NovelToon NovelToon
RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.

​Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Embusan Angin Kampung dan Mata sang Serigala

Bab 4: Embusan Angin Kampung dan Mata sang Serigala

​Perjalanan menuju kampung halaman di Jawa Tengah memakan waktu hampir sepuluh jam menggunakan mobil MPV mewah milik Adrian. Sepanjang perjalanan, Hana lebih banyak bersandar pada bantal kecil di dekat jendela, menatap deretan pohon jati dan hamparan sawah yang hijau berkejaran di luar. Tangannya tak pernah lepas dari perutnya yang masih rata. Di dalam sana, janin berusia delapan minggu itu adalah satu-satunya alasan mengapa Hana masih sudi bernapas dan menahan segala bentuk intimidasi di rumah megah mereka.

​Adrian menyetir dengan wajah kaku. Sesekali ia melirik Hana lewat spion tengah, namun tak ada lagi obrolan hangat seperti mudik dua tahun lalu, saat mereka masih merintis cabang pertama dan tertawa lepas sepanjang jalan sambil menghitung recehan hasil keuntungan warung. Di kursi samping kemudi, Ibu Broto duduk dengan angkuh, sibuk mengipasi lehernya dengan kipas cendana sembari tiada henti mengeluhkan jalanan yang agak bergelombang.

​"Aduh, Adrian, untung mobilmu ini suspensinya bagus. Kalau tidak, bisa rontok semua tulang Ibu melewati jalanan kampung yang tidak jelas ini," keluh Ibu Broto dengan nada suara yang sengaja dikeras-keraskan. "Makanya, Ibu itu paling malas kalau bukan karena urusan penting. Ingat ya, Adrian, nanti begitu sampai di rumah pamanmu, kamu harus langsung istirahat. Jangan mau disuruh-suruh mengurus ini-itu. Kamu itu bos besar sekarang."

​"Iya, Bu, Adrian tahu," jawab Adrian pendek, suaranya terdengar lelah namun tetap berusaha menjaga nada hormat pada ibunya.

​Hana hanya memejamkan mata, membiarkan kalimat-kalimat itu menguap begitu saja. Ia sengaja menghemat energinya. Sejak malam di mana ia mencium bau parfum murah di kemeja Adrian, Hana tahu ia sedang berhadapan dengan waktu. Perjalanan mudik ini harus ia manfaatkan untuk memulihkan fisiknya agar tidak lagi lemah dan mudah ditindas.

​Sore hari ketika matahari mulai condong ke barat dan memancarkan warna jingga yang hangat, mobil Adrian akhirnya memasuki sebuah desa terpencil yang asri. Mobil itu berhenti di depan sebuah rumah joglo kayu yang cukup terawat. Itu adalah rumah paman Hana dari pihak almarhum ayahnya, satu-satunya keluarga dekat Hana yang masih tersisa di kampung.

​Begitu mesin mobil dimatikan, seorang pria paruh baya berwajah ramah keluar menyambut mereka dengan senyuman lebar. "Hana! Adrian! Ya ampun, akhirnya sampai juga," seru Paman harjo, berjalan mendekat dengan langkah tergesa-gesa.

​Hana turun dari mobil perlahan, menahan rasa pening yang mendadak menyerang akibat terlalu lama duduk. Paman Harjo langsung memeluk keponakannya itu dengan erat, menyadari gurat kelelahan dan kepucatan di wajah Hana. "Kamu pucat sekali, Han? Katanya sedang hamil? Aduh, harusnya tidak usah memaksakan mudik kalau badanmu tidak fit."

​"Hana tidak apa-apa, Paman. Hanya sedikit pusing karena perjalanan jauh," jawab Hana lembut, memaksakan sebuah senyuman hangat.

​Adrian turun dari mobil, menyalami Paman Harjo dengan sikap formal yang terkesan menjaga jarak. Sementara Ibu Broto turun belakangan, langsung menutup hidungnya dengan saputangan sutra begitu kakinya menginjak tanah halaman yang sedikit berdebu. "Aduh, udaranya kok bau kotoran ayam begini ya? Kamar tamunya sudah siap kan, Pak? Saya sudah gerah sekali ingin mandi air hangat."

