"Mulai sekarang, setiap satu jam sekali, kamu harus mencium bibirku! Aku tidak akan menerima penolakan," tegas Nathan lagi. "Kamu wajib menciumku di mana pun kita berada, bahkan di dalam kelas atau di tempat umum."
Jenny mulai merasa panik, "Tu - tuan, tapi itu sungguh tidak masuk akal!"
"Jenny, jika ingin ibumu selamat dan semua alat medis tetap terpasang di tubuhnya yang lemah itu, turutilah apa mauku!" ujar Nathan dengan nada mengancam. Ancaman tersebut membuat lamunan Jenny terhenti seketika.
****
Jenny terkejut saat mendengar apa yang baru saja diucapkan Nathan, tuan muda culun yang menjadi murid terbodoh di antara 450 siswa di SMA Taruna. "Jadi, jika kamu ingin aku sembuh dari semua luka trauma yang ditimbulkan oleh ayahmu, mulai sekarang kamu harus menciumku setiap satu jam sekali," ucap Nathan tegas.
****
Jenny adalah seorang perempuan yang sedari kecil hidup penuh kebahagiaan, bahkan hidupnya nyaris sempurna.
Ia terlahir dengan paras yang cantik, hidup penuh kebahagia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18.
Jenny mau pun Nathan sama sama menoleh ke arah pintu, lalu ke duanya terlihat melepaskan ciumannya dan duduk dengan ekspresi wajah santai. Seperti tidak terjadi apa apa.
"Nyonya Vina, saya sudah membawakan darah segar yang anda pinta!" Seorang berpakaiaan seperti kurir nampak memasuki ruang kepala sekolah itu.
Nathan terlihat berdiri, lalu dengan sengaja ia menaikkan celananya agar terlihat seperti orang bodoh dan juga culun. Ia juga terlihat memakai kaca matanya kembali, kaca mata yang tadi sempat ia lepaskan saat akan mencium bibir Jenny.
"Siapa kau? Ibu ku sekarang ini sedang pergi." Nathan nampak berbicara dengan nada ketus pada orang yang masuk ke dalam ruangan ibunya.
"Kau pasti si anak Culun itu, anak dari Nyonya Vina!" tebak orang berpakaian kurir itu.
Sementara Jenny masih saja duduk terpaku, memegang dadanya yang berdebar kencang, keterkejutan yang ia rasakan benar-benar mendalam.
Pikirannya terus melayang pada momen di mana Tuan Muda tadi, dengan ganas dan penuh emosi, mencium bibirnya. Hal yang sama sekali tak pernah ia duga sebelumnya. "Apakah tadi benar-benar Nathan? Kenapa dia seakan memiliki dua kepribadian yang berbeda?" Beberapa pertanyaan muncul di dalam benak Jenny, mencoba memecahkan misteri di balik perubahan sikap Nathan yang mendadak itu.
"Iya, nama ku itu Zionathan Vector Jayde anak dari pasangan Vina Jayde dan juga Riko Jayde," jawab Nathan acuh.
"Ya sudah kalau begitu. Aku kira orang lain tadi. Jika sampai ada orang lain yang mendengar aku membawa bungkusan seperti ini, bisa susah!" gerutu orang berpakaian kurir itu, lalu ia pergi begitu saja meninggalkan Nathan yang berdiri di tengah-tengah pintu.
Di sana, Jenny menatap kepergian kurir tersebut, memikirkan apa yang baru saja terjadi dan bagaimana ia harus menghadapi kenyataan tersebut. Segala pertanyaan dan kebingungan yang muncul seolah menyatu, menjadi sebuah dilema yang belum bisa ia temukan jalan keluarnya.
Asyik berkelana dalam pikiran, Jenny tidak menyadari bahwa Nathan, pemuda itu, sudah duduk di sebelahnya.
Jenny terkejut saat mendengar apa yang baru saja diucapkan Nathan, tuan muda culun yang menjadi murid terbodoh di antara 450 siswa di SMA Taruna. "Jadi, jika kamu ingin aku sembuh dari semua luka trauma yang ditimbulkan oleh ayahmu, mulai sekarang kamu harus menciumku setiap satu jam sekali," ucap Nathan tegas.
Jenny terbata, hampir tak percaya dengan apa yang diucapkan Nathan. "Ap - apa?" gumamnya dengan suara yang terdengar terbata-bata.
Sejenak, pikiran Jenny kacau, berusaha mencerna dan mencari makna di balik kata-kata itu.
