NovelToon NovelToon
The System'S Guide To Ruining The Villainess

The System'S Guide To Ruining The Villainess

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Transmigrasi / CEO
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: DinaRyu

Up setiap hari

Stella Odette Rosewood terbangun dengan reputasi hancur, dikelilingi teman toxic, dan adik tiri bermuka dua yang ingin merebut segalanya termasuk Neo Hayes Blake, CEO dingin incaran banyak orang.

Satu-satunya jalan keluar adalah "Vix", sistem berwujud rubah ekor sembilan cerewet yang memaksanya menjalankan berbagai misi demi bertahan hidup. Stella pun mengubah taktik: membuang orang-orang toxic, merombak penampilannya, dan sengaja mendekati Neo untuk menghancurkan rencana adik tirinya.

Awalnya, interaksi mereka canggung dan Neo terlihat tak peduli. Namun, di balik kelakuan absurd dan omelan Stella pada sesuatu yang tak kasatmata, Neo melihat sosok wanita cerdas yang mati-matian berjuang sendirian.

Saat bahaya sesungguhnya dari intrik keluarga mulai mengancam nyawa Stella, sang CEO mengambil langkah.

Pria dingin itu kini menjadi pelindung posesif yang tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 29: Gaun Merah

System Glitch

Waktu: 18:30 PM

Hujan gerimis kembali membasahi kaca jendela apartemen Madeline Claire, menciptakan irama monoton yang menemani kesibukan di dalam ruangan.

Stella berdiri di depan cermin besar, menatap sosok yang terpantul di sana.

Gaun sutra berwarna merah marun gelap itu memeluk tubuhnya dengan sempurna, seolah-olah kain itu ditenun langsung di atas kulitnya.

Potongan leher V yang tajam memperlihatkan tulang selangkanya yang indah, sementara belahan setinggi paha di sisi kiri gaun memberikan kesan provokatif yang berkelas setiap kali ia melangkah.

Tidak ada payet, tidak ada renda. Kekuatannya terletak pada kesederhanaan desainnya yang tajam.

Rambut gelapnya ditata dengan gaya sleek bun yang rapi, memberikan kesan wanita yang sangat terkendali dan berkuasa.

Wajahnya dirias dengan tema bold namun tetap elegan bibirnya dipulas dengan warna merah gelap yang serasi dengan gaunnya, dan matanya yang monolid dipertegas dengan garis eyeliner yang tajam.

Aroma White Tea & Peony menguar halus dari kulitnya, menciptakan lapisan pelindung yang menenangkan di tengah gemuruh adrenalin yang ia rasakan.

"Host, aku harus mengakui sesuatu,"

Vix melayang di sekitar Stella, ekornya yang putih berpendar redup.

"Kau benar-benar terlihat seperti seseorang yang siap membakar gedung pencakar langit ini kalau ada yang berani menyinggungmu."

Stella menyunggingkan senyum tipis yang dingin di cermin. "Membakar gedung itu terlalu berlebihan, Vix. Aku lebih suka menghancurkan orang-orang di dalamnya tanpa perlu mengeluarkan api."

Tiba-tiba, suara notifikasi sistem yang sudah sangat akrab menggema di kepalanya.

[ Ding! ]

[ Misi Harian Diaktifkan! ]

[ Misi: Malam ini adalah ujian pertama untuk ketahanan mentalmu. Saat kau berada di dalam mobil bersama Neo Hayes Blake nanti, berikan komentar tentang aroma tubuhnya. Katakan: "Tuan Blake, parfummu malam ini mengingatkanku pada bau buku perpustakaan tua yang sangat mahal dan berbahaya." Setelah itu, sandarkan kepalamu sejenak di bahunya selama lima detik dan berbisik bahwa kau sangat lelah karena semalam sibuk meretas server. ]

[ Hadiah: 40 Poin Karma & Perlindungan Mental dari Aura Intimidasi Richard Rosewood (Efek: Kau tidak akan merasa gemetar saat berhadapan dengan ayah kandungmu). ]

[ Hukuman Gagal: Host akan mengalami bersin-bersin yang tidak terkendali setiap kali Richard Rosewood mulai berbicara di depan umum selama acara berlangsung. ]

Stella nyaris tersedak ludahnya sendiri.