​Paman Harjo agak tersentak dengan ketusannya Ibu Broto, namun sebagai orang desa yang ramah, ia tetap mengangguk sabar. "Sudah, Bu. Sudah saya siapkan kamar terbaik di dalam. Mari masuk, mari."

​Malam harinya, suasana kampung terasa sangat sunyi, hanya menyisakan suara jangkrik dan kodok yang bersahut-sahutan dari arah sawah di belakang rumah. Paman Harjo menghidangkan makan malam sederhana: sayur lodeh, tempe garit goreng, dan sambal terasi desa.

​Hana duduk di meja makan kayu yang usang, perlahan menyuap nasi ke mulutnya. Anehnya, rasa mual yang biasanya menyiksa Hana selama di kota, malam ini justru mereda. Masakan desa yang jujur dan tanpa pengawet ini terasa sangat bersahabat di lidahnya. Namun, ketenangan makan malam itu kembali terusik oleh komentar tajam Ibu Broto.

​"Aduh, Pak Harjo... masakan kampung begini apa tidak terlalu berisiko untuk Hana yang sedang lemah kandungannya?" tanya Ibu Broto, mengaduk-aduk sayur lodeh di piringnya dengan ujung sendok, seolah sedang memeriksa benda asing. "Hana ini di kota selalu saya beri makanan bergizi, daging premium, dan vitamin mahal dari dokter spesialis. Di sini makanannya cuma tempe dan sayur begini, nanti kalau gizi cucu saya kurang bagaimana?"

​Paman Harjo tersenyum canggung. Sebelum paman Hana sempat menjawab, Hana mendahului dengan suara tenang namun tegas, "Sayur lodeh buatan Paman ini menggunakan santan segar dan sayuran langsung dari kebun belakang, Ibu. Jauh lebih sehat dan bebas bahan kimia dibanding daging beku yang biasa kita beli di supermarket kota. Gizi anak saya akan baik-baik saja."

​Adrian melirik Hana, sedikit terkejut mendengar nada bicara istrinya yang kini mulai berani membalas omelan ibunya, walau dengan kalimat yang sangat sopan. Adrian berdeham kecil, mencoba menengahi. "Sudahlah, Bu. Hana benar, sekali-kali makan makanan desa juga bagus untuk variasi."

​Ibu Broto hanya mendengus jengkel, memutar bola matanya dan melanjutkan makan dengan ogah-ogahan. Di dalam hatinya, ia semakin tidak menyukai Hana yang perlahan mulai menunjukkan riak-riak perlawanan sejak keluar dari rumah kota.

​Keesokan paginya, udara desa yang segar dan bebas polusi benar-benar membuat kondisi fisik Hana terasa jauh lebih segar. Pukul tujuh pagi, Hana berjalan-jalan kecil di teras depan rumah, menikmati hangatnya sinar matahari pagi yang menerpa kulitnya.

​Dari arah gerbang halaman, Paman Harjo berjalan mendekat bersama seorang wanita paruh baya tetangga sebelah rumah, yang menuntun seorang gadis muda di sampingnya.

​"Nah, Hana, Adrian... kebetulan sekali kalian ada di depan," paman Harjo memanggil. Adrian yang sedang meminum kopi hitamnya di kursi rotan teras langsung menoleh.

​"Ini Yu Sumi, tetangga sebelah kita. Dia ke sini karena mendengar kalau kalian sedang mencari seseorang untuk membantu mengurus anak dan rumah tangga di kota nanti setelah Hana melahirkan," kata Paman Harjo menjelaskan.

​Yu Sumi melangkah maju dengan senyuman sungkan, lalu menarik pelan lengan gadis di sampingnya. "Iya, Mas Adrian, Mbak Hana... ini anak saya, namanya Santi. Dia baru saja lulus SMA bulan lalu. Anaknya rajin, penurut, dan serba bisa. Daripada dia menganggur di kampung atau kerja di sawah yang penghasilannya tidak menentu, saya pikir akan lebih baik jika dia ikut Mbak Hana ke kota untuk jadi pengasuh anak atau membantu di rumah."

​Hana mengalihkan pandangannya pada gadis bernama Santi itu. Seketika, atmosfer di teras rumah joglo itu terasa mendadak berubah bagi Hana.

