NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Alkemis Abadi

Perjalanan Sang Alkemis Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kultivasi
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: En zz

Shen yifan adalah seorang pemuda yang terobsesi dengan pembuatan pil, namun sayangnya, ia tidak bisa menjadi alkemis di dunia ini hanya karena menjadi manuisa cacat.

Banyak sekali kultivator. Namun orang-orang untuk menjadi seorang alkemis di dunia ini sudah sangat jarang di temukan, bahkan menjadi salah satu kemunduran mutlak.

Salah satunya, hampir di seluruh dunia ini hanya 000,1% para kultivator yang mempunyai element api.

Salah satunya adalah kakek Shen yifan.

Apakah Shen yifan bisa menggapai cita-citanya untuk menjadi alkemis? Atau dia akan mengubah takdir secara tidak langsung, untuk menjadi alkemis sejati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon En zz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 : Kembali ke kota Istana Langit

Menjelang fajar, Desa Kabut yang semula ramai perlahan kembali tenang. Sebagian besar kultivator telah pergi dari desa ini. setelah kelelahan menjelajahi Lembah Kabut Roh, sementara hanya beberapa penjaga malam yang masih berjaga di jalanan desa.

Di dalam kamar penginapan yang sederhana, Shen Yifan masih duduk bersila di atas ranjang kayu. Matanya terpejam rapat, perlahan memulihkan energi spiritual yang hampir terkuras habis. Di sampingnya, sebuah tas anyaman berisi dua batang Anggrek Jiwa Langit tergeletak dengan tenang.

Tak lama kemudian, Shen Yifan membuka kedua matanya.

Tatapannya jatuh pada tas itu, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.

"Aku harus kembali segera."

Beberapa waktu kemudian, Shen Yifan bersiap-siap akan pergi dari desa kabut roh ini, dan akan kembali ke kota Istana langit.

"Yi Fan... Anda akan pergi pagi-pagi begini?" tanya Ye Han entah kapan ia berada di luar pintu penginapan.

"Ye Han, sejak kapan kamu disini?" Shen Yifan sedikit kaget.

Ye Han tetap berdiri dengan kedua tangan di belakang punggungnya. Wajahnya masih sedingin biasanya.

"Baru saja."

Shen Yifan mengangguk pelan. "Kukira kau masih beristirahat."

"Aku memang tidak banyak tidur." jawab Ye Han.

Shen Yifan tersenyum kecil, lalu mengalihkan pandangannya ke sekeliling. "Kalau begitu... di mana Mu Qian?"

Ye Han terdiam sejenak sebelum menjawab dengan nada datar.

"Masih tidur."

Ia berhenti sesaat, lalu menambahkan. "Semalam dia berkata ingin bangun lebih awal untuk mengantarmu."

"Namun... Dia kalah melawan selimut."

Shen Yifan terdiam sejenak, lalu terkekeh pelan. "Haha... memang seperti yang kubayangkan."

Ye Han mengangguk tipis. "Kalau kubangunkan sekarang, kemungkinan dia akan mengeluh sepanjang perjalanan."

Shen Yifan menggeleng sambil tersenyum. "Tidak perlu. Biarkan saja dia beristirahat."

Keheningan kembali menyelimuti mereka beberapa saat.

Tak lama kemudian, Shen Yifan menangkupkan kedua tangannya.

"Kalau begitu, aku pamit. Semoga kita bertemu lagi."

Ye Han membalas hormat dengan tenang. "Semoga perjalananmu lancar."

Ia menatap Shen Yifan beberapa saat sebelum berkata, "Jangan lupa janjimu."

Shen Yifan tersenyum tipis. "Tentu. Setelah aku mencapai Ranah Foundation Establishment... aku akan datang ke Sekte Awan Hijau."

Ye Han mengangguk puas. "Kalau begitu, kami akan menunggumu."

Shen Yifan tidak berkata apa-apa lagi. Ia berbalik, melangkah keluar dari Desa Kabut yang masih diselimuti embun pagi. Di bawah cahaya matahari yang baru mulai menyingsing, sosoknya perlahan menjauh, menempuh perjalanan menuju Kota Istana Langit.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pada malam harinya.

​"Kakak, kenapa tidak membawaku?!" Nangong Yue langsung menggembungkan pipinya kesal, menatap sang kakak dengan tatapan menuduh.

