Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 017: Aturan Tim
Pagi datang tanpa matahari.
Langit Semarang masih kelabu, bau busuk masih naik dari jalan, dan suara Zombie sesekali menggesek dinding hotel dari lantai bawah.
Tetapi lantai dua puluh satu sudah berbeda.
Ada penjaga di tangga.
Ada air yang dibagi dengan gelas ukur.
Ada nama di setiap pintu kamar.
Semua itu terjadi sebelum Arga selesai membersihkan darah dari pedangnya.
Nadira berdiri di depan meja makan suite utama dengan empat lembar kertas baru.
Kiara duduk di dekat jendela.
Dara bersandar di dinding, lengan kanannya dibalut kain. Pipa besinya yang patah sudah dibuang. Di pinggangnya tergantung pisau dapur yang ujungnya diasah ulang.
Arga masuk dari balkon servis.
Udara di sekelilingnya membawa bau darah segar.
Nadira langsung melihat kantong kain di tangannya.
"Anda keluar?"
"Satu jam."
"Sendirian?"
"Ya."
Dara melotot. "Setelah kemarin hampir tumbang?"
"Makanya cuma satu jam."
Arga meletakkan kantong itu di meja.
Kristal berjatuhan.
Satu demi satu.
Bening, dingin, berkilau pucat.
Mata Dara berubah.
Mata Nadira menyempit.
Kiara tidak terkejut. Ia hanya menghitung cepat.
"Berapa?" tanya Nadira.
"Dari jalan pulang kemarin, hotel bawah, dan dua blok sekitar hotel. Ditambah stok lama. Cukup."
"Cukup untuk apa?"
Arga menarik kursi.
"Untuk membuat tim ini tidak jadi beban."
Kalimat itu membuat udara membeku.
Nadira tidak tersinggung.
Justru ia mengangguk.
"Bagus. Kalau begitu saya mulai."
Ia meletakkan kertas pertama di depan Arga.
"Aturan pertama. Semua hasil pencarian dibagi tujuh puluh persen untuk tim, tiga puluh persen untuk pribadi."
Dara mengerutkan dahi.
"Kenapa yang cari tidak dapat lebih banyak?"
Nadira menoleh padanya.
"Karena yang bertarung bisa bertarung karena ada orang memasak, menjahit luka, membersihkan tempat tidur, menjaga air, dan menghitung stok. Tanpa logistik, petarung hanya orang kuat yang kelaparan."
Dara membuka mulut.
Lalu menutupnya.
"Masuk akal."
Nadira lanjut.
"Tiga puluh persen pribadi boleh disimpan untuk kebutuhan sendiri atau ditukar. Tujuh puluh persen masuk stok pusat. Tidak boleh ada penyembunyian barang. Barang siapa menyembunyikan Kristal, obat, senjata, atau makanan, hak distribusinya dicabut."
Arga tidak bicara.
Ia membaca kertas itu.
Sama.
Hampir sama persis dengan sistem Nadira di kehidupan sebelumnya.
Tujuh puluh untuk membangun kekuatan kolektif.
Tiga puluh untuk menjaga ambisi pribadi tetap hidup.
Manusia bukan mesin.
Kalau semua dirampas untuk tim, orang akan mencuri.
Kalau semua dilepas untuk pribadi, tim akan pecah.
Nadira menemukan titik tengah itu lebih awal dari yang Arga ingat.
"Aturan kedua," kata Nadira. "Prioritas peningkatan dengan Kristal tidak berdasarkan siapa yang paling dekat dengan Anda. Berdasarkan kontribusi, kestabilan mental, dan kebutuhan posisi."
Kiara mengangkat alis.
"Berani juga."
Nadira menatapnya.
"Kalau orang yang panik diberi kekuatan lebih dulu, dia bisa membunuh teman sendiri."
Kiara mengangguk pelan.
"Setuju."
"Aturan ketiga. Tim dibagi empat bagian. Grup tempur, grup logistik, grup medis, dan grup cadangan. Untuk sekarang medis hanya berarti orang yang paling tidak pingsan saat melihat darah. Nanti kita cari tenaga sungguhan."
Dara menunjuk dirinya sendiri.
"Aku tempur."
"Jelas."
"Kiara tempur."
"Jelas."
"Kamu?"
Nadira menjawab tanpa ragu.
"Logistik dan komando internal."
Dara tertawa.
"Komando internal. Bahasamu mahal."
"Karena kalau saya bilang 'mengurus kalian semua', kamu akan protes."
Dara mendengus.
Arga membaca kertas keempat.
Jadwal laporan harian.
