Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.
Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Sore harinya, Arin akan pergi ke rumah Bu Tini untuk mengantar semua pakaian yang sudah dia cuci dan setrika tadi. Arin mengangkat keranjang itu ke atas kepalanya, lalu melirik Zayyan yang akan mandi.
"Airnya udah ibu timba ya, nanti jangan lama-lama mandinya. Kena demam nanti." ujar Arin sebelum pergi.
"Iya Bu."
Setelah mendengar jawaban putranya Arin segera bergegas ke rumah Bu Tini, takut nanti kelamaan lagi. Harusnya cucian ini di antar semalam tapi karena insiden Zayyan yang menendang keranjangnya jadilah hari ini dia antar.
Arin tiba di rumah Bu tini yang pagarnya ber cat putih dan menjulang tinggi. Rumah paling besar di kampung ini. Anak-anaknya juga sukses dan semua bekerja di kota.
"Assalamualaikum Bu Tini...." ucap Arin dari pintu samping belakang rumah.
"Waalaikumsalam Rin, masuk aja. pintunya ngga di kunci." ucap Bu Tini dari dalam rumah.
Begitu Arin masuk wanita paruh baya yang memakai daster mahal itu terlihat membelakangi Arin sambil terus mengaduk sesuatu di atas panci.
siapa yang tidak mengenal Bu Tini, satu kampung ini sampai ke kampung sebelah pasti tahu dia. Orang paling kaya dan paling dermawan di kampung ini, dan juga salah satu orang yang paling baik pada Arin. Tak sering Bu Tini membantu finansial Arin meski tak secara langsung.
"Kok nganter nya lama amat Rin, biasanya jam sepuluh sudah kamu anatar." omel Bu Tini langsung tanpa basa basi, tangannya berdecak pinggang.
"Saya sempat mikir kamu bawa baju-baju saya kabur loh Rin. Susah mau saya laporin kamu. Mana ada gamis yang mau saya pake pengajian nanti malam lagi."
"Arin minta maaf Bu, semalam ada kendala. Jadi baju-bajunya saya cuci lagi, takut ngga bersih." ucap Arin dengan nada lirih, menundukkan kepalanya tanpa berani menatapnya lansung.
Bu Tini mendekati keranjang, memeriksa lipatan baju satu per satu dengan teliti. Mulutnya sudah bersiap untuk mengomel lagi, namun gerakannya tiba-tiba terhenti saat melihat wajah Arin. Meskipun Arin sudah berusaha menutupinya dengan bedak tipis, mata sembap, kantung mata hitam, dan wajah pucatnya tidak bisa berbohong.
Bu Tini menghela napas panjang, lalu menjatuhkan daster yang sedang diperiksanya ke dalam keranjang. Sikap ketus dan cerewetnya tiba-tiba mengendur.
"Kamu kenapa, Rin? Berantem lagi sama orang kampung? Atau si Zayyan sakit?" tanya Bu Tini, nadanya melunak, meski tetap terdengar blak-blakan.
Arin langsung menggeleng pelan. "Nggak Bu, ini cuma kurang tidur aja. Akhir-akhir ini banyak yang minta di cuciin bajunya sama Arin."
"Halah, bohong kamu. Muka kayak mayat hidup begitu dibilang gak apa-apa," ketus Bu Tini. Perempuan itu berjalan ke arah dompetnya yang terletak di atas meja makan, mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu, lalu menyelipkannya langsung ke tangan Arin. Jumlahnya jauh lebih banyak dari tarif mencuci biasanya.
"Bu....ini... ini kebanyakan," ujar Arin kaget, mencoba mengembalikan uang lebihnya.
"Sudah, ambil saja. Gak usah sok menolak. Anggap saja rezekinya Zayyan!" potong Bu Tini, namun matanya menatap Arin dengan iba.
"Saya memang cerewet, Rin. Tapi saya gak buta. Saya tahu kamu kerja keras sendirian buat anak kamu. Itu uang lebihnya buat kamu beli lauk kalian atau beliin si Zayyan jajan. Tadi saya dengar dari ibu-ibu di warung, kemarin anak-anak pada ngatain Zayyan, ya?"
Arin tersentak. Ternyata berita itu sudah menyebar secepat itu. Dada Arin kembali berdenyut perih.
"Rin..." Bu Tini menepuk bahu Arin agak keras, membuat Arin mendongak.
