Dua tahun menjalani hubungan rahasia (backstreet) dengan Dimas—pria matang keturunan darah biru—Kirana rela mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia melepaskan masa lalu, melawan restu keluarganya sendiri, hingga meruntuhkan tembok perbedaan besar demi menyamakan arah masa depan dan bersiap melangkah ke jalan yang sama dengan sang kekasih.
Namun, tepat di hari saat ia siap menyerahkan seluruh hidupnya, takdir menghempaskannya tanpa belas kasihan. Di sebuah gedung pesta yang megah, dunia Kirana seolah runtuh. Di atas pelaminan mewah, Dimas justru bersanding dengan wanita lain yang merupakan atasannya sendiri. Tanpa ada kata putus, tanpa perpisahan hangat. Kirana ditinggalkan begitu saja dalam kehampaan oleh pria yang berjanji menjadi kompas hidupnya.
Sanggupkah Kirana bertahan dan menemukan kembali jati dirinya setelah pengorbanan tulusnya diinjak-injak? Dan bagaimanakah takdir menjemput penyesalan terdalam sang lelaki darah biru tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu di Ruko dan Api Cemburu yang Tenang
Aroma kain katun baru dan benang jahit memenuhi udara di dalam ruko konveksi sore itu. Setelah badai penolakan dari keluarganya beberapa hari yang lalu, Kirana mencoba menata kembali puing-puing hatinya dengan menyibukkan diri di depan meja potong pola busana ibadah premium miliknya.
Fokus dan keteguhan jiwanya ia tumpahkan sepenuhnya pada pekerjaan, mencoba mencari kedamaian di balik riuhnya suara mesin jahit yang menderu pelan.
Namun, keheningan ruko sore itu mendadak terusik saat sebuah ketukan lembut terdengar di pintu kaca yang terbuka paruh.
Seorang pria muda melangkah masuk dengan senyuman yang sangat teduh. Pria itu mengenakan pakaian formal putih bersih berpotongan modern, dipadu dengan celana kain gelap dan penutup kepala rapi yang bertengger di kepalanya.
Wajahnya benar-benar bersih, dengan sepasang mata yang memancarkan aura budi pekerti luhur yang teramat sangat kental. Ketampanannya benar-benar tipe pria sejuk dipandang mata yang tidak kalah karismatik jika dibandingkan dengan dr. Adrian.
Dia adalah Gus Yusuf. Sosok pengajar muda yang biasa membimbing Kirana dan mereka yang baru memeluk jalan hidup baru di pusat pembelajaran kota.
"Selamat sore, Mbak Kirana," sapa Gus Yusuf...
Kirana yang sedang menandai kain langsung mendongak. Matanya membelalak kecil, terkejut sekaligus tidak enak hati.
"Selamat sore. Eh, Gus Yusuf? Silakan masuk."
Gus Yusuf melangkah masuk dengan sopan, memilih untuk berdiri di dekat meja potong tanpa berniat duduk demi menjaga batasan etika kesopanan yang ketat.
"Maaf kalau saya mengganggu waktu kerja Mbak Kirana. Maksud kedatangan saya ke sini hanya ingin memastikan keadaan Mbak Kirana. Sudah hampir beberapa pekan ini, Mbak Kirana sama sekali tidak terlihat hadir di kelas pendalaman dan ruang pertemuan khusus di pusat pembelajaran."
"Teman-teman di sana cemas, dan saya sendiri pun... merasa perlu untuk menanyakan kabarnya secara langsung."
Kirana langsung menundukkan pandangannya dengan perasaan yang sangat tidak enak.
"Maafkan saya, Gus. Beberapa pekan ini ruko sedang sangat padat pesanan Busana ibadah menjelang pameran, dan kebetulan kemarin... saya ada urusan personal yang harus diselesaikan di luar kota. Jika tidak ada halangan pekan depan saya akan mulai aktif belajar kembali, Gus."
Gus Yusuf mengangguk pelan, sepasang matanya mencuri pandang menatap Kirana dengan binar perhatian yang teramat dalam—sebuah binar yang lebih dari sekadar perhatian seorang guru kepada muridnya. Gus Yusuf diam-diam telah menaruh rasa kagum yang mendalam atas keteguhan iman dan keanggunan seorang Kirana semenjak pertama kali wanita itu mengucapkan ikrar keteguhan jiwanya di hadapannya.
Sayangnya, Kirana yang polos sama sekali tidak menyadari getaran rasa itu, ia murni menghormati Yusuf sebagai gurunya.
Mereka pun berlanjut mengobrol tentang perkembangan pemahaman bait-bait tuntunan hidup Kirana. Obrolan itu mengalir dengan sangat lancar dan terlihat begitu akrab karena frekuensi pemahaman spiritual mereka yang sejalan.
Di saat yang bersamaan, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan ruko. Dr. Adrian melangkah turun dengan cepat. Rasa cemas yang menggunung semenjak mengetahui Kirana pulang kampung beberapa hari lalu membuatnya tidak tahan untuk tidak berkunjung. Adrian ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa wanita yang selalu mengusik tidurnya itu dalam keadaan baik-baik saja.
Namun, begitu melangkah melewati pintu ruko, langkah kaki dr. Adrian langsung terhenti kaku di tempat.