Pagi: jumlah orang, luka, makanan, air.
Siang: latihan, pembersihan, penjagaan.
Malam: laporan barang masuk, barang keluar, pelanggaran, perubahan psikologis.
Semua ditulis rapi.
Nadira tidak menunggu pujian.
"Saya perlu hak memutuskan distribusi harian tanpa meminta izin Anda setiap kali. Saya juga perlu akses pada stok pusat. Kalau semua barang hanya bisa keluar lewat Anda, tim akan lumpuh begitu Anda pergi."
Arga meletakkan kertas itu.
"Setuju."
Nadira berhenti.
Terlalu cepat.
Ia sudah menyiapkan argumen.
Risiko.
Angka.
Contoh kegagalan.
Kemungkinan perlawanan.
Semua tidak terpakai.
Arga menyetujui semuanya dalam kurang dari sepuluh detik.
Telepati menangkap pikirannya.
Dia tidak ragu sama sekali.
Seolah-olah dia sudah tahu sistem ini benar.
Bukan cuma tahu.
Dia seperti... pernah melihatnya bekerja.
Nadira menatap Arga lebih lama.
"Anda tidak mau menawar?"
"Untuk apa?"
"Biasanya orang kuat tidak suka membagi wewenang."
"Orang kuat yang harus mengurus pembalut, jadwal jaga, dan orang menangis bukan pemimpin. Dia orang bodoh yang membuang waktu."
Dara tertawa keras.
Kiara menutup mulut, tetapi matanya ikut tertawa.
Nadira tidak tertawa.
Tatapannya makin tajam.
"Anda sudah punya model organisasi seperti ini sebelumnya?"
"Pernah melihat yang bagus."
"Di mana?"
"Di tempat yang sudah tidak ada."
Jawaban itu tidak menjawab apa pun.
Justru membuat Nadira makin ingin menggali.
Arga mengambil sesuatu dari jarinya.
Cincin Dimensi pertama.
Cincin 500kg yang dulu menyelamatkan seluruh awal permainannya.
Sekarang ia punya Gelang Dimensi 5000kg. Cincin itu masih berharga, namun pusat kapasitasnya sudah pindah ke gelang.
Ia meletakkannya di depan Nadira.
"Untuk stok pusat."
Nadira menatap cincin itu.
Untuk pertama kalinya, wajahnya benar-benar berubah.
"Ini..."
"Cincin Dimensi. Kapasitas lima ratus kilogram. Teteskan darah, pikirkan barang yang ingin disimpan, dan jangan isi dengan benda hidup."
Dara langsung berdiri.
"Kamu kasih dia benda ajaib begitu saja?"
"Bukan begitu saja."
Arga menatap Nadira.
"Dia yang paling cocok memegangnya."
Ruangan diam.
Nadira tidak langsung mengambil cincin itu.
"Kalau saya kabur?"
"Kamu tidak akan."
"Anda terlalu percaya diri."
"Aku membaca orang."
Nadira merasa kalimat itu aneh.
Membaca orang.
Bukan menilai.
Bukan mengamati.
Membaca.
Ia menyimpan kata itu di kepalanya.
Lalu menusuk ujung jarinya dengan jarum kecil dari kotak medis.
Darah jatuh ke cincin.
Cincin itu menyala samar.
Nadira menarik napas tajam ketika ia merasakan ruang kosong terbuka di pikirannya.
Lima ratus kilogram ruang sunyi.
Tidak besar dibanding gudang.
Tetapi di kiamat, itu berarti tim bisa memindahkan makanan tanpa diserbu, menyembunyikan obat, membawa senjata, dan tidak lagi bergantung pada tas punggung.
"Saya terima," katanya.
Arga berdiri.
"Sekarang peningkatan."
Kata itu menyebar lebih cepat daripada api.
Dalam lima menit, tiga puluh dua mahasiswi berkumpul di koridor besar lantai dua puluh satu.
Wajah mereka campur aduk.
Takut.
Lelah.
Berharap.
Tidak percaya.
Di tengah koridor, Arga menyusun Kristal dalam tiga puluh dua kelompok.
Masing-masing sepuluh.
Dara menatap tumpukan itu seperti melihat gunung emas.
"Semua?"
"Semua."
Nadira segera menghitung.
"Tiga ratus dua puluh Kristal Tingkat 1."
"Benar."
"Anda menghabiskan sebanyak ini untuk orang yang baru Anda bawa kemarin?"
"Aku tidak menghabiskan."
Arga melihat ke barisan mahasiswi.
"Aku menanam."
Kalimat itu membuat banyak orang menunduk.
Beberapa menangis sebelum menyentuh Kristal.
