Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9. Sebenarnya....ada rasa bersalah
Langkah kaki Nadia terasa semakin berat saat mereka keluar dari halaman rumah Pak RT. Efek tegang yang sedari tadi menahan rasa sakitnya kini mulai luntur, membuat pergelangan kaki kanannya berdenyut dua kali lebih nyeri. Nadia berjalan dengan sangat lambat, tubuhnya agak condong ke kiri, tersorok-seok menahan sakit yang teramat sangat di atas aspal gang yang mulai sepi.
Di depannya, Ubay berjalan dengan santai. Langkah kakinya konstan, tidak terlalu cepat, namun juga tidak menoleh ke belakang untuk sekadar memastikan apakah Nadia tertinggal atau tidak. Ia berjalan begitu saja, membiarkan jarak di antara mereka terjaga sekitar dua langkah. Sikapnya yang acuh tak acuh itu membuat Ubay terlihat seolah sedang berjalan sendirian, mengabaikan fakta bahwa ada seorang gadis pincang yang sedang berjuang menyamai langkahnya di belakang.
Nadia menatap punggung tegap Ubay yang berbalut kemeja rapi tersebut. Di bawah temaram lampu jalanan gang, rasa penasaran yang besar mulai membubung di kepala Nadia.
Pikiran Nadia berputar mengingat kembali ucapan Pak RT tadi. “Si Ubay ini tampangnya saja yang kayak preman pasar, tapi aslinya bisa diandalkan.” Belum lagi fakta bahwa paviliun yang ia tempati ternyata berada di atas tanah keluarga Ubay sendiri, sebuah rumah besar bertingkat yang harganya tentu tidak murah di tengah kota seperti ini. Perawakan Ubay memang persis seperti berandalan jalanan, dingin, ketus, dan memegang kunci motor RX-King yang identik dengan dunia malam. Namun, Pak RT justru memperlakukannya dengan rasa hormat dan keakraban yang tidak biasa diberikan kepada seorang preman biasa.
‘Siapa sebenarnya Mas Ubay ini?’ batin Nadia bertanya-tanya.
Nadia ingin sekali membuka suara, menanyakan tentang rumah besar itu atau tentang apa pekerjaan Ubay yang sebenarnya hingga Pak RT menyebutnya sangat bisa diandalkan. Namun, setiap kali melihat pundak Ubay yang kokoh dan auranya yang begitu menutup diri, keberanian Nadia ciut seketika. Lidahnya mendadak kelu. Ia takut pertanyaannya akan dianggap terlalu ikut campur atau malah membuat pemuda yang telah menolongnya ini menjadi risih dan berubah pikiran.
Akhirnya, Nadia hanya bisa bungkam. Ia memilih menyimpan rapat rasa penasarannya di dalam hati, memfokuskan sisa tenaganya untuk menggerakkan kakinya yang cedera, sembari terus mengikuti punggung dingin Ubay membelah keheningan malam menuju paviliun belakang.
**
Langkah mereka akhirnya terhenti tepat di depan pintu kayu paviliun belakang. Nadia menghembuskan napas lega yang panjang, tangannya baru saja terulur hendak memutar anak kunci yang sudah menggantung di slot pintu. Namun, suara berat Ubay tiba-tiba memecah kesunyian malam, membuat gerakan tangan Nadia tertahan.
"Kamu besok kuliah?" tanya Ubay lempeng, bersedekap dada sambil menyandarkan bahunya ke dinding luar paviliun.
Nadia menoleh sedikit, lalu mengangguk pelan. "Iya, Mas. Kebetulan besok ada jadwal kelas pagi."
"Terus, kamu ke kampus naik apa dengan kondisi kaki kayak begitu?" Ubay melirik ke arah pergelangan kaki Nadia yang masih tampak bengkak di balik celananya. "Mau naik angkot?"
Nadia menggigit bibir bawahnya ragu. Bayangan harus berjalan kaki sampai ke depan gang besar, lalu berlari-lari mengejar angkutan umum dengan kaki yang pincang, seketika membuat nyalinya ciut. "Mungkin... mungkin nanti saya coba pesan ojol saja, Mas. Kalau naik angkot sepertinya agak susah kalau kakinya belum bisa diajak jalan cepat."
Ubay melempar pandangan datar, lalu mendengus pendek. "Memangnya kamu punya duit buat bolak-balik naik ojol tiap hari?" tanya Ubay blak-blakan tanpa tedeng aling-aling.
Pertanyaan itu telak menghantam ulu hati Nadia. Ia langsung bungkam. Benar apa yang dikatakan Ubay, uang pesangon di amplopnya sangat terbatas. Jika ia terus-terusan menggunakan ojek online yang tarifnya jauh lebih mahal daripada angkot, uang itu akan amblas dalam hitungan minggu.
"Nanti... setelah pulang kuliah, saya mau coba cari kerja sampingan, Mas," lirih Nadia, mencoba mencari jalan keluar di tengah kebuntuannya.
"Mau kerja apa?" kejar Ubay lagi, suaranya tetap sedingin es namun menuntut jawaban yang realistis.
Nadia kembali bungkam. Tenggorokannya terasa tersumbat. Ia meremas jemarinya yang dingin dengan gelisah. Mau kerja apa? Di kota sebesar ini, mencari pekerjaan paruh waktu yang ramah untuk jadwal mahasiswi bukanlah perkara mudah. Apalagi ia tidak memiliki relasi atau pengalaman kerja formal selain menjadi asisten rumah tangga tak dibayar di rumah keluarga Pramoedya.
"Nggak tahu, Mas..." jawab Nadia akhirnya dengan nada pasrah, suaranya nyaris berbisik. "Nanti saya mau coba cari-cari lowongan dulu di sekitaran kampus atau di internet. Mungkin ada yang cocok."
