Keira Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam sebelum pernikahannya, dia akan memergoki tunangannya sendiri — Brandon Liem, pewaris Liem Group — sedang tidur dengan adik tirinya, Celine.
Tapi Keira bukan wanita yang bisa diinjak dua kali.
Alih-alih menangis dan memohon, dia mengambil ponselnya, merekam segalanya, dan memberikan ultimatum pada kedua keluarga:
*"Ganti pengantin prianya, atau ganti pengantin wanitanya."*
Pilihan jatuh pada Reynard Liem — kakak Brandon yang dikenal seluruh Jakarta sebagai pewaris yang "sudah gila" setelah kecelakaan mobil yang menewaskan kakeknya. Dia duduk di kursi roda, tidak bisa berbicara dengan benar, dan menghabiskan hari-harinya bermain Rubik sendirian di pavilion belakang rumah.
Semua orang menertawakan Keira. *"Menikahi orang gila demi balas dendam? Kasihan sekali."*
Tapi Keira tahu sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Dia tahu bahwa tiga tahun dari sekarang, Reynard Liem akan bangkit kembali — lebih kuat, lebih kejam, dan lebih berkuasa dari sebelumnya. Yang perlu dia lakukan hanyalah menjaganya sampai saat itu tiba. Setelah itu, cerai, dan mereka berdua bebas.
Rencananya sempurna.
Sampai dia mulai jatuh cinta pada suaminya.
Sampai dia menyadari bahwa di balik tatapan polos dan kata-kata cadel itu, ada sepasang mata gelap yang mengawasinya — dengan obsesi yang tidak pernah dia sangka.
*"Kei mau pergi dariku? Tidak boleh."*
*"Selain di sisiku, kamu tidak boleh ke mana pun."*
Ternyata, Reynard Liem tidak pernah gila.
Dan dia tidak pernah berencana untuk melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17: Manis
Dua hari setelah makan malam itu, draft kerja sama dari Evan masuk ke email Keira.
Keira membacanya di Pavilion sambil duduk di meja rendah. Pasal demi pasal rapi. Modal awal jelas. Skema saham jelas. Tiga puluh persen untuk Evan, sepuluh persen untuk investor diam yang disebut sebagai rekan pendanaan, enam puluh persen tetap di bawah kendali Keira untuk keputusan kreatif dan operasional.
Ia mengernyit saat membaca bagian investor diam.
Rekan Pendanaan Strategis.
Nama yang terlalu bersih untuk orang yang terlalu tidak terlihat.
Keira menelepon Evan siang itu dari sebuah kafe dekat kantor notaris. Mereka bertemu sebentar, membahas biaya pendirian PT, rekening escrow, dan jadwal tanda tangan. Evan tampak santai, tetapi setiap kali Keira bertanya terlalu dekat soal investor diam, ia selalu mengalihkan dengan lelucon yang cukup halus untuk membuatnya makin curiga.
"Temanmu ini punya preferensi proyek?" tanya Keira sambil menandai halaman kontrak.
"Dia lebih suka proyek yang dipimpin orang kompeten."
"Jawabanmu terdengar seperti brosur."
"Aku memang bisa sangat profesional."
"Van."
Evan mengangkat wajah.
"Kalau temanmu suatu hari muncul dan meminta sesuatu yang tidak tertulis di kontrak, aku akan menganggap kamu ikut bertanggung jawab."
Evan menatap Keira beberapa detik. Di telinganya, earbud kecil hampir tidak terlihat di balik rambut. Dari sana, suara rendah Reynard terdengar sangat pelan.
"Bilang iya."
Evan tersenyum. "Aku bertanggung jawab."
Keira masih curiga, tetapi tidak menemukan celah di dokumen. Ia akhirnya menutup map dan memberi paraf awal.
"Kamu yakin temanmu tidak akan muncul menuntut kendali?" tanya Keira.
"Aku jamin."
"Jaminan lisan tidak bernilai di kontrak."
"Makanya kita tulis."
"Baik. Tulis."
Evan mengangkat kedua tangan. "Kamu memang menakutkan kalau sedang bekerja."
"Bagus. Investor harus sedikit takut."
Mereka makan siang singkat setelah itu karena Evan bersikeras membahas notaris sambil makan. Keira tidak menganggapnya istimewa. Satu mangkuk nasi ayam, teh tawar, dan dua puluh menit diskusi.
Reynard menganggapnya sangat istimewa.
Ketika Keira kembali ke Pavilion sore hari dengan sekotak kue dari toko langganan di Senopati, ruang kerja terasa lebih dingin daripada biasanya.
Reynard duduk di dekat jendela, Rubik di tangan, wajah menghadap ke luar.
"Rey, aku pulang."
Tidak ada jawaban.
Keira berhenti. "Kamu tidur?"
Rubik bergerak satu klik.
Berarti tidak.
Ia meletakkan kotak kue di meja. "Aku beli cake. Dark chocolate. Tidak terlalu manis."
"Tidak mau."
"Aku juga beli yang strawberry."
"Tidak mau."
"Cheese cake?"
"Tidak."
"Brownies?"
"Kei makan dengan Evan."
Nada terakhir itu datar, tetapi justru membuat Keira yakin masalahnya bukan kue. Ia menarik kursi dan duduk lebih dekat, tidak langsung membujuk. Reynard bisa memakai wajah polos, tetapi cemburunya tidak polos sama sekali.
