NovelToon NovelToon
Only You

Only You

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Keluarga & Kasih Sayang / Berbaikan
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Yang tak suka, silahkan minggir!

Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.

"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.

"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.

"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."

Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?

Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?

Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#23

#23

“Bu, pangeran Ibu datang, tuh.” 

Kata asisten Dinda ketika wanita itu sibuk memasang belt di pinggang salah satu customernya. 

“Profesional, Kinan,” tegur Dinda, dengan tega ia mengabaikan Bagas, demi mengutamakan customernya. 

“Maaf, Bu.” Kinan pun kembali menyelesaikan pekerjaannya membantu customer mereka. Untung saja dia customer baru yang tidak terlalu mengenal Dinda lebih dekat, jadi Dinda bisa tenang. 

Beberapa saat kemudian. 

“Wah, saya puas sekali, Mbak Dinda,” kata customer Dinda. 

“Syukurlah,” ucap Dinda lega. Setelah berhasil menyelesaikan pesanan kebaya untuk wisuda milik wanita itu. “Untuk pembayaran dan lain-lain, langsung sama asisten saya, Kinan.” 

“Baik, Mbak. Terima kasih.” 

“Mari, saya tinggal dulu.” 

Dinda pun pamit meninggalkan ruangan ganti, wanita itu menghampiri Bagas yang datang dengan wajah cerah seperti biasa, meski harapan mendapatkan Dinda kembali menipis. 

“Ayo, kita pulang, Eyang bilang kamu nggak boleh pulang larut, takut ngedrop lagi.” 

Dinda mengangguk tanpa suara. “Mbak, nanti kabarin aku, ya, mau dijemput jam berapa,” kata Dara seolah sengaja menjadi penyambung lidah Mama Juwita. 

“Aku akan mengantarnya, Ra,” kata Bagas. 

“Tapi, Mama bilang—”

“Selama bersamaku, Mbakmu adalah tanggung jawabku, jadi aku wajib memastikan keselamatannya.” 

Dara tak lagi menjawab, ia hanya mengangguk setuju. Lagipula siapa yang mau berkendara malam-malam, kalau Bagas bersedia mengantar Dinda dengan selamat sampai ke rumah, Dara senang sekali. 

“Mbak pulang duluan, ya,” pamit Dinda pada semua pegawainya, sebab ia tak mau mendengar Bagas mengoceh soal kesehatannya. 

Setelah Dinda pergi, para pegawai Dinda ramai-ramai saling berbisik. “Mantannya Bu Dinda ganteng amat, sih.” 

“Huum, beruntung banget Bu Dinda dibucinin ugal-ugalan sama pria kece badai begitu.” 

•••

“Aku punya hadiah buatmu,” kata Bagas, memberikan paper bag berisi kotak perhiasan. 

“Hmm, terima kasih,” jawab Dinda datar, seperti tak berminat. 

“Nggak dibuka?”

“Nanti di rumah.” 

Bagas mengangguk tak lagi protes, tak masalah mau dibuka di rumah atau dibuka sekarang. Asal hadiah itu sudah sampai ke tangan yang tepat. 

“Kemarin bicara apa sama Mama?” tanya Dinda. 

“Memang, Mama nggak cerita?”

“Nggak, Mama cuma menyuruhku istirahat.” 

“Nggak, kok, bukan hal penting,” jawab Bagas, ia pun tak ingin menceritakan pembicaraannya dengan Mama Juwita. Biar Bagas saja yang menelannya bulat-bulat, anggap sebagai cambukan untuk lebih menyemangati diri sendiri. 

Tiba di rumah, mereka sudah disambut dengan senyuman bahagia Eyang Tuti. Wanita berusia senja itu langsung memeluk Dinda erat. 

“Eyang senang sekali kalian kembali rujuk, maafkan Eyang karena dulu memaksa kalian untuk menerima Biandra tinggal di rumah kalian.” 

