dingin, tepat di hadapan kaki Aulia Putri yang dibalut sepatu flat hitam sederhana.
Tiffany menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan air matanya menetes membasahi marmer berkilau tersebut.
Seluruh keangkuhan, kasta sosial, dan kesombongan berlian yang selama ini ia agung-agungkan kini telah lenyap sepenuhnya tanpa sisa.
"Aulia.. aku mohon maaf..." bisik Tiffany dengan suara yang sangat parau, tersedu-sedu menahan rasa malu yang teramat sangat seumur hidupnya.
"Aku mohon maaf atas seluruh perbuatan kotorku... atas foto-foto itu... dan atas ancaman keji yang kuucapkan padamu di kafe kemarin. Aku berjanji... aku bersumpah tidak akan pernah lagi mengganggu kehidupanmu, mengganggu pekerjaanmu, atau mendekati Khatyr lagi seumur hidupku. Tolong... tolong maafkan aku, Aulia. Selamatkan keluargaku..."
Suasana di lantai eksekutif seketika berubah menjadi sangat sunyi senyap, hanya diiringi oleh suara tangisan histeris Tiffany yang memohon ampun di lantai marmer.
Aulia Putri menatap sosok wanita sosialita yang kini bersujud di hadapan kakinya dengan pandangan mata yang sangat tenang, dewasa, dan penuh wibawa.
Tidak ada rasa puas diri yang berlebihan, tidak ada rasa dendam kesumat yang meluap di dalam dadanya. Baginya, martabat dan harga diri profesionalnya telah pulih seutuhnya hari ini, bukan karena melihat Tiffany hancur, melainkan karena ia tahu bahwa kebenaran dan kerja kerasnya telah menang secara terhormat.
Aulia perlahan melangkah maju satu langkah, lalu membungkuk sedikit untuk membantu Tiffany bangkit berdiri dengan gerakan tangan yang sangat lembut dan berkelas.
"Mbak Tiffany, silakan berdiri," ujar Aulia dengan nada suara yang sangat merdu, tenang, namun terdengar begitu tegas dan sarat akan wibawa yang mendominasi.
"Saya memaafkan Anda. Bukan karena saya takut pada ancaman Anda, melainkan karena saya menghargai masa depan ribuan karyawan Mahardika Group yang tidak bersalah, yang nasib hidupnya bergantung pada kelangsungan hidup perusahaan ayah Anda."
Tiffany mendongak, menatap wajah cantik Aulia yang tampak begitu anggun dan berkelas di hadapannya dengan sepasang mata yang dipenuhi rasa syukur sekaligus rasa malu yang teramat sangat.
Ia perlahan bangkit berdiri dengan bantuan Aulia, menyeka sisa air matanya dengan tangan gemetar.
Aulia berbalik menghadap Surya Mahardika, menyunggingkan senyum profesionalnya yang tak tergoyahkan.
"Tuan Surya Mahardika," panggil Aulia tenang.
"Saya selaku Sekretaris Eksekutif dan manajer risiko Kalumperri Corp, secara resmi merekomendasikan kepada Pak Khatyr untuk meninjau kembali perpanjangan kontrak sewa lahan SCBD Mahardika Group. Dengan syarat..."
Aulia melirik ke arah Khatyr, memberi isyarat halus dengan tatapan matanya.
"...pihak Mahardika Group harus menandatangani klausul tambahan kepatuhan etika dan jaminan privasi non-interferensi terhadap seluruh staf eksekutif Kalumperri Corp, dengan denda penalti sebesar lima ratus miliar rupiah jika terjadi pelanggaran di masa depan."
Surya Mahardika langsung mengangguk-angguk dengan sangat cepat, wajah pucatnya seketika dipenuhi oleh rasa lega yang luar biasa besar seolah-olah baru saja ditarik keluar dari jurang kebangkrutan.
"Kami setuju! Kami seratus persen setuju dengan klausul tambahan itu, Sekretaris Aulia! Terima kasih banyak atas kemurahan hati Anda yang luar biasa!" seru Surya dengan membungkuk hormat berkali-kali di hadapan Aulia.
Khatyr Ali Fatih menatap Aulia dengan sepasang mata yang memancarkan kekaguman dan kasih sayang yang luar biasa mendalam.
Ketegasan, kematangan sikap, dan keanggunan luar biasa yang ditunjukkan oleh sekretaris galaknya dalam menyelesaikan krisis ini benar-benar membuktikan bahwa Aulia adalah sosok wanita terbaik yang ditakdirkan untuk berdiri berdampingan dengannya di puncak dunia bisnis.
Khatyr melangkah ke balik meja kerjanya, mengambil map dokumen perpanjangan sewa lahan SCBD yang sudah ia bubuhi tanda tangan basahnya, lalu menyerahkannya kepada Surya.
"Bawa dokumen ini, Tuan Surya. Dan pastikan putrimu mematuhi setiap kata dalam klausul tambahan itu jika kamu tidak ingin melihat Mahardika Group hancur total dalam waktu satu hari di masa depan," ancam Khatyr dingin.
