NovelToon NovelToon
CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:873
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎

Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.

Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: RUPSLB Berdarah dan Pengorbanan di Balik Layar

Pukul 08.55 WIB. Ruang rapat utama lantai 40 gedung Baskoro Holding telah berubah menjadi arena eksekusi korporat yang dingin. Meja oval panjang dari kayu mahoni mewah itu dikelilingi oleh dua belas anggota Dewan Komisaris Senior dengan wajah-wajah kaku tanpa ekspresi. Di ujung meja, Aris duduk dengan menyilangkan kaki, senyuman puasnya terpancar begitu kentara, seolah-olah kursi kekuasaan di ruangan ini sudah mutlak menjadi miliknya.

Klek.

Pintu kaca tebal terbuka. Rani melangkah masuk dengan gaun formal berwarna merah marun berpotongan tegas, dipadukan dengan blazer hitam yang tersampir rapi di bahunya. Rambutnya disanggul modern, memperlihatkan leher jenjang dan rahangnya yang mengetat penuh ketegasan. Meskipun semalam dia tidak bisa tidur sedetik pun karena memikirkan Riko, hari ini dia menolak untuk terlihat seperti pecundang. Aura Alpha Woman-nya justru terpancar semakin pekat di bawah tekanan.

Rani menarik kursi di ujung meja yang berhadapan langsung dengan Aris, lalu duduk dengan punggung tegak tanpa ada keraguan sedikit pun.

"Selamat pagi, para Dewan Komisaris yang terhormat," suara Rani bergema jernih, dingin, dan berwibawa di dalam ruangan yang sunyi itu. "Mari kita mulai RUPSLB ini tanpa perlu membuang-buang waktu berharga perusahaan."

Aris terkekeh rendah, mencondongkan tubuhnya ke depan di atas meja. "Begitu terburu-buru, Rani? Tidakkah kamu ingin menunggu suami kontrakmu yang hebat itu datang untuk melindungimu?" Provokasi Aris langsung memicu bisik-bisik sinis dari beberapa komisaris tua di sekeliling meja.

Rani menatap Aris dengan tatapan tajam yang mampu menguliti harga diri pria di hadapannya. "Riko Pratama tidak ada hubungannya dengan operasional harian Rani Group. Kasus pernikahan kontrak yang sengaja Anda bocorkan ke publik hanyalah drama murah yang tidak mempengaruhi fondasi finansial perusahaan ini dari nol. Jika Anda berada di sini hanya untuk membahas gosip media, pintu keluar ada di belakang Anda, Tuan Aris."

"Cukup, Rani!" salah satu komisaris senior, teman lama ayahnya, menggebrak meja dengan raut wajah gusar. "Skandal moral pernikahan palsumu telah menurunkan nilai saham holding sebesar lima belas persen pagi ini! Sentimen publik sangat negatif! Sesuai anggaran dasar perusahaan, kami memiliki hak suara mutlak untuk menjatuhkan mosi tidak percaya dan mencopot jabatanmu sebagai CEO hari ini juga!"

Aris tersenyum menang, melemparkan selembar dokumen kerja sama investasi baru ke tengah meja. "Opsi terbaik untuk menyelamatkan holding adalah menyuntikkan modal segar dari konsorsiumku di Eropa, dan aku hanya akan menandatanganinya jika aku yang memegang kendali penuh sebagai CEO baru. Turunlah dengan terhormat, Rani, sebelum kami mendepakmu dengan kasar."

Rani mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. Jiwa bisnisnya bergolak hebat. Dia tahu, secara legalitas saham, jika para komisaris tua ini bersatu memihak Aris, dia akan kehilangan perusahaan yang dia rintis dengan darah dan air mata dari bawah. Namun, gengsi dan harga dirinya menolak untuk menyerah pada pria manipulatif seperti Aris.

Di saat yang bersamaan, dua ribu kilometer di seberang Jakarta. Pelabuhan tikus di sudut Teluk Senimba, Batam.