"Mulai sekarang, setiap satu jam sekali, kamu harus mencium bibirku! Aku tidak akan menerima penolakan," tegas Nathan lagi. "Kamu wajib menciumku di mana pun kita berada, bahkan di dalam kelas atau di tempat umum."
Jenny mulai merasa panik, "Tu - tuan, tapi itu sungguh tidak masuk akal!" Seraya mengusap pelipisnya, ia berusaha merenung dan menimbang apakah ini pilihan yang tepat.
Dalam hatinya, pertanyaan demi pertanyaan bergejolak: "Mengapa harus aku yang melalui ini? Bukankah ini sangat tidak masuk akal dan melanggar aturan? Apakah aku benar-benar harus mengikuti perintah ini agar Nathan bisa sembuh? Apakah ini satu-satunya jalan? Ah, mengapa hidup ini terasa begitu sulit..." Jenny merasa dilema dalam mengambil keputusan. Ia benar benar di buat bingung dan juga dilema.
"Jenny, jika ingin ibumu selamat dan semua alat medis tetap terpasang di tubuhnya yang lemah itu, turutilah apa mauku!" ujar Nathan dengan nada mengancam. Ancaman tersebut membuat lamunan Jenny terhenti seketika.
Jenny benar benar di buat terkejut dengan ancaman yang baru saja keluar dari bibir Tuannya. Karena yang ia tahu, selama ini Nathan itu sangatlah polos.
Apalagi selama dua hari ini bersama Tuan Mudanya, baru kali ini Jenny merasakan terancam oleh Nathan.
"Aku termangu, berusaha mencari alasan mengapa ia tiba-tiba mengeluarkan ancaman yang menakutkan ini. Namun, aku juga sadar betul akan kondisi ibuku yang sedang kritis dan membutuhkan dukungan medis itu. Dalam pikiran ku, ada ketakutan yang memaksa aku mempertimbangkan tuntutan Nathan. Apalagi sekarang aku benar benar tidak ada pilihan lain." gumam Jenny dalam hatinya, seraya menatap bola mata yang berwarna hazel itu.
Melihat Jenny yang terus menerus memandangnya, membuat gejolak naluri Nathan pun kembali memanas. Ia tentu saja tidak bisa mengabaikan wajah manis nan cantik sang primadona SMA Taruna ini.
Cup
Nathan kembali mencium bibir Jenny, saat Jenny ingin menjauhkan wajahnya. Ia pun segera menarik kepala belakang Jenny agar ciuman itu bisa berlanjut.
Tuan muda itu malah melumat bibir pelayannya, menjadikan ciuman yang awalnya sebuah sentuhan bibir menjadi sebuah ciuman yang panas.
Jenny awalnya menolak, ciuman yang diberikan oleh Tuannya, sebuah ciuman yang membuatnya merasa sangat tidak nyaman.
Namun, entah kenapa, nalurinya malah membalas ciuman Nathan, seolah-olah ada bagian dalam dirinya yang menginginkan hal itu, meski ia sadar dalam hati dirinya menolak keras.
"Kenapa aku merasa seperti ini?" batin Jenny dengan bingung. "Apakah ada bagian dalam diriku yang sebenarnya tertarik pada Tuan Nathan? Ataukah ini hanya reaksi tubuh semata? Aku harus melawan perasaan ini, tidak bisa lagi terjebak dalam ciuman yang salah seperti ini." Jenny mencoba menenangkan diri, mencari cara untuk melepaskan diri dari ciuman yang semakin panas dan mengancam kehormatannya.
Ciuman yang berlangsung selama 5 menitan itu akhirnya terhenti.
Kala Nathan melihat wajah Jenny memerah, seperti orang yang kehabisan nafas.
Sungguh Jenny tidak bisa mengimbangi ciuman panas yang di berikan tuannya.
"Ingat Jenny, setiap satu jam. Setelah ini aku akan memberikan jam yang akan berbunyi alarm setiap satu jam. Ingat jika kau sampai lupa menciumku, akan ku pastikan jika ibumu —" ucapan Nathan nampak terhenti, kala Jenny menyela apa yang di katakan Tuannya.
"Baik Tuan, saya setuju menuruti perintah anda. Kalau begitu biarkan saya ke kamar mandi dahulu!" Jenny lantas berdiri, bahkan semburat merah nampak tercetak jelas dari ke dua pipi mulusnya.
Tanpa menunggu persetujuan dari Tuan mudanya itu, Jenny langsung berlari meninggalkan ruang kepala sekolah itu.