"Baik, Pak Khatyr! Kami berjanji tidak akan pernah melakukan kesalahan ini lagi! Terima kasih banyak!" jawab Surya, menerima dokumen tersebut dengan tangan gemetar penuh rasa syukur.
Dengan membungkuk hormat sekali lagi, Surya segera menarik putranya yang masih tertunduk malu, lalu melangkah cepat menuju lift eksekutif dan pergi meninggalkan lantai 42 dengan kekalahan mutlak namun dengan rasa syukur yang mendalam karena masih diberikan kesempatan hidup kedua bagi bisnis mereka.
Begitu pintu lift eksekutif berdenting rapat membawa kedua tamu tak diundang itu pergi, keheningan yang menenangkan kembali menyelimuti lantai teratas KALUMPERRI CORP.
Murni yang sejak tadi mengintip dari balik pilar lobi depan langsung keluar dengan mata terbelalak lebar dan tepuk tangan pelan yang sangat antusias.
"Mbak Aulia! Pak Khatyr! Itu... itu adalah drama korporasi paling menegangkan sekaligus paling memuaskan yang pernah kulihat seumur hidupku! Mbak Aulia benar-benar keren banget saat menyuruh Tiffany berdiri tadi!"
Aulia hanya tersenyum manis, menggelengkan kepalanya perlahan.
"Sudahlah, Murni. Tolong kembali ke mejamu dan pastikan semua laporan rutin sore ini tersusun rapi di komputer."
"Siap, Mbak!" jawab Murni gembira sebelum berlari kembali ke lobi depan dengan semangat kerja yang pulih sepenuhnya.
Aulia berbalik menghadap ruang kerja CEO, dan seketika ia tidak bisa menahan tawa kecilnya yang merdu.
Khatyr Ali Fatih kini sudah merosot turun ke sofa panjang di ruang kerjanya dengan helaan napas panjang yang luar biasa lega, melepaskan jas hitam klasiknya, melonggarkan kancing kemejanya, lalu menutupi wajah tampannya dengan bantal leher ayam jagonya yang berharga.
Sisi Alpha-CEO-nya yang dingin dan dominan tadi langsung menguap tanpa bekas dalam hitungan detik, kembali bertransformasi menjadi sosok CEO pemalas yang sangat manja.
"Auliaaaa..." rengek Khatyr pelan dari balik bantal ayam jagonya.
"Berdiri tegap dengan wajah menyeramkan dan memegang pulpen untuk menandatangani kontrak SCBD tadi benar-benar menghabiskan seluruh sisa energi hidupku untuk satu tahun ke depan. Otakku rasanya mau meledak karena kelelahan."
Aulia Putri melangkah masuk ke dalam ruangan, menutup pintu ganda kayu jati itu rapat-rapat dari dalam, lalu melangkah perlahan menuju sofa dengan senyum manisnya yang paling tulus dan hangat.
Ia meletakkan segelas teh chamomile hangat dengan madu di atas meja kecil di samping sofa, lalu perlahan menarik bantal ayam jago dari wajah tampan Khatyr.
Ia duduk di pinggiran sofa di samping Khatyr, menatap sepasang mata gelap bosnya yang kini memancarkan rasa cinta, kehangatan, dan kepuasan yang mendalam.
"Terima kasih, Khatyr... tameng terbaikku kesayanganku," bisik Aulia sangat lembut, mengulurkan tangannya untuk mengusap pelan dahi Khatyr yang hangat dengan gerakan yang memabukkan.
"Anda benar-benar menepati janji Anda hari ini dengan sangat luar biasa."
Khatyr menatap wajah cantik Aulia dari jarak dekat, merasakan debaran kebahagiaan yang luar biasa murni mengalir masuk dan memenuhi seluruh rongga dadanya.
Perlahan, ia meraih jemari tangan lentik Aulia, menggenggamnya dengan sangat hangat, lalu menarik tubuh mungil sekretarisnya itu dengan lembut hingga bersandar nyaman di dada bidangnya yang berdetak tenang.
"Aku akan selalu menepati setiap janjiku padamu, Aulia," bisik Khatyr tulus di dekat telinga wanita itu, memeluknya dengan kehangatan protektif yang menenangkan seolah-olah dunia luar tidak ada yang bisa mengganggu mereka kembali.
"Karena bagiku... tidak ada satu pun kebanggaan di dunia korporasi ini yang lebih berharga daripada kemampuan untuk terus melindungimu, menyayangimu, dan memilikimu di sisiku sebagai gembala terbaikku, selamanya."
Aulia tersenyum manis di balik pelukan hangat Khatyr, merasakan debaran kebahagiaan yang murni mengalir di dalam dadanya.
Badai dari ancaman kotor Tiffany mungkin telah sepenuhnya berakhir hari ini dengan kemenangan mutlak yang sangat terhormat, namun aliansi rahasia nan manis di KALUMPERRI CORP di antara sang sekretaris galak dan sang CEO pemalas kini telah melangkah masuk ke dalam babak baru yang jauh lebih indah, matang, dan tak terkalahkan seumur hidup mereka, bersama-sama, selamanya.