Ubay menatap gadis di depannya dengan lekat, lalu menghembuskan napas panjang lewat hidung. "Nggak gampang kuliah sambil bekerja. Apalagi kalau kamu nggak punya kenalan," ucap Ubay acuh tak acuh, mengucapkan sebuah kebenaran pahit yang sangat disadari oleh Nadia.
Ubay menatap Nadia yang masih menunduk lesu di depan pintu paviliun. Keheningan malam kembali menyelimuti gang belakang, sebelum akhirnya Ubay memecah kesunyian itu dengan pertanyaan yang lebih spesifik.
"Sebelum diusir, memangnya kamu kerja apa di rumah majikanmu itu?" tanya Ubay, mengorek sedikit lebih dalam dari sekadar alasan pengusiran yang diceritakan Nadia di jalan tadi.
Nadia sempat terkesiap. Ia meremas tali tasnya. Semalam, ia memang sudah terlanjur mengaku pada Ubay kalau dirinya diusir karena pihak majikan sudah tidak mau membiayai hidup dan kuliahnya lagi. Ia sudah memposisikan dirinya sebagai orang yang menumpang hidup di sana.
Nadia menarik napas dalam-dalam. Keberaniannya mendadak terkumpul di tengah rasa terdesak. Ia menatap langsung ke sepasang mata tajam Ubay, mencoba menunjukkan bahwa ia bukanlah gadis lemah yang patut dicurigai.
"Saya pembantu di sana, Mas," jawab Nadia dengan suara lantang dan berani, meski matanya berkaca-kaca. "Saya kerja mengurus rumah besar itu sendirian. Dari membersihkan rumah, mencuci, sampai membantu bibi bagian masak di dapur. Imbalannya, mereka membiayai kuliah dan tempat tinggal saya. Tapi per hari ini... semuanya diputus sepihak."
Nadia sengaja memotong bagian tentang Axel. Baginya, status sebagai mantan pembantu jauh lebih terhormat untuk diakui daripada menjadi korban fitnah sebagai wanita penggoda.
Ubay tidak tampak terkejut. Garis-garis wajahnya yang keras tetap tak beralih. Mengetahui bahwa gadis di depannya ini adalah seorang pekerja keras yang terbiasa mengurus rumah, ada kilat penilaian baru di mata pemuda itu.
"Pembantu, ya?" gumam Ubay pelan, mengangguk-angguk kecil. Ia menegakkan tubuhnya dari dinding, bersiap untuk benar-benar pergi. "Ya sudah. Masuklah, kunci pintunya. Soal kerjaan... besok selesai kamu kuliah, temui aku di depan rumah. Jangan cari kerjaan aneh-aneh dulu di luar."
Tanpa menunggu balasan dari Nadia, Ubay berbalik dan melangkah pergi menyusuri jalan setapak yang gelap, meninggalkan Nadia yang terpaku di ambang pintu dengan secercah harapan baru di dadanya.
**
Dug... dug... dug...
Dentuman musik techno ber reverb pekat mengguncang dinding-dinding eksklusif sebuah kelab malam mewah di kawasan Selatan. Lampu sorot laser berwarna neon ungu dan biru berputar liar, menyinari kepulan asap rokok dan uap vape yang memenuhi ruangan VIP. Di salah satu sofa kulit melingkar yang paling pojok, Axel duduk bersandar dengan satu tangan memegang segelas whiskey on the rocks.
Penampilannya malam itu tetap luar biasa oke layaknya pria kelas atas, namun gairah di matanya tampak redup. Tatapannya kosong, lurus menembus gelas kristal di tangannya.
"Hei, Cel! Bengong aja lu dari tadi. Minum dong! Biasanya lu yang paling semangat kalau kita buka botol baru," seru salah satu temannya, sambil merangkul pundak Axel setengah mabuk dan tertawa keras.
Axel hanya mengulas senyum tipis yang dipaksakan. Ia tidak menyahut. Tangannya yang bebas meraih sebatang rokok dari atas meja, menyalakannya dengan pemantik api gas berlogo brand mewah, lalu menghisapnya dalam-dalam. Sambil menghembuskan asap abu-abu tebal ke udara, bayangan kejadian malam jahanam itu mendadak melintas kembali di kepalanya seperti kaset rusak.
Nadia yang menangis tersedu-sedu... tubuh kurus yang bergetar hebat di bawah cengkeramannya... dan bagaimana gadis itu melangkah pincang keluar dari gerbang rumahnya tadi siang dengan tas ransel tua.
Ada kedutan samar di rahang Axel. Di dalam dadanya yang paling dalam, rasa bersalah itu sebenarnya ada, merayap pelan bagai racun yang mengikis harga dirinya. Ia tahu betul bahwa ia telah merenggut kesucian gadis yang selama ini tak bersalah, menghancurkan masa depannya, dan membiarkannya diusir tanpa sepeser pun keadilan dari orang tuanya.
Namun, keegoisan dan kesombongan sebagai seorang pewaris tunggal keluarga Pramoedya langsung menepis rasa bersalah itu jauh-jauh. Axel buru-buru menegak habis sisa whiskey di gelasnya hingga tenggorokannya terasa membakar. Ia memilih melarikan diri ke dalam alkohol dan rokok, mencoba menenggelamkan nuraninya yang mulai memberontak di balik gemerlapnya dunia malam. Di luar dia tampak bersenang-senang seperti biasa, namun di dalam, jiwanya tahu bahwa dia baru saja menciptakan sebuah noda hitam yang tidak akan pernah bisa dihapus.
*****