"Je-Jenny, di sini ada kamar mandi dalam!" Nathan mengernyitkan dahi saat Jenny benar-benar sudah pergi meninggalkannya sendirian. Lantas ia memikirkan sesuatu, "Apa yang ada dalam benak gadis itu? Ayo Nathan jangan berpikir negatif, mungkin sekarang ini dia memang sedang ingin buang air kecil." Nathan pun memilih untuk memantau kursi milik Jenny dari balik kamera yang ia pasang di kelasnya.
"Lebih baik aku makan ayam ini sembari memperhatikan kursi Jenny yang ada di kelas. Siapa tahu dia itu nakal dan bukannya ke kamar mandi malah pergi ke kelas. Meninggalkan ku yang sendirian makan di sini!" gumamnya frustasi sembari memakai kembali kacamata yang sebenarnya akan ia lepas saat mencium Jenny.
Sejenak, Nathan merenung dan berpikir apakah Jenny sedang berusaha menjauhi dirinya. "Bukankah harusnya dia itu menunggu persetujuan dariku? Apakah dia marah? Atau mungkin ada hal yang ingin dia hindari?" Nathan menghela nafas, penuh rasa penasaran dan kekhawatiran terhadap perasaan Jenny.
Nathan dengan gusar nampak berdiri, "kalau dia benar benar kembali ke kelasnya atau kabur gimana?"
Lalu Nathan kembali duduk, "Tenang Nathan, tentu saja dia tidak akan berani kabur darimu! Karena kamu itu punya kartu AS, yaitu nyawa ibunya!"
Nathan terlihat kembali dalam mode panik, "Kalau dia sudah tidak peduli dengan ibunya, dan beneran kabur?"
Nathan benar benar seperti orang yang memiliki 2 kepribadian sekarang ini.
"Tenanglah Nathan, kamu itu tunggu dia sampai 30 menit. Kalau dia sampai tidak kembali ke sini! Baru kamu mencarinya," ucap Nathan lagi dengan nada datar.
Ya sedari tadi Nathan berbicara pada dirinya sendiri.
***
Jenny berlari dengan kencang untuk masuk ke dalam kamar mandi yang ada di sekolahnya.
Ia memasuki salah satu bilik yang ada di dalam kamar mandi perempuan itu.
Jenny nampak menangis tersedu sedu sembari memegang bibirnya, bahkan dia terus mengusap bibirnya dan membasuh bibirnya itu dengan air. Ada rasa jijik dan sebuah penyesalan yang dalam menghantui dirinya.
"Kenapa? Kenapa semua ini harus menimpa ku?" Jenny nampak memegang kepalanya yang terasa begitu sakit.
10 menit Jenny masih berada di dalam bilik kamar mandi, ia benar benar larut dalam tangisannya.
Setelah puas menangis, Jenny lantas keluar dari dalam kamar mandi.
"Hay Jenny," sapa seorang murid.
"Kamila," sahut Jenny.
"Uluh uluh, kenapa sang primadona sekolah ini menangis? Sang primadona yang begitu di puja puja oleh para penghuni SMA Taruna," sindir seorang murid lain.
"Tiara." titah Jenny.
Tiara yang namanya di panggil pun langsung menjambak rambut Jenny. "Gue tahu jika sekarang keluarga Antama itu sudah bangkrut. Bahkan Lo juga sudah tidak punya apa apa? Sekarang lo itu dari pelayanan Zionathan si culun itu kan! Ha ha ha."
"Ke - kenapa kalian bisa tahu?" Tanpa berpikir panjang, ucapan Jenny malah menjelaskan semuanya.
"Oh jadi ucapan Gie dan juga Sarah itu benar! Jika saat mereka mendengar lo memanggil Nathan dengan sebutan Tuan itu. Memang mereka tidak salah dengar!" kata Kamila, lalu ia pun melihat ke arah Tiara seraya berkata, "Pintar juga cara lo Ra, elo bisa buat Jenny itu terperangkap dan mengatakan kejujuran! Berarti bokap gue yang bilang jika sejak seminggu lalu perusahaan Antama banyak di akuisisi itu gak bohong dong!"
"Elo sih! Gak percaya apa yang bokap lo katakan," sahut Tiara.
"Sekarang gue sama Kamila akan menyebar berita ini ke seluruh sekolah, biar semua orang benci sama lo! Dan kita berdua juga akan membuat perhitungan sama lo, karena elo selama ini berani mendekati Galen kami!"
Kamila terlihat menyiram wajah Jenny dengan sebuah air.
"Tolong, air apa ini! Panas panas!" teriak Jenny dengan linangan air mata.
Kamila dan juga Tiara pun terlihat tertawa dan meninggal kan Jenny yang kesakitan begitu saja.
kalo berkenan mampir juga ya😉