"Mulut orang kampung ini memang kayak sampah, gak usah kamu dengerin. Yang penting kamu kerjanya halal, kamu gak minta makan sama mereka. Pasti semalam Zayyan nangis-nangis kan.Kmu juga kalo si Zayyan nangis Jangan tunjukin muka lemah kamu di depan dia."
Air mata Arin akhirnya lolos juga. Di balik sifat Bu Tini yang bermulut tajam dan suka mengomel, wanita inilah satu-satunya orang di kampung yang tidak pernah menghakimi masa lalu Arin, dan selalu mengulurkan bantuan tepat di saat Arin hampir menyerah.
"Makasih banyak, Bu Tini... Makasih, saya ngga tahu harus gimana balas semua kebaikan ibu." bisik Arin, menggenggam uang itu dengan erat sebagai penyambung hidupnya dan Zayyan untuk beberapa hari ke depan.
Keluar dari pagar rumah Bu Tini, Arin menggenggam erat sisa uang di dalam kantong dasternya. Langkahnya terasa sedikit lebih ringan karena kebaikan wanita itu.
Arin memutuskan mampir ke warung Mbak Sri di ujung gang. Ia ingin membelikan sesuatu yang istimewa untuk membujuk Zayyan.
"Mbak Sri, beli ayamnya seperempat kilo ya. Tolong dipotong agak kecil-kecil," ucap Arin pelan saat tiba di warung yang kebetulan sedang ramai oleh beberapa ibu-ibu.
Seketika itu juga, suasana warung yang tadinya riuh langsung senyap. Beberapa pasang mata melirik Arin dari ujung kaki hingga ujung kepala. Bisik-bisik tetangga mulai terdengar, sengaja dikeraskan agar Arin mendengarnya.
"Tumben beli ayam, biasanya cuma beli tempe buntel," bisik seorang wanita bergelang emas tebal di dekat rak sayur.
"Halah, paling juga dapat belas kasihan lagi dari Bu Tini lagi. Jalur kasihan kan paling manjur buat yang gak jelas asal-usulnya," sahut yang disusul tawa kecil yang tertahan.
"Kasihan ya anaknya, masih kecil sudah harus nanggung sebutan anak..."
"Ini ayamnya, Rin. Totalnya lima belas ribu," potong Mbak Sri cepat, sengaja memotong kalimat tajam ibu-ibu tersebut karena merasa tidak tega melihat wajah Arin yang kian memucat.
"Makasih, Mbak. Ini uangnya," Arin menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan, mengambil kembalian dan kantong kreseknya, lalu bergegas pergi tanpa menoleh lagi.
Sesampainya di rumah, Arin perlahan membuka pintu kayu yang sengaja ia kunci tadi. Keadaan rumah tampak lebih rapi. Begitu melangkah ke ruang tengah, Arin tertegun sekaligus lega.
Zayyan sudah duduk di atas tikar. Rambutnya basah, badannya wangi sabun, dan ia sudah mengganti kaos lusuhnya dengan baju kaus bersih bermotif garis-garis. Meski matanya masih menyisakan rona merah akibat tangis semalam, wajahnya juga sudah terlihat jauh lebih tenang.
Mendengar langkah kaki, Zayyan menoleh. Bocah itu menatap kantong kresek hitam yang dibawa ibunya dengan pandangan penasaran yang tak bisa disembunyikan.
"Ibu bawa apa itu?" tanya Zayyan.
Arin tersenyum lebar, rasa lelahnya menguap begitu saja melihat putranya sudah mau mengajaknya bicara lagi. Ia melangkah mendekat dan memperlihatkan isi kantong plastik itu.
"Ibu beli ayam ini sedikit. Tadi dapat rezeki lebih dari Bu Tini. Kata Bu Tini sisanya buat Zayyan nanti." jawab Arin lembut.
"Zayyan mau ngga, Ibu masakan ayam goreng ketumbar kesukaan Zayyan?"
Zayyan hanya mengangguk pelan sebagai jawaban, lalu kembali menatap lantai.
"Zayyan tunggu sebentar, ya. Ibu bersihkan dulu ayamnya, terus kita makan malam sama-sama," kata Arin sembari mengusap lembut rambut basah putranya.
Zayyan tidak menolak usapan itu. Di sudut hatinya yang paling dalam, bocah kecil itu tahu bahwa tidak peduli seberapa kejam dunia luar menghakiminya, selagi masih ada ibu di sampingnya semuanya akan baik-baik saja.