Aluna,seorang staf admintrasi bawahan, ia tidak menyangka kalau hidupnya akan berjungkar balik dalam waktu sehari .
Mendapat tekanan dari pekerjaan, niat hati ingin berkeluh kesah dan memeluk kekasiihnya namun kenyataan pahit ia terima kekasihnya berselingkuh didepan matanya.
Dengan derai air mata ia pulang kerumah namun lagi - lagi ia mendapati pemandangan yang memilukan Ayahnya bersimbah darah karena ulah kakak tirinya .
Hidup Aluna berubah menjadi mimpi buruk dalam semalam. Ayahnya kritis akibat dianiaya oleh kakak tirinya, dan kini Aluna terancam "dijual" untuk melunasi utang judi sang kakak.
Di ambang maut, sang ayah memohon satu hal: Aluna harus segera menikah agar punya pelindung.
Masalahnya, Aluna baru saja diselingkuhi dan menyandang status jomblo . Dalam kondisi panik dan terdesak di rumah sakit, ia nekat menarik lengan seorang pemuda asing yang kebetulan lewat. "Tolong, nikahi aku sekarang!"
Bagaiman kisah Aluna selanjutnya ? siapa sebenarnya suami dadakan Aluna ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan Perlindungan
Elvan melihat istrinya sedang terdiam, namun ia tahu saat ini Aluna sedang memikirkan sesuatu, sebagai pria yang terlatih membaca gestur dan emosi orang lain di dunia bisnis yang keras, Elvan langsung menyadari ada perubahan sikap pada istrinya. Ada ketegangan yang tertahan di bahu Aluna dan tatapan mata yang cenderung menghindari kontak mata langsung.
"Aluna, ada apa?" tanya Elvan pelan, menangkup kedua pipi Aluna dengan tangan hangatnya, memaksa wanita itu untuk menatap matanya. "Kamu mendengarkan sesuatu?"
Pertanyaan Elvan yang begitu langsung membuat pertahanan emosional Aluna goyah. Air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya perlahan menetes, membasahi ibu jari Elvan.
"Mas ..." panggil Aluna dengan suara yang sarat akan rasa bingung dan penderitaan batin. "Tadi aku tidak sengaja mendengar kamu menyebut nama Kafka ... Mengapa kamu urus nama Kafka, Mas? Apakah pria jahat itu kembali mengancammu? Atau ... atau kamu sedang menyembunyikan sesuatu hal yang berbahaya dariku?"
Elvan mendesah pelan dalam hati. Ia mengutuk kecerobohannya sendiri karena kurang berhati-hati saat menelepon di dalam rumah. Namun, melihat air mata yang menetes di pipi istrinya, rasa bersalah langsung menyergap dadanya.
Elvan menarik Aluna ke dalam pelukannya, merengkuh tubuh mungil itu dengan erat, mengusap punggung Aluna yang sedikit berguncang oleh isakan pelan.
"Maafkan aku, Aluna. Maafkan aku karena membuatmu takut," bisik Elvan tepat di samping telinga istrinya dengan nada yang sangat penuh penyesalan. "Aku tidak bermaksud menyembunyikan apa pun yang bisa membahayakanmu."
Aluna melepaskan pelukannya perlahan, menatap wajah tegap suaminya dengan mata yang memerah. "Lalu kenapa nama Kafka disebut, Mas? Dan kenapa kamu tampak begitu penuh rahasia setiap kali menerima telepon? Setiap kali kamu pergi keluar, aku selalu cemas ... aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu karena membantu keluargaku."
Elvan menggenggam kedua tangan Aluna, menatapnya dengan kejujuran yang paling dalam yang bisa ia tampilkan saat ini.
"Mengenai Kafka, aku hanya memastikan bahwa pria itu tidak akan pernah bisa mengganggumu dan Ayah lagi, Aluna," jelas Elvan dengan suara teratur dan tenang.
"Temanku yang memiliki pengaruh hukum membantu melaporkan tindakan intimidasi dan pemerasan yang dilakukan Kafka dan rentenir itu kepada pihak berwenang. Aku hanya memastikan proses hukum itu berjalan sebagaimana mestinya agar kamu bisa hidup tenang tanpa bayang-bayang ketakutan."