​Nangong Bingxue menggeleng pelan, menuangkan teh hangat ke cangkir adiknya. "Aku juga tidak menyangka akan bertemu Yi Fan di Lembah Kabut Roh. Lagipula, perjalanan kemarin cukup berbahaya."

​Setelah menyelesaikan urusannya di Lembah Kabut Roh, Nangong Bingxue memang sengaja mampir ke kediaman Keluarga Nangong sebelum kembali ke sekte. Namun, ia tidak menyangka obrolan santai di meja makan malam ini justru berujung pada interogasi dari adik kecilnya. Setiap kali menjelaskan kronologi kejadian di lembah, nama Shen Yifan tanpa sadar terus lolos dari bibirnya.

​Dan benar saja, begitu nama itu disebut untuk kesekian kalinya, sepasang mata Nangong Yue langsung berbinar cerah.

​"Jadi... Kakak benar-benar bertemu Yi Fan?" tanyanya memastikan, tubuhnya sampai condong ke depan meja.

​Nangong Bingxue mengangguk singkat. "Ya. Kami kebetulan berpapasan saat dia sedang dikejar oleh orang-orang dari Keluarga Luo."

​Nangong Yue kembali bersandar ke kursinya, kali ini sambil mengerucutkan bibir. "Hmm... Kakak curang. Bisa mengobrol seru dengannya, sedangkan aku ditinggal di rumah. Pasti Kakak sengaja bersenang-senang dengannya, kan?"

​Mendengar tuduhan tak berdasar itu, Nangong Bingxue menghela napas panjang. "Adikku sayang... kami di sana bertaruh nyawa, bukan sedang tamasya. Kami hanya kebetulan bertemu, lalu aku membantunya menyelesaikan sedikit masalah dengan Keluarga Luo. Itu saja."

​Suasana meja makan sempat hening beberapa saat. Nangong Yue masih melipat tangan di dada dengan wajah cemberut. "Tetap saja... Kakak beruntung."

​Nangong Bingxue memiringkan kepalanya, sedikit terhibur dengan tingkah manja adiknya. "Beruntung bagaimana?"

​"Bisa bertemu Yi Fan, mendengar suaranya..." Suara Nangong Yue perlahan mengecil. Ia memalingkan wajah ke arah jendela, tetapi sepasang matanya sesekali melirik sang kakak dari sudut netra. "Sedangkan aku cuma bisa mendengar ceritanya dari Kakak. Hmph... padahal aku juga ingin bertemu dengannya lagi," bisiknya lirih, hampir seperti gumaman pada diri sendiri.

​Melihat gurat kerinduan yang samar di wajah adiknya, Nangong Bingxue tersenyum tipis. "Kalau begitu, lain kali ikutlah denganku keluar sekte."

​"Deg!"

​Wajah Nangong Yue seketika merona merah. "B-bukan itu maksudku!" sergahnya buru-buru, gugup setengah mati. "Aku... Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih secara langsung karena dia sudah membantuku membuat pil waktu itu. Benar-benar tidak ada maksud lain!"

​Nangong Bingxue mengangkat sebelah alisnya, sengaja memancing. "Oh, benarkah?"

​"Tentu saja!" Nangong Yue membuang muka ke arah lain. Kedua jemarinya kini sibuk memainkan ujung lengan bajunya yang panjang, mencoba mengalihkan rasa gugup. Sialnya, rona merah di pipinya justru menjalar hingga ke telinga.

​Nangong Bingxue tidak dapat menahan senyum geli melihat reaksi defensif tersebut. "Kalau memang tidak ada maksud apa-apa... Lalu kenapa wajahmu semerah kepiting rebus?"

​"K-kakak!"

​Nangong Yue langsung menangkup kedua pipinya yang terasa panas dengan telapak tangan. "Jangan menggodaku terus!"

​"Baiklah, baiklah. Itu hanya kebetulan," ujar Nangong Bingxue, mencoba meredakan kepanikan adiknya meski binar jenaka masih terpancar dari matanya.

​"Iya, semuanya serba kebetulan..." Nangong Yue akhirnya menyerah. Ia menurunkan tangannya lalu menyandarkan dagu di atas meja, menatap kosong ke arah cangkir teh. "Tapi... kalau nanti Kakak bertemu Yi Fan lagi, jangan lupa panggil aku, ya?"