Hujan badai mengguyur kawasan dermaga tua yang dipenuhi oleh tumpukan kontainer berkarat. Suara gemuruh petir bersahut-sahutan, menyamarkan deru ombak laut yang ganas.

Brak!

Tubuh seorang pria kekar terlempar menghantam dinding kontainer besi hingga memicu suara denting yang sangat keras. Riko berdiri di tengah guyuran hujan, kaos taktis hitamnya sudah basah kuyup dan robek di bagian bahu, memperlihatkan guratan otot dada bidangnya yang kokoh. Di depannya, empat orang pria berbadan besar dengan parang di tangan mereka tampak mulai kelelahan, sementara di belakang mereka, Haris sedang mencoba menaiki sebuah kapal motor cepat (speedboat) dengan tas koper hitam besar di dekapannya.

"Habisi dia! Jangan biarkan tikus bangkrut itu mendekat!" teriak Haris histeris dengan wajah pucat ketakutan melihat sosok Riko yang tampak seperti malaikat maut di tengah badai.

Salah satu anak buah Haris maju menerjang, mengayunkan parangnya dengan membabi buta ke arah kepala Riko. Namun, insting dan kemampuan bertarung Riko berada di level yang jauh berbeda. Dengan manuver yang sangat cepat, Riko menghindar ke samping, mencengkeram pergelangan tangan pria itu, lalu memutarnya hingga terdengar suara gemertak tulang yang patah.

"Arghhh!"

Riko tidak memberi ampun; dia mendaratkan satu lututnya keras-keras di ulu hati pria tersebut, membuat lawan langsung terkapar pingsan di atas tanah lumpur. Tiga orang lainnya yang melihat kebrutalan fisik Riko mendadak ragu dan mundur ketakutan.

Riko menyeka darah segar yang mengalir di sudut bibirnya akibat pukulan sebelumnya. Mata elangnya mengunci lurus ke arah Haris yang sudah berada di atas dek kapal.

"Haris!" raung Riko, suaranya baritonnya menggelegar mengalahkan suara gemuruh badai. "Tiga tahun lalu kamu menjual kesetiaanmu pada Hendra dan Paman Broto untuk menghancurkanku! Hari ini, tidak akan ada tempat bersembunyi lagi untukmu di dunia ini!"

Riko melompat dengan sangat lincah, menerjang masuk ke atas dek kapal tepat saat mesin kapal mulai menderu keras. Haris yang panik langsung mencabut sebuah pisau lipat dari sakunya dan mengayunkannya secara asal. Riko dengan mudah menepis tangan Haris, mencengkeram kerah bajunya, dan membanting tubuh mantan orang kepercayaannya itu ke atas lantai kayu dek.

Brak!

Riko menekan leher Haris dengan satu lututnya, membuat pria itu terbatuk-batuk kehabisan napas. Riko menyambar koper hitam yang didekap Haris, merobek kuncinya dengan paksa, dan memeriksa isinya di bawah guyuran air hujan.

Di dalam koper itu, selain tumpukan uang dolar, terdapat sebuah diska lepas (flashdisk) emas berkode enkripsi khusus dan lembaran dokumen asli pengalihan aset Pratama Corp tiga tahun lalu. Namun, mata elang Riko terpaku pada beberapa lembar dokumen tambahan yang diselipkan di bagian bawah koper—sebuah dokumen transaksi internal Baskoro Holding yang menunjukkan aliran dana korupsi Paman Broto yang sengaja digunakan untuk menyuap dewan komisaris holding demi memuluskan jalan Aris merebut perusahaan Rani!

Mata Riko melebar sejenak. Otak bisnisnya yang encer langsung bekerja dalam hitungan detik. 'Bajingan-bajingan ini tidak hanya menghancurkanku, tapi mereka juga menggunakan sisa uang jarahan dari perusahaanku untuk menjebak Rani dari dalam perusahaannya sendiri...'

Rasa amarah dan cemburu yang sempat membakar dadanya semalam mendadak menguap, digantikan oleh rasa protektif mutlak yang menggebu-gebu. Riko menyadari sesuatu: Rani sedang bertarung sendirian di Jakarta melawan konspirasi yang jauh lebih besar dari sekadar skandal media. Dan bukti di tangannya ini adalah satu-satunya senjata yang bisa menyelamatkan wanita itu.

