Celine selalu menyukai Ares. Dia mengabadikan seluruh momen laki-laki itu di sebuah buku kecil. Ratusan foto. Lalu kini buku itu hilang, menyisakan perasaan khawatir yang menghantui Celine setiap malam.
Celine hanya tidak tahu, buku itu berada di tangan Ares. Di simpan baik-baik, menunggu waktu yang tepat untuk membuka kedok Celine.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suziehloranda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktu Mendebarkan di Perpustakaan
Jam istirahat telah usai lima belas menit yang lalu, tapi senyuman Celine tak kunjung luntur. Hal itu membuat Berlian yang duduk di sebelahnya dibuat penasaran, alisnya menukik tajam.
"Kamu ini kenapa sih, perasaan sedari pagi aneh banget. Biasanya begini karna Ares, tapi doi malah tampak biasa aja. Mencurigakan!" katanya.
"Senang aja harus dipertanyakan," Celine tidak menoleh sama sekali, ia sibuk membuka buku materi selanjutnya. Hari ini giliran Ibu Ida yang masuk, guru mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial.
Berlian hendak bertanya lebih lanjut, tapi kehadiran Bu Ida membuatnya mengurungkan niat. Gadis itu duduk tegak dengan pandangan lurus ke depan, memperhatikan ibu guru yang kini membenarkan letak kacamatanya. Sedangkan pandangannya menghunus tajam ke penjuru kelas.
"Kita lanjut materi yang tempo hari mengenai bencana alam. Kalian cari masing-masing anggota kelompok beranggotakan dua orang, setelah itu ambil riset sebanyak-banyaknya tentang satu kasus bencana, nanti dipresentasikan di pertemuan berikutnya," kata Bu Ida menerangkan.
"Ada pertanyaan?"
Serempak para murid mengatakan tidak.
"Baik kalau begitu, selamat mengerjakan, Ibu tinggal dulu karena ada rapat yang harus dihadiri," katanya kemudian memicingkan mata pada ketua kelas. "Kamu pantau anggotamu, jangan ada yang ribut, jika ingin ke perpustakaan mencari bahan, silahkan."
"Baik Bu." jawabnya.
Setelah kepergian Ibu Ida kelas tidak bisa hening seperti yang diperintahkan. Para murid sibuk mencari kelompok masing-masing dan mendiskusikan topik yang akan mereka angkat, termasuk Celine yang kini duduk diam di bangkunya.
Ocehan Berlian tidak dia hiraukan, kepalanya terus berputar pada Ares. Ia lirik laki-laki itu yang kini bangkit berdiri dari kursinya. Mengejutkannya, Ares berhenti tepat di depan meja Celine. Ia berkata, "Celine udah ada kelompok?"
Dengan polosnya gadis itu menggeleng, hal itu membuat Berlian kelabakan. "Eh maksudnya apa nih, gak ada? Trus aku apa, bukannya kit bakal sekelompok?" tukasnya tidak terima.
Celine merasa tidak enak hati. Benar, biasanya dia selalu melakukan setiap hal bersama dengan Berlian, tapi kali ini hatinya memilih Ares. "Maaf ya Berlian," katanya dengan mata berbinar, seakan memohon pengertian dari sahabatnya itu. "aku juga enggaknya pintar banget, takutnya tugas kita gak bakal selesai-selesai. Kayaknya Sandra belum punya kelompok tuh, dia pintar gak kayak aku."
Berlian merasa dikhianati, ia memicing curiga pada Ares yang memasang wajah menyebalkan. Senyumnya tipis, seakan meledek keberadaannya yang tersisihkan. Itu dari sudut pandang gadis itu.
"Kau gak ngerasa dia ini aneh tiba-tiba ngajak kau, mana tahu ada maunya. Jangan karna kau suka jadi iyakan semua kemauannya," katanya berbisik pada Celine. "Dia tahu kau suka, jangan sampai hal itu jadi dimanfaatkan olehnya."