"Vix! Kau benar-benar keterlaluan! Menyandarkan kepala di bahu pria itu? Kau tahu sendiri dia punya mysophobia ringan! Dia bisa saja melempar aku keluar dari mobil yang sedang melaju!"

Vix tertawa terbahak-bahak sambil berguling di udara.

"Hadiahnya sangat menggiurkan, Host! Kau butuh perlindungan mental itu. Bayangkan betapa memalukannya kalau kau tiba-tiba bersin saat ayahmu sedang mencoba mempermalukanmu di atas panggung."

Stella memijat pangkal hidungnya, merusak sedikit konsentrasi riasannya.

Bersin di depan seluruh elit London? Tidak. Lebih baik aku mengambil risiko dilempar keluar mobil oleh Neo daripada harus terlihat seperti orang flu di depan Chloe.

Waktu: 19:00 PM

Lobi Apartemen Madeline Claire

Sebuah SUV hitam besar dengan kaca gelap yang sangat pekat berhenti tepat di depan pintu masuk gedung apartemen tua tersebut.

Kehadiran mobil mewah itu terlihat sangat kontras dan mencolok di lingkungan yang sederhana ini.

Liam turun dari kursi penumpang depan, membukakan pintu belakang dengan gerakan yang sangat formal.

Stella melangkah keluar dari lobi. Begitu kakinya yang dibalut sepatu hak tinggi menyentuh trotoar, ia bisa merasakan tatapan mata dari dalam mobil yang seolah menembus kaca gelap tersebut.

Ia melangkah masuk dengan anggun, membiarkan Liam menutup pintu di belakangnya.

Suasana di dalam mobil itu sangat sunyi, hanya ada suara napas halus dan aroma Dark Musk serta Leather yang sangat dominan.

Neo Hayes Blake duduk di sana.

Pria itu mengenakan tuxedo hitam formal dengan kemeja putih bersih di dalamnya.

Dasinya terpasang sangat rapi, dan rambutnya ditata ke belakang, mempertegas garis wajahnya yang keras dan tampan.

Saat Stella masuk, Neo tidak mengalihkan pandangannya dari tablet di tangannya selama beberapa detik pertama.

Namun, begitu wangi White Tea & Peony memenuhi kabin mobil, Neo perlahan menoleh.

Mata obsidian pria itu membelalak samar.

Pandangannya menelusuri setiap inci penampilan Stella mulai dari rambutnya yang tertata rapi, bibir merah gelapnya, hingga belahan gaun yang memperlihatkan kulit pucat di kakinya.

Ada sebuah kilatan yang sangat pekat di dalam mata Neo, sebuah campuran antara rasa muak yang biasa ia tunjukkan, tapi kali ini tertutup oleh ketertarikan yang luar biasa intens.

Neo berdehem pelan, suaranya terdengar sedikit lebih serak dari biasanya. "Kau tidak membuat mataku sakit malam ini, Rosewood. Pilihan gaun yang... bisa diterima."

"Hanya 'bisa diterima'?" Stella membalas dengan senyum tengilnya, meskipun jantungnya berdetak liar.

"Aku sudah menghabiskan tabunganku untuk gaun ini, Tuan Blake. Setidaknya kau bisa memberikan pujian yang lebih baik."

Mobil mulai melaju menembus jalanan London yang basah. Stella tahu waktunya untuk menjalankan misi harian sudah tiba.

Ia menghirup napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian yang entah ia ambil dari mana.

Stella mencondongkan tubuhnya ke arah Neo, memperkecil jarak di antara mereka hingga aroma pria itu semakin menyergap indranya.

"Tuan Blake," panggil Stella pelan.

Neo meliriknya dengan sebelah alis terangkat. "Apa?"

"Parfummu malam ini..."

Stella mengendus udara di dekat leher Neo secara dramatis, membuat pria itu sedikit menegang di kursinya.

 "...mengingatkanku pada bau buku-buku di perpustakaan tua yang sangat mahal. Dan berbahaya."

Neo membeku. Ia menatap Stella dengan pandangan yang tidak bisa dijelaskan. "Buku tua? Kau benar-benar punya selera perumpamaan yang buruk."

Stella tidak berhenti di situ. Ia memutuskan untuk menyerang sekalian. Tanpa peringatan, ia menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Neo. Ia bisa merasakan otot bahu pria itu mengeras seketika, persis seperti batu.