Keira menatap punggungnya. "Kamu bahkan belum lihat."
"Tidak mau."
"Sakit kepala?"
"Tidak."
"Lapar?"
"Tidak."
"Marah?"
Rubik berhenti.
Keira menahan senyum. "Oh. Marah."
"Rey tidak marah."
"Kalau begitu lihat aku."
Reynard tetap menatap jendela. Dari kaca, Keira bisa melihat bibirnya mengerucut.
Ia duduk di sampingnya. "Aku melakukan apa?"
"Kei makan."
"Semua orang makan."
"Dengan Evan."
Keira terdiam sebentar, lalu menutup mata. Evan. Tentu saja. Entah bagaimana kabar makan siang dua puluh menit itu sampai ke telinga Reynard lebih cepat daripada laporan cuaca.
"Itu makan siang kerja."
"Evan duduk dekat?"
"Di meja yang sama, tentu saja."
"Kei ketawa?"
"Aku tidak ingat."
Reynard menoleh cepat. "Berarti ketawa."
Keira hampir tertawa sekarang. "Rey, aku sedang membahas kontrak."
"Kontrak bisa tanpa makan."
"Bisa, tapi aku lapar."
"Rey juga bisa lapar."
"Makanya aku belikan cake."
"Tidak mau kue."
"Kamu mau apa?"
Reynard menatapnya lama. "Kei bilang tidak pergi lama."
"Aku memang tidak pergi lama."
"Tiga jam."
"Itu lama?"
"Lama."
Keira teringat Pavilion yang sepi, jendela tua, dan jam dinding yang berdetak terlalu keras jika seseorang menunggu sendirian. Ia menelan omelan yang sudah siap keluar.
"Maaf," katanya lebih lembut. "Lain kali aku kabari kalau rapat molor."
Reynard menunduk. "Kei janji?"
"Janji."
Reynard akhirnya berbalik sedikit. Wajahnya masih murung, tetapi Rubik di tangannya tidak lagi berbunyi keras. Itu tanda damai paling jelas yang bisa Keira dapatkan sore itu.
Keira membuka kotak kue. Aroma cokelat langsung keluar, pekat dan hangat. Ia memotong satu bagian kecil dengan garpu, lalu menyodorkannya ke depan mulut Reynard.
"Satu suap. Kalau masih marah setelah itu, aku dengarkan keluhanmu."
Reynard menatap garpu itu. "Kei suapi karena merasa salah?"
"Karena kamu drama."
"Kei jahat."
"Mulut buka."
Ia membuka mulut, lambat dan sangat terpaksa, lalu memakan kue itu. Matanya bergerak sedikit. Keira menangkapnya.
"Enak?"
"Biasa."
"Kalau biasa, kenapa menelan cepat?"
"Lapar."
"Tadi katanya tidak."
Reynard menunduk, kalah satu langkah.
Keira menyuapkan potongan kedua. Kali ini Reynard memakannya tanpa banyak protes. Wajah murungnya mulai melunak. Hanya saja, ketika Keira hendak mengambil potongan ketiga untuk dirinya sendiri, Reynard mengambil garpu lebih dulu.
"Rey suapi."
"Tidak perlu."
"Kei suapi Rey."
"Itu berbeda."
"Sama."
Ia sudah menyodorkan kue ke depan mulut Keira. Keira ragu sebentar, tetapi suasana baru saja membaik. Menolak sekarang hanya akan membuat laki-laki itu kembali menatap jendela seperti patung mahal yang tersinggung.
Keira membuka mulut.
Kue cokelat meleleh di lidahnya. Ia baru hendak berkata enak saat melihat mata Reynard turun ke bibirnya.
"Apa?"
"Ada."
"Apa?"
Reynard mengulurkan tangan.
Keira tidak sempat mundur. Ujung ibu jari Reynard menyentuh sudut bibirnya, menghapus sedikit krim cokelat yang menempel di sana. Sentuhannya ringan, tetapi tubuh Keira langsung kaku.
Ia menatap krim di jari Reynard.
Lalu Reynard membawa ibu jarinya ke mulut sendiri dan menjilatnya perlahan.
"Manis."
Keira merasa panas naik dari leher ke telinga.
"Rey!"
"Apa?"
Wajahnya polos. Terlalu polos. Justru karena itu Keira semakin panik.
"Itu... tidak boleh sembarangan."
"Kei istri."
"Sudah kubilang jangan pakai kalimat itu untuk semua hal."
"Tapi benar."
Keira menunjuk garpu di tangannya. "Kamu tahu itu membuat orang salah paham?"
"Salah paham apa?"
"Bahwa kamu..."
Ia berhenti. Bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa gerakan itu terlalu intim, terlalu laki-laki dewasa, sementara Reynard menatapnya dengan wajah seolah baru bertanya warna langit?
Reynard memiringkan kepala. "Kei tidak suka?"
Keira tidak bisa langsung menjawab.
Itulah masalahnya.
Keira berdiri terlalu cepat sampai lututnya membentur meja. "Aku ambil air."
"Air di sini."
"Air lain."
Ia keluar ke ruang tengah dengan langkah cepat. Di belakangnya, Reynard duduk sendiri di ruang kerja, memutar garpu kecil di antara jari.
Senyumnya tidak polos.
Ia menatap sisa krim cokelat di ujung garpu, lalu berbisik sekali lagi, lebih pelan.
"Manis."