Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Raka tersenyum menatap wajah istrinya yang terlelap nyenyak setelah malam penuh kehangatan itu. Seperti rencananya, begitu makan malam romantis selesai, ia segera membawa Laras pulang dengan hati yang tak sabar.
Ia meminta Laras mengenakan pakaian baru yang dibeli bersama Mama Sari. Benar saja, begitu melihatnya, Raka seketika tak mampu menahan diri. Malam itu berlalu penuh gairah, sepasang suami istri saling memuaskan keinginan satu sama lain hingga menjelang pagi. Raka seolah tak pernah puas menyentuh dan memeluk tubuh istrinya, membuat Laras kelelahan hingga tak sanggup lagi bergerak.
Kini ia berbaring di samping Laras, memeluknya erat sambil menatap wajah yang perlahan mengisi seluruh ruang hatinya. Sesekali ia mencium kening istrinya dengan lembut, lalu mengusap perutnya yang masih rata.
“Semoga kamu segera hadir, buah hati kami. Mama dan Papa sudah sangat menantikan kehadiranmu,” bisiknya pelan.
Mereka memang sudah sepakat segera memiliki anak. Raka yakin kehadiran sang buah hati akan semakin mengikat dan memperkuat ikatan cinta mereka. Hatinya makin tak sabar membayangkan kabar kehamilan itu, hingga ia sering tersenyum sendiri saat melamun.
Hari demi hari berlalu, Raka merasa betah dan damai bersama Laras. Benih‑benih cinta itu tumbuh subur, disiram kebersamaan dan percakapan yang tulus setiap hari. Ia ingat apa yang pernah dikatakan Rizki dulu, bahwa Laras adalah wanita yang sangat mudah dicintai. Kebaikan, kesabaran, dan ketulusan Laras yang menunggu cintanya tanpa menuntut, perlahan membuat Raka sepenuhnya melupakan wanita bernama Rara.
Namun pagi ini, Laras dibuat bingung dan sedikit kesal karena tingkah suaminya yang enggan melepas pelukan. Raka malas berangkat ke kantor dan terus membujuk istrinya agar ikut bersamanya.
“Kamu harus ikut, baru aku mau berangkat. Aku tidak bisa jauh darimu sekarang,” ucapnya manja.
Laras menghela napas panjang. Dulu saat baru menikah, Raka bahkan tak sudi mendengar namanya disebut, apalagi bersikap manja begini. Ia sebenarnya ingin menuruti permintaan itu, namun hari ini sudah ada jadwal kontrol rutin ke rumah sakit. Sejak Rizki mengatakan kondisi paru-parunya sempat memburuk, hati Laras selalu diliputi kekhawatiran. Ia baru saja menemukan kebahagiaan, dan berjsnji akan melakukan apa saja agar bisa tetap hidup bersama Raka, serta mewujudkan mimpi memiliki anak di masa depan.
“Kak, Kakak berangkat duluan saja ya. Nanti siang aku janji akan menyusul ke kantor. Kita bisa makan siang di luar, atau aku bawa bekal khusus buat Kakak. Aku masih sedikit lelah, izinkan aku istirahat sebentar dulu,” bujuk Laras sambil memasang wajah lesu dan pucat.
Caranya ampuh membuat Raka tak tega. Ia sadar semalam terlalu bersemangat hingga membuat istrinya kelelahan.
“Baiklah, istirahatlah dulu. Tapi ingat, nanti siang harus datang. Tidak usah masak, nanti kamu capek, kita makan di luar saja,” ucapnya lembut sebelum berangkat.
Begitu Raka pergi, Laras segera bergegas menuju rumah sakit sesuai jadwalnya. Ia menunggu antrean pemeriksaan dengan tenang hingga namanya dipanggil.
Di ruangan itu sudah ada Rizki, dokter sekaligus sepupu Raka yang kini menangani kesehatannya.
“Hai Laras, bagaimana kabarmu akhir‑akhir ini? Masih sering merasa sesak atau nyeri di dada?” tanya Rizki ramah.
“Sudah jauh lebih baik, Kak. Rasanya lebih enakan. Aku berharap kondisi paru-paruku semakin membaik seiring berjalannya waktu,” jawab Laras yang kini sudah merasa nyaman berbicara dengannya.
Rizki memang sudah melarangnya memanggil dengan sebutan dokter, menyuruhnya memanggil “Kakak” saja agar tidak canggung.
“Kalau begitu biar kita periksa dulu lebih teliti, supaya kita tahu pasti kondisinya. Semoga hasilnya memuaskan,” ucap Rizki.
Setelah memeriksa dan melihat hasil rengsen, Rizki tersenyum lega. “Seperti dugaanku, kondisinya ada kemajuan yang cukup baik, tidak separah pemeriksaan terakhir. Kamu harus rajin minum obat, makan makanan sehat, berolahraga ringan saja, dan jangan terlalu banyak pikiran. Suasana hati sangat berpengaruh pada kesehatanmu. Sepupuku itu, apakah dia sudah memperlakukanmu dengan baik sampai kamu terlihat bahagia begini?” goda Rizki hingga pipi Laras memerah malu.
Apa yang dikatakannya benar. Akhir‑akhir ini Raka sangat perhatian dan menyayanginya, membuat hati Laras damai dan bahagia. Ia pun rutin mengikuti semua anjuran Rizki demi menjaga kesehatannya agar bisa terus hidup bersama suaminya.
Melihat senyum tulus itu, Rizki yakin Raka kini sudah benar‑benar menerima Laras sepenuhnya. Ada rasa syukur dalam hatinya, karena Raka akhirnya bisa melepaskan diri dari Rara. Rizki tahu betapa buruknya latar belakang wanita itu, sering melihatnya bekerja di klub malam, bukan sekadar pengunjung biasa. Dulu ia sudah berusaha memberi tahu Raka, namun saat itu Raka buta oleh cinta dan malah menuduh Rizki iri.
“Ingat ya, jangan terlalu banyak memikirkan hal yang berat. Usahakan tetap bahagia agar kesehatanmu terjaga. Ini resep obat baru, nanti tebus di apotek, dan jangan lupa datang kembali sesuai jadwal kontrol berikutnya,” ucap Rizki sambil menyerahkan selembar kertas resep.
“Siap, Kak Rizki. Kalau begitu aku permisi dulu ya. Dan tolong, jangan sampai suamiku tahu kalau aku datang ke sini,” bisik Laras pelan.
Rizki hanya mengangguk setuju. Begitu Laras keluar, ia menghela napas panjang dan berdoa agar semuanya berjalan lancar.
" Raka sungguh beruntung memiliki istri kuat dan sebaik kamu. Ia bahkan tidak ingin membebani suaminya dengan penyakit ini. Semoga Raka sudah sepenuhnya mencintaimu dan menjagamu baik‑baik. Jangan sampai ia menyesal di kemudian hari saat kehilangan wanita seperti Laras."