Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PUNGGUNG AYAH
Ayah membangunkan kami ketika malam masih pekat. Hujan telah berhenti, tetapi tetes air terus jatuh dari daun ke atap. Ibu menyiapkan nasi jagung dan sepotong singkong rebus. Di dekat pintu, cangkul Ayah bersandar bersama dua batang bambu pendek dan gulungan tali.
“Ayah mau ke ladang setelah mengantar kami?” tanyaku.
“Ke longsor dulu,” jawabnya. “Kalau hujan tidak turun, baru ke ladang.”
Aku menghitung pekerjaan yang menunggunya: mengantar kami hampir tiga jam, berjalan kembali, menggali tanah bersama warga, lalu mungkin bekerja di ladang orang sampai sore. Namun, Ayah berbicara seolah semua itu hanya satu perjalanan biasa.
Kami melewati kebun karet dengan lampu minyak di dalam kaleng. Ayah berjalan paling depan. Cangkul berada di bahunya, sedangkan tangan kirinya memegang lampu. Nira berjalan di tengah, dan aku di belakang. Biasanya aku yang menentukan langkah, tetapi pagi itu aku hanya mengikuti punggung Ayah.
Punggungnya tampak lebar di bawah kemeja lama yang sudah ditambal Ibu. Ketika jalan menanjak, bahunya sedikit membungkuk. Aku baru menyadari bahwa orang dewasa juga dapat terlihat kecil jika dikelilingi gelap dan pohon-pohon tinggi.
Di bagian jalur yang licin, Ayah meletakkan cangkul lalu membuat pijakan dengan ujung sepatunya. Ia menarik Nira melewati lumpur dan menunggu sampai aku menyusul. Setiap beberapa ratus langkah, ia bertanya apakah kaki kami sakit. Kami selalu menjawab tidak.
Saat fajar mulai membuka langit, kami sampai di dusun Gala. Ia telah menunggu di depan rumah dengan tas di punggung. Ibunya memberikan tiga potong ubi kukus untuk dimakan di jalan.
“Pak Waskita ikut ke sekolah?” tanya Gala.
“Hanya sampai jalan kabupaten,” jawab Ayah.
Gala berjalan bersama kami. Ia tidak banyak bercanda seperti biasanya. Mungkin punggung Ayah membuatnya mengerti bahwa perjalanan pagi itu bukan petualangan yang dapat dipotret lalu diceritakan di kelas.
Kami sampai di jalan kabupaten ketika matahari baru muncul di balik awan. Dari sana sekolah masih cukup jauh, tetapi jalurnya tidak lagi melewati hutan. Ayah menurunkan cangkul dan melihat kami satu per satu.
“Pulang lewat jalur yang sama,” katanya. “Jangan mencoba melihat longsor.”
“Kami tahu,” jawabku.
“Kalau hujan deras, tunggu di sekolah.”
Nira merapikan tali tasnya. “Ayah pulang sendiri?”
“Ayah sudah besar.”
“Orang besar juga bisa jatuh.”
Ayah tersenyum dan mengusap kepalanya. “Kalau begitu doakan kaki Ayah kuat.”
Ia berbalik. Kami berdiri sampai punggungnya mengecil di tikungan. Cangkul di bahunya tampak seperti garis gelap. Setiap langkahnya menjauh dari sekolah dan kembali menuju pekerjaan. Saat itu aku merasa keberangkatan kami menambah beban yang harus ia bawa.
Di sekolah, Bu Satya bertanya apakah kami aman. Aku menceritakan Ayah mengantar sampai jalan kabupaten. Ia menatap jam dinding, lalu menghitung jarak dalam hati.
“Berarti ayahmu berjalan hampir enam jam hanya untuk mengantar dan pulang?” tanyanya.
“Setelah itu ia membantu membuka longsor.”
Bu Satya tidak segera berbicara. Ia hanya menulis sesuatu pada buku catatannya. Dulu aku mengira diam orang dewasa berarti mereka tidak punya jawaban. Setelah besar, aku memahami bahwa kadang diam adalah tempat rasa malu tumbuh—malu karena baru mengetahui beban orang lain.
Sore hari kami pulang bertiga. Di dekat batas dusun, suara cangkul terdengar dari arah longsor. Aku menyuruh Nira dan Gala menunggu di jalur aman, lalu berjalan sedikit mendekat. Warga membentuk barisan. Beberapa orang menggali, yang lain mengangkat tanah dengan keranjang. Ayah berada di dekat batu besar. Kemejanya basah oleh keringat dan lumpur menempel sampai lutut.