Arga tidak membiarkan suasana melembek.
"Dengar."
Semua diam.
"Setelah menelan sepuluh Kristal, tubuh kalian akan panas. Tulang sakit. Otot seperti ditarik. Jangan teriak. Jangan menggigit lidah. Duduk, pegang lutut, tahan."
Salah satu mahasiswi mengangkat tangan gemetar.
"Kalau gagal?"
"Tidak gagal kalau tubuh kalian tidak rusak dan jumlahnya benar. Sakit bukan gagal."
Dara menyeringai.
"Aku suka kalimat itu."
Arga menunjuknya.
"Kamu duluan."
"Eh?"
"Tempur harus memberi contoh."
Dara melihat sepuluh Kristal di depannya.
Lalu melihat tiga puluh satu orang di belakangnya.
Ia tertawa pendek.
"Baik. Kalau aku menjerit, kalian boleh mengejek."
Ia menelan Kristal pertama.
Kedua.
Ketiga.
Sampai kesepuluh.
Wajahnya berubah merah.
Otot lehernya menegang.
Tangannya menghantam lantai.
"Sial..."
Panas menyebar dari perut ke tulang.
Rasa sakit itu bukan luka.
Itu tubuh yang dipaksa membuka pintu baru.
Dara menggertakkan gigi sampai rahangnya bergetar. Keringat mengalir dari pelipis.
Ia tidak menjerit.
Sepuluh menit kemudian, napasnya berubah.
Lebih panjang.
Lebih berat.
Ia membuka mata.
Lalu memukul lantai dengan telapak tangan.
Retakan kecil muncul di keramik.
Koridor meledak oleh napas tertahan.
Dara menatap tangannya sendiri.
"Aku... lebih kuat."
"Dua kali manusia biasa," kata Arga. "Tingkat 1 Evolver."
Dara berdiri.
Gerakannya masih goyah, tetapi matanya menyala.
"Zombie yang kemarin..."
"Akan terasa lambat."
Senyum Dara menjadi liar.
"Bagus."
Nadira maju berikutnya.
Ia tidak membuat lelucon.
Ia hanya duduk, menelan sepuluh Kristal satu per satu, lalu menutup mata.
Rasa sakit membuat jari-jarinya mencengkeram celana.
Telepati menangkap pikirannya yang tetap bekerja bahkan ketika tubuhnya gemetar.
Panas di dada. Denyut meningkat. Otot kaki lebih dulu merespons. Napas harus diatur. Rasa sakit puncak pada menit keenam.
Dia bahkan menganalisis dirinya sendiri.
Arga hampir tersenyum.
Nadira membuka mata pada menit kesebelas.
Wajahnya pucat.
Tetapi suaranya stabil.
"Catatan: orang dengan tubuh lemah harus diawasi dua orang. Air disiapkan setelah proses, bukan sebelum. Jangan biarkan mereka berdiri terlalu cepat."
Dara menatapnya.
"Kamu baru saja jadi Evolver dan yang pertama kamu pikirkan itu?"
"Ya."
"Kamu menakutkan."
"Terima kasih."
Setelah Nadira, giliran Kiara.
Ia sudah menyerap Kristal sebelumnya, tetapi belum melakukan dorongan penuh sebagai ritual Tingkat 1 yang stabil. Kali ini Arga memberinya sepuluh Kristal lagi, lengkap.
Kiara tidak bertanya.
Ia duduk di depan Arga.
"Kalau aku pingsan?"
"Aku tangkap."
"Jangan cuma bilang."
"Aku tangkap."
Kiara menelan semuanya.
Rasa sakitnya datang lebih cepat karena tubuhnya sudah diperkuat Serum Evolusi Biasa.
Ia menggigit lengan Combat Suit, bahunya bergetar. Bayangan di bawah kakinya bergerak tipis, seolah ada tinta hitam yang bernapas.
Arga melihatnya.
Belum bangkit penuh.
Tetapi benih Bayangan sudah mulai merespons.
Kiara membuka mata.
Untuk sesaat, pupilnya tampak lebih gelap dari biasa.
Lalu ia menghembuskan napas panjang.
"Aku bisa mendengar langkah di kamar sebelah."
"Normal untuk Tingkat 1."
"Dan aku ingin menusuk sesuatu."
"Juga normal untuk kamu."
Dara tertawa.
Kiara melempar tatapan tajam, tetapi sudut bibirnya naik sedikit.
Satu per satu, anggota tim lain maju.
Ada yang menangis.
Ada yang menggigit handuk.
Ada yang hampir menjerit lalu ditampar ringan oleh Nadira.
