Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.
Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.
Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.
Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.
Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.
Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Harga Sebuah Integritas
"Mirna membutuhkan operasi kedua senilai lima ratus juta rupiah dalam dua puluh empat jam ke depan."
Dokter bedah itu menyampaikan kabar tersebut di lorong ICU yang dingin. Ia menggenggam papan rekam medis dengan wajah penuh prihatin. Namun rasa iba tidak akan pernah bisa melunasi tagihan rumah sakit.
Rudi terpaku. Dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas.
Di sampingnya, Radityo mundur selangkah sampai punggungnya membentur dinding lorong. Kakinya mendadak lemas. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan itu perlahan melorot, lalu terduduk di lantai sambil menatap kosong ke pintu kaca ruang ICU.
"Lima ratus juta," gumam Radityo dengan suara bergetar.
Pria yang biasa memanggul puluhan sak semen itu kini menangis. Bahunya terguncang. Kedua telapak tangannya yang penuh kapalan menutupi wajahnya.
Rudi menelan ludah. Tenggorokannya terasa pahit. Ia menatap pintu kaca ruang ICU.
Di balik kaca, Mirna terbaring lemah. Selang terpasang di hidung dan lengannya. Monitor jantung terus berbunyi pelan, sementara garis hijau di layarnya bergerak stabil. Setiap bunyi terasa seperti menghitung sisa waktu yang dimiliki adiknya.
Dokter menepuk pelan bahu Rudi.
"Tubuh pasien menolak ginjal donor pertama," jelasnya lirih. "Kami harus segera mengangkat ginjal itu dan membersihkan infeksinya. Kalau lewat dua puluh empat jam, racunnya bisa menyebar ke organ-organ vital."
Rudi menggigit bibirnya kuat-kuat hingga terasa darah memenuhi mulutnya.
"Kami akan mencari uangnya, Dok," jawab Rudi dengan suara parau. "Tolong selamatkan Mirna malam ini."
Dokter itu mengangguk pelan, lalu berjalan pergi. Suara langkahnya perlahan menghilang, menyisakan dua bersaudara itu dalam keheningan.
Rudi ikut duduk di lantai di samping kakaknya. Lorong rumah sakit terasa sunyi. Bau karbol dan obat-obatan memenuhi udara.
Radityo menoleh ke arah Rudi. Matanya merah dan bengkak karena menangis.
"Mas masih punya sertifikat rumah peninggalan Bapak, Di." Napas Radityo memburu. "Besok pagi Mas akan cari rentenir. Apa pun risikonya, rumah itu akan Mas gadaikan."
Rudi cepat-cepat menggeleng sambil mencengkeram lengan kakaknya.
"Pencairan uangnya butuh beberapa hari, Mas. Mirna cuma punya waktu sampai besok malam."
"Lalu harus bagaimana?" Radityo memukul lantai keramik dengan kepalan tangannya. "Mas cuma kuli bangunan. Gaji sebulan saja bahkan tidak cukup buat beli obat Mirna sehari."
Radityo menundukkan kepala. "Mas ini kakak yang tidak berguna."
Dada Rudi terasa sesak. Ucapan itu menghancurkan sisa ketegarannya. Selama ini Radityo mengorbankan masa mudanya, bekerja siang malam agar ia bisa kuliah. Kakaknya rela menahan lapar demi melihatnya lulus.
Rudi menarik napas panjang, lalu mengusap air mata di sudut matanya.
"Mas jangan bilang begitu," katanya tegas. "Biar aku yang cari uangnya. Aku akan melakukan apa pun."
Rudi merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponsel dengan layar retak. Pikirannya langsung tertuju pada kartu nama hitam yang ditinggalkan Shaquena di meja lab beberapa jam lalu.
Shaquena sudah menyelamatkan hak paten programnya. Wanita itu juga menawarkan jabatan direktur. Maukah dia meminjamkan lima ratus juta malam ini juga?
Sebelum Rudi sempat menekan nomor Shaquena, terdengar langkah kaki mendekat.
Bunyi sepatu kulit menghantam lantai keramik rumah sakit dengan irama tenang dan mantap. Sangat berbeda dari langkah tergesa-gesa keluarga pasien yang lalu-lalang di lorong itu.
Rudi mendongak.
Seorang pria berjas abu-abu berdiri tepat di hadapan mereka. Rambutnya tersisir rapi. Aroma parfum mahal yang dikenakannya langsung terasa di tengah bau karbol rumah sakit.
Di tangan kanannya, pria itu membawa sebuah koper logam hitam.
"Selamat malam, Saudara Rudi."
Rudi langsung berdiri. Ia tanpa sadar mengambil posisi di depan Radityo yang masih terduduk lemas di lantai. Nalurinya langsung waspada.
"Anda siapa?" tanyanya.
Pria itu tersenyum tipis. Senyumnya rapi, tetapi tidak sampai ke mata.
"Perkenalkan, saya Theo." Ia membetulkan kerah jasnya. "Asisten pribadi Bapak Sebastian Mahendra."
Nama itu membuat Rudi terdiam sesaat. Mahendra. Keluarga yang sedang berhadapan dengan Shaquena. Keluarga yang ditakuti banyak orang di ibu kota.
"Saya tidak punya urusan dengan keluarga Mahendra," kata Rudi tegas. "Silakan pergi."
