"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat
Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.
Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.
Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.
Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34.
Di dalam gua yang sunyi itu, Leon menarik napas panjang, menenangkan detak jantungnya yang sedikit berdebar. Ia meletakkan buku catatan cokelat itu di atas pahanya, lalu membukanya perlahan hingga sampai di halaman terakhir yang masih kosong, persis seperti yang dijelaskan Reza.
Jari-jarinya menyentuh kertas yang terasa hangat, seolah menyimpan nyawa sendiri. Ia memusatkan seluruh pikirannya mengingat wajah Liora, tawa Zarek, kebijaksanaan Valgus, dan setiap sudut dunia yang pernah menjadi tempat perlindungannya. Dengan suara lantang namun tenang, ia mulai mengucapkan rangkaian kata kunci yang diajarkan Reza, diiringi getaran perasaan rindu yang tulus.
Tak lama kemudian, halaman buku itu mulai memancarkan cahaya keperakan yang semakin terang, memenuhi seluruh ruang gua. Angin berhembus kencang meski tidak ada celah yang terbuka, dan tanah di sekitarnya bergetar pelan. Leon merasakan tubuhnya terasa ringan, seolah ditarik perlahan ke dalam pusaran cahaya yang berputar semakin cepat. Sebelum sepenuhnya terhanyut, ia sempat berbisik, “Gue janji akan kembali.”
Sesaat kemudian, cahaya itu menghilang. Di tempat Leon duduk, kini hanya tersisa buku catatan yang tergeletak tertutup rapat.
Sementara itu, tidak jauh dari mulut gua, Bimo yang mengikuti diam-diam mengintip dari balik semak-semak. Matanya terbelalak melihat apa yang baru saja terjadi. Begitu suasana kembali hening, ia segera berjalan mendekat dengan langkah tergesa namun hati-hati. Ia mengambil buku catatan itu dengan tangan gemetar, senyum licik mengembang di wajahnya.
“Ternyata benar… pintunya benar-benar ada,” gumamnya pelan.
Ia duduk di tempat yang sama, membuka halaman terakhir, dan mencoba mengucapkan kata-kata yang ia hafal dari penjelasan Reza. Namun berbeda dengan Leon, hatinya dipenuhi ambisi, iri hati, dan keinginan untuk menguasai. Cahaya yang muncul pun berwarna abu-abu suram, tidak secerah dan sehangat sebelumnya. Getaran yang terasa justru lebih kasar, seolah menolak kehadirannya. Namun dengan paksaan sekuat tenaga, Bimo tetap memaksakan kehendaknya, hingga akhirnya ia pun terseret masuk ke dalam pusaran itu.
Di sisi lain, saat cahaya mereda, Leon mendapati dirinya berdiri tegak di atas rumput hijau yang lembut. Udara yang ia hirup terasa segar dan harum, dipenuhi aroma bunga dan tanah basah. Di hadapannya terbentang pemandangan yang sangat ia rindukan: pepohonan raksasa dengan daun yang berkilauan, sungai yang airnya jernih berkilau terkena sinar matahari, dan di kejauhan tampak siluet menara Kerajaan Cahaya yang menjulang tinggi.
“Gue berhasil…” bisiknya dengan suara bergetar, penuh rasa syukur dan bahagia.
Belum sempat ia melangkah lebih jauh, suara langkah kaki cepat terdengar dari arah semak-semak. Tak lama kemudian, tiga sosok muncul. Zarek dengan senyum lebar, Valgus yang tampak lega, dan di belakang mereka, Liora yang berdiri mematung, matanya berkaca-kaca melihat sosok yang selama ini ia nantikan.
“Leon?” panggil Liora pelan, seolah takut ini hanya ilusi.
Leon tersenyum lebar, berjalan menghampiri mereka. “Iya, ini aku. aku kembali.”
Namun di tengah kebahagiaan itu, tiba-tiba tanah di sekitar mereka bergetar hebat. Angin berubah menjadi dingin dan kencang, serta muncul cahaya abu-abu yang tidak wajar dari arah hutan sebelah. Wajah Liora, Zarek, dan Valgus seketika berubah serius.
“Ada sesuatu yang salah,” ujar Valgus dengan nada waspada. “Ada kekuatan asing yang memaksa masuk. Kekuatan itu gelap dan penuh keserakahan.”
Leon tertegun. Ia tidak tahu bahwa di saat yang hampir bersamaan, orang yang ia anggap teman telah membuka pintu yang sama dengan niat yang sangat berbeda dan kini, keseimbangan dunia yang damai itu mulai terancam.
Aku sudah mencium baunya. /Doge/
(Dan jangan di tempat umum juga sih~) 😌
Nanti kalau Leon jadi sama Liora... gimana??
Tinggalnya dimana?
Terus kalaupun ada jembatan antara dua dunia... bingung juga sih...
maksudku...
Di dunia cerita dia beristri, putri dari kerajaan cahaya pula.
Sementara di dunia nyata ibu-ibu masih suka nanya, “Leon kapan nikah?” 😭
Semangat yah, aku kasih 2 bunga deh./Rose/👍
Mana scene pas matinya itu kayak masih berada cepet banget.
Paling kekurangan besar cerita ini... dramanya sih.
(Ya... lain kali aja aku jabarkan lebih jelas soal ini.)
Atau apakah gini...
Tulisan yang dimaksud kayak tulisan yang tugas-tugas gitu, tapi kalau buat nulis novel masih belum...?
Ya... meskipun emang salah, kalau dia langsung nge-bogem juga Dimas jadi ikutan salah. Bayangin aja baru bangun, masih di RS, terus dipukul. /Facepalm/