Satu... dua... tiga...

"Aku sangat lelah, Pangeran Es," bisik Stella tepat di dekat telinga Neo, suaranya dibuat terdengar sangat letih.

"Semalam aku hampir tidak tidur karena sibuk meretas server perusahaanmu untuk memastikan tidak ada lagi 'hadiah' dari Chloe. Jadi, biarkan aku meminjam bahumu sebentar."

Empat... lima.

Stella segera menegakkan tubuhnya kembali sebelum Neo sempat memberikan reaksi fisik yang berbahaya.

Ia menatap ke luar jendela seolah-olah tidak terjadi apa-apa, padahal pipinya terasa sangat panas.

Hening total menyelimuti kabin mobil selama beberapa menit berikutnya.

Liam di depan pura-pura tuli dan buta, fokus sepenuhnya pada jalanan. Sementara itu, Neo Hayes Blake masih mematung di tempatnya.

Jantungnya berdetak dengan ritme yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sentuhan kepala Stella di bahunya selama lima detik tadi terasa seperti sengatan listrik statis yang merambat ke seluruh tubuhnya.

Wangi teh putih wanita itu seolah menempel di jasnya, membuatnya merasa sangat terusik.

Neo mengepalkan tangannya di atas lutut. Ia ingin marah, ia ingin mengusir wanita tengil ini, tapi dorongan lain di dalam dadanya –sebuah obsesi yang mulai tumbuh liar– justru ingin menarik wanita itu kembali ke dalam pelukannya.

"Jangan pernah melakukannya lagi tanpa izin, Stella," suara Neo terdengar sangat berat, rendah, dan penuh ancaman yang tidak sungguh-sungguh.

Stella hanya menyeringai miring, merasa menang karena sistem tidak memberinya hukuman bersin.

[ Ding! ]

[ Misi Selesai! ]

[ Hadiah: Perlindungan Mental Diaktifkan. Status Stamina: Stabil. ]

[ Afeksi Neo Blake meningkat! Status saat ini: 45%. Peringatan: Sang Predator mulai kehilangan akal sehatnya! ]

Waktu: 20:00 PM

The Grand Crystal Ballroom, London

Ballroom mewah itu dipenuhi oleh kilauan lampu kristal raksasa yang memantulkan cahaya ke segala arah.

Ratusan elit London, mulai dari pengusaha, politisi, hingga selebriti, berkumpul dengan pakaian terbaik mereka.

Aroma cerutu mahal, sampanye, dan parfum mewah bercampur di udara.

Di salah satu sudut yang menonjol, Richard Rosewood berdiri dengan bangga.

Ia mengenakan tuxedo klasik, tangannya memegang gelas wiski. Di sampingnya, Elena tampil memukau dengan gaun sutra berwarna emas, sementara Chloe terlihat seperti malaikat dalam gaun putih bervolume besar yang sangat kontras dengan tema "pembersihan dosa" yang mereka usung malam ini.

"Mana anak tidak tahu diri itu?" gumam Richard sambil melirik jam tangan Rolex-nya.

"Dia sudah terlambat sepuluh menit. Kalau dia tidak datang, aku akan benar-benar mencoret namanya besok pagi."

"Tenanglah, Sayang," Elena mengusap lengan suaminya. "Mungkin dia takut menghadapi kita semua setelah skandal itu."

"Aku tidak takut, Ayah," bisik Chloe sambil tersenyum manis pada seorang tamu yang lewat. "Aku hanya khawatir dia tidak punya gaun yang layak untuk datang ke sini."

Tiba-tiba, suasana di pintu masuk utama berubah. Suara riuh percakapan para tamu mendadak mereda, digantikan oleh bisikan-bisikan kaget.

Petugas lobi mengumumkan dengan suara lantang: "Tuan Neo Hayes Blake dan Nona Stella Odette Rosewood."

Pintu ganda terbuka lebar.

To be Continued

1
Puch🍒❄
lah loh hah eh kok bukannya dh diambil lg sama stella yak lah kok masih dia sih lah loh heh🤨
aku
ngabrut baca ini astaga 🤣🤣🤣
paijo londo
🤣🤣🤣yg datang ternyata tuan blake y waduh misi suruh kedip tuh awaasss entar tuan blake terpesona looohhh😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!