NovelToon NovelToon
Melodi Air Mata Samudera

Melodi Air Mata Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.

Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.

Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?

"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Situasi Yang Ambigu

"Aku hanya tidak sengaja terdampar di tempat terkutuk ini!" seru Elara parau, mencoba menstabilkan suaranya yang bergetar karena hawa dingin. Ia balas melotot, menantang manik mata emas bersinar milik Elias. "Dan kau... Apa kau seorang Werewolf?! Jika iya, cepat tutup matamu itu, Keparat! Apa kau mau matamu itu kucolok, hah?!"

Serigala raksasa itu tampak memalingkan wajahnya dengan terpaksa. "Terlambat, aku sudah melihat semuanya," dengus Elias, suaranya terdengar meremehkan. "Lagipula, tubuhmu itu sama sekali tidak terlihat menggoda di mataku. Bau tubuhmu sangat amis, membuat hidung serigalaku mual!"

Aura permusuhan seketika menguar dari tubuh Elara. "Sialan kau!" makinya berang, mempererat kuncian lengannya yang menutupi dada. "Jika kau ke sini hanya untuk menghinaku, enyah kau! Pergi dari hadapanku sekarang juga!"

"Seharusnya kau yang pergi," balas Elias tidak mau kalah. Ia melangkah angkuh, sengaja memamerkan tubuh serigala besarnya. "Memangnya kau siapa berani mengusirku? Di sini sudah sangat jelas jika aku adalah salah satu kerabat dari pemilik kastil ini. Kau tahu Justin Salvatore, anak dari Kakek Jacob? Dia itu adalah pamanku. Jadi secara tidak langsung, tempat ini adalah rumahku juga!"

Elara menggeretakkan rahangnya frustrasi. Silsilah keluarga makhluk daratan sama sekali tidak penting baginya saat ini. "Aku tidak bertanya siapa dirimu, dan aku tidak peduli apa statusmu di tempat terkutuk ini!" sentak Elara, sepasang mata Siren-nya berkilat tajam membelah kegelapan.

"Di mataku, kau hanya seekor jantan mata keranjang yang tidak tahu malu karena memandangi wanita polos tanpa rasa bersalah! Jangan-jangan... kau berniat macam-macam ya padaku?! Kenapa kau belum pergi juga, hah?!" tuduh Elara penuh selidik.

Sontak Elias menoleh kembali ke arah Elara dengan tatapan tidak terima. "Hei! Tadinya aku memang berniat pulang ke pack-ku. Namun, karena melihat ada penyusup wanita aneh yang mencurigakan seperti dirimu, aku jadi batal pulang gara-gara kau!"

Elara melotot tidak terima. "Kenapa kau malah menyalahkanku?!"

Edgard tidak menyahut lagi. Melalui pendar cahaya bulan purnama, siluet serigala biru keperakan itu menyusut drastis. Dengan gerakan anggun namun tergesa-gesa, ia bertransformasi kembali menjadi sosok manusia tepat di depan mata Elara.

Sontak, Elara panik bukan main. Ia buru-buru menyembunyikan wajahnya di balik lipatan lengan. "Kau... kau mau apa?! Jangan macam-macam!"

Edgard menghiraukan kepanikan sang Siren. Ia segera menyambar celana kainnya yang tergeletak di atas rumput dan memakainya dengan cepat. Setelah itu, tangannya meraih sebuah kemeja putih panjang miliknya.

Niatnya sebenarnya baik; ia merasa kasihan dan ingin melemparkan kemeja longgar itu kepada Elara agar tubuh polos gadis itu tertutupi.

Namun sial bagi Edgard, takdir daratan tampaknya sedang ingin mempermainkan mereka. Tepat saat pemuda berambut biru itu berbalik arah menuju pohon kesemek, kakinya tidak sengaja menginjak permukaan tanah tepi danau yang licin dan berlumut. Alhasil, ia kehilangan keseimbangan tubuhnya sepenuhnya.

Bruk!

Tubuh tegap Edgard terjatuh ke depan, telak menindih tubuh polos Elara yang tengah menyandarkan punggungnya di batang pohon. Embusan napas hangat Edgard seketika menerpa wajah Elara, sementara kulit mereka yang saling bersentuhan mengirimkan sengatan asing yang mengejutkan insting keduanya.

Dalam kungkungan tubuh kekar sang Werewolf, pertahanan Elara runtuh seketika. "Arghh! Tolong!" jerit Elara histeris, mencoba mendorong dada Edgard dengan sisa tenaganya yang selemah jeli.

Alih-alih segera bangkit, Edgard justru membeku. Di bawah siraman cahaya bulan purnama yang temaram, manik matanya terpaku, menatap lurus garis wajah Elara yang teramat menawan dari jarak sedekat ini. Ia bahkan menghiraukan dorongan sepasang tangan Elara yang selemah jeli. Tubuh tegap sang Werewolf sama sekali tidak bergeming, mengunci pergerakan sang Siren di bawah kungkungannya.

"Berengsek kau! Menjauh dari atas tubuhku!" maki Elara berang, wajahnya memerah padam antara rasa malu yang membakar dan amarah yang meluap.

Sontak Edgard tersentak dari lamunannya. Kesadaran pemuda itu kembali, dan dalam sekejap, semburat merona merah menjalar hebat di kedua pipinya.

