Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.
Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏
#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 : Nyanyian Malam dan Asap Gunung Tengger
Tembang macapat tua itu tidak kunjung mereda. Suaranya tidak kencang, namun merayap sangat pekat di antara desis gerimis yang membasahi atap sirap rumah panggung. Vokal yang meliuk-liuk melankolis itu bagaikan helai benang basah yang membelit leher, membawa aura dingin yang sanggup membekukan sumsum tulang.
Sari terduduk kaku di atas kasur kapuknya. Lampu minyak di atas meja kayu berkelip-kelip gelisah, apinya menjulur-julur kecil seolah berusaha melarikan diri dari terpaan hawa dingin yang tak kasat mata.
Uuk... uuk...
Si Mbah mendesis pelan. Kera hitam itu tidak lagi berani memanjat ke atas dahan atau lemari. Ia merayap mendekati Sari, lalu meremas kain jarik yang dipakai gadis itu dengan jemarinya yang gemetar. Matanya yang biasanya jenaka dan penuh akal kini mendelik lebar, menatap lurus ke arah celah jendela papan yang menghadap ke bukit utara.
Sari mengelus kepala Si Mbah dengan tangan yang tak kalah dingin. "Tenang, Mbah... jangan takut. Ada aku di sini."
Namun ucapan Sari sejatinya lebih berupa penghiburan untuk dirinya sendiri. Di bawah tempat tidurnya, lempengan perunggu polos—bekas panci berukir ular yang telah dilebur Marno—mendadak mengeluarkan dengung halus. Logam yang seharusnya mati itu bergetar pelan, memancarkan hawa hangat yang bertabrakan langsung dengan hawa dingin dari luar rumah.
Klek. Klek.
Suara ketukan pelan terdengar di dinding luar rumah panggung. Bukan di pintu depan, melainkan di tiang-tiang panggung bagian bawah. Ketukan itu berpindah-pindah dengan cepat, bagaikan ada puluhan jemari kurus yang sedang menepuk-nepuk kayu pondasi dari arah kolong rumah.
Bau minyak melati busuk—bercampur aroma belerang dan tanah kuburan yang dibakar—mengelus hidung Sari melalui celah papan lantai.
Sari menggigit bibir bawahnya erat-erat. Ia teringat pesan Kang Marno dan Mbok Sumi sore tadi. Perguruan Gunung Tengger. Jika benar Mbah Jiwo Suro telah mengirim utusannya, maka apa yang dihadapi Sari kali ini bukan sekadar bayangan dendam korban bibinya, melainkan sebuah sekte ilmu hitam yang telah berakar puluhan tahun dan haus akan pembalasan.
Sari memberanikan diri berdiri. Ia mengambil sebuah obor bambu kecil yang tersimpan di dekat pintu dapur, menyulut apinya pada lampu minyak, lalu menggenggam pisau pemotong daging milik warungnya.
"Kita tidak boleh cuma bersembunyi di dalam kamar, Mbah," bisik Sari mantap, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Kalau mereka mau merusak rumah ini, mereka harus berhadapan denganku."
Si Mbah memandang Sari, lalu dengan gerakan perlahan, kera itu meraih sebatang alu kayu penumbuk bumbu yang tergeletak di samping meja dapur. Meski tubuhnya kecil dan gemetar, Si Mbah pasang kuda-kuda di samping kaki Sari, siap bertempur habis-habisan.
Sari membuka pintu belakang rumah panggung yang mengarah ke pelataran dapur outdoor dan sumur tua. Hujan gerimis menyambut wajahnya dengan rintik yang menusuk kulit.
Di tengah halaman yang becek oleh lumpur, berdiri tiga sosok misteriah.
Mereka bertiga mengenakan jubah mori kusam yang telah berubah warna menjadi kelabu akibat noda tanah dan abu gosok. Wajah mereka tertutup kain mori yang hanya menyisakan dua lubang kecil untuk mata. Yang paling mengerikan, ketiganya berdiri tanpa menginjakkan tumit mereka sepenuhnya ke atas tanah—telapak kaki mereka agak jinjit, bagaikan raga tanpa bobot.
