Dirga dan Asha..
Keduanya menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih saat duduk di bangku sekolah, Asha adalah cinta pertama Dirga begitu juga Dirga yang cinta pertama Asha.
Keduanya saling mencintai satu sama lain, bahkan mereka bermimpi untuk menikah suatu hari nanti.
Namun takdir berkata lain..
Orangtua Dirga menentang hubungan Asha dengan Dirga, meminta Asha untuk pergi dengan memberikan sejumlah uang kepada asha.
Asha pun pergi meninggalkan Dirga tanpa penjelasan yang jelas..
Lima tahun berlalu..
Asha kembali Ke Jakarta..
Asha berpikir semuanya sudah berubah, termasuk Dirga..
Namun takdir kembali mempertemukan Dirga dan Asha, bukan sepasang kekasih tapi Bos dan juga asisten pribadinya.
apakah mereka akan kembali bersatu ? atau justru sudah ada orang lain yang mengisi hidup mereka ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Entah karena rasa lelah atau kurang tidur beberapa belakangan ini, Asha pun terbangun pada pagi hari. Bunyi dari alarm ponselnya memaksa Asha untuk bangun pagi ini, namun seingatnya terakhir ia tidur di sofa karena menunggu Dirga
Tetapi pagi ini Asha justru terbangun di dalam kamarnya, dengan selimut yang menutupi tubuhnya
Asha mencari ponselnya, dan ia menemui diatas meja nakasnya
" Jam 5 " ucapnya pelan
" Aku tidur selama itu "
Asha pun turun dari ranjangnya, dan beranjak keluar dari kamar
Asha memandangi pintu kamar Dirga yang masih tertutup
" Sudah bangun atau belum ya " ucap Asha yang masih memandangi pintu kamarnya
" Belum kali ya, masih jam segini juga "
Asha pun akhirnya memilih masuk kedalam kamarnya kembali
Sedangkan Dirga..
Semalaman tadi ia tidak bisa tidur..
Ia terus memikirkan Asha, menyalahkan dirinya dan juga menyalahkan keluarganya
Dirga berdiri di balkon kamarnya, menatap langit yang masih gelap
Dirga memejamkan matanya, menghirup angin pagi yang melewatinya
" Gue harus tebus semua kesalahan gue " ucap Dirga sendiri
Dirga keluar dari dalam kamarnya, ia turun ke dapur berniat untuk membuat sarapan
Namun begitu ia turun untuk pergi ke dapur, ia melihat Asha yang sudah lebih dulu berada disana
" Sha.. " panggil Dirga pelan
Asha menoleh dan tersenyum kepada Dirga
" Pagi Pak Dirga "
Dirga tak menjawabnya, ia berjalan semakin dekat dengan Asha
Sedangkan Asha ia masih sibuk dengan roti yang sedang ia panggang
Dirga tiba-tiba memeluk Asha dari belakang, menyembunyikan wajahnya pada telungkup leher Asha
" Dirga.. "
Asha merasa ada air yang membasahi lehernya, perlahan ia pun mendengar Isak tangis tepat di telinganya
" Maafