Annisa Marwa harus pergi dari kehidupan keluarganya setelah dia tahu bahwa dua orang yang dia sayangi dan dia percaya menjalin hubungan dibelakangnya.
Disakiti oleh kedua orangtuanya, Dikecewakan oleh Kakak dan Tunangannya tak membuat Marwa mundur atas kepergian itu. Tak ada air mata tangisan yang mengiringi langkahnya dalam meninggalkan kota itu.
Hingga pertemuannya dengan Rayyan Al Ghafa Pangestu merubah hidupnya. Marwa menjadi wanita yang lebih tangguh dan kuat dalam menghadapi apapun.
••••••••
"Aku Marwa, Sesuai dengan namaku.. Aku akan jadi wanita tangguh dan kuat tanpa takut pada siapapun.. " Annisa Marwa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertolak Belakang
Hari hari telah berlalu. Setelah dua hari menginap dihotel, Rayyan langsung mengajak Marwa yang telah menjadi istrinya itu pulang kerumah.
Marwa kembali disambut baik oleh keluarga dari pihak suami. Baik dari keluarga itu sendiri bahkan para pekerja pun ikut menyambut Marwa dengan baik. Meski sebenarnya ada beberapa dari mereka yang kurang setuju Rayyan menikah dengan Marwa. Seorang gadis yatim piatu yang tidak tahu darimana asal usulnya mana pincang pula.
Tapi Rayyan cinta, Apa yang harus jadi masalah. Ini bukan soal harta, Tahta yang setara. Ini soal perasaan yang memang tidak boleh dipaksakan. Tidak seperti orang kaya pada umumnya, Marwa justru diperlakukan dengan sangat baik sekali.
Berbeda dengan Tania yang harus dipaksa bangun pagi oleh Ibu mertuanya, Tidak dengan Marwa. Istri dari Rayyan itu justru masih bergulat dengan selimut pagi ini.
Tidak ada yang membangunkan, Tidak ada pula yang mengusiknya. Bahkan Rayyan sendiri hanya membangunkan sang istri subuh tadi. Itupun karena harus melaksanakan kewajibannya.
Setelah itu, Marwa kembali tidur karena masih mengantuk katanya. Rayyan pun membiarkan apa yang ingin dilakukan oleh Marwa termasuk tidur kembali usai sholat subuh.
"Dia nyenyak sekali tidurnya.." Ucap Rayyan sembari menatap sang istri. Tidak akan Rayyan buat wanita itu sengsara lagi. Hidup dengannya, Rayyan akan jamin kalau Marwa akan bahagia.
Setelah memakai pakaian, Kakak dari Raisha itu mulai memakai dasi. Karena kemungkinan besok Rayyan akan mengajak istrinya untuk berobat.
Rayyan sudah niat, Dia akan melakukan apapun asal Marwa sembuh. Bukankah kepincangannya itu yang selalu dihina oleh orang-orang. Rayyan akan buat kaki istrinya kembali pulih dan akan Rayyan buktikan kalau wanita yang disia-siakan ini bisa bahagia tanpa orang-orang yang menyakitinya termasuk Tania dan Raski.
Setelah semua sudah siap, Rayyan mendekati sang istri. Pria itu mencium kening Marwa sebelum akhirnya pria tersebut berangkat ke kantor.
"Mas berangkat dulu ya.." Bisiknya, Ketika Rayyan memundurkan tubuhnya Marwa menahan pergelangan tangan pria itu.
Matanya terbuka melihat Rayyan dengan pandangan sayu.
"Mas udah mau berangkat? Kok gak bangunin aku sih?" Tanya Marwa seraya ikut bangun dan duduk. Rayyan tersenyum, Ia ikut duduk ditepi ranjang. Tatapan matanya tulus pada seorang Marwa.
"Kamu enak banget tidurnya.. Mana tega Mas bangunin.."
"Tapi kan Mas bisa bangunin aku.. Aku gak enak sama Papa dan Mama Mas.." Sebelah tangan Rayyan terangkat mengusap kepala sang istri.
"Papa dan Mama gak bakalan marah kok..
"Tapi kan aku tetap merasa gak enak Mas.. Seharusnya kan sebagai menantu harus bangun pagi.. Bantu masak Bantu beres-beres gitu.." Rayyan menggelengkan kepalanya.
"Kalo kamu ngelakuin itu, Yang ada Papa sama Mama akan tambah marah.. Kamu nikah sama Mas itu untuk dijadikan menantu bukan pembantu. Kalau kamu yang kerjain semua itu, Buat apa bayar pembantu dirumah ini.. Kamu itu menantu dirumah ini. Kamu itu dilayani bukan melayani.. Yang harus kamu layani tuh cuma Mas saja.. Dah, Ini itu udah agak siang. Mau sarapan atau lanjut tidur aja?" Marwa terdiam seolah sedang berpikir. Dia masih baru berada dikeluarga ini. Masih belum terbiasa dan masih canggung. Marwa masih malu dan merasa tidak enak.
