NovelToon NovelToon
Takhta Berdarah Sang Don

Takhta Berdarah Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Daneen_Nis

Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.

Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.

Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 - Pilihan di Antara Peluru

Dor!

Suara tembakan mengguncang seluruh pabrik tua.

Mata Raven membelalak saat melihat titik laser merah tepat berada di dada Aurora.

Tanpa berpikir sedikit pun, ia berlari secepat mungkin.

"Aurora!"

Dalam sepersekian detik, Raven mendorong tubuh Aurora hingga keduanya terjatuh ke lantai.

Dor!

Peluru yang seharusnya mengenai Aurora justru menembus bahu kanan Raven.

Brak!

Tubuh mereka berguling di lantai beton yang dingin.

"Akh...!"

Raven meringis menahan sakit.

"Raven!" Aurora berteriak panik.

Darah segar mengalir deras dari bahu pria itu, membasahi jas hitamnya.

Aurora langsung merobek ujung bajunya dan menekan luka tersebut.

"Jangan ditekan terlalu keras," gumam Raven sambil berusaha bangkit.

"Diam!" bentak Aurora.

"Kau kehilangan banyak darah."

Di lantai dua, Vittorio menyaksikan semuanya sambil tersenyum puas.

"Jadi benar."

"Don yang tak punya kelemahan... ternyata mulai jatuh cinta."

Raven mengangkat wajahnya.

Tatapannya berubah sedingin es.

"Jangan libatkan dia."

Vittorio tertawa keras.

"Kalau begitu lindungi dia seumur hidupmu."

Ia memberi isyarat dengan tangannya.

Puluhan anak buahnya kembali mengangkat senjata.

"Tembak!"

Rentetan peluru langsung menghujani Raven dan Aurora.

Dor! Dor! Dor!

Raven menarik Aurora berlindung di balik mesin-mesin tua yang berkarat.

Percikan besi beterbangan akibat peluru.

Aurora masih menekan luka Raven.

"Kita harus keluar dari sini."

Raven menggeleng.

"Belum."

"Apa maksudmu belum?"

"Aku belum selesai."

Aurora menatapnya tak percaya.

"Kau sudah tertembak!"

"Aku masih bisa berdiri."

Benar saja.

Raven bangkit sambil menggenggam pistolnya.

Meski bahunya terluka, tatapannya sama sekali tidak berubah.

"Leo..." bisiknya pelan.

Beberapa detik kemudian...

Ledakan besar mengguncang sisi timur pabrik.

Boom!

Asap hitam memenuhi ruangan.

Seluruh anak buah Vittorio panik.

"Dari mana ledakan itu?"

Leo bersama pasukan Alvaro menerobos masuk melalui pintu belakang.

"Tuan! Kami datang!"

Raven tersenyum tipis.

"Kalian terlambat."

Leo terkekeh.

"Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali."

Pertempuran besar kembali pecah.

Suara tembakan dan ledakan saling bersahutan.

Di tengah kekacauan itu, Vittorio berhasil melarikan diri melalui lorong rahasia.

"Tuan! Vittorio kabur!" teriak Leo.

Raven hendak mengejarnya.

Namun Aurora menarik lengannya.

"Jangan!"

Raven menoleh.

"Kalau kau terus memaksa, lukamu akan semakin parah."

Raven mengepalkan tangan.

Ia sangat ingin mengejar Vittorio.

Namun tubuhnya mulai melemah akibat kehilangan darah.

Akhirnya ia menghela napas panjang.

"Tarik mundur semua orang."

Leo mengangguk.

"Siap."

Satu jam kemudian...

Mereka kembali ke mansion.

Aurora langsung membawa Raven ke ruang medis.

"Kau benar-benar keras kepala."

"Aku masih hidup."

"Itu karena pelurunya tidak mengenai bagian vital."

Aurora mulai membersihkan luka baru di bahu Raven.

"Kau tahu?"

Raven menatapnya.

"Kalau tadi kau terlambat satu detik saja..."

"...aku yang mati."

Raven tersenyum tipis.

"Itu sebabnya aku tidak boleh terlambat."

Aurora menghentikan tangannya.

"Kenapa?"

Raven terdiam beberapa saat.

Lalu, dengan suara pelan ia berkata,

"Aku sudah kehilangan terlalu banyak orang."

"Aku tidak ingin kehilanganmu juga."

Kalimat itu membuat jantung Aurora berdetak sangat cepat.

Ia menatap Raven tanpa mampu berkata-kata.

Tatapan pria itu begitu tulus.

Tidak ada kebohongan.

Tidak ada kepura-puraan.

Hanya ketakutan seorang pria yang baru menyadari bahwa seseorang telah menjadi sangat berharga baginya.

Aurora buru-buru mengalihkan pandangan agar Raven tidak melihat pipinya yang memerah.

Namun sebelum ia sempat melanjutkan perawatan, Leo masuk dengan wajah serius.

"Tuan."

"Ada apa?"

"Kami menemukan sesuatu di pabrik."

Leo menyerahkan sebuah kalung perak yang dipenuhi noda darah.

Raven langsung membeku.

Ia mengenali kalung itu.

Kalung yang sama pernah dikenakan ibunya pada malam pembantaian dua puluh tahun lalu.

Di balik liontin itu terselip secarik kertas kecil.

Dengan tangan gemetar, Raven membukanya.

Hanya ada satu kalimat.

"Pembunuh keluargamu bukan Vittorio De Luca."

Ruangan mendadak sunyi.

Raven mengepalkan surat itu erat.

Jika Vittorio bukan pelakunya...

Lalu siapa orang yang selama ini ia buru dengan penuh kebencian?

1
Sunflower_6520
Nurut ae Ra, dr pada nyawa lo melayang...
Sunflower_6520
Itu tandanya Aurora punya hati Raven... emang kayak elo? jangan kan hati, simpati aja kayaknya lo gak punya🗿
Sunflower_6520
Urusan Aurora lah, orang dia kan dokter? dimana" dokter itu tugasnya menyelamatkan, gak mungkin ada orang kritis dia biarin gitu aja
Sunflower_6520
Lama kelamaan sih Aurora bisa trauma...
Sunflower_6520
Tamu modelan apa? ini namanya penculikan 🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!