Bebas dari tuduhan konspirasi penculikan yang dirancang mantan kekasihnya, Michaela Hokked (24) memilih mati demi melepaskan diri dari masa lalu yang busuk.
Namun, takdir memiliki selera humor yang kejam.
Pelariannya menuju Los Angeles hancur bersama taksi yang ia tumpangi dalam kecelakaan maut yang meremukkan wajahnya.
Enam bulan koma dan melewati enam
Kali operasi wajah, Michaela terbangun dengan rupa baru: wajah cantik milik Cecilia Lynch, wanita bermata teduh yang kecelakaan bersamanya.
Kini, Michaela terjebak sebagai 'Cecilia' di hadapan Killian Vale-Knight (28 th) pria berkuasa yang mengaku sebagai kekasih jarak jauh Cecilia.
Tanpa kecurigaan, keluarga miliarder itu menghujaninya dengan kasih sayang yang tak pernah ia miliki.
Namun, kenyataan pahit menghantam: Cecilia asli tewas dalam keadaan hamil, Mencuri identitas Cecilia adalah tiket kebebasannya, atau justru awal dari labirin misteri yang mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
006
Gemerlap lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit ruang makan utama keluarga Vale-Knight memantulkan kemilau yang magis di atas meja panjang bermaterial kayu jati kuno berlapis marmer putih.
Malam itu, di atas meja tersebut telah tertata rapi belasan alat makan perak, gelas-gelas kristal, dan hidangan kelas atas beraroma menggugah selera yang disiapkan langsung oleh koki pribadi mansion.
Meskipun Kaelor dan Suzzy—sang Daddy dan Mommy—belum juga kembali dari pertemuan bisnis mereka di pusat kota, suasana ruang makan itu sama sekali tidak sepi.
Sebaliknya, meja makan itu dipenuhi oleh energi muda dari saudara-saudara lelaki Killian.
Michaela duduk di sisi kanan Killian, berusaha mempertahankan postur tubuhnya agar tetap tegak dan anggun.
Matanya diam-diam bergerak aktif, mengamati empat orang pemuda yang duduk di hadapan mereka.
Selain si kembar Evander dan Cassander yang siang tadi sudah sempat menyapanya, kini meja makan itu diramaikan oleh kehadiran dua anggota keluarga Knight yang baru.
"Kak Cecilia, cobalah sup asparagus ini. Ini sangat bagus untuk memulihkan stamina setelah koma," ucap salah satu pria remaja yang duduk di ujung meja, menyodorkan mangkuk porselen dengan senyum sopan.
Pria itu adalah Dorian Vale-Knight. Di sebelahnya, duduk saudara kembarnya yang bernama Rowan Vale-Knight.
Keduanya tampak masih sangat muda, baru menginjak usia 18 tahun, dengan wajah yang mewarisi ketampanan tegas khas keluarga Knight, namun masih menyisakan gurat polos khas remaja yang baru lulus sekolah menengah.
Michaela tersenyum tipis, menerima kebaikan itu dengan anggukan sopan.
Dorian dan Rowan, batinnya, mengulang nama-nama itu berkali-kali di dalam kepalanya seperti sebuah mantra.
Dia harus memeras otaknya, memaksa dirinya mengingat dengan tepat silsilah keluarga besar ini agar tidak melakukan kesalahan fatal di kemudian hari.
Luar biasa. Jadi selain Killian dan saudara kembarnya yang bernama Millian, keluarga ini masih memiliki dua pasang anak kembar lagi: Evander-Cassander, dan Dorian-Rowan. Enam putra. Sempurna.
"Mommy dan Daddy sepertinya belum pulang malam ini," gumam Rowan sambil memotong daging steaknya. "Mereka pasti sedang menahan investor asing itu agar mau menandatangani kontrak pelabuhan baru."
"Biarkan saja," sahut Evander dari seberang meja sambil terkekeh. "Yang penting bagi kita, Kak Killian akhirnya tidak lagi berwajah masam seperti monster penuntut di kantor selama enam bulan terakhir. Betul kan, Cass?"
"Seratus persen akurat," timpal Cassander yang langsung disambut tatapan tajam nan mengintimidasi dari Killian.
Kedua kembar berusia 24 tahun itu langsung bungkam, meski bahu mereka berguncang menahan tawa.
Michaela memperhatikan interaksi hangat itu dengan rasa takjub yang tersembunyi.