"Napas. Jangan drama."
Ada yang muntah setelah proses selesai.
Dara menyeret ember tanpa diminta.
Kiara menjaga orang yang hampir jatuh.
Arga berdiri di tengah koridor seperti batu.
Setiap kali seseorang panik, cukup satu pandangannya membuat mereka menahan suara.
Menjelang siang, tiga puluh dua orang Nadira selesai.
Ditambah Kiara.
Semua core team di lantai itu kini minimal Tingkat 1 kecuali Arga yang sudah Tingkat 2.
Koridor berubah.
Sebelumnya dipenuhi orang selamat.
Sekarang dipenuhi Evolver baru yang belum tahu cara memakai tubuh sendiri.
Seorang gadis tanpa sengaja merobek gagang pintu.
Yang lain melompat terlalu tinggi dan membentur dinding.
Dara tertawa sampai sakit perut.
Nadira langsung mencatat.
"Latihan kontrol motorik sore ini. Tidak ada yang menyentuh pisau sebelum bisa membuka pintu tanpa merusak gagang."
Dara mengangkat tangan.
"Aku juga?"
"Terutama kamu."
"Aku sudah bisa."
Nadira menunjuk keramik retak bekas pukulan Dara.
Dara diam.
Setelah makan singkat, Arga membawa mereka ke atap hotel.
Angin atas gedung membawa bau kota yang mati, tetapi lebih ringan daripada koridor.
Di sana, Arga membuka Tenda Hi-Tech.
Kain abu-abu itu mengembang dari lipatan kecil menjadi struktur besar dengan dinding kokoh, lantai bersih, lampu putih lembut, dan ruang dalam yang jauh lebih luas daripada tampilan luarnya.
Tiga puluh lebih orang terdiam.
Seseorang berbisik, "Ini bukan tenda..."
Dara masuk lebih dulu.
Lalu keluar lagi.
Lalu masuk lagi.
"Di dalam lebih besar!"
"Jangan seperti anak kecil," kata Nadira.
Tetapi Nadira sendiri berhenti tiga detik di ambang pintu.
Ruang dua ratus meter persegi.
Kasur dan selimut dari hotel disusun rapi.
Matras dari stok gudang dibuka.
Lampu Hi-Tech dipasang di empat sudut.
Modul sanitasi bawaan tenda menyala dengan suara halus.
Bathtub Hi-Tech diletakkan di bagian belakang, dibatasi tirai dan jadwal mandi ketat.
Untuk orang yang sudah dua minggu hidup dengan keringat, darah, dan air kotor, itu bukan fasilitas.
Itu mukjizat praktis.
Nadira berdiri di tengah ruangan.
Matanya bergerak cepat.
"Area tidur di kiri. Area luka ringan di kanan. Stok tidak disimpan di sini, terlalu ramai. Jadwal mandi maksimal tujuh menit per orang. Air panas prioritas untuk yang luka dan yang habis bertarung."
Dara mengangkat tangan lagi.
"Aku habis bertarung kemarin."
"Semua habis bertarung kemarin."
"Aku lebih banyak."
"Kamu mandi urutan ketiga."
"Kenapa bukan pertama?"
"Karena kamu masih bisa berdebat."
Kiara akhirnya tertawa pendek.
Para mahasiswi yang mendengar ikut tertawa kecil.
Tawa itu rapuh.
Tetapi nyata.
Sore itu, untuk pertama kalinya sejak Hujan Zombie turun, lantai dua puluh satu dan atap hotel tidak terdengar seperti tempat pengungsian.
Terdengar seperti markas.
Malamnya, Arga mengumpulkan semua orang di dalam Tenda Hi-Tech.
Mereka duduk dalam empat kelompok.
Wajah lebih segar.
Rambut basah.
Mata masih lelah, tetapi tidak lagi kosong.
Arga berdiri di depan.
Nadira berdiri setengah langkah di belakangnya.
Kiara di kiri.
Dara di kanan.
"Mulai hari ini," kata Arga, "tim ini punya aturan."
Tidak ada yang bicara.
"Nadira bertanggung jawab atas operasi harian. Makanan, air, jadwal jaga, pembagian tugas, catatan Kristal, dan hukuman internal. Keputusannya berlaku."
Beberapa orang menatap Nadira.
Nadira tidak tersenyum.
"Kiara dan Dara bertanggung jawab atas latihan tempur dasar. Kalau mereka menyuruh kalian jatuh bangun seratus kali, lakukan."
Dara menyeringai.
Kiara tampak lebih berbahaya karena tidak bereaksi.
