Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 - Salah Kirim atau Salah Mengaku?
Nadira menatap layar ponselnya tanpa berkedip.
> **Arga:** *Eh... maaf. Harusnya pesan itu buat grup proyek. Salah kirim.*
Ia membaca pesan itu sekali lagi.
Lalu sekali lagi.
Semakin dibaca, semakin terasa janggal.
*"Aku mulai nyaman sama kamu."*
Kalimat seperti itu...
Untuk grup proyek?
Nadira menghela napas pelan.
> **Nadira:** *Grup proyek?*
Pesan terkirim.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Tidak ada balasan.
Status Arga berubah menjadi *sedang mengetik...* lalu menghilang lagi.
Muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Nadira hampir bisa membayangkan pria itu sedang panik di balik layar.
Akhirnya balasan datang.
> **Arga:** *Maksudnya... buat teman proyek.*
Nadira mengernyit.
> **Nadira:** *Teman proyek cuma aku.*
Lama.
Sangat lama.
Lalu muncul satu pesan lagi.
> **Arga:** *Oke. Aku menyerah. Memang salah kirim.*
Sudut bibir Nadira terangkat tanpa sadar.
Untuk pertama kalinya, ia berhasil membuat Arga kehabisan kata-kata.
---
Di rumah sebelah, suasana jauh berbeda.
Arga menjatuhkan tubuhnya ke sofa sambil menutup wajah dengan bantal.
"Astaga..."
Mama Arga yang sedang melipat pakaian menoleh heran.
"Kenapa?"
"Aku baru melakukan kesalahan terbesar tahun ini."
"Nabrak mobil?"
"Enggak."
"Lupa ulang tahun orang?"
"Lebih parah."
Mama Arga duduk di sampingnya.
"Kamu ngomong apa?"
Arga mendesah panjang.
"Aku salah kirim chat."
"Ke siapa?"
"...Nadira."
Mama Arga langsung tersenyum lebar.
"Isi chat-nya?"
Arga diam.
"Gar?"
"Aku bilang..."
Ia menarik napas dalam.
"...aku mulai nyaman sama dia."
Beberapa detik rumah itu sunyi.
Lalu...
Mama Arga tertawa sampai harus memegang perut.
"Ma!"
"Maaf... Mama nggak bisa."
Arga menutup wajahnya lagi.
"Besok aku malu ketemu dia."
"Siapa suruh ngetik sambil ngantuk."
"Aku memang ngantuk."
"Iya, iya."
Mama Arga masih tersenyum.
"Terus... memangnya salah?"
Arga mengangkat kepala.
"Maksud Mama?"
"Kalimat itu."
"Memang kamu mulai nyaman sama Nadira, kan?"
Arga tidak langsung menjawab.
Tatapannya kosong beberapa saat.
"...Iya."
Jawaban itu keluar lirih.
Bahkan dirinya sendiri baru benar-benar menyadarinya setelah mengucapkannya.
---
Keesokan paginya...
Nadira sengaja berangkat lebih awal.
Bukan karena pekerjaan.
Melainkan karena ia belum tahu harus memasang ekspresi seperti apa saat bertemu Arga.
Sayangnya...
Begitu membuka pagar rumah, orang yang ingin dihindarinya justru sedang menyiram tanaman.
"Eh..."
Arga mematung.
Selang air di tangannya masih menyala hingga membasahi sandal sendiri.
Nadira menggigit bibir agar tidak tertawa.
"Pagi."
"P-pagi."
Biasanya Arga selalu punya banyak bahan obrolan.
Hari ini?
Ia justru tampak salah tingkah.
"Aku berangkat dulu."
"Oh... iya."
Nadira baru melangkah beberapa meter ketika suara Arga kembali terdengar.
"Dir."
Ia menoleh.
"Soal chat semalam..."
"Iya?"
"Itu..."
Arga menggaruk tengkuk.
"...anggap aja nggak pernah ada."
Nadira memperhatikan wajahnya.
Untuk pertama kalinya, pria yang selalu percaya diri itu terlihat benar-benar gugup.
"Kalau aku nggak mau?"
Arga mengerjapkan mata.
"Hah?"
"Anggap nggak pernah ada."
Nadira tersenyum tipis.
"Aku sudah baca."
Lalu ia memakai helm dan langsung menyalakan motor.
Meninggalkan Arga yang masih berdiri mematung.
Beberapa detik kemudian, dari balik kaca jendela rumah, Mama Arga yang melihat kejadian itu tertawa pelan.
"Anakku akhirnya kena juga."
---
Di kantor, suasana kembali sibuk.
Namun hari itu ada satu hal yang berubah.
Biasanya Arga akan langsung menghampiri meja Nadira sambil membawa kopi atau roti.
Hari ini...
Tidak.
Ia memilih duduk di mejanya sendiri.
Sesekali mereka saling bertatapan.
Lalu sama-sama cepat mengalihkan pandangan.
Rina yang duduk di seberang Nadira mengernyit.
"Aneh."
"Apa?"
"Kalian habis berantem?"
"Nggak."
"Terus kenapa kayak orang asing?"
"Nggak tahu."
Padahal Nadira tahu persis penyebabnya.
---
Menjelang siang, Pak Dimas memanggil mereka ke ruang rapat.
"Klien ingin presentasi awal dipercepat."
"Jadi kapan, Pak?" tanya Nadira.
"Hari Rabu."
"Itu tinggal tiga hari lagi."
"Makanya."
Pak Dimas menatap keduanya bergantian.
"Kalian mungkin harus lembur mulai malam ini."
"Lembur?" Arga mengangguk. "Siap."
Nadira ikut mengangguk.
"Siap."
"Bagus."
Pak Dimas menutup mapnya.
"Dan satu lagi."
"Apa, Pak?"
"Kalian lembur di kantor saja. Biar lebih mudah koordinasi."
Keluar dari ruang rapat, Nadira mengembuskan napas pelan.
"Kayaknya malam ini panjang."
Arga mengangguk.
"Iya."
Hening.
Beberapa langkah kemudian, Arga memberanikan diri membuka suara.
"Dir."
"Hm?"
"Aku mau klarifikasi."
Nadira berhenti berjalan.
"Soal chat?"
"Iya."
"Aku memang mulai nyaman sama kamu."
Nadira membeku.
"Tapi..."
Arga tersenyum kecil, kali ini tanpa bercanda.
"...aku nggak akan minta kamu membalas perasaan apa pun. Kita baru saling kenal. Aku cuma nggak mau kamu mengira aku sedang mempermainkanmu."
Jantung Nadira berdetak semakin cepat.
Belum sempat ia menjawab, ponsel Arga berdering.
Nama yang muncul di layar membuat senyumnya perlahan memudar.
**Celine Calling...**
Arga menatap layar itu beberapa detik.
Sementara Nadira, yang sempat mulai membuka hati, kembali diliputi tanda tanya.
**Kenapa Celine menelepon di saat seperti ini?**
**Bersambung ke Episode 11...**