Sosok yang berada di tengah memegang sebatang tongkat kayu hitam yang ujungnya dihiasi tengkorak kera yang dikeringkan. Dari tengkorak kera itulah asap putih tebal berbau belerang membumbung ke udara.
"Sari... keponakan Seruni..." suara sosok di tengah itu keluar. Suaranya serak, bertumpuk antara suara pria tua dan bisikan wanita, seakan-akan ada dua jiwa yang mendiami satu tenggorokan. "Kau telah menghancurkan milik Master Jiwo Suro. Kau telah membakar kitab lontar, dan kau telah melebur Panci Tiga Ular."
Sari mengacungkan obornya tinggi-tinggi, mencoba mengusir Asap belerang yang mulai merayap mendekatinya. "Bara dan peninggalan itu adalah racun yang menghancurkan desa ini! Bibi saya sudah bertobat sebelum mati, dan saya tidak akan biarkan ilmu hitam itu hidup kembali!"
Sosok itu tertawa terkekeh. Tawa yang sangat garing dan hampa, membuat bulu kuduk Sari berdiri tegak.
"Bertobat?" kekeh sosok itu sambil melangkah maju satu jengkal. "Di Perguruan Gunung Tengger, tidak ada kata bertobat bagi jiwa yang telah menjual namanya dalam kitab mori hitam. Seruni adalah anjing kami yang kabur. Barang-barang yang ia bawa adalah milik Master Jiwo. Karena barang itu telah kau hancurkan, maka ragamu dan seluruh darah di desa ini yang harus menggantikan harganya!"
Sosok di sebelah kiri mendadak menghentakkan kakinya ke tanah. Brak!
Dari balik semak-semak di sekeliling halaman dapur, puluhan kelabang berukuran raksasa—masing-masing sepanjang lengan dewasa dengan warna merah membara—merayap keluar dari dalam tanah basah. Kelabang-kelabang itu berdesis, menggerakkan ratusan kakinya dengan cepat menuju ke arah kaki Sari dan Si Mbah!
"UUKKKK!" Si Mbah menjerit kaget, melompat ke atas bahu Sari sambil mengayun-ayunkan alu kayunya dengan liar.
Sari panik. Ia mengibaskan obor bambunya ke bawah, membakar beberapa ekor kelabang yang mendekat. Bau daging kelabang terbakar yang amis menyengat memenuhi udara. Namun jumlah hewan melata ghaib itu terlalu banyak; mereka merayap naik ke tiang-tiang rumah panggung, berniat mengepung Sari dari segala penjuru.
Tiba-tiba, dari arah jalan setapak menuju hulu sungai, sebuah raungan keras memecah kesunyian malam!
"HURAAAAGH!"
Sebuah obor raksasa berbentuk cawan tembaga yang membara melayang di udara, menghantam tepat di tengah-tengah kerumunan kelabang merah tersebut. Api besar menyembur liar, membumihanguskan puluhan hewan melata itu dalam sekejap hingga berubah menjadi abu hitam.
Kang Marno melompat dari balik kegelapan dengan membawa martil besi raksasa di tangan kirinya dan obor cawan di tangan kanannya. Di belakangnya, Mbok Sumi berjalan cepat dibantu oleh Pak Karto RT yang memegang senapan angin berburu milik warga!
"Jangan sentuh anak itu, Utusan Tengger!" teriak Marno dengan suara bagaikan gemuruh guntur.
Sosok bertongkat tengkorak kera di tengah menoleh lambat ke arah Marno. Dua lubang mata di kain morinya berkilat merah di dalam kegelapan. "Marno... si pande besi cacat. Kau rupanya yang telah melebur Panci Tiga Ular milik Master kami dengan api tungkumu?"