Di balik kemewahan yang tak berseri ini, keluarga Knight memiliki ikatan persaudaraan yang sangat hidup dan penuh kasih.
Sesuatu yang terasa begitu asing, namun sangat nyaman bagi jiwa Michaela yang lama kesepian.
...oOo...
Setelah makan malam yang mewah dan penuh obrolan ringan itu selesai, Killian segera berdiri di samping kursi Michaela.
Dengan sigap dan penuh kehati-hatian, tangan kekar pria itu merengkuh pinggang Michaela, memapah tubuh wanita itu perlahan untuk menuntunnya kembali ke lantai dua, menuju kamar tamu mewahnya.
Baru saja mereka melangkah beberapa meter di koridor yang sunyi, Michaela menghentikan langkahnya.
Dia mendongak, menatap wajah tampan Killian yang berada beberapa senti di atasnya.
"Hey, Killian," ucap Michaela, nada suaranya terdengar setengah memprotes namun lembut.
"Aku bisa berjalan sendiri. Aku tidak lumpuh. Terapi fisik di rumah sakit kemarin sudah membuat kakiku cukup kuat untuk sekadar menaiki tangga."
Killian menghentikan langkahnya.
Alih-alih melepaskan rangkulannya, pria itu justru menatap Michaela dengan binar mata yang dipenuhi rasa gemas.
Sebuah senyuman jahil terukir di bibirnya yang tipis.
"Aku tahu kau wanita yang kuat, Cecilia," ucap Killian rendah.
Dia mendekatkan wajahnya, lalu dengan gerakan cepat yang tak terduga, jari telunjuknya mencubit hidung Michaela dengan lembut.
"Tapi aku hanya ingin memanjakanmu. Seandainya saja pernikahan kita sudah sah dan kita sudah resmi menjadi suami istri... jangankan memapahmu, aku bahkan siap menggendongmu ke mana saja seperti koala, Sayang."
Deg.
Jantung Michaela mendadak berdegup kencang.
Tubuhnya membeku seketika di tempatnya berdiri.
Tatapan matanya terpaku pada sepasang mata elang Killian yang memancarkan ketulusan yang teramat dalam.
Pria ini... benar-benar sangat menghormatinya.
Hubungan mereka yang telah berjalan berbulan-bulan di ponsel tidak membuat Killian bertindak murahan atau melewati batas.
Perkara menggendongnya seperti koala saja, pria itu masih memikirkan batasan dan membutuhkan ikatan suci pernikahan agar tidak menyinggung harga diri wanita yang dicintainya.
Dia adalah pria terhormat yang memperlakukan kekasihnya bak sebutir mutiara yang paling berharga di dunia.
Seketika itu juga, rasa bersalah yang teramat dingin kembali menikam ulu hati Michaela.
Lalu... bagaimana jika pria sebaik ini tahu bahwa Cecilia yang asli datang ke kota ini dalam keadaan mengandung anak pria lain? bisik suara gelap di dalam benaknya.
Cecilia... kau benar-benar wanita bodoh yang menyia-nyiakan pria sesempurna Killian. Rahasia menjijikkan apa yang sebenarnya kau sembunyikan di belakang pria setulus ini?
"Kenapa melamun, hm? Kepalamu sakit lagi?" suara Killian membuyarkan lamunan pahit Michaela.
Michaela cepat-cepat menggeleng, memaksakan sebuah senyuman manis untuk menutupi kegundahannya.
"Tidak... tidak apa-apa. Aku hanya sedikit lelah."
Killian menuntunnya kembali berjalan hingga mereka tiba di depan pintu kamar tamu Michaela.
Pria itu membukakan pintu, membiarkan Michaela masuk ke dalam ruangan yang sudah berpendar hangat oleh lampu tidur.
"Sebaiknya kau segera beristirahat," ucap Killian, bersandar pada bingkai pintu sambil menatap Michaela dengan tatapan menggoda yang jenaka.
"Tiga hari lagi, setelah pemberkatan pernikahan kita... kau tidak perlu lagi harus tidur sendirian di kamar tamu ini."
Wajah Michaela merona merah mendengar godaan itu, sebuah reaksi alami yang bahkan tidak bisa dia kendalikan.
Killian terkekeh melihat reaksi itu. Dia maju satu langkah, menundukkan kepalanya, lalu mendaratkan sebuah kecupan yang sangat lembut dan lama di kening Michaela.
