NovelToon NovelToon
SAJADAH Di Atas BARA

SAJADAH Di Atas BARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.

happy reading💗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DINDING PUTIH DAN KETULUSAN YANG BENING

Ketakutan yang sempat mencekam lorong rumah sakit perlahan-lahan mulai mengurai begitu perawat paruh baya itu mengembuskan napas lega sebelum menjelaskan kondisi di dalam ruangan.

“Pasien mengalami benturan yang cukup keras di bagian kepala dan ada beberapa luka memar di lengan serta bahunya,” jelas perawat tersebut dengan nada tenang, mencoba menurunkan tensi kepanikan Fatih dan Aisyah. “Namun alhamdulillah, beruntung sekali luka fisiknya tidak sampai memerlukan tindakan operasi darurat. Saat ini dokter di dalam sedang menjahit luka robek kecil di bagian pelipisnya. Secara keseluruhan kondisinya stabil, hanya saja dia belum sadarkan diri karena efek syok dan benturan tersebut.”

Fatih dan Aisyah serempak mengembuskan napas lega yang teramat dalam. Bahu Aisyah yang tadinya menegang kini tampak melorot, bersyukur karena sahabatnya terlindungi dari marabahaya yang lebih besar.

Namun, sebelum perawat itu kembali masuk, ia menatap Fatih dan Aisyah bergantian dengan kening berkerut. “Selain itu... pasien tadi dibawa ke sini bersama seorang laki-laki yang posisinya menyetir mobil. Kondisi laki-laki itu terluka cukup parah di bagian kepala karena hantaman setir. Apa Mas dan Mbak mengenal beliau? Kalau tidak salah, dari dompetnya tertera nama Rayn.”

Mendengar nama itu disebut, Fatih dan Aisyah seketika saling bertatapan. Aisyah mengerutkan kening karena benar-benar asing dengan nama tersebut. Sementara Fatih, raut wajahnya mendadak mengeras. Ingatannya langsung berputar pada kejadian sore kemarin, saat seorang lelaki berengsek mencoba berbuat kasar pada Maira di pinggir jalan. Fatih yakin, lelaki yang dimaksud suster itu adalah orang yang sama.

“Maaf, Suster, kalau untuk lelaki itu saya kurang tahu pasti. Mungkin nanti setelah ini saya coba lihat ke ruangannya,” ucap Fatih dengan nada tenang namun tegas, menyembunyikan gejolak emosi di dadanya.

“Baik kalau begitu, Mas, Mbak. Saya permisi dulu untuk menyelesaikan tindakan penjahitan luka pasien Maira,” pamit perawat itu sebelum kembali menghilang di balik tirai hijau.

Satu jam berlalu dengan lambat di dalam ruang IGD yang dingin. Bau antiseptik dan suara monitor detak jantung menjadi latar belakang keheningan malam yang kian larut. Setelah penanganan selesai, Maira akhirnya dipindahkan ke bangsal observasi sementara.

Perlahan-lahan, kelopak mata Maira yang terasa teramat berat mulai bergerak. Perlahan ia membuka matanya, mengerjapkan pandangan yang sempat kabur oleh pendaran lampu putih langit-langit rumah sakit. Rasa pening yang luar biasa langsung menyerang kepalanya, disusul rasa perih yang berdenyut di pelipis kiri serta linu di sepanjang lengan dan bahunya.

Maira meringis pelan, mencoba mengingat apa yang terjadi. Kejadian mengerikan saat ia diseret Rayn, jilbab pashminanya yang robek, hingga lampu sorot truk besar dan benturan keras itu berkelebat cepat di otaknya.

“Mbak Maira? Alhamdulillah... Mbak, akhirnya Mbak sadar juga!”

Suara pekikan lirih yang sarat akan rasa syukur itu membuat Maira menolehkan kepalanya perlahan ke sisi kanan. Di sana, duduk Aisyah yang langsung menggenggam erat jemari tangannya. Wajah Aisyah terlihat sembap dengan mata yang memerah, pertanda gadis itu sudah menangis lama sekali.

Maira mengerutkan keningnya, suaranya terdengar sangat parau dan lemah saat mencoba berbicara. “Syah... kenapa... kenapa Lo bisa ada di sini?”

Aisyah menghapus sisa air mata di sudut matanya dengan ujung kerudung, lalu tersenyum manis. “Tadi aku ditelepon sama warga yang nolongin Mbak di lokasi kecelakaan. Pas tahu Mbak masuk IGD, aku panik banget, makanya aku langsung ke sini sama Mas Fatih.”

Mendengar nama satu lagi disebut, jantung Maira mendadak berdesir, memicu rasa tak percaya di tengah kondisi tubuhnya yang lemah. “Fatih... Fatih juga kesini, Syah?”

Aisyah mengangguk mantap. “Iya, Mbak. Malahan Mas Fatih yang ngebut banget bawa motor biar kita cepat sampai. Tapi barusan dia keluar sebentar, pamit ke masjid rumah sakit buat salat malam dulu... katanya mau sekalian doain kesembuhan Mbak Maira di sepertiga malam.”

Deg. Dada Maira bergemuruh hebat mendengar penuturan Aisyah. Di saat dirinya baru saja berniat mengubur perasaan minder dan menganggap dirinya tidak pantas, lelaki sealim Fatih justru meluangkan waktu di atas sajadah malamnya untuk mengetuk pintu langit demi kesembuhannya. Rasa haru dan bersalah bercampur aduk menjadi satu, membuat mata Maira berkaca-kaca.