​Santi berdiri dengan kepala sedikit menunduk, mengenakan kain jarik sederhana dan kaos polos berwarna merah muda yang agak pudar. Wajahnya tipikal gadis desa; sawo matang, bersih tanpa riasan bedak tebal, dengan rambut hitam panjang yang dikepang dua dengan rapi. Sekilas, penampilannya sangat lugu dan memancarkan aura kepolosan seorang remaja desa yang belum tersentuh kerasnya kehidupan kota.

​Namun, Hana bukanlah wanita bodoh. Sebagai seorang pebisnis wanita yang terbiasa membaca karakter ratusan pelamar kerja di restorannya, Hana menangkap sesuatu yang tidak beres. Ketika Santi menyalami tangan Hana dan menunduk hormat, Hana sempat melihat kilatan aneh di mata gadis itu—sebuah tatapan mata yang tidak selaras dengan kepolosan pakaiannya. Mata Santi tajam, penuh selidik, dan ada ambisi besar yang tersembunyi di balik bulu matanya yang lentik.

​"Nama saya Santi, Mbak Hana... Mas Adrian," suara Santi terdengar sangat lembut, manis, dan bergetar seolah ia sangat pemalu. "Saya bersedia melakukan pekerjaan apa saja di rumah kota nanti. Saya berjanji akan merawat anak Mbak Hana dengan sepenuh hati."

​Tepat saat Santi menyebut nama 'Mas Adrian', gadis itu sedikit mendongakkan kepalanya. Pandangan matanya sengaja diarahkan langsung ke arah Adrian yang sedang memegang cangkir kopi.

​Deg.

​Hana melihat dengan jelas bagaimana jakun Adrian naik-turun. Pandangan mata Adrian yang biasanya dingin dan acuh selama beberapa minggu terakhir, seketika berubah. Mata playboy Adrian mengunci sosok Santi dari ujung kaki hingga ujung kepala. Adrian menatap lekuk tubuh ramping Santi yang tercetak jelas di balik kaos polosnya yang agak ketat, serta leher jenjang gadis belia itu yang berkilau karena peluh pagi. Ada kilatan gairah liar yang mendadak melintas di manik mata suaminya—jenis tatapan yang sangat Hana kenali, tatapan yang sama saat Adrian pertama kali mengejarnya dulu.

​"Lulusan SMA, ya?" Adrian bersuara, nadanya mendadak berubah menjadi sangat ramah, jauh lebih ramah dibanding saat ia berbicara pada istrinya sendiri belakangan ini. Ia meletakkan cangkir kopinya dan menegakkan posisi duduknya. "Sudah bisa mengurus bayi, Santi?"

​Santi menatap Adrian dengan pandangan malu-malu kucing, pipinya sengaja dibuat merona merah sembari menggigit bibir bawahnya pelan—sebuah gestur provokatif terselubung yang langsung ditangkap oleh radar Hana. "Belum terlalu mahir, Mas... tapi di kampung saya sering membantu mengasuh adik-adik sepupu saya. Saya cepat belajar, Mas, asal ada yang mau mengajari."

​Ibu Broto yang baru saja keluar dari dalam rumah mendengar percakapan itu. Ia berjalan mendekati Santi, mengitari tubuh gadis desa itu dengan pandangan menilai. Berbeda dengan pandangannya pada Hana yang selalu masam, Ibu Broto tampak langsung menyukai Santi. Ia melihat Santi sebagai gadis muda yang masih polos dan mudah disetir, tidak seperti Hana yang memiliki otak bisnis cerdas.

​"Wah, kebetulan sekali!" seru Ibu Broto dengan wajah berseri-seri. "Adrian, Hana... Ibu rasa gadis ini sangat cocok! Lihat badannya, sehat dan segar, pasti cekatan bekerja. Daripada kita menyewa baby sitter dari agen kota yang mahal dan suka menuntut, lebih baik membawa anak kampung yang penurut seperti Santi ini. Lagipula, dia kan masih kerabat jauh dari pihak pamanmu, jadi lebih terpercaya."