Begitu menjauhkan wajahnya, Killian merogoh saku jasnya. "Ah, hampir saja aku lupa. Aku punya hadiah untukmu."
"Apa?" tanya Michaela penasaran.
Killian mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang berwarna putih dengan logo brand ponsel ternama yang paling mahal dan mutakhir saat ini. Dia menyerahkannya ke tangan Michaela.
"Ini untukmu. Ponsel lamamu hancur total dalam kecelakaan itu, dan aku tahu kau pasti bosan jika tidak bisa berselancar di internet selama masa pemulihan ini. Gunakan ini agar kau tidak terlalu kesepian di kamar. Good night, Sayang," ucap Killian lembut.
Michaela menerima kotak itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Kemurahan hati pria ini seolah tidak ada habisnya.
"Terima kasih banyak, Killian. Good night."
Killian memberikan satu senyuman terakhir sebelum melangkah mundur, menarik daun pintu, dan menutupnya dengan sangat pelan hingga terdengar suara klik yang halus.
...* . * . *...
Sepeninggal Killian Vale-Knight, keheningan malam langsung menyelimuti kamar tamu yang mewah itu.
Michaela berjalan menuju ranjang besarnya, mendudukkan diri di tepi kasur sutra yang empuk, lalu segera membuka segel kotak ponsel pemberian Killian.
Dia menyalakan perangkat digital baru itu.
Ternyata, ponsel itu sudah didaftarkan dan diatur dengan sangat baik oleh Killian.
Kartu SIM baru sudah terpasang, dan ketika Michaela membuka aplikasi kontak, hanya ada satu nama yang bertengger di daftar paling atas, ditandai dengan simbol hati: My Husband.
Michaela menatap layar itu lama, lalu sebuah senyuman getir sekaligus senang terbit di bibirnya.
Dia menyentuh dadanya yang berdesir hangat.
Ya Tuhan... aku benar-benar merasa menjadi wanita yang sangat serakah sekarang, batinnya lirih.
Ini adalah kehidupan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Dikelilingi oleh kemewahan, dihormati, dan memiliki orang-orang baik yang menyayangiku tanpa syarat... walaupun semua ini adalah hasil curian.
Namun, Michaela tahu dia tidak boleh terlena oleh kebahagiaan semu ini.
Dia harus bergerak cepat untuk mengamankan posisinya sebelum takdir kembali mempermainkannya.
Dengan jemari yang bergerak lincah, Michaela segera mengunduh aplikasi sosial media populer.
Setelah terpasang, dia tidak membuat akun baru, melainkan memasukkan nama pengguna dan kata sandi lama milik akun aslinya: Michaela Hokked.
Layar ponsel memproses data, dan dalam beberapa detik, profil lamanya terbuka.
Di sana berderet foto-foto dirinya di masa lalu—wajah aslinya yang penuh garis lelah, flat sempitnya di San Francisco, dan potongan-potongan kenangan kelam yang ingin dia lupakan.
Michaela tidak membuang waktu.
Dia langsung menuju ke menu pengaturan akun, mencari opsi paling bawah, lalu menekan tombol: Hapus Akun Secara Permanen.
Layar ponsel berkedip, meminta konfirmasi terakhir. Tanpa keraguan sedikit pun, Michaela menekan tombol setuju.
Done.
Dalam satu ketukan jari, seluruh eksistensi digital milik Michaela Hokked telah lenyap tak bersisa dari dunia maya.
Dia telah menghapus jejaknya dengan sangat bersih. Dia tidak ingin ada satu orang pun di dunia ini yang tahu, atau bahkan bisa melacak, bahwa pernah ada seorang gadis malang bernama Michaela Hokked yang hidup menderita di jalanan San Francisco.
Michaela melempar ponsel barunya ke atas kasur, lalu berjalan menuju cermin besar di sudut kamar.
Dia menatap pantulan dirinya dalam remang lampu tidur. Wajah cantik Cecilia Lynch menatapnya balik dengan keanggunan yang sempurna.
"Michaela Hokked sudah mati di dalam taksi itu," bisik wanita itu pada pantulan dirinya sendiri, matanya berkilat tajam penuh tekad yang tak tergoyahkan.
"Mulai detik ini, aku adalah Cecilia Lynch. Dan aku akan memastikan rahasia ini ikut terkubur bersama jasad wanita itu di dasar bumi."
itu Mischa kenapa muntah? mungkin kah hamil 🤨🤨🤨