Namun, kesialan mereka tampaknya belum mau berakhir. Belum sempat Edgard mengangkat tubuh untuk bangkit, suara derap langkah kaki yang teratur terdengar mendekat, memecah keheningan tepi danau.

"Bukankah itu Tuan Muda Edgard? Kenapa dia masih berada di sini?" gumam sebuah suara bariton yang asing di telinga Elara.

Sesosok pria berpakaian pelayan formal yang rapi muncul dari balik kegelapan halaman kastil. Dia adalah Gustav, asisten pribadi Jacob Salvatore. Pria itu melangkah mendekat, namun langkahnya mendadak terhenti kaku. Sepasang matanya melotot sempurna seketika saat pandangannya menangkap posisi luar biasa ambigu yang tersaji di bawah pohon kesemek tersebut.

"Astaga! Maaf, Tuan Muda! Aku tidak melihat apa-apa!" Sontak, pria Vampir itu memejamkan sepasang matanya rapat-rapat. Wajahnya pias, dan tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, ia langsung berbalik arah lalu berlari kocar-kacir meninggalkan tepi danau.

Sementara itu, Edgard yang dilanda kepanikan luar biasa buru-buru bangkit berdiri. "Sialan! Paman Gustav pasti sudah salah paham!" rutuknya dengan wajah yang memerah padam sampai ke telinga.

Merasa campur aduk antara malu dan kesal, Edgard melemparkan kemeja putih panjang di tangannya dengan emosi ke arah Elara. Kain longgar itu mendarat tepat hingga menutupi seluruh wajah sang Siren.

"Pakai itu!" titah Edgard ketus.

Setelah melesatkan kata-kata tersebut, Edgard melengos pergi dengan langkah seribu, bergegas mengejar asisten pamannya sebelum kesalahpahaman ini menyebar ke seluruh penjuru kastil.

Elara menyibak kemeja besar yang menutupi pandangannya dengan raut wajah luar biasa kesal. Dengan gerakan kasar dan terburu-buru, ia memakai pakaian manusia pertamanya itu secara asal-asalan. Kemeja milik Edgard tampak sangat longgar di tubuh ringkih Elara, menjuntai hingga sebatas pahanya.

"Kau yang sialan, dasar anjing gila!" rutuk Elara pelan penuh dendam, menatap tajam ke arah kegelapan tempat Edgard baru saja menghilang.

"Aku harus bagaimana lagi? Kakiku sama sekali tidak bisa dipakai berjalan," keluh Elara frustrasi.

Ia memaksakan diri untuk kembali berdiri, mencengkeram erat kulit batang pohon kesemek raksasa demi menopang bobot tubuhnya yang lemas.

"Kukira menggunakan sepasang kaki akan semudah menggerakkan sirip di dalam air. Sial, ini benar-benar menyiksa!"

Kedua kaki baru Elara gemetar hebat. Saat ini, kondisinya tidak berbeda jauh dengan seekor bayi mamalia yang baru lahir dan dipaksa belajar berjalan. Ia bahkan sempat ambruk beberapa kali ke atas rumput basah.

Namun, dengan tekad sekeras baja, Siren tangguh itu menolak untuk menyerah pada keadaan. Elara kembali bangkit dan mencoba melangkah, meskipun gaya jalannya terlihat sangat aneh—mirip seperti seekor penguin yang terombang-ambing—saat ia mulai melangkah terseok-seok menuju ke arah kastil megah di depannya.

****

Sementara itu, di dalam dinding kastil yang sunyi.

"Ada apa dengan wajahmu, Gustav? Kenapa kau terlihat seperti orang yang baru saja melihat hantu?" tanya Jacob Salvatore datar.

Ilustrasi Jacob Salvatore

Langkah kaki Jacob terhenti di tengah anak tangga batu saat ia tidak sengaja berpapasan dengan asisten pribadinya.

Di bawah temaram lampu gantung kastil, Gustav tampak begitu gelisah. Pria vampir yang memiliki usia sebaya dengan Jacob itu terlihat sangat awet muda dan tampan. Jika manusia fana melihat mereka, keduanya pasti akan dikira sebagai pria matang yang baru menginjak usia kepala tiga. Namun, siapa yang menyangka jika umur asli kedua pasang mata merah itu sebenarnya sudah melintasi waktu lebih dari lima abad lamanya.

Gustav tampak gugup. Ia menggosok tengkuknya beberapa kali secara refleks. "Begini... Yang Mulia Raja. Saya tentu saja tidak melihat hantu atau makhluk menyeramkan mana pun."

Gustav tahu betul bahwa di dunia immortal, mitos tentang hantu fana sama sekali tidak ada artinya. Bahkan, dirinya sendiri yang merupakan ras Vampir murni akan jauh lebih mengerikan jika sudah berada dalam mode siaga tempur.

"Namun..." Gustav menelan ludah, membuang pandangan ke arah koridor belakang kastil yang sepi. "Saya baru saja melihat sebuah pemandangan yang... sedikit tidak senonoh di halaman belakang kastil Anda."

"Tidak senonoh?" Jacob menyipitkan mata merah darahnya. Aura dingin khas bangsawan berdarah murni seketika menguar, membuat atmosfer di sekitar tangga batu itu terasa menekan dan menyesakkan. "Jaga bicaramu, Gustav. Kastil Salvatore bukan tempat untuk bualan murah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!