Cerita ini hanyalah karangan fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat dan kejadian, berarti othor adalah cenayang yang hebat yang bisa menerawang. eyaaa ... canda kaleee.
Blurb:
"Eh ... asal loe tahu saja, mau ngambek mau nggak, gue tetep tampan kok!" kilah Rey.
"Kan kalau loe ngambek, loe nggak tampan Rey! Jadi jangan ngambek ya, biar tampan!" rayu Jihan lagi seraya mengerjapkan kedua matanya.
"Idih!! Loe bilang gue tampan juga nggak ikhlas buat apa?" timpal Rey.
"Ihh ... loe kok ngeselin sih! Kan gue udah nglakuin apa yang loe mau. Masa iya gara-gara gue salah sebut loe marah dan ga bantu gue, jahat loe!" rengek Jihan dengan mimik sedih dan kesal.
Rey yang di angkat adik oleh Julia sang mama dari Jihan, tidak pernah akur sedikitpun dengan gadis itu, bukan tak akur benci hanya tak akur karena belum saling mengerti.
Setting tempat bukan di indo ya, trus agama juga ga othor cantumin, takute nanti bertentangan dengan norma/ajaran yang ada, anggap aja ini cerita fiktif yang ada di dunia novel halu dan ga mungkin ada di dunia nyata.
Pict from Google, editing by Din Din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Pengganggu
Jihan maupun Rey terkesiap, mereka langsung menoleh ke arah pintu yang terbanting keras. Jihan langsung bangkit dan duduk di tepian ranjang, mata mereka membelalak melihat siapa yang datang.
"Ah, sepertinya kami datang di waktu yang tidak tepat, ya?" tanya Shelly dengan senyum canggung ketika melihat rona wajah Rey maupun Jihan yang memerah.
Ya, Shelly dan Chika datang untuk menjenguk Jihan. Akan tetapi karena terlalu bersemangat dibarengi mereka yang bercanda membuat Chika membuka pintu terlalu keras.
Jihan mengulum bibirnya untuk menyembunyikan rasa canggung, sedangkan Rey menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Kalau gitu kami balik lagi saja." Shelly siap memutar badan mengajak Chika pergi.
"Eh ... eh, sudah disini ya udah masuk!" teriak Jihan.
Akhirnya Chika dan Shelly masuk dengan ragu, dalam benak mereka merasa bersalah karena tengah mengganggu sebuah adegan mesra yang gagal karena kehadiran mereka.
"Bagaimana keadaan kalian?" tanya shelly yang sudah berdiri di samping ranjang.
Rey masih duduk di tengah ranjang, sedangkan Jihan duduk di tepian.
"Ehem, sudah mendingan," jawab Jihan sedikit berdeham meski tenggorokannya tidak gatal.
Chika yang begitu senang melihat Rey yang sudah sadar dan baik baik saja pun langsung duduk di tepian sebelah pemuda itu, di rangkulnya lengan Rey penuh rasa haru.
"Huhuhuhu ... kak Rey, untung kakak baik-baik saja," ucap Chika di buat sesedih mungkin.
Rey terkejut karena Chika yang menempel begitu saja, Shelly juga tertegun melihat Chika yang langsung memeluk lengan Rey. Sedangkan Jihan langsung menyipitkan mata, menatap tidak senang pada Chika.
"Uhukk." Jihan pura-pura terbatuk.
Shelly melotot pada Chika, memberikannya isyarat agar segera melepaskan rangkulannya dari lengan pemuda itu, Rey sendiri jadi tersenyum canggung.
Chika yang melihat ekspresi Shelly tidak tahu maksud temannya itu, ia masih saja merengkuh lengan Rey meski pemuda itu berusaha melepasnya.
"Chik! Gue gantung beneran loe!" ancam Jihan yang sudah terlampau posesif seraya melempar tatapan tajam pada Chika.
"Hah!" Chika terbengong.
"Lepas tangan loe dari Rey! Buruan!" teriak Jihan.
Chika baru tersadar jika Jihan sedang mengeluarkan aura kemarahan dengan sebuah kecemburuan, gadis itu langsung melepas dan berdiri mensejajari Shelly seraya menundukan kepala takut pada Jihan yang marah.
"Loe tuh ya, di kasih isyarat kok ga nyadar sih." Shelly berbisik pada Chika.
"Ya maaf," lirih Chika.
"Maaf ya, Je! 'Kan gue ga tahu," ucap Chika.
"Sekarang udah tahu, 'kan! Awas diulang lagi!" ancam Jihan melotot pada Chika.
Rey hanya bisa menahan tawa seraya menggosok hidungnya yang tidak gatal. Ia tidak menyangka jika Jihan bisa seposesif itu, padahal seharusnya yang posesif 'kan cowok, ini malah kebalikannya.
Mereka berbincang ringan, saling bersyukur atas sadarnya Rey dan kesembuhan Jihan. Beberapa jam berlalu, Shelly dan Chika pamit pulang.
Kini tinggal mereka berdua lagi di dalam ruangan itu, rasa canggung mulai merayap di dalam hati mereka.
"Ehmmm, itu. Memangnya kita sudah jadian, ya? Sampai loe marahin si Chika gegara pegang gue?" tanya Rey dengan nada menggoda Jihan.
Jihan memicingkan matanya, bibirnya mencebik kesal. Gadis itu tidak habis pikir dengan Rey yang tiada henti menjahili dirinya.