"Aku bertanggung jawab atas perang, arah besar, dan musuh yang tidak bisa kalian tangani."
Arga berhenti.
Tatapannya menyapu semua wajah.
"Aku tidak membutuhkan orang yang hanya ingin makan gratis. Aku membutuhkan orang yang bisa hidup, belajar, dan memegang garis. Kalian sudah diberi makanan, air, tempat tidur, mandi air panas, dan kekuatan Tingkat 1. Mulai besok, kalian membayar semuanya dengan kerja."
Seorang mahasiswi di baris belakang mengangkat tangan.
Nadira menoleh. "Bicara."
"Kalau kami takut?"
Arga menjawab.
"Takut boleh."
Gadis itu menelan ludah.
"Kalau kami tidak kuat?"
"Latihan."
"Kalau tetap tidak kuat?"
"Cari fungsi lain. Menjahit luka, menjaga air, mencatat stok, membersihkan senjata. Semua orang punya harga. Yang tidak boleh hanya satu."
"Apa?"
"Menjadi beban dengan sengaja."
Tepuk tangan dan janji kosong tidak muncul.
Tetapi sesuatu berubah di mata mereka.
Aturan kadang lebih menenangkan daripada pelukan.
Karena aturan memberi bentuk pada hari esok.
Setelah rapat selesai, orang-orang kembali ke kelompok masing-masing.
Nadira tetap tinggal.
Arga menyerahkan semua kertas kepadanya.
"Mulai sekarang, operasional harian milikmu."
"Anda yakin?"
"Aku hanya mengulang sekali."
"Saya dengar."
"Bagus."
Nadira menyimpan kertas itu ke Cincin Dimensi. Gerakannya masih kaku, tetapi cepat belajar.
"Saya akan butuh papan tulis, spidol permanen, tali, label, dan kotak obat yang lebih baik."
"Buat daftar."
"Sudah."
Ia mengeluarkan satu kertas lain.
Arga melihatnya.
Tiga puluh tujuh item.
Kiara berjalan lewat, melirik daftar itu, lalu menatap Arga.
"Kamu baru saja memberi dia cincin. Sekarang dia akan mengisi cincin itu dengan daftar."
Nadira menjawab tenang.
"Cincin kosong adalah kerugian."
Dara dari belakang berteriak, "Aku minta senjata baru!"
Nadira tidak menoleh.
"Masuk daftar setelah kamu belajar tidak mematahkan yang lama."
"Itu patah karena Zombie!"
"Dan tanganmu."
Kiara duduk di samping Arga.
"Aku suka dia," katanya pelan.
"Aku tahu."
"Kamu selalu tahu."
Arga diam.
Kiara menatapnya sebentar, lalu tidak mengejar.
Nadira menangkap jeda itu.
Kecil.
Tetapi ada.
Malam makin larut.
Tim tidur dalam jadwal baru.
Penjaga berganti tiap dua jam.
Stok pusat masuk ke kamar tengah dan sebagian ke Cincin Dimensi Nadira.
Kristal sisa dihitung tiga kali.
Pintu tangga dikunci dengan meja dan kawat.
Ketika semua akhirnya tenang, Nadira duduk sendirian di sudut Tenda Hi-Tech.
Ponselnya tidak punya sinyal.
Tetapi catatan lokal masih bisa dibuka.
Ia mengetik dengan ibu jari pelan.
Arga Bayu Pratama.
Tahu pola Zombie sebelum melihat.
Tahu nilai Kiara, saya, Dara.
Tahu Airdrop Box.
Tahu sistem manajemen yang baru saya susun tanpa perlu dijelaskan.
Punya Teleportasi? Belum terbukti, tapi Kiara bereaksi seperti menyimpan rahasia.
Punya cara "membaca orang".
Kemungkinan:
Satu, jaringan militer rahasia. Lemah.
Dua, eksperimen sebelum kiamat. Belum ada bukti.
Tiga, terlahir kembali.
Ia berhenti mengetik.
Jarinya diam di atas layar.
Jika ini novel yang saya baca, jawabannya terlalu jelas.
Dia bukan orang yang menebak masa depan.
Dia orang yang sudah pernah hidup di masa depan.
Nadira menutup ponsel.
Di luar tenda, suara Zombie naik dari jalan gelap.
Di dalam tenda, tiga puluh lebih Evolver baru tidur dengan napas berat.
Nadira menatap punggung Arga yang duduk berjaga di dekat pintu.
Sudut bibirnya naik tipis.
"Baik," bisiknya nyaris tanpa suara.
"Mari lihat seberapa banyak rahasiamu bisa saya kelola, Bos."