Kesalahan yang dilakukan Azalea Calista membuat suaminya kecewa dan berakhir ingin menceraikannya. Namun demi cinta yang tumbuh di hati Alea, dia bertekad untuk mengejar kembali cinta sang suami.
Sayangnya Alea harus kehilangan Fathan karena laki-laki itu pergi tanpa berpamitan. Hingga suatu hari, keduanya kembali dipertemukan dalam keadaan berbeda.
Akankah mereka kembali bersama atau justru memilih saling melepaskan bersama pasangan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 - Pertengkaran
Flashback
Hari itu Alea masih terlalu kecil untuk mendengarkan pertengkaran kedua orangtuanya.
Malam itu angin berhembus kencang, petir berbunyi menghiasi gelapnya malam, derasnya air hujan membasahi bumi, suasana terasa mencekam dan keadaan tidak baik-baik saja di dalam rumah. Suara keras saling bersahutan, serta barang-barang pecah berserakan.
Prang!!
"Jawab Pak! Benar kamu dan Yuni ada hubungan?" Dia menunjukan pesan berisi video dan beberapa foto mesra suaminya beserta Yuni.
"Kamu jangan percaya sama isi dari pesan itu, gak mungkin bapak punya hubungan sama Yuni."
"Bohong!" Sentak ibu terdengar marah, suaranya tidak kalah keras dari kerasnya petir dan air hujan. "Ini bukan kali pertama ibu melihat bapak dengan Yuni. Seringkali ibu diam dan berusaha bertahan demi keutuhan rumah tangga kita, demi Alea, tapi apa yang bapak lakukan? Bapak malah makin terang-terangan sama Yuni. Bapak pikir ibu tidak tahu kalau diam-diam bapak dan Yuni punya hubungan? Ibu jualan, tapi bapak malah enak-enak jalan sama Yuni menghabiskan uang kita hanya demi mentraktir Yuni."
"Bu, bapak juga butuh perhatian, jangankan untuk perhatian, ibu hanya sibuk cari uang saja," balas bapak di luar dugaan.
Pertengkaran itu di dengar sama Alea, dia bersembunyi di balik pintu kamar menyimak serta mengintip pertengkaran keduanya. Dia yang sudah cukup besar paham sama pembicaraan keduanya, hatinya sakit melihat ibunya menangis, marah mendengar pengakuan tak terduga dari bapaknya.
"Astaghfirullah, Pak. Bapak sadar apa yang telah bapak lakukan? Itu kesalahan besar, Pak. Apa bapak pikir ibu cari uang untuk ibu saja? Tidak, tapi untuk kebutuhan keluarga kita. Kalau bapak mau kerja ibu juga tidak akan banting tulang cari uang. Selama ini yang cari uang siapa? Ibu, sedangkan bapak ngapain saja? Hanya nongkrong di warung depan, ngobrol sama sini, dandan rapi terlihat wangi, itu yang bapak lakukan. Kalau bapak tidak bisa memberikan kita nafkah buat kebutuhan setidaknya setia pada keluarga, Pak."
"Siapa yang suruh ibu kerja? Bapak tidak menyuruh, mau bapak nongkrong pun terserah, emangnya bapak juga mau begini terus? Enggak."
Ibu menangis tergugu, ia telah salah memilih pasangan. Dulu pria itu begitu rajin bekerja apapun di kota itulah sebabnya dia jatuh cinta sama suaminya karena kerja kerasnya dan keramahannya serta bertanggungjawab yang membuatnya luluh.
Keduanya dipertemukan di kota, saling menyukai hingga memutuskan menikah dan ikut suaminya ke desa. Namun entah mengapa makin kesini perubahan suaminya makin jelas, sering melamun dengan tatapan kosong dan makin sering keluar rumah dalam keadaan rapi.
Di tengah kekacauan datang sosok Yuni membawa sesuatu dalam plastik rela hujan-hujanan.
"Mbak, kamu tidak tahu diri sekali jadi wanita. Lihat ini Kang." Yuni menyerahkan amplop coklat pada Rahmat seraya menatap wajah Rahmat, dalam hati berucap, "Niat aing ngasihan, ngasihan sakabeh umat kabeh, Nu katingali nya ngajadi, Nu teu katingali nya nyaah asih ka aing, Nya asih ka badan aing."
Kebetulan sekali Rahmat menatap mata Yuni.
"Apa ini Yun?"
"Bukti perselingkuhan istrimu sama laki-laki lain."
Deg.