Theo tetap berdiri di tempat. Tatapannya bergeser ke balik pintu kaca ICU, ke arah Mirna yang terbaring dengan berbagai alat medis.
"Adik Anda sedang berjuang di dalam sana," katanya tenang.
Rudi langsung mengepalkan tangan. "Jangan bawa-bawa adik saya."
Theo menatapnya lagi. Ia mengangkat koper logam hitam yang dibawanya, lalu meletakkannya perlahan di atas kursi besi ruang tunggu.
Klik. Klik.
Theo membuka dua pengait koper itu.
Mata Rudi langsung membelalak. Jantungnya berdegup kencang.
Di dalam koper, tumpukan uang pecahan seratus ribu tersusun rapi. Jumlahnya cukup untuk melunasi tagihan rumah sakit, membeli ginjal baru, dan menyelamatkan nyawa Mirna malam ini juga.
"Lima ratus juta rupiah," ucap Theo pelan. "Tunai."
Radityo yang masih duduk di lantai ikut mendongak. Mulutnya sedikit terbuka saat melihat tumpukan uang itu.
Theo mengambil satu ikat uang, lalu memutarnya di sela-sela jari.
"Tuan Sebastian sangat menghargai orang-orang berbakat," katanya tenang. "Beliau tahu tentang sistem logistik yang Anda buat. Beliau juga tahu Nyonya Shaquena menemui Anda malam ini."
Rudi menelan ludah. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Jaringan informasi keluarga Mahendra ternyata menjangkau ke mana-mana. Bahkan pergerakan Shaquena pun mereka ketahui.
"Lalu apa maunya kalian?" tanya Rudi dengan suara parau. Tatapannya masih terpaku pada koper berisi uang yang bisa menyelamatkan nyawa adiknya.
Theo menutup koper itu perlahan. Ia lalu mengeluarkan map tipis dari saku dalam jasnya dan meletakkannya di samping koper.
"Tuan Sebastian ingin mempekerjakan Anda," katanya sambil mengetuk map itu dengan ujung jari. "Bekerjalah secara eksklusif untuk Mahendra Group. Malam ini juga, serahkan semua salinan cadangan kode sistem logistik Anda kepada kami."
Rudi terdiam.
Shaquena menawarkan keadilan. Ia ingin memakai program itu untuk membenahi sistem Mahendra Group dari dalam.
Sebaliknya, Sebastian hanya ingin mengamankan kepentingannya. Kalau Rudi menyerahkan seluruh kode cadangannya, Shaquena akan kehilangan senjata terbesarnya.
Artinya, Rudi akan mengkhianati wanita yang baru saja menyelamatkan hak patennya beberapa jam lalu.
"Nyonya Shaquena baru saja mendaftarkan patennya atas nama saya," kata Rudi, masih mencoba bertahan. "Saya tidak bisa begitu saja menyerahkannya."
Theo tertawa pelan, seolah sedang menertawakan kepolosan seorang mahasiswa.
"Hak paten bisa diurus belakangan. Kami punya puluhan pengacara yang bisa mengalihkan hak ciptanya secara legal." Tatapannya mengunci Rudi. "Yang kami butuhkan malam ini hanya salinan kode sistemmu. Kami harus mendapatkannya sebelum Nyonya Shaquena sempat memakainya."
Theo melangkah lebih dekat. Suaranya berubah pelan, nyaris seperti membujuk.
"Silakan pegang idealisme Anda, Rudi. Tapi idealisme tidak akan membayar biaya operasi adik Anda besok pagi."
Ucapan itu menghantam pertahanan Rudi.
Ia menoleh ke balik kaca ICU. Dada Mirna naik turun pelan. Wajah adiknya pucat tanpa warna. Berapa harga sebuah integritas? Apakah nilainya lebih besar daripada nyawa satu-satunya adik yang ia miliki?
Rudi menggigit bibirnya hingga terasa darah. Untuk pertama kalinya, ia merasa begitu hina. Seolah sedang menjual hati nuraninya kepada iblis. Namun malam ini, iblis itulah yang datang membawa satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Mirna.
Radityo berdiri perlahan. Tangannya mencengkeram bahu Rudi. "Di," ucapnya dengan suara bergetar. "Uang itu bisa menyelamatkan Mirna."
Ucapan kakaknya menghancurkan sisa pertahanan Rudi. Bagi keluarganya, perang para konglomerat tidak ada artinya. Yang mereka inginkan hanya satu: Mirna tetap hidup.
Theo menyodorkan sebuah pulpen perak.
"Waktu Anda tidak banyak, Rudi," katanya tenang. "Tandatangani kontrak ini. Setelah itu, bawa koper ini ke bagian administrasi. Dokter bisa langsung menyiapkan operasi adik Anda."
Tangan Rudi gemetar saat menerima pulpen itu. Jemarinya terasa dingin. Ia kembali menatap koper berisi uang, lalu bayangan Shaquena muncul di benaknya. Wanita itu telah menyelamatkan hak patennya tanpa meminta apa pun sebagai balasan.
Dan sekarang, ia justru akan mengkhianatinya demi uang. Rasa bersalah menyesakkan dadanya. Air mata kembali memenuhi matanya.
"Maafkan saya, Nyonya Shaquena," batinnya. "Saya benar-benar tidak punya pilihan. Mirna membutuhkan uang ini."
nyaaaakk jg yaaa/Grin/