Aluna terpaku. "Proses hukum? Jadi ... Kafka akan ditangkap?"
"Ya," jawab Elvan tegas. "Pria seperti dia harus menerima konsekuensi atas perbuatannya. Dia telah merusak ketenangan hidupmu dan menindas keluargamu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun melukaimu, Aluna. Tidak Kafka, dan tidak siapa pun di dunia ini."
Mendengar penjelasan Elvan, benih keraguan yang sempat tumbuh di dada Aluna seketika luruh dan berganti dengan rasa haru yang luar biasa. Ia realized bahwa setiap tindakan rahasia yang dilakukan suaminya, setiap telepon yang diterima secara berbisik, dan setiap langkah yang diambil Elvan semata-mata adalah demi melindunginya dan ayahnya.
Rasa bersalah kini berpindah ke dalam diri Aluna. Ia merasa sangat berdosa karena telah meragukan ketulusan pria yang telah mempertaruhkan segalanya untuk menjadi pelindungnya.
"Mas ... maafkan aku," bisik Aluna terisak, menyandarkan dahinya di dada bidang Elvan. "Maafkan aku karena sempat meragukanmu. Aku hanya ... aku hanya sangat takut kehilanganmu. Kamu adalah satu-satunya tempatku bersandar sekarang."
Elvan tersenyum sangat hangat, merengkuh kepala Aluna dan mencium puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang yang dalam.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, Istriku," ucap Elvan lembut. "Rasa cemasmu adalah hal yang wajar. Tapi percayalah padaku ... Selama aku masih bernapas, tidak akan ada satu pun bahaya yang sanggup menyentuhmu."
Di balik pelukan hangat itu, mata Elvan kembali menyipit tajam menatap ke arah jendela luar yang mulai menggepuk dililit senja. Rencananya di Surabaya telah berjalan, Kafka akan segera diseret ke balik jeruji besi, dan Aluna kini makin mempercayainya secara utuh.
Namun, Elvan tahu betul bahwa ini barulah permulaan dari babak permainan yang sebenarnya. Nyonya Herlina tidak akan tinggal diam begitu menyadari bahwa dirinya telah ditipu oleh umpan palsu di Surabaya.
Badai yang lebih besar pasti akan datang menerjang. Tetapi malam ini, di dalam rumah paviliun yang tenang ini, Elvan bersumpah akan menjaga kehangatan ini dengan seluruh kekuasaan dan nyawa yang miliki.
Malam pun perlahan turun memeluk perumahan klaster, membawa serta keheningan yang menyelimuti dua jiwa yang makin terikat erat dalam benang-benang takdir dan perlindungan yang tak tergoyahkan.
Malam itu, setelah air mata Aluna mereda, keduanya duduk berdua di ruang tamu paviliun. Cahaya lampu kuning lembut menyinari wajah mereka. Elvan masih memegang tangan istrinya, sesekali mengusap punggung tangannya dengan ibu jari sebagai penenang.
“Tidurlah lebih dulu, Aluna,” bisik Elvan. “Besok kita akan ke rumah sakit menjenguk Ayah.”
Aluna menggeleng pelan. “Aku tidak bisa tidur, Mas. Aku ingin mendengar lebih banyak. Bagaimana proses hukum itu bisa berjalan begitu cepat? Kafka punya banyak koneksi di kota ini.”
Elvan menarik napas panjang. Ia memutuskan untuk memberikan sedikit kebenaran, cukup agar Aluna tenang, namun tidak seluruhnya.
“Temanku di kejaksaan sudah mengumpulkan bukti-bukti rekaman dan kesaksian korban lain. Kafka bukan hanya menargetkan keluargamu. Ada beberapa pedagang kecil yang juga ia peras. Begitu laporan formal masuk, polisi bergerak cepat. Besok atau lusa, surat perintah penangkapan akan diterbitkan.”
Aluna mengangguk pelan, masih tersisa rasa takut di matanya. “Dan kamu … kamu tidak akan terlibat langsung, kan? Aku takut mereka tahu bahwa kamu yang berada di balik semua ini.”