“Maaf ya, Syah... gue bener-bener jadi ngerepotin kalian berdua sampai larut malam gini,” ucap Maira lirih dengan senyum miris, merasa menjadi beban bagi orang-orang baik di sekitarnya.

Aisyah langsung menggelengkan kepalanya cepat, mempererat genggaman tangannya pada jemari Maira. “Gak apa-apa kok, Mbak! Jangan ngomong gitu ah. Oh iya, sekarang... apa Mbak Maira mau aku hubungin keluarga Mbak? Biar ada yang nemenin di sini. Kasih tahu aja nomornya, biar aku yang telepon sekarang.”

Mendengar tawaran Aisyah, binar mata Maira mendadak meredup drastis. Ia memalingkan wajahnya sedikit ke arah langit-langit ruangan, menelan ludah getir yang menyumbat tenggorokannya.

“Gak perlu, Syah... lagian, gue gak punya siapa-siapa lagi di sini,” ucap Maira dengan nada suara yang teramat datar namun sarat akan kesendirian yang mendalam. Ibunya yang acuh, ayah tirinya yang berengsek, membuat Maira terbiasa hidup sebatang kara dan berjuang sendirian di dunia yang kejam ini.

Mendengar jawaban jujur dari Maira, Aisyah seketika terdiam seribu bahasa. Ada rasa iba dan sesak yang mendalam merayapi hati Aisyah. Ia menatap lekat wajah senior kerjanya ini. Ternyata, di balik sifat Maira yang ceria, ceplas-ceplos, dan tampak kuat di kafe, wanita ini menyimpan kesepian yang teramat pekat. Aisyah kini paham, pantas saja jika dulu hidup Maira sempat kehilangan arah dan terjerumus ke dunia malam; karena memang tidak ada satu pun benteng keluarga yang mendekap dan mengarahkannya pulang.

Di tengah keheningan yang sempat tercipta, suara derit pintu ruangan yang dibuka perlahan memecah suasana. Sosok Fatih melangkah masuk dengan langkahnya yang selalu tenang dan sopan. Wajahnya terlihat begitu segar dan damai setelah basuhan air wudu dan sujud tahajudnya. Begitu menyadari Maira sudah membuka mata dan bisa bersandar sedikit di bantal, seulas senyum lega yang teramat tulus terbit di wajah tampan Fatih.

“Alhamdulillah... Mbak Maira ternyata sudah sadar,” ucap Fatih dengan nada baritonnya yang menyejukkan dada. Ia berdiri di jarak yang aman, menjaga pandangan dan batas kesopanan.

Maira menatap Fatih, mencoba menahan rasa sakit di pelipisnya yang berdenyut. “Fatih... kalian kalau mau pulang, pulang aja. Ini udah malam banget loh, pasti capek. Gue gak apa-apa kok di sini sendiri, udah biasa juga,” tutur Maira mencoba tegar, meski ringisan kecil sempat lolos dari bibirnya saat ia mencoba menggerakkan bahunya yang memar.

Aisyah langsung memotong perkataan Maira dengan nada merengut manja. “Gak apa-apa, Mbak Maira! Kita gak bakal pulang dan ninggalin Mbak sendirian. Tadi juga sebelum Mas Fatih ke masjid, kami udah kabarin Umi di rumah kok kalau kami bakal stand by di rumah sakit malam ini. Ya kan, Mas?”

Fatih mengangguk pelan, mendukung ucapan adiknya. “Iya, Mbak. Umi sudah tahu dan Umi juga titip salam serta doa buat kesembuhan Mbak Maira. Jadi Mbak tidak perlu khawatir memikirkan kami.”

Air mata yang sejak tadi ditahan Maira akhirnya lolos juga melewati pipinya yang pucat. Ia menangis bukan karena menahan sakit fisik di tubuhnya, melainkan karena kebaikan keluarga ini yang terasa terlalu mewah untuk wanita penuh dosa seperti dirinya.

“Maaf ya... gue bener-bener minta maaf karena selalu jadi beban dan ngerepotin kalian terus,” ucap Maira di sela isak tangisnya yang tertahan.

Fatih menatap Maira dengan pandangan mata yang teramat teduh, sebuah tatapan yang seolah mampu meruntuhkan seluruh dinding pertahanan rendah diri yang Maira bangun di dalam hatinya.

“Sudah, tidak apa-apa, Mbak Maira. Jangan dipikirkan lagi,” ucap Fatih dengan kelembutan yang teramat nyata. “Sekarang yang paling penting Mbak istirahat saja dulu. Tenangkan pikirannya, biarkan tubuhnya pulih. Urusan yang lain, biar menjadi urusan nanti.”

Kata-kata Fatih malam itu terasa seperti selimut hangat yang membungkus jiwa Maira yang sedang rapuh. Di dalam ruangan rumah sakit yang bernuansa putih dan dingin itu, di tengah rasa perih dan kesendirian yang selama ini ia peluk erat, Maira akhirnya menyadari satu hal: Tuhan tidak benar-benar meninggalkannya. Lewat perantara ketulusan bening dari Aisyah dan ketenangan dari Fatih, Maira tahu ia sedang dituntun untuk pulang ke jalan yang aman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!