​Hana merasakan firasat buruk yang teramat sangat besar di dalam dadanya. Seluruh sel di tubuhnya berteriak menolak kehadiran Santi di dalam kehidupan mereka. Membawa Santi ke rumah kota sama saja dengan membawa seekor serigala berbulu domba masuk ke dalam sangkar mereka, terutama dengan kondisi Adrian yang memiliki tabiat playboy dan kini sedang memegang kendali keuangan penuh.

​Hana menarik napas dalam, mencoba menolak dengan alasan yang rasional agar tidak terlihat mencurigasi. "Paman, Yu Sumi... maaf sebelumnya. Bukannya saya menolak, tapi kondisi kandungan saya saat ini sedang lemah dan membutuhkan penanganan medis yang intensif. Saya berencana menyewa perawat bayi profesional dari yayasan rumah sakit kota yang sudah memiliki sertifikat medis dan paham tanda-tanda darurat pada bayi."

​Mendengar penolakan halus dari Hana, raut wajah Santi seketika berubah lesu. Ia menunduk dalam-dalam, menatap ujung kakinya yang tanpa alas kaki dengan bahu yang sengaja dibuat bergetar, seolah ia ingin menangis karena harapannya untuk mengubah nasib ke kota telah hancur.

​Melihat hal itu, Ibu Broto langsung meradang. "Hana! Kamu ini kok sombong sekali, ya!" bentak Ibu Broto dengan suara melengking, tidak peduli ada Yu Sumi dan Paman Harjo di sana. "Sertifikat medis apa? Ibu dulu membesarkan Adrian juga tidak pakai perawat bersertifikat! Anak kampung itu justru lebih kuat dan telaten! Lagipula, ini kan niatnya membantu tetangga kampung agar anaknya punya pekerjaan bagus di kota. Kenapa kamu malah menolak rezeki orang lain?!"

​Adrian ikut berdiri dari kursinya. Ia melangkah mendekati Santi, lalu menatap Hana dengan pandangan mata yang kembali dingin dan penuh tekanan otoritas seorang suami yang tidak suka dibantah.

​"Hana, sudah. Jangan mempersulit hal yang mudah," ucap Adrian dengan nada final, suaranya berat dan mutlak. "Aku yang memegang kendali keuangan dan operasional rumah sekarang, jadi biar aku yang memutuskan. Santi akan ikut kita ke kota setelah liburan ini selesai. Urusan bimbingan merawat bayi, nanti dia bisa belajar pelahan dari kamu atau dari Ibu."

​Adrian kemudian berbalik menatap Yu Sumi dan Santi dengan senyuman karismatiknya yang memikat. "Santi, kamu bersiap-siap ya. Kemasi barang-barangmu. Dua hari lagi kamu akan ikut mobil kami ke kota."

​Santi mendongak, matanya yang tadi tampak berkaca-kaca kini langsung berbinar bahagia. Ia menatap Adrian dengan pandangan mata yang penuh rasa kagum dan penuh rasa terima kasih yang mendalam, sebuah tatapan yang sengaja mengabaikan keberadaan Hana sebagai istri sah di sana. "Terima kasih banyak, Mas Adrian... Terima kasih, Ibu," ucap Santi dengan suara yang teramat manis.

​Hana berdiri mematung di teras rumah kayu itu, meremas jemarinya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Di bawah terik matahari pagi yang mulai memanas, Hana menyadari bahwa aliansi musuh di dalam hidupnya kini telah lengkap. Ibu mertua yang serakah, suami yang mulai kehilangan kesetiaannya, dan kini... seorang gadis muda ambisius yang siap memanfaatkan kelemahan rumah tangga mereka demi naik kasta.

​Hana menatap tajam ke arah Santi yang sedang tersenyum malu-malu pada Adrian. Silakan masuk ke dalam rumahku, Santi... bisik Hana dalam hati, matanya menggelap dipenuhi dendam yang mulai mengkristal. Silakan goda suamiku jika itu maumu. Aku akan membiarkan kalian semua masuk ke dalam jebakan gairah ini, sampai waktunya tiba bagiku untuk meruntuhkan takhta yang kalian curi dariku dan membuat kalian semua merangkak di atas tanah kelaparan.

1
THE GIRL COOL😑
good jop 👍👍👍👍 lanjut kan😍😍😍
gendiz: terimakasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!