NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Alkemis Abadi

Perjalanan Sang Alkemis Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Timur
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: En zz

Shen yifan adalah seorang pemuda yang terobsesi dengan pembuatan pil, namun sayangnya, ia tidak bisa menjadi alkemis di dunia ini hanya karena menjadi manuisa cacat.

Banyak sekali kultivator. Namun orang-orang untuk menjadi seorang alkemis di dunia ini sudah sangat jarang di temukan, bahkan menjadi salah satu kemunduran mutlak.

Salah satunya, hampir di seluruh dunia ini hanya 000,1% para kultivator yang mempunyai element api.

Salah satunya adalah kakek Shen yifan.

Apakah Shen yifan bisa menggapai cita-citanya untuk menjadi alkemis? Atau dia akan mengubah takdir secara tidak langsung, untuk menjadi alkemis sejati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon En zz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 : Lembah Kabut Roh - Buruan di Tengah Kekacauan

Ledakan demi ledakan terus menggema di sekitar kolam spiritual.

Gelombang kejut menyapu pepohonan hingga batang-batang pohon tua berguncang hebat. Air kolam spiritual beriak liar, sementara kabut di sekitarnya tercerai-berai akibat benturan energi spiritual.

Pengawal tua itu kembali melancarkan serangan bertubi-tubi.

Setiap ayunan tinjunya membawa tekanan yang mampu menghancurkan batu besar.

Namun, pemuda berambut putih itu selalu berhasil menghindar dengan gerakan sesederhana melangkah setengah langkah atau memiringkan tubuhnya sedikit.

Wajahnya tetap datar.

Seolah pertarungan itu sama sekali tidak membuat emosinya berubah. "Hmph! Hanya pandai menghindar!" bentak pengawal tua.

Pemuda berambut putih itu menghela napas pelan. "Bukannya aku ingin menghindar... Aku hanya tidak ingin merusak bunga-bunga itu."

Tatapannya melirik sekilas ke arah tiga Anggrek Jiwa Langit di tengah kolam.

Mendengar ucapan itu, wajah pengawal tua semakin muram."Kau berani meremehkanku!"

Aura spiritualnya kembali meledak.

Tanah di bawah kakinya langsung retak, lalu sosoknya menghilang dari tempat semula. "Hilang?"

Beberapa kultivator membelalakkan mata.

Detik berikutnya, sebuah ledakan dahsyat terdengar di udara. Pedang hitam dan telapak tangan sang pengawal bertabrakan, memicu gelombang kejut yang membuat semua orang mundur beberapa langkah.

Debu beterbangan memenuhi pandangan.

Shen Yifan yang berdiri di kejauhan hanya menyipitkan matanya.

(Dia sengaja menahan diri... Kalau benar-benar ingin membunuh lawannya, pertarungan ini seharusnya sudah selesai sejak tadi.) batinnya.

Sementara itu, Luo Tian yang sejak awal berdiri dengan angkuh mulai mengernyit. Ia tidak menyangka pengawal keluarga Luo justru tertahan oleh seorang pemuda tak dikenal.

Suasana menjadi semakin tegang, tepat pada saat itu...

Sebuah suara tua yang dipenuhi energi spiritual bergema dari seluruh lembah.

"Siapa pun yang berani bertarung sebelum Anggrek Jiwa Langit mekar..."

"...akan diusir dari Lembah Kabut Roh!"

Suara itu bagaikan guntur, sluruh kawasan langsung terdiam.

Bahkan pengawal tua dan pemuda berambut putih sama-sama menghentikan gerakan mereka.

Suara tua itu bergema sekali lagi, mengguncang seluruh lembah.

"Siapa pun yang berani bertarung sebelum Anggrek Jiwa Langit mekar..."

"...akan diusir dari Lembah Kabut Roh."

Tekanan mengerikan turun dari langit. Seluruh kultivator, termasuk pengawal Keluarga Luo, merasakan tubuh mereka menjadi jauh lebih berat.

Wajah pengawal tua itu berubah drastis, ia buru-buru menarik kembali auranya dan mundur beberapa langkah.

Pemuda berambut putih pun menurunkan pedangnya dengan tenang, lalu kembali menyampirkannya di punggung.

Suasana kembali sunyi.

Tak seorang pun berani bergerak.

Sesaat kemudian, suara tua itu kembali terdengar. "Kalian datang ke tempat ini demi mencari kesempatan."

"Lembah Kabut Roh tidak pernah memilih tuan.Tidak pula memihak sekte, keluarga, ataupun kerajaan."

"Di sini... semua memiliki kesempatan yang sama."

Tatapan seluruh kultivator langsung tertuju ke arah langit yang tertutup kabut. "Ketika Anggrek Jiwa Langit mekar... siapa yang mampu mendapatkannya, dialah pemiliknya."

"Entah dengan kekuatan atau keberuntungan."

"Tidak ada aturan lain."

"Tetapi..." Nada suara tua itu berubah dingin. "Jika ada yang mencoba memonopoli sebelum waktunya... Lembah Kabut Roh sendiri yang akan mengusirnya."

Keheningan menyelimuti seluruh kawasan.

