NovelToon NovelToon
Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Romansa Fantasi / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat

Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.

Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.

Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.

Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 34.

Di dalam gua yang sunyi itu, Leon menarik napas panjang, menenangkan detak jantungnya yang sedikit berdebar. Ia meletakkan buku catatan cokelat itu di atas pahanya, lalu membukanya perlahan hingga sampai di halaman terakhir yang masih kosong, persis seperti yang dijelaskan Reza.

Jari-jarinya menyentuh kertas yang terasa hangat, seolah menyimpan nyawa sendiri. Ia memusatkan seluruh pikirannya mengingat wajah Liora, tawa Zarek, kebijaksanaan Valgus, dan setiap sudut dunia yang pernah menjadi tempat perlindungannya. Dengan suara lantang namun tenang, ia mulai mengucapkan rangkaian kata kunci yang diajarkan Reza, diiringi getaran perasaan rindu yang tulus.

Tak lama kemudian, halaman buku itu mulai memancarkan cahaya keperakan yang semakin terang, memenuhi seluruh ruang gua. Angin berhembus kencang meski tidak ada celah yang terbuka, dan tanah di sekitarnya bergetar pelan. Leon merasakan tubuhnya terasa ringan, seolah ditarik perlahan ke dalam pusaran cahaya yang berputar semakin cepat. Sebelum sepenuhnya terhanyut, ia sempat berbisik, “Gue janji akan kembali.”

Sesaat kemudian, cahaya itu menghilang. Di tempat Leon duduk, kini hanya tersisa buku catatan yang tergeletak tertutup rapat.

Sementara itu, tidak jauh dari mulut gua, Bimo yang mengikuti diam-diam mengintip dari balik semak-semak. Matanya terbelalak melihat apa yang baru saja terjadi. Begitu suasana kembali hening, ia segera berjalan mendekat dengan langkah tergesa namun hati-hati. Ia mengambil buku catatan itu dengan tangan gemetar, senyum licik mengembang di wajahnya.

“Ternyata benar… pintunya benar-benar ada,” gumamnya pelan.

Ia duduk di tempat yang sama, membuka halaman terakhir, dan mencoba mengucapkan kata-kata yang ia hafal dari penjelasan Reza. Namun berbeda dengan Leon, hatinya dipenuhi ambisi, iri hati, dan keinginan untuk menguasai. Cahaya yang muncul pun berwarna abu-abu suram, tidak secerah dan sehangat sebelumnya. Getaran yang terasa justru lebih kasar, seolah menolak kehadirannya. Namun dengan paksaan sekuat tenaga, Bimo tetap memaksakan kehendaknya, hingga akhirnya ia pun terseret masuk ke dalam pusaran itu.

Di sisi lain, saat cahaya mereda, Leon mendapati dirinya berdiri tegak di atas rumput hijau yang lembut. Udara yang ia hirup terasa segar dan harum, dipenuhi aroma bunga dan tanah basah. Di hadapannya terbentang pemandangan yang sangat ia rindukan: pepohonan raksasa dengan daun yang berkilauan, sungai yang airnya jernih berkilau terkena sinar matahari, dan di kejauhan tampak siluet menara Kerajaan Cahaya yang menjulang tinggi.

“Gue berhasil…” bisiknya dengan suara bergetar, penuh rasa syukur dan bahagia.

Belum sempat ia melangkah lebih jauh, suara langkah kaki cepat terdengar dari arah semak-semak. Tak lama kemudian, tiga sosok muncul. Zarek dengan senyum lebar, Valgus yang tampak lega, dan di belakang mereka, Liora yang berdiri mematung, matanya berkaca-kaca melihat sosok yang selama ini ia nantikan.

“Leon?” panggil Liora pelan, seolah takut ini hanya ilusi.

Leon tersenyum lebar, berjalan menghampiri mereka. “Iya, ini aku. aku kembali.”

Namun di tengah kebahagiaan itu, tiba-tiba tanah di sekitar mereka bergetar hebat. Angin berubah menjadi dingin dan kencang, serta muncul cahaya abu-abu yang tidak wajar dari arah hutan sebelah. Wajah Liora, Zarek, dan Valgus seketika berubah serius.

“Ada sesuatu yang salah,” ujar Valgus dengan nada waspada. “Ada kekuatan asing yang memaksa masuk. Kekuatan itu gelap dan penuh keserakahan.”

Leon tertegun. Ia tidak tahu bahwa di saat yang hampir bersamaan, orang yang ia anggap teman telah membuka pintu yang sama dengan niat yang sangat berbeda dan kini, keseimbangan dunia yang damai itu mulai terancam.