“Ayah!” panggilku.
Ia menoleh dan mengangkat tangan. “Langsung pulang. Jangan dekat-dekat.”
Aku melihat telapak tangannya ketika ia memegang gagang cangkul. Kulitnya terbuka pada pangkal jari. Darah bercampur tanah, tetapi ia tetap mengayun.
Malamnya Ibu merendam tangan Ayah dalam air hangat. Lepuhan pada kedua telapak sebesar biji jagung. Ada bagian kulit yang terkelupas dan merah. Ibu membersihkannya dengan kain, lalu menempelkan daun obat yang ditumbuk.
“Kita ke puskesmas,” katanya.
Ayah menggeleng. “Hanya lecet.”
“Kalau bernanah?”
“Ongkos ojeknya lebih mahal daripada obatnya.”
Ibu menarik napas, lalu batuk beberapa kali. “Tangan itu yang mencari makan.”
“Karena itu tangan ini tidak boleh berhenti.”
Aku duduk di sudut sambil memperbaiki tali tas. Rasa bersalah bergerak di dalam dada. Jika kami tidak sekolah, Ayah tidak perlu mengantar. Jika aku sudah cukup besar untuk bekerja, mungkin ia dapat beristirahat. Namun, aku teringat ucapannya ketika menandatangani bantuan: setiap rupiah untuk sekolah tidak boleh sia-sia.
Keesokan paginya Ayah kembali mengambil cangkul. Balutan kain pada tangannya sudah bernoda.
“Ayah tidak perlu mengantar,” kataku.
Ia mengencangkan ikatan kain. “Jalannya belum aman.”
“Aku hafal jalur kebun karet.”
“Kemarin kau masih anak kelas lima. Hari ini tiba-tiba sudah menjadi penunjuk jalan?”
“Aku bisa menjaga Nira.”
Nira berdiri di sampingku dengan mata mengantuk. “Aku juga bisa menjaga Kak Langga.”
Ayah tersenyum tipis, tetapi tidak meletakkan cangkul. Aku menjelaskan bahwa Gala akan bertemu kami di dusunnya. Matahari juga mulai terbit lebih awal. Jika Ayah terus mengantar, luka tangannya tidak akan sempat kering.
Ibu mendukungku. “Biarkan mereka mencoba. Kalau hujan besar, mereka kembali.”
Ayah melihat kami lama. Akhirnya ia menyerahkan lampu minyak kepadaku.
“Jangan menjadi berani hanya karena ingin membuktikan sesuatu,” katanya. “Berani itu tahu kapan harus maju dan kapan harus pulang.”
Aku mengangguk. Ayah memasukkan sebongkah gula merah kecil ke sakuku dan meminta kami membaginya jika tubuh mulai lemas. Untuk pertama kali sejak longsor, aku memimpin perjalanan tanpa orang dewasa. Nira menggenggam bagian belakang bajuku sepanjang kebun karet. Setiap bunyi dari semak membuat kami berhenti. Namun, kami terus berjalan sampai bertemu Gala.
Perjalanan pagi itu membuatku merasa lebih tua dan lebih takut pada saat yang sama. Aku berusaha meniru langkah Ayah: memeriksa tanah sebelum menginjak, menyingkirkan ranting untuk Nira, dan tidak menunjukkan cemas ketika kabut menutupi jalan.
Di jalan kabupaten, langit kembali gelap. Gala mengatakan hujan mungkin turun sebelum siang. Aku melihat ke arah bukit. Awan menggantung rendah di atas jalur lama.
Sepulang sekolah, hujan benar-benar turun. Kami menunggu sebentar, tetapi tidak dapat terlalu lama karena jarak pulang sangat jauh. Ketika sampai di sungai kecil yang berada sebelum kebun karet, air telah berubah cokelat dan bergerak cepat.
Warga menancapkan sebatang bambu di tepi sungai sebagai penanda ketinggian. Pagi tadi tiga ruas masih terlihat di atas air. Sore itu hanya ujungnya yang tampak.
Nira berdiri di sampingku sambil menggigil. Aku mendengar pesan Ayah tentang tahu kapan harus pulang. Masalahnya, rumah berada di seberang.
Aku menatap bambu penanda itu sekali lagi. Air terus naik dan hampir menenggelamkannya seluruhnya.