Elvan tersenyum tipis. “Aku sudah sangat berhati-hati. Namaku tidak akan muncul di berkas mana pun. Semua melalui jalur resmi.”
Ia mencium kening Aluna lama, lalu membawanya ke kamar. Malam itu Aluna tertidur dalam pelukan suaminya, sementara Elvan tetap terjaga hingga larut. Ia membuka laptop dan memeriksa pesan dari orang kepercayaannya di Surabaya. Foto Kafka yang digelandang masuk mobil tahanan sudah terkirim. Elvan menatap layar lama, rahangnya mengeras.
“Satu masalah selesai,” gumamnya pelan. “Tinggal yang lebih besar.”
Keesokan paginya, Aluna terbangun lebih dulu. Ia memasak sarapan sederhana, nasi goreng dan telur ceplok, sambil sesekali melirik ke arah kamar. Ketika Elvan muncul dengan kemeja putih yang rapi, Aluna tersenyum tipis.
“Mas sudah siap?”
“Siap,” jawab Elvan, mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang. “Hari ini kita fokus ke Ayah saja. Jangan pikirkan yang lain.”
Di rumah sakit, kondisi Ayah Aluna sudah jauh lebih stabil. Dokter menyampaikan kabar baik: tekanan darah terkendali dan luka memar di tubuhnya mulai membaik. Aluna menangis lega di samping tempat tidur ayahnya, sementara Elvan berdiri di dekat jendela, mengamati koridor dengan waspada.
Ketika Aluna sedang berbicara dengan ayahnya, ponsel Elvan bergetar. Pesan singkat dari bawahannya:
“Nyonya Herlina sudah curiga. Ia mengirim orang ke Surabaya kemarin malam. Mereka menemukan jejak palsu yang kita siapkan, tapi tidak menemukan Kafka. Ia mulai menelusuri koneksi di Jakarta.”
Elvan mengunci layar ponsel dengan cepat. Wajahnya tetap tenang, namun di dalam dadanya sesuatu mengeras. Ia tahu waktu semakin sempit.
Sore harinya, saat mereka kembali ke paviliun, Aluna menyadari suaminya lebih pendiam dari biasanya.
“Mas, kamu lagi memikirkan sesuatu lagi, ya?” tanyanya pelan saat mereka duduk di teras belakang.
Elvan menoleh, lalu menarik Aluna ke pangkuannya. “Aku hanya sedang merencanakan beberapa langkah ke depan. Ada urusan bisnis yang harus diselesaikan minggu ini.”
Aluna menatapnya dalam-dalam. “Urusan bisnis… atau urusan yang lebih berbahaya?”
Elvan terdiam sejenak. Ia tidak ingin berbohong, tapi juga tidak ingin membuat Aluna semakin cemas.
“Sedikit dari keduanya,” jawabnya akhirnya. “Tapi aku janji, aku akan selalu memberitahumu jika situasinya sudah terlalu berbahaya. Percayalah padaku, Aluna.”
Aluna mengangguk, menyandarkan kepala di bahu suaminya. “Aku percaya, Mas. Tapi tolong… jangan biarkan aku menunggu di gelap terlalu lama. Aku kuat. Aku bisa menanggungnya bersama-sama denganmu.”
Elvan memeluk erat tubuh istrinya. Kata-kata Aluna menusuk tepat di hatinya. Wanita ini jauh lebih tangguh dari yang ia kira. Dan justru karena itu, ia semakin ingin melindunginya dari segala badai yang akan datang.
Malam itu, setelah Aluna tertidur, Elvan berdiri di balkon. Angin malam berembus dingin. Ia menatap langit yang penuh bintang, lalu membuka ponsel dan menghubungi seseorang.
“Siapkan semuanya,” bisiknya pelan. “Nyonya Herlina mulai bergerak. Aku tidak akan menunggu sampai ia mendekati Aluna. Kita serang duluan.”
Di ujung sana, suara rendah menjawab, “Siap, Bos.”
Elvan menutup telepon. Matanya menyipit tajam ke arah kegelapan. Kafka hanyalah batu loncatan. Permainan sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini ia siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang kini tidur tenang di dalam rumah.