1
Sarah
Ini karya yang bagus sih, Kak Anggita. Aku suka sama pesan tentang menerima takdir dan Leon yang akhirnya sadar tempatnya itu di dunia nyata. Aku juga suka sama endingnya yang kerasa adem banget terus penuh dengan pesan saling memaafkan juga. Aku juga suka sama proses tentang sihir Reza itu yang akhirnya beneran ditunjukkan awal mulanya. Saran aku sebagai pembaca bener-bener ditampung dan dipertimbangkan. Ceritanya santai dan ringan banget. Aku pasti bakal rate sih, Kak. Meski bukan sekarang. 👍
Sarah
Nah ’kan~
Aku sudah mencium baunya. /Doge/
Sarah
Laki-laki juga boleh nangis, kok. Kalian kan juga manusia. Cuma turun-turunin ego aja~
(Dan jangan di tempat umum juga sih~) 😌
Sarah
Ia, tempatmu di sini, Leon. Kecuali kalau kamu bener-bener mati di dunia nyata terus isekai. Jodohmu cari yang satu dimensi aja. 😂
Sarah
Sejak awal juga sebenarnya aku bingung...
Nanti kalau Leon jadi sama Liora... gimana??
Tinggalnya dimana?
Terus kalaupun ada jembatan antara dua dunia... bingung juga sih...
maksudku...
Di dunia cerita dia beristri, putri dari kerajaan cahaya pula.
Sementara di dunia nyata ibu-ibu masih suka nanya, “Leon kapan nikah?” 😭
Sarah
Baru tau kekuatan dukun bisa untuk isekai... mau juga dong... 😭
Sarah
Meskipun aku kritik bukan berarti aku benci yah.
Semangat yah, aku kasih 2 bunga deh./Rose/👍
Sarah
Sayangnya kematian Liora masih terasa kurang emosional. Kurang pendalaman emosi sama reaksi karakter lain (selain Leon. Zarek, Valgus, Raja, semuanya juga orang terdekat Liora. Padahal mereka orang yang bahkan lebih lama bersama Liora, Tapi yang di highlight paling terpukul... Leon doang. Zarek reka Liora sejak lama, Valgus... dulunya musuh tapi sekarang temannya juga, Raja... ya... bayangin aja, putri kesayangan lu satu-satunya mati di hadapan lu. Harusnya yang paling terpukul gak cuma Leon doang. Reaksi karakter lain gak langsung tegar dan suruh Leon balik. Masih ada tahap renungan dulu pasca tubuh Liora memudar.)
Mana scene pas matinya itu kayak masih berada cepet banget.
Paling kekurangan besar cerita ini... dramanya sih.
(Ya... lain kali aja aku jabarkan lebih jelas soal ini.)
Sarah
Aku jadi bertanya-tanya lagi, Leon ini sebenarnya penulis hebat atau amatir sih? Kalau di bilang yang udah jago rasanya gak mungkin deh. Karena ya... dunia cerita dia ajak se-gak jelas itu. Dan jujur tokoh-tokoh di dunia ceritanya Leon masih kerasa kaku kurang natural dan ada vibe klise nya juga. Tapi, dipuji guru yah?... bagus dong tulisannya.
Atau apakah gini...
Tulisan yang dimaksud kayak tulisan yang tugas-tugas gitu, tapi kalau buat nulis novel masih belum...?
Sarah
Gue pikir bakal di bogem. Untung kagak. Biasanya kan gitu di cerita-cerita film/novel. 😂
Ya... meskipun emang salah, kalau dia langsung nge-bogem juga Dimas jadi ikutan salah. Bayangin aja baru bangun, masih di RS, terus dipukul. /Facepalm/
Sarah
Kamu masih punya ortu dan temen-temenmu, Leon...
Sarah
Wait, meskipun aku gak terlalu sedih sih tapi... agak gak nyangka juga dia bakal mati sekarang. 😦😮
Sarah
Jangan lupa mie instan, Bang~ 😌
Sarah
Mon maap, Leon udah berapa hari di dunia cerita yah? Takut gak bisa balik eyy. Asaan udah lamaa. /Scowl/
Sarah
Nama, thor. Biasakan huruf awal kapital.
Sarah
Masa selamanya? Nanti layu dong. 😂
Wulandari Ayuningtyas
Semangat thor💪
Ananda Anggit: semangat💪💪
total 1 replies
Sarah
Kalau menurutku... Bimo emang gak sejahat itu sih, dia iri aja itu mah. Coba pikirin deh, 5 tahun koma... tidak sadarkan diri, titik paling tak berdaya, itu bukan waktu yang singkat lho. Dalam jangka waktu itu kalau Bimo mau, dia bisa aja bunuh Leon. Diam-diam tinggal cabut alat-alat rumah sakit yang ada badannya, atau bisa lewat cara apa aja asal diam-diam. Udah deh, bisa wassalam itu Si Leon. Tapi meski 5 tahun, tapi dia gak ada niatan bunuh Leon. Padahal itu waktu yang panjang banget untuk merencanakan sesuatu...
Sarah
Tapi, aku masih bertanya-tanya... soal Leon yang awalnya ingetnya dia anak kost dan sebelum masuk cerita dia lagi di kamar kost-an. Padahal nyatanya dia sama sekali gak pernah nge-kost?
Sarah
Nah, mulai lebih make sense nih. Good job. 👍😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!