Luo Tian menggertakkan giginya pelan, meski wajahnya masih dipenuhi kesombongan, ia tidak lagi berani memerintahkan pengawalnya bergerak.

Bahkan seorang kultivator Ranah Core Formation saja memilih mundur.

Jelas, keberadaan pemilik suara itu berada pada tingkat yang jauh lebih tinggi.

Shen Yifan memejamkan matanya sejenak, sudut bibirnya terangkat tipis. "Begitu... Jadi tempat ini masih memiliki aturan. Kalau begitu..."

"Yang perlu kulakukan hanyalah menunggu bunga itu mekar."

Sementara itu, tidak ada seorang pun yang menyadari...

Kabut putih di sekitar tiga Anggrek Jiwa Langit mulai bergerak perlahan.

Helai-helai kelopak yang semula tertutup rapat kini sedikit demi sedikit mulai merekah. Cahaya kebiruan yang dipancarkannya menjadi semakin terang, memenuhi seluruh kolam spiritual dengan aura yang lembut namun kaya akan energi langit dan bumi.

Tak seorang pun bergerak.

Semua orang hanya menatap ketiga bunga itu tanpa berkedip.

Suasana yang semula dipenuhi bisikan kini berubah menjadi keheningan yang mencekam.

Tangan para kultivator perlahan menggenggam senjata masing-masing, pedang mulai terhunus, tombak diarahkan ke depan, busur telah dipasangi anak panah.

Bahkan beberapa kultivator diam-diam mulai mengedarkan energi spiritual ke seluruh tubuh mereka, bersiap menyambut pertarungan yang akan pecah kapan saja.

Tak seorang pun ingin menjadi orang pertama bergerak. Namun, tidak ada pula yang berniat menjadi orang terakhir.

Shen Yifan tetap bersandar di bawah bayangan pohon tua.

Tatapannya sesekali beralih dari Anggrek Jiwa Langit menuju para kultivator di sekeliling kolam.

(Mereka semua sedang menunggu. Bukan bunga itu... Melainkan seseorang yang cukup bodoh untuk bergerak lebih dulu.) batinnya.

Waktu berlalu perlahan. Setengah jam. Empat puluh menit... Lima puluh menit.

Tidak ada seorang pun yang berbicara, yang terdengar hanyalah suara air terjun yang terus mengalir tanpa henti.

Hingga tepat satu jam kemudian.

"Crack..."

Suara lembut terdengar, kelopak Anggrek Jiwa Langit akhirnya mekar sepenuhnya. Dalam sekejap, aroma harum yang menenangkan langsung memenuhi seluruh kawasan. Energi spiritual di sekitar kolam mendadak melonjak berkali-kali lipat hingga kabut putih berputar membentuk pusaran kecil.

"Mekar!"

Entah siapa yang berteriak lebih dulu. Puluhan sosok langsung melesat bersamaan, ledakan demi ledakan energi spiritual mengguncang kawasan itu.

Dentang senjata saling beradu.

Pedang bertemu tombak.

Tinju menghantam telapak tangan.

Berbagai teknik kultivasi memenuhi udara, membuat permukaan kolam spiritual meledak berkali-kali akibat gelombang kejut.

Luo Tian menjadi orang pertama yang menerjang ke depan.

"Singkir!"

Kipas giok di tangannya berubah menjadi puluhan bilah angin tajam yang menyapu beberapa kultivator sekaligus.

Di sisi lain, pemuda berambut putih itu juga bergerak, pedang hitam di tangannya hanya berkilat sekali.

Namun satu tebasan sederhana itu langsung memaksa tiga kultivator Foundation Establishment mundur dengan wajah pucat.

Dalam hitungan napas, kawasan yang semula tenang berubah menjadi medan pertempuran.

Jeritan, benturan senjata, dan ledakan energi spiritual silih berganti memenuhi udara.

Sementara itu...

Shen Yifan masih tetap berdiri di tempatnya. Tatapannya tenang mengamati seluruh pergerakan di depan.

Ia sama sekali tidak tergesa-gesa. "Aku masih terlalu lemah untuk berebut secara langsung."

"Bertarung sekarang... hanya akan menghabiskan energi spiritual."

Pandangan Shen Yifan perlahan menyapu seluruh kolam spiritual.

Ia menunggu. Menunggu saat semua orang terlalu sibuk bertarung hingga lengah.

Karena ia tahu...

Di medan perebutan harta seperti ini, yang pertama bergerak belum tentu menjadi pemenang. Yang mampu membaca keadaanlah yang biasanya membawa pulang hasil terbesar.

Setelah sekian lama, Shen Yifan mulai melihat pertarungan antar kultivator semakin berkecamuk, bahkan banyak yang terluka, namun masih memaksakan diri demi Anggrek Jiwa langit.

"Ini saatnya!" Shen Yifan keluar dari bayangan pohon. Pohon itu tidak jauh dari kolam tempat anggrek itu, ia mulai mengendap-endap, berjalan dengan hati-hati.

Tidak ada satupun orang yang memperhatikan gerak gerik Shen Yifan, mereka terlalu sibuk untuk bertarung, seolah melupakan apa yang mereka cari.