Marno melangkah maju membentengi Sari. Matanya menyipit penuh dendam. "Tangan kananku memang cacat karena racun petunduk buatan guru kalian lima puluh tahun lalu! Tapi tangan kiriku masih cukup kuat untuk meremukkan kepala utusan-utusan iblis seperti kalian!"
Mbok Sumi menancapkan tongkat kayunya ke atas tanah basah. Meski matanya yang buta sebelah tidak bisa melihat, telinganya yang tajam menangkap setiap embusan angin ghaib dari ketiga sosok tersebut.
"Kalian salah jika mengira Karang Tumpuk masih desa yang lemah seperti dulu," kata Mbok Sumi dingin. "Kami telah membersihkan racun Seruni dengan air mata dan maaf. Tempat ini bukan lagi tanah jajahan Perguruan Tengger!"
Utusan bertongkat itu mendesis murka. "Ucapkan sesukamu, Orang-Orang Tua! Tapi malam ini, desa ini akan belajar apa artinya memicu kemarahan Gunung Tengger!"
Utusan itu menghentakkan tongkat tengkoraknya ke atas tanah tiga kali. Tuk! Tuk! Tuk!
Asap belerang dari tengkorak kera mendadak meledak menjadi gulungan asap hitam pekat yang membumbung tinggi hingga menutupi cahaya rembulan. Dari dalam asap hitam itu, terdengar derap langkah kaki yang sangat berat—bukan langkah manusia, melainkan langkah makhluk berkuku tajam dan berukuran raksasa.
Si Mbah di atas bahu Sari menjerit makin kencang, menunjuk-nunjuk ke arah asap hitam yang kian menggulung tajam.
Dua utusan di samping kanan dan kiri melompat mundur, menghilang ke dalam kegelapan malam, menyisakan utusan bertongkat di tengah yang melayang perlahan naik ke atas dahan pohon kelapa.
"Ini baru salam pembuka dari Master Jiwo Suro!" seru suara bertumpuk itu bergema dari atas pohon. "Tujuh hari dari sekarang, saat bulan mati turun, seluruh ternak dan warga Karang Tumpuk akan memuntahkan darah hitam dari perut mereka! Kumpulkan abu peninggalan Seruni, atau persiapkan kuburan massal untuk desa ini!"
Setelah kalimat itu terucap, ledakan asap belerang kembali terjadi. Saat asap itu tertiup angin hujan, ketiga utusan beserta makhluk berderap berat itu mendadak lenyap tanpa bekas—hanya menyisakan bau belerang yang menusuk dan bangkai kelabang terbakar di atas lumpur halaman.
Hujan gerimis perlahan berubah menjadi lebat, mengguyur halaman dapur yang kini tampak berantakan.
Sari terduduk lemah di tangga kayu, obor di tangannya telah padam tersiram air hujan. Si Mbah berjongkok di sampingnya, mengelus lengan Sari dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
Marno mendekati Sari, mengulurkan tangan kirinya yang kekar untuk membantu gadis itu berdiri. "Kamu tidak apa-apa, Sari?"
"Sari tidak apa-apa, Kang..." jawab Sari pelan, suaranya bergetar. Ia menatap Marno dan Mbok Sumi dengan mata berkaca-kaca. "Tapi... apa yang mereka maksud dengan ancaman tujuh hari itu? Apa benar mereka bisa membuat seluruh warga desa memuntahkan darah?"
Mbok Sumi melangkah mendekati mereka, raut wajahnya sangat serius dan penuh beban. "Perguruan Gunung Tengger tidak pernah main-main dengan ancamannya, Sari. Mereka memiliki racun ghaib tingkat tinggi yang disebut Racun Teluh Sewu. Jika racun itu sudah ditiupkan bersama angin bulan mati, tidak ada obat biasa yang bisa menyembuhkannya."