"Sebenarnya aku lapar Mas.. Tapi.." Biasanya ia sarapan bersama dengan Rayyan. Makan siang pun Mama Adiba yang mengajaknya. Tapi pagi ini Marwa ketiduran dan bangun agak siang. Jelas dia malu untuk sarapan seorang diri.
Apalagi beberapa pembantu dirumah ini ada yang kurang suka padanya. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, Untuk apa dia malu. Dia adalah menantu dirumah ini, Bukan sok berkuasa tapi dia adalah istri Tuan muda dirumah ini.
"Mas ambilkan ya?
"Gak usah Mas.. Aku akan sarapan sendiri saja setelah ini.." Rayyan tersenyum.
"Okey kalau begitu.. Mau antar Mas ke depan?" Marwa mengangguk, Dengan hati-hati Marwa turun dari tempat tidurnya. Rayyan begitu sigap membantu istrinya itu untuk berjalan bersama.
Begitu sampai didepan pintu. Marwa meraih tangan Rayyan mencium punggung tangan pria itu.
Cup
Rayyan membalas mengecup kening sang istri. Perlakuan manis Rayyan seolah membuat Marwa lupa pada Raski terutama rasa sakit yang sempat pria itu berikan.
Rayyan adalah pria dewasa, Meski belum pernah menjalin hubungan dengan wanita tapi pria itu rahu bagaimana caranya mengambil hati wanita.
"Assalamualaikum sayang..
"Wa.. Waalaikum salam Mas...
Setelah mengantar Rayyan didepan, Marwa melangkah masuk keruang makan. Sarapan masih tersedia, Ia duduk mengambil makanan dan bersiap untuk menyantap sarapannya, Namun..
"Bisa-bisanya Tuan Rayyan milih istri yang tidak tahu asal usulnya dari mana.. Mana cacat lagi, Mending aku sih kemana-mana.." Dua orang pembantu muda datang. Marwa langsung melihat kearah mereka.
"Iya.. Kalo aku sih jadi Tuan Rayyan akan milih yang lebih cantik lagi. Yang kaya dan gak cacat.." Mendengar hinaan itu, Marwa tersenyum.
"Pantas saja Mas Rayyan tidak memilih salah satu dari kalian untuk dijadikan istri.. Karena kalian memang tidak pantas.." Balas Marwa tak mau kalah dengan dua pembantu itu. Posisinya lebih tinggi dia disini, Untuk apa Marwa takut.
"Dih, Sok-sok an.. Dasar cacat...
"Ada apa?" Papa Damian datang, Melihat kedatangan ayah mertuanya Marwa langsung mengadu.
"Pa.. Mereka sepertinya tidak suka Wawa jadi istri Mas Rayyan, Katanya karena Wawa cacat.." Dua pembantu itu langsung terbelalak kaget. Papa Damian menatap dua pekerjanya itu.
"Tuan.. Kami..
"Bereskan barang-barang kalian setelah ini..
"Tapi Tuan?
"Kalian telah membuat menantuku tidak nyaman.. Apa gunanya kalian berada disini lagi.." Perintah Papa Damian adalah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Mereka pun langsung pergi begitu saja dengan rasa sesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Apabila Marwa mulai hidup enak dengan menjadi menantu keluarga kaya. Sangat jauh berbeda dengan Tania.
Setiap jam empat pagi, Tania harus dipaksa bangun. Harus masak, Beres-beres rumah, Menyapu halaman, Menyiram tanaman serta mencabut rumput.
Dia memang pernah melakukan semua pekerjaan itu, Tapi tidak separah ini. Biasanya yang biasa melakukannya dirumah adalah Marwa. Karena setiap ingin membantu Dartik selalu melarang putrinya melakukan pekerjaan rumah.
Tania pun juga telah resign dari kantor. Dia harus memperbanyak waktu dirumah agar cepat hamil. Tapi kalau seperti ini terus? Apakah ia bisa cepat hamil?
"Jadi menantu itu ya, Harus seperti itu.. Apa gunanya jadi menantu kalau gak bisa bantu ibu mertuanya.." Ucap Muna begitu melihat Tania beres-beres sambil mengomel.
"Ya kan Tania juga mau santai Ma.. Tania ini bukan robot.."
"Berani melawan kamu?
"Tania gak melawan.. Tania cuma berkata soal fakta.. Tania bisa kok ngelakuin semua ini, Tapi kalau gak boleh istirahat sama sekali ya, Gimana? Tania juga punya rasa capek..
"Kamu!! Dulu Marwa tuh sering Mama suruh-suruh.. Tapi enggak tuh, Dia gak pernah ngeluh dan banyak protes kayak kamu.. " Ucap Muna yang mulai membandingkan Tania dan Marwa. Istri Raski itu mengepalkan kedua tangannya.
"Marwa lagi Marwa lagi..
•
•
•
TBC
Dina mana.. dina manaaa..
biar makin seru nechdrama ny 😃😃😃
gmn tuuh ,, gmn tuuuh ,,
pgen jungkir balik rasa ny aq ,, 🤸🤸🤸🤸🤸🤸🤸
aq rasa udh ijooo mukany si tania ,,
udh pulang aj ke Susan ,, dy juga istri km koq raskii ,,