Shen Yifan mulai menghindari percikan-percikan kekuatan seorang kultivator yang sedang bertarung di atasnya, mereka bertarung terbang.

Setelah beberapa langkah, Shen Yifan mulai memusatkan Energi Spiritualnya kearah kedua kaki.

Ia berjalan diatas kolam Spiritual itu dengan sangat hati-hati, mengontrol Energi Spiritualnya. Air hanya beriak sedikit.

Shen Yifan akhirnya sampai. Ketiga Anggrek itu berada di atas batu kecil di tengah kolam.

Semua orang mengincar bunga Anggrek itu. Tapi tidak ada yang memperhatikan kolamnya.

"Tunggu, jika dipaksakan untuk mencabutnya, maka kualitasnya akan menurun drastis... Hmmm." Ia tahu betul karena setiap tanaman yang Shen Yifan cabut, ada dua kemungkinan. Pertama tanaman herbal akan layu dan mati, kedua tanaman herbal itu akan kehilangan kualitasnya.

Tapi Anggrek Jiwa Langit ini, tanaman herbal tingkat tinggi, kemungkinan besar kalau di cabut paksa, hanya turun kualitasnya.

"Tidak.... Aku tidak boleh mencabutnya!" Shen Yifan menggelengkan kepala, ia ingin kualitas Anggrek ini tetap terjaga.

Lalu Shen Yifan melihat keatas dan kebawah di daratan, mereka masih bertarung. Ia tersenyum, lalu mengeluarkan sekop kecil dan pisau dari tas rajutannya. Ia mulai menggalinya dengan hati-hati.

Setelah mencapai akar terdalamnya, ia langsung memotong akar tersebut. Tanpa banyak berpikir, ia langsung memasukannya kedalam tas.

"Aku harus mengambil semuanya... Hehe!" Keserakahan di wajah Shen Yifan mulai terlukis, ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang tidak bakal datang lagi.

Seperti anggrek yang pertama, ia dengan hati-hati menggali dan memotong akar Anggrek kedua, Shen Yifan berhasil dan memasukan Anggrek itu kedalam tas nya lagi.

Setelah mendapat dua batang dan akan mendapatkan satu lagi, barulah seseorang berteriak.

"Sial! Ada orang di bawah sana!"

Sontak semuanya mengarahkan pandangan mereka kearah Shen Yifan.

"Sialan!!" cetus Luo tian berteriak.

(Gawat, semua orang menuju kesini!!) batinnya, tapi.

Energi Spiritual Murni di dalam dantiannya perlahan mengalir menuju kedua telapak tangannya. Tidak ada ledakan aura yang menggetarkan langit, tidak pula tekanan yang mencengangkan.

Yang berubah... hanyalah ruang.

"Spatial Distortion: Mirage Space."

"Bzztt..."

Udara di sekeliling Shen Yifan tiba-tiba beriak pelan, bagaikan permukaan danau yang disentuh angin. Riak itu hampir tak terlihat oleh mata biasa, namun cukup untuk membuat cahaya di sekitarnya sedikit melengkung.

Shen Yifan tetap berdiri diam.

Namun di mata musuh.

Posisinya perlahan bergeser beberapa langkah ke arah kiri.

"Ada di sana!"

Seorang kultivator langsung melesat sambil mengayunkan pedangnya.

Pedang itu membelah tubuh Shen Yifan.

Tidak ada darah, tidak ada jeritan.

Yang terbelah hanyalah bayangan semu akibat ruang yang terdistorsi. "Apa?!"

Mata penjaga keluarga luo membelalak. Sebelum sempat bereaksi, suara tenang terdengar dari samping telinganya.

"Kau menyerang tempat yang salah."

Tubuh Shen Yifan ternyata masih berdiri di posisi semula.

Ia bahkan belum menggeser satu langkah pun.

Keringat dingin mulai membasahi dahi para kultivator lainnya.

"Mata kita? Ilusi?"

"Tidak..." gumam seorang Penjaga keluarga luo itu dengan wajah pucat. "Ini bukan ilusi... Membelokkan ruang."

Tatapan semua orang berubah drastis.

"Kalau begitu, aku duluan!!" Shen Yifan langsung berlari di atas air, dan ia langsung menghilang kedalam hutan yang berkabut.

"Sialan, dua lainnya di bawa, tinggal satu." Luo Tian mengepalkan tangan nya karena kesal, urat di dahinya menonjol, wajahnya memerah, selama hidupnya... Belum pernah ada orang yang berani mencuri harta di depan matanya.

"Haha, tinggal satu? Terima kasih semuanya, Aku hanya tinggal mencabut sisanya!" sahut Pemuda pedang hitam itu tertawa dan langsung menghilang setelah mencabut Anggrek itu.

"Sialan, bajingan." Luo Tian semakin kesal. "Cepat kejar, dua orang itu!!"

"Siap!"

Para penjaga Keluarga Luo yang bersembunyi, langsung melesat dan menghilang kearah hutan berkabut.

1
obeng min
josss👍👍👍👍👍
Andi Akhasay: Liat ceritaku kak
total 1 replies
obeng min
lanjut👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!