Pak Karto RT yang memegang senapan angin menyapu keringat dingin di dahinya. "Lalu kita harus bagaimana, Mbok Sumi? Apa kita harus mengumpulkan warga dan mengungsi ke kecamatan?"
"Mengungsi tidak akan berguna, Pak RT," kata Marno tegas. "Racun itu mengejar garis tanah dan ingatan. Selama Karang Tumpuk masih berdiri di bawah bukit ini, racun itu akan tetap sampai."
"Ada satu cara..." potong Mbok Sumi pelan. Semuanya menoleh menatap perempuan tua itu.
"Cara apa, Mbok?" tanya Sari penasaran.
Mbok Sumi menghela napas panjang, menatap lurus ke arah kegelapan hutan utara. "Sebelum Seruni melarikan diri dari Gunung Tengger, ia sempat menyembunyikan Peta Makam Para Pendahulu dan sebuah kitab perlawanan di suatu tempat. Kitab itu bukan berisi mantra racun, melainkan cara menetralkan seluruh racun buatan Mbah Jiwo Suro. Kitab itu tersembunyi di dalam Gua Sendang Biru di kaki Gunung Tengger."
Marno mengerutkan kening. "Gua Sendang Biru? Tapi tempat itu dikenal sebagai sarang makhluk ghaib dan wilayah perburuan murid-murid Tengger! Perjalanan ke sana butuh waktu dua hari menerobos hutan belantara yang ganas!"
Sari mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat. Ia melihat ke arah rumah panggungnya, lalu menatap Marno dan Mbok Sumi yang telah banyak berkorban untuk melindunginya. Rasa takut di dalam dirinya perlahan-lahan lumer, berganti menjadi tekad yang membara.
"Saya akan pergi ke Gua Sendang Biru," kata Sari mantap, suaranya tidak lagi bergetar.
Marno melotot kaget. "Sari! Kamu gila?! Kamu cuma seorang gadis muda pembuka warung soto! Hutan Gunung Tengger itu tempat pembuangan bangkai dan sarang ilmu hitam!"
"Tapi Sari yang menyebabkan mereka datang ke sini, Kang!" sahut Sari berani. "Bibi Seruni meninggalkan beban ini, dan saya tidak akan biarkan warga Karang Tumpuk yang tidak berdosa menjadi korban dari dosa-dosa masa lalu keluarga saya! Saya harus mengambil kitab penawar itu sebelum bulan mati tiba!"
UUK! UUK!
Si Mbah mendadak melompat ke depan Sari, menepuk kakinya sendiri lalu mengacungkan alu kayu ke udara—menandakan bahwa ia tidak akan membiarkan Sari pergi sendirian menerobos hutan ganas tersebut.
Marno menatap mata Sari yang penuh keberanian, lalu beralih menatap Si Mbah. Pande besi itu menghela napas pasrah, menggeleng-gelengkan kepalanya namun bibirnya mengukir senyum tipis kepuasan.
"Baiklah," kata Marno tegas sambil mengepalkan tangan kirinya. "Tapi kamu tidak akan pergi sendirian, Sari. Aku yang akan memimpin jalan. Aku tahu seluk-beluk hutan pedalaman itu karena dulu aku sering mencari kayu jati hitam di sana."
Mbok Sumi mengangguk pelan. "Mbok akan tinggal di desa bersama Pak RT untuk menjaga warga dan membuat benteng perlindungan dari daun sirih dan garam jimat. Kalian hanya punya waktu lima hari untuk pergi dan kembali sebelum malam bulan mati turun."
Malam yang dingin itu ditutup dengan sebuah kesepakatan besar. Karang Tumpuk tidak lagi hanya bertahan dari sisa-sisa dendam masa lalu, melainkan mulai melangkah melakukan perlawanan terbuka demi melindungi kedamaian yang baru saja mereka raih. Perjalanan berbahaya menuju jantung pertahanan musuh di pedalaman Gunung Tengger baru saja dimulai.