Kedua manik mata teduhnya menangkap pemandangan Kirana yang sedang berdiri berhadapan dengan seorang pria muda tampan berpakaian putih bersih itu.
Adrian bisa melihat bagaimana Kirana tersenyum sopan, mendengarkan ucapan pria itu dengan saksama. Ada kedekatan dan keakraban yang tidak biasa terpancar dari interaksi keduanya.
DEG...
Dada dr. Adrian mendadak terasa bergemuruh hebat oleh sebuah perasaan asing yang teramat sangat tidak nyaman. Ada rasa panas yang tiba-tiba membakar ulu hatinya—sebuah rasa cemburu yang coba ia tekan kuat-kuat di balik ekspresi wajahnya yang mendadak berubah menjadi sedingin es batu.
Aisyah yang sejak tadi memperhatikan dari meja jahit, langsung menyadari kedatangan sang dokter muda tampan itu. Melihat Kirana sedang asyik menerima tamu penting dan tidak mungkin juga bagi dr. Adrian untuk diusir begitu saja, Aisyah pun bergegas maju menghampiri Adrian dengan langkah cepat.
"Eh, Dokter Adrian! Silakan masuk, Dok," bisik Aisyah dengan suara setengah berbisik demi menjaga privasi obrolan di depan. "Mari, Dok... lewat sini saja. Kita duduk di area meja santai di dalam ruko saja dulu, kebetulan Kirana lagi ada tamu."
Dr. Adrian hanya bisa mengangguk kaku. Dia mengikuti langkah Aisyah menuju sudut ruko yang agak dalam, sepasang matanya tidak bisa beralih dari sosok pria berbaju koko itu.
Begitu duduk di kursi kayu, dr. Adrian berdeham pelan, mencoba menetralkan suaranya agar tetap terdengar berwibawa meskipun batinnya sedang mengalami pergolakan hebat. Tanpa sadar, egonya runtuh hingga ia melontarkan pertanyaan yang sangat tidak biasa ia tanyakan.
"Mbak Aisyah... kalau boleh saya tahu... siapa itu yang sedang bicara dengan Kirana di depan?" tanya dr. Adrian dengan nada suara yang diusahakan sedatar mungkin, meskipun matanya menatap lurus ke depan dengan tajam.
Aisyah dengan kepolosannya yang natural, menengok ke arah depan, mengulas senyuman lebar. Tanpa menyadari bahwa ekspresi wajah dokter di depannya sudah sekaku papan tulis, Aisyah langsung bersemangat menceritakan sosok tersebut.
"Oh, itu Gus Yusuf, Dok!" jawab Aisyah dengan nada riang. "Beliau itu sosok muda yang membimbing Kirana dan mereka yang baru belajar tentang agama di pondok. Orangnya sangat baik, santun, dan pemahamannya luar biasa luas, Dok."
Aisyah memajukan sedikit tubuhnya, berbisik dengan wajah penuh misteri yang menggemaskan. "Dan tahu gak, Dok? Saya itu bisa merasakan kalau Gus Yusuf itu sebenarnya menaruh rasa suka yang mendalam terhadap Kirana! Liat aja cara beliau memandang Kirana, lembut banget kan? Kirana-nya aja yang kelewat polos gak peka, Dok!"
Mendengar kalimat Aisyah, tangan dr. Adrian yang berada di atas paha langsung mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih sekujur tubuh. Hatinya seperti dihantam godam raksasa.
Aisyah yang masih tidak peka dengan perubahan aura dr. Adrian yang kian mendingin, malah terus mengompori suasana dengan pujian-pujian setinggi langit untuk sang Gus.
Gus Yusuf itu paket lengkap banget sih, Dok, kalau sampai berjodoh sama Kirana. Sudah tampan, memiliki budi luhur, mapan pula karena merupakan putra dari pemilik pondok spiritual terbesar di pinggiran kota. Menurut Dokter Adrian... mereka bener-bener serasi banget, kan?"
JLEB...
Kalimat Aisyah menjadi pukulan telak yang telanjur telak menusuk ulu hati dr. Adrian. Lidah sang dokter tampan itu seketika terasa kelu, kelu sekujur tubuh. Rahangnya mengeras menahan gejolak rasa cemburu, bersaing ketat dengan rasa minder yang tiba-tiba menyergap batinnya.
Apakah dirinya yang seorang dokter umum biasa ini sanggup menandingi kesalehan seorang Gus untuk membimbing Kirana?
pasti ada kekecewaan disitu ,wajar sih kalau mereka marah
malahan Ratna lebih peduli kehilangan Dimas,kalau ayahnya Dimas koid,Dimas bebas haha,dsar otak nya 😄
dia yang salah tapi tidak mau disalahkan
hasil merebut itu ga awet bu, inget umur
kamu wanita kaya ,mandiri knp harus merebut hak orang lain. percuma hartamu😄
udah merebut malahan dia merasa korban😄
kan bisa dibicarakan baik" ,kalian sudah mendzolimi kirana
rasakan akibatnya sendiri
setidaknya harus ada omongan, Ratna juga ksian hasil merampas itu ga akan tenang
kalau kamu itu seorang yang tau agama
tidak akua menawarkan nikah siri ,padahal baru 3hari
ayo tetap semangat
tapi semoga ini bisa jadi pelajaran buat kamu iya
cinta beda agama apakah mereka akan bahagia