Eyang Tuti terisak di pelukan Dinda, sementara di belakang Eyang, Bi Sani menatap Bagas dan Dinda dengan wajah memelas. 

Bagas kembali ke teras sambil memberi kode pada Bi Sani untuk mengikutinya. “Ada apa, Bi?” 

“Begini, Tuan. Setelah mandi sore tadi, ingatan Eyang tiba-tiba kacau, Eyang menangis ketika melihat foto pernikahan Tuan dan Nyonya.” Bi Sani mulai menjelaskan. 

“Lalu—”

“Beliau menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa mencegah perceraian Anda dan Nyonya. Cukup lama Eyang menangis, jadi saya bilang kalau Anda dan Nyonya sudah rujuk, barulah Eyang berhenti menangis. Begitu, Tuan—”

Bagas meraup wajahnya, tak bisa menyalahkan Bi Sani, karena kondisinya pun buntu dan harus mencari jalan keluar menenangkan Eyang Tuti. “Tidak apa-apa, Bi. Aku mengerti.” 

Bi Sani kembali masuk ke rumah, diikuti Bagas. 

“Bagus sekali, kamu pasti cantik kalau pakai kalung ini. Bagas pinter pilih barang.” Eyang masih mengamati kalung yang tadi belum sempat Dinda lihat. 

“Bagas, sini, Eyang mau lihat kamu pakaikan kalung ini ke leher istrimu.” 

Bagas tersenyum, lalu berjalan mendekat, “Baik, Eyang.” 

Bagas mulai menyingkap rambut Dinda, lalu memasangkan kalung baru tersebut ke leher Dinda. “Tuh, kan, cocok sekali. Kalian makin serasi, tapi—”

“Tapi kenapa lagi, Eyang?” 

“Cincin pernikahan kalian mana? Katanya sudah rujuk, masa nggak pakai cincin?” tanya Eyang heran. 

“Ah, nggak penting, Eyang. Yang penting kami sudah bersama,” jawab Dinda. Tapi Eyang Tuti tak setuju.

“Tidak, justru itu penting sekali, kalau ada orang melihat mereka pasti salah paham dan mengira kalian bukan suami istri. Ayo, segera pakai cincin kalian, yang lama juga nggak papa.” 

Dinda memutar otak mencari jawaban yang sekiranya membuat Eyang puas. “Emm, cincin Dinda sudah sempit, cincin Mas Bagas hilang.” 

“Hah?! Hilang! Bagas! Kamu ini apa-apaan, bagaimana bisa kamu menghilangkan benda keramat itu?” 

Bagas bingung, tak tahu harus memberi alasan apa, sebenarnya ia masih menyimpan cincin tersebut, tapi lupa dimana. 

“Kalau begitu, segera beli cincin baru, Eyang nggak mau ada orang mengira kalian belum menikah.” 

“Tapi, Eyang,” sela Dinda. 

“Tidak ada tapi, Dind. Harus! Lagian tadi sudah ke toko perhiasan, kenapa cuma beli kalung, nggak sekalian saja membeli cincin pernikahan baru. 

Jika sudah demikian, mau tak mau Bagas dan Dinda harus segera membeli cincin baru agar Eyang berhenti mengomel. 

“Baiklah, Eyang. Besok sepulang kerja, Bagas akan ajak Dinda ke toko perhiasan.” 

Esok harinya, Dinda yang mendatangi mall, karena tak mau Bagas datang menjemputnya. Biar tidak mondar mandir. Tapi, ketika Dinda melangkah masuk ke mall, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Tari. 

“Mbak Tari,” sapa Dinda. 

Wanita yang di sapa Dinda cukup kaget, sebab ia tak menyangka akan bertemu Dinda di tempat itu. “Eh, Dinda, mau ke tempat Bagas?”

Dinda mengangguk, “Mbak sendiri habis ketemu Mas Bagas?” 