"Aku tidak pernah selingkuh, jangan ngaco kamu Yun." Ibu tidak terima di fitnah sedemikian rupa.
Rahmat segera membuka amplop dalam plastik, isi amplop nya berisi foto sang istri sedang bergandengan tangan sama pria lain, saling berpelukan, bahkan ada yang juga di ranjang.
"Apa-apaan ini? Kamu berkhianat dariku Kirana?"
"Enggak, aku tidak pernah melakukan hal keji itu. Yuni, jangan fitnah kamu." Kini malah dia yang dituduh selingkuh padahal suaminya yang selingkuh.
"Aku tidak fitnah Kiran, bukti itu sangat kuat kalau kamu memang selingkuh. Bilangnya jualan di desa lain tapi ternyata menemui selingkuhmu, cih menjijikan."
"TUTUP MULUTMU!" sentak ibu tak terima di tuduh.
"DIAM KIRAN!"
Alea tidak tahan mendengar pertengkaran mereka, dia keluar dari kamarnya berlari memeluk ibunya.
"Bapak jangan sakiti ibu." Air matanya bercucuran, rasa takut pun muncul.
"Nah dia juga bukan anak kamu, Kang. Dia anak dari laki-laki itu," seru Yuni makin menjadi.
Mata ibu terbelalak, fitnah apa lagi yang dilakukan Yuni. "Yuni, kamu sangat keterlaluan! Beraninya menuduh anakku anak orang lain, jelas dia anakku dan Rahmat."
"Aku punya buktinya Mbak, pria itu bilang kalian sudah menjalin hubungan dari lama dan sering berhubungan di belakang Rahmat, aku punya bukti pengakuannya." Yuni pun menunjukan video pengakuan pria itu.
Isinya pria itu mengaku sudah menjalin hubungan sama Karina dan Alea anak mereka.
"Enggak, itu fitnah, kamu jangan percaya sama Yuni, dia bohong." Ibu menggelengkan kepala berharap suaminya tidak percaya.
Sayangnya Rahmat tidak mempercayai istrinya, dia lebih percaya Yuni. "Keterlaluan! Pantas saja Alea tidak mirip sama aku ternyata dia bukan anakku, menjijikan kamu Karina! Dan kamu Alea, dasar anak haram!"
Deg.
Kenapa jadi begini? Situasinya semakin tidak terkendali dan semakin panas saja. Apa ini yang disebut keegoisan orangtua? Salah tidak mau salah, benar merasa paling benar, sampai pada akhirnya tidak di temukan titik terang dari masalah ini dan yang ada malah semakin besar.
"Aku gak selingkuh kamu yang selingkuh!"
"Bukan aku yang selingkuh tapi kamu! Buktinya Alea bukan anakku, mulai hari ini aku talak kamu! Talak! Talak! Talak!"
Duarr.
Petir menggelegar berbarengan dengan suara bapak mengatakan kata pisah. Alea makin ketakutan menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan sang ibu, terlebih tatapan bapaknya sangat berbeda, menyeramkan.
Sedangkan Yuni tersenyum tipis merasa puas dan menang memisahkan mereka.
"Ka-kamu menceraikan aku?" bibir ibu bergetar, suaranya terbata-bata dengan air mata mengalir deras di wajahnya.
"Yuni lebih baik daripada kamu, pergi sana! Bawa anak harammu itu dan jangan pernah menginjakkan kaki kalian disini!"
Rahmat menyeret paksa tubuh istrinya ke luar rumah.
"BAPAK JANGAN SAKITI IBU!" Alea berontak membantu menarik tangan bapaknya agar tidak menyeretnya.
"Aww sakit Pak, lepasin aku!"
Bruk.
"Ibu!!" jerit Alea melihat tubuh ibunya tersungkur ke tanah dengan tubuh terguyur air hujan.
Dan dengan tega Rahmat juga mendorong tubuh kecil Alea. "PERGI KALIAN! JANGAN LAGI KESINI! AKU TIDAK SUDI PUNYA ISTRI TUKANG SELINGKUH SEPERTI KAMU DAN BAWA ANAK HARAM MU!"
Ibu tersedu-sedu, Alea pun menangis dalam pelukan ibunya. "BAPAK JAHAT! BAPAK BERUBAH! ALEA BENCI SAMA BAPAK!"
"SAYA TIDAK PEDULI!"
Blugh
Pintu dibanting kasar dan di kunci dari dalam, Yuni menyeringai dan sedetik kemudian Rahmat berubah lembut terpesona sama Yuni.
"Yun."
Flashback end.