​Nangong Bingxue mengetukkan jarinya ke meja, pura-pura berpikir. "Bukankah belakangan ini kau sedang sibuk-sibuknya belajar ilmu alkimia dengan tetua?"

​"Belajar kan tetap bisa diatur waktunya." Nangong Yue menegakkan tubuhnya kembali, mengulum senyum manis yang dipaksakan agar terlihat meyakinkan. "Bertemu teman lama sesekali untuk bertukar pikiran juga bagus untuk perkembangan mental, kan?"

​Nangong Bingxue akhirnya terkekeh pelan, menyerah pada argumen cerdik adiknya. "Baiklah. Kalau ada kesempatan berikutnya, aku akan memberitahumu."

​Mendengar janji itu, mendung di wajah Nangong Yue langsung sirna. Matanya berbinar gembira, dan ia segera mengangguk penuh semangat berulang kali sambil menyembunyikan senyum lebarnya di balik lengan baju.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Matahari telah meninggi ketika Shen Yifan melanjutkan perjalanannya. Sembari Menyandang tas rajutan di bahu, ia seperti musafir. Menggunakan topi caping petani, dengan jubah hitam yang sedikit lusuh.

Shen Yifan mulai melihat kesibukan pagi menjelang siang yang hangat di sepanjang kanan dan kiri jalan setapak yang dilaluinya.

​Berbeda dengan atmosfer sekte besar yang selalu tegang dan dipenuhi ambisi, wilayah pinggiran ini terasa jauh lebih tenang dan membumi. Di hadapannya, terbentang petak-petak sawah hijau dan kebun herba yang diselimuti kabut tipis berenergi spiritual.

​Para kultivator biasa—mereka yang tidak memiliki bakat murni untuk bertarung di puncak dunia kultivasi—tampak mulai turun ke lahan mereka masing-masing. Alih-alih pedang pusaka, mereka membawa cangkul, sabit, dan keranjang anyaman di punggung.

​Di salah satu sudut sawah, Shen Yifan menghentikan langkahnya sejenak. Ia memperhatikan seorang kultivator paruh baya dengan celana yang digulung hingga lutut. Dengan gerakan tangan yang luwes, kultivator itu mengalirkan Energi Spiritual tipis dari ujung jarinya, mengendalikan aliran air parit agar mengairi tanaman padi spiritual dengan presisi tinggi tanpa merusak akarnya.

​Tak jauh dari sana, sekelompok kultivator muda tampak bahu-bahu membahu di kebun herba. Salah satu dari mereka menggunakan teknik angin tingkat rendah untuk menerbangkan dan menyebarkan benih ke tanah yang baru digemburkan, sementara yang lain mengikuti dari belakang untuk meratakannya.

​Bagi orang-orang ini, kultivasi bukanlah tentang perebutan kekuasaan atau menembus ranah keabadian, melainkan sarana untuk menyambung hidup dan memelihara alam.

​Shen Yifan menarik sedikit pinggiran topi capingnya ke bawah, menghalau sengatan matahari pagi yang perlahan mulai meninggi. Senyum tipis terukir di wajahnya yang sedikit lelah. Pemandangan bersahaja seperti ini selalu berhasil membasuh rasa penat di hatinya, terutama setelah pelarian melelahkan dari kejaran Keluarga Luo di Lembah Kabut Roh kemarin.

​Sambil membetulkan letak tali tas rajutan yang menyampir di bahunya, ia kembali melangkah. Di sela-sela aroma tanah basah dan sapaan ramah para petani yang sesekali berpapasan dengannya. "Tidak semua kultivator jahat, tidak semua orang ingin pertikaian." Ia tersenyum.

1
obeng min
mantap
sitanggang
hadeuhhh lemah bgt🙄
obeng min
lanjut💪💪💪💪💪
obeng min
💪💪💪👍👍👍👍
obeng min
upnya lama
obeng min
👍👍👍👍💪
obeng min
lanjut 💪💪💪💪💪
obeng min
manatap perbanyak upnya 🤣🤣💪💪👍👍👍
Jhon Saanz
up bang
obeng min
josss👍👍👍👍👍
Andi Akhasay: Liat ceritaku kak
total 1 replies
obeng min
lanjut👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!