Tari terlihat tak nyaman, ia kikuk, bahkan senyumnya tidak natural seperti biasa. “Nggak, kok. Mbak habis ada pertemuan di hotel sebelah.”

Hotel yang dimaksudkan Tari, menyatu dengan banguan mall, jadi pintu keluar dan masuknya fleksibel, bisa dari mall bisa juga dari hotel. 

“Oh, sendirian saja, Mbak? Mas Igun kemana?” 

Lagi-lagi, Tari gugup, “Mas Igun— sedang jadi juri seleksi calon artis baru yang akan masuk dan jadi salah satu member kami. Mbak pergi dulu, ya? Sudah ada janji dengan Yudha akan makan malam di luar.” 

“Iya, Mbak, silahkan.” Dinda menyingkir membiarkan Tari melewatinya. Tak lama di sana, Dinda kembali melanjutkan langkahnya menghampiri ruang kerja Bagas. 

Rupanya Bagas pun turun menghampirinya, itulah sebabnya, tadi Bagas meminta Dinda mengirimkan lokasi terkininya, agar Bagas bisa menjemputnya di depan pintu masuk. 

“Mas, tadi aku papasan sama Mbak Tari, tapi tumben dia sendiri? Padahal dia tak pernah mengurus pekerjaannya sendirian, kan? Kemana-mana selalu bareng Mas Igun, kan?” 

“Iya, sih, mungkin situasi tak memungkinkan,” sahut Bagas. 

“Tapi, bukan cuma itu yang aneh, Mbak Tari seperti menyembunyikan sesuatu, bahasa tubuhnya nggak nyaman ketika aku bertanya tentang keberadaan Mas Igun.” 

Tapi Bagas tak mau Dinda larut dalam kecurigaan, “Sudahlah, itu bukan urusan kita. Ayo makan dulu, baru ke toko perhiasan.” 

1
Bunda Aish
ada apa lagi nih 🤔
Shee_👚
ini Tari kakaknya bagas kan ya🤔
aku lupa nama Kaka nya bagas
Dew666
Tari tuh kakaknya bagas ya
moon: iya kak
total 1 replies
Dew666
Smangat bagas
falea sezi
wahh kenapa
🌷Vnyjkb🌷
gerceppp amattt mass 🤭 takut keduluan yg itu tuuu😜😜
Esther
Sikap Tari mencurigakan, ada apa?
Bunda Idza
ada apa dengan mbak Tari??? readers kepoo ni....☺️
Esther
Semangat Bagas untuk bersaing dengan dokter Angga🤭
Sh
ada apa dengan Tari ? selingkuh ? atau mengekorin suami yang dicurigai selingkuh?
Sh
aku jahat ga kalau aku bilang aku suka Ama Mama Juwita yang nyiksa Bagas😂😂. Aku curiga karena kecelakaan mobil, Dinda ga bisa hamil lagi. itu yang menyebabkan Dinda ga mau nikah lagi. Kalau dengan Angga pakai alasan Dinda selama anaknya belum ketemu, Dinda ga berhak bahagia
Bunda Aish
wah mulai nih persaingan perebutan perhatian dan cinta Dinda 🙄
Bunda Aish
ngeselin juga ya sama tingkah nya Bagas dulu waktu kehilangan Abel
Nar Sih
brati kemungkinan bnr ya kak klau alicia ank nya dinda yg hilang dulu
Nar Sih
setujuuu dan 👍bagas lamar lgi dinda jadikan istri mu lgi dan bareng mencari putri mu yg hilang moga sgra ketemu
Shee_👚
nah betul kata bastian, ngapain kan ya orang bukan eyangnya lagi. jadi ya tolak aja
Shee_👚
yang polisi kan kak??
Sh
ga puas episode ini walau menurut ku lumayan panjang
Dew666
🥰😍
Bunda Idza
next Thor.... ditunggu selalu kelanjutannya 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!