Riko menarik kerah baju Haris hingga wajah pria pengkhianat itu berjarak beberapa senti dari wajahnya. "Hubungi tim hukumku sekarang juga, kirim seluruh data digital di dalam flashdisk ini langsung ke proyektor ruang rapat utama Baskoro Holding Jakarta! Sekarang juga, bajingan!" bentak Riko dengan aura kepemimpinan elang pemangsa yang mutlak.

Kembali ke ruang rapat lantai 40 di Jakarta.

Tensi sudah berada di titik didih. Aris mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja dengan tidak sabar. "Waktu Anda sudah habis, Rani. Angkat tangan Anda dari meja ini, atau kami akan memanggil keamanan untuk mengawal Anda keluar secara tidak hormat. Mosi tidak percaya resmi dijatuhkan!"

Rani berdiri dari kursinya, memegang tepi meja dengan tangan yang bergetar menahan amarah dan harga diri yang terluka. Matanya menatap tajam ke arah dewan komisaris. Di saat dia merasa dunianya benar-benar akan runtuh sendirian—

Bzzzzt... Klik!

Layar proyektor besar di belakang kursi Rani mendadak menyala secara otomatis, memotong sistem kelistrikan presentasi internal kantor.

Sebuah folder data digital terbuka secara paksa di layar, menampilkan dokumen transaksi perbankan luar negeri dengan logo resmi otoritas keuangan internasional. Nama Aris dan Paman Broto tertera jelas di sana sebagai pihak yang menerima dan menyalurkan dana suap senilai ratusan miliar kepada enam orang Dewan Komisaris Senior yang duduk di ruangan tersebut untuk memalsukan suara mosi tidak percaya terhadap Rani!

Seluruh ruangan mendadak senyap bagai kuburan. Enam komisaris tua yang namanya tercantum di layar langsung pucat pasi, beberapa di antara mereka menjatuhkan pulpen mereka ke atas meja karena syok luar biasa.

Aris melompat dari kursinya, wajah tampannya berubah drastis menjadi penuh kepanikan. "Apa-apaan ini?! Siapa yang meretas sistem ini?! Matikan layarnya sekarang!"

Tiba-tiba, pengeras suara di ruang rapat berbunyi, memancarkan suara bariton yang sangat berat, dingin, penuh kemenangan, disertai suara latar belakang deru angin badai dan ombak laut yang riuh.

"Jangan dimatikan, Tuan Aris. Pertunjukannya baru saja dimulai."

Rani tersentak, jantungnya berdegup kencang mendengar suara itu. Air mata yang sejak tadi dia tahan hampir saja luruh, bukan karena takut, melainkan karena rasa takjub dan haru yang luar biasa. 'Riko... dia melakukannya lagi... dia kembali menjadi tameng hidupku dari kejauhan.'

"Saya, Riko Pratama, pemilik legal dari bukti sabotase ini," suara Riko bergema di speaker dengan otoritas yang tak terbantahkan. "Haris sudah berada di tanganku bersama seluruh dokumen asli konspirasi kalian. Pihak Kepolisian Pusat dan OJK sudah menerima salinan data ini semenit yang lalu. Aris, dan kalian para komisaris korup... selamat menikmati sisa hari kalian di balik jeruji besi."

Rani menatap layar, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Aris dengan senyuman Alpha Woman-nya yang kembali menyala dengan kepuasan mutlak. Gengsi dan tembok pertahanan mereka boleh saja tinggi, namun di tengah badai ini, mereka baru saja membuktikan bahwa tidak ada satu pun konspirasi di Jakarta yang bisa merobek ikatan dua predator yang saling melindungi di balik layar.

1
Markario Putra
Mohon tinggalkan komentar kalian untuk karya baru ku ini gaiss,ini karya aku yg ke 3 gaiss,maklumm lah penulis baruu😄😄😄
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!