"Memangnya gue kudu jadian dulu sama loe, baru boleh ngelarang loe, gitu?" tanya Jihan balik yang tak mau kalah.
"Nggak sih,cuman waktu itu gue dengar ada yang izin buat suka ma gue," ungkap Rey melirik Jihan yang bersidekap.
Mendengar kata yang keluar dari mulut Rey, memunculkan semburat merah di wajah Jihan.
"'Ka-kan loe juga sama." Jihan jadi tergagap.
"Benarkah? Emang gue bilang apa ya?" tanya Rey pura-pura tidak tahu serta sedikit menahan tawanya menatap wajah Jihan yang semakin merona.
Jihan mulai kesal lagi, entah kenapa ia tidak bisa membuat pemuda itu kesal atau cemburu, yang ada malah sebaliknya.
"Ahhh ... bodo, kesel beneran gue sama loe!"
Jihan benar-benar ingin meninggalkan Rey yang terus membuat hatinya dongkol. Namun pemuda itu tak tinggal diam, ia menarik tengkuk Jihan dengan cepat, menyentuhkan bibirnya pada bibir Jihan membuat gadis itu membelalakan mata dengan apa yang di lakukan Rey padanya. Sedetik kemudian Jihan memejamkan mata, merasakan lembut dan hangatnya bibir pemuda yang ia kagumi, tidak ada penolakan sama sekali dari hati. Ia hanya ingin mencurahkan segala kasih sayang dan rindu yang terus menggelayuti jiwa.
Rey melepas tautan bibir mereka, menempelkan keningnya pada dahi Jihan. Semburat merah masih terlihat jelas di wajah Jihan, gadis itu masih memejamkan mata karena merasa malu, baginya itu adalah ciuman pertama miliknya.
"Je."
"Hmmm."
"Mau nggak loe, jadi pacar gue?" tanya Rey yang terus menatap wajah Jihan yang merona.
Jihan membuka matanya, di pukulnya lengan pemuda yang mengajaknya pacaran dengan keras sampai terdengar suara Rey mengaduh.
"Sakit, Je!"
"Loe ya! Habis nyium gue, loe baru ngajak pacaran, dasar!" gerutu Jihan, sesunggguhnya dia sedang mencoba menahan rasa malu yang singgah di relung hatinya, mencoba menetralkan jantungnya yang terus berdegup dengan cepat.
"Ya, maaf! Perasaan gue salah mulu, Je!" Rey mengusap tengkuknya. "Omong-omong, ajakan gue ditolak, Je?" tanya Rey mempertegas.
Jihan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dengan sedikit berdeham meski tenggorokannya tidak gatal.
"Ya, nggak sih," jawab Jihan kemudian yang masih malu menatap Rey.
Rey tersenyum senang, kemudian ia ingat akan sesuatu. "Bagaimana dengan Jason? Nggak mungkin 'kan loe pacaran sama dua cowok sekaligus, mana dia juga temen gue, lah bisa-bisa gue dikira tukang tikung, Je!" ungkap Rey.
"Eh ... itu, gue dan Jason baru putus kemarin," jelas Jihan masih mengedarkan pandangannya.
Rey terkesiap, tapi ada rasa senang yang membuncah di hati. Memiliki gadis itu seutuhnya adalah keinginan dirinya, seakan tidak ada beban di hati untuk mencurahkan rasa sayang sepenuhnya.
"Tapi bisa nggak kalau mamah dan papah jangan sampai tahu masalah hubungan kita?" tanya Jihan yang kemudian menatap manik mata hitam milik Rey.
"Kenapa?" tanya Rey mengangkat sebelah alisnya.
Jihan meremas jari jemari lentiknya, ia tertunduk menatap ke pangkuan.
"Gue takut aja jika mereka nggak setuju dengan hubungan kita. Meski kita bukan saudara kandung, tapi kita tinggal serumah, gue takut mereka menentang keras," jawab Jihan penuh dengan rasa kekhawatiran di setiap ucapannya.
Rey meraih tangan Jihan, di usapnya lembut jari jemari lentik gadis itu.
"Oke, apa mau loe, gue ikut." Rey menatap Jihan penuh kehangatan.
Jihan tersenyum simpul, ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Rey yang langsung di sambut rengkuhan mesra dari pemuda itu.
"Lalu bagaimana dengan Tisa? Loe lupa kalau masih pacaran sama dia?" tanya Jihan yang teringat akan status Rey.
"Sepertinya hubungan gue dengan Tisa udah berakhir sesaat sebelum loe jatuh ke sungai. Mungkin itu yang bikin Tisa marah serta sampai membuat masalah dengan loe," ungkap Rey.
"Begitu, ya!"
"Hu um."
*
*
*
*
*
*
*
*
Note Author:
Author Dobel up nih, seneng kan? pasti seneng dong! So, jangan lupa like koment di tiap babnya ya ....
Terima kasih atas dukungannya, Saya sangat menghargai setiap like koment kalian, karena like koment itu adalah sebuah Mood Booster untuk saya. lope lope sekebon duren dan petai 😘😘
Oh ya, kalau berkenan vote seikhlasnya ya ... hiji pun Alhamdulillah, eh ... lupa, minimal 10 ya 😂😂😂. Dah gitu aja, makasih🙏🙏🙏.