Celine meringis malu mendengarnya, masalahnya bisikan Berlian masih cukup besar untuk dapat didengar oleh Ares. Untung saja laki-laki itu tak menunjukkan ekspresi berarti. "Iya tahu, aku gak bakal bodoh kok. Maaf ya, aku gak berniat buat jahatin kamu, Berlian tahu sendiri kan," ujarnya. "ini kesempatan emas." Ia berbisik tepat di telinga Berlian.
"Baiklah, asal kamu senang." Berlian menghela nafas berat, ia sandarkan punggungnya ke sandaran bangku. Dibukanya buku materi, tidak lagi mau menoleh pada Celine dan Ares yang kini melangkah menjauh. Keduanya hendak pergi ke perpustakaan.
...***...
"Jadi topik yang mau kita ambil apa?" tanya Celine, ia membuka buku mata pelajaran di depannya, berpura-pura sibuk. Ia ingin merasa berguna di depan Ares.
"Yang gampang dimengerti aja," kata Ares. "kalau kamu sendiri maunya apa?"
Celine berpikir sejenak. "Longsor aja, iya, kan lagi rame tuh yang di distrik B. Bisa juga kita ambil riset terkait bencana yang di sana," cetusnya. Ia tersenyum, merasa apa yang baru saja ia katakan adalah jawaban orang pintar.
Gadis itu terpaku bilamana tangan Ares mengusap pelan rambutnya. Ia mengulas senyum. "Kalau begitu, itu saja." tuturnya. Laki-laki itu menggeser bangkunya, bergerak menuju salah satu rak.
Siapa yang bilang aku bodoh, sini tak jitak. Ares aja langsung setuju waktu dengar omonganku!
"Coba baca ini," kata Ares, ia menyerahkan buku tipis dengan sampul hijau. "ini ada arsip bencana yang udah kejadian lima tahun terakhir. Baca-baca aja dulu, kalau ada yang kurang paham, tanya samaku."
"Oke."
Celine membuka buku, sementara Ares sedang melakukan riset melalui ponselnya, mengenai longsor di Distrik B. "Kejadiannya sekitar dua minggu yang lalu, sekarang lingkungannya masih dalam tahap pemulihan," katanya.
Celine dengan cepat mencatat apa saja yang Ares katakan di bukunya.
Tangannya terkepal di dagu begitu melihat angka kematian akibat bencana ini. Alisnya menukik tajam. "Bencana ini memakan 3 orang korban jiwa, banyak banget. Tapi aku masih bingung," katanya menggantung, Celine mengetuk-ngetuk pelipisnya.
"Bingung tentang?"
"Itu, kenapa masih ada korban, padahal kan udah ada peringatan dari pihak berwajib."
Ares menghela napas, ia scroll berita lebih jauh. "Katanya sirine di dua kawasan gak berfungsi."
Celine manggut-manggut, ia coret beberapa kata di bukunya, biar kelihatan profesional di mata Ares. Sejatinya detak jantungnya seolah berlomba-lomba, ia menggigit bibir bawahnya. Ia hendak menanyakan satu pertanyaan, "Gimana kalau," nafasnya tercekat, ketika Ares tepat berada di depan wajahnya. Laki-laki itu condong untuk melihat buku tulisnya.
"Iya?" Ares menaikkan pandangan, mengunci pertemuan mereka dalam ritme yang membuat jantung Celine lebih kacau. Gadis itu dengan cepat mengalihkan pandangan, menggeser bukunya supaya lebih dekat dengan Ares.
"Kita buat aja argumen tentang pemerintah yang tidak kompeten, menurutmu itu bagus?" Ia menatap keramik putih di bawah, membayangkan seberapa memalukannya wajahnya.
"Boleh, itu ide yang bagus," kata Ares, matanya ikut tersenyum. "sekarang lihat ke sini, kita tidak akan bisa belajar, jika kamu hanya memperhatikan lantai."
Celine dengan cepat menoleh.
"M—Maaf!"
Ares tertawa kecil, ia merasa senang bisa menghabiskan waktu berdua dengan Celine. Pipi gadis itu tampak gembul ketika menoleh ke bawah, rasanya ia ingin mencubitnya.
Jangan Ares, itu hanya akan membuatnya semakin tidak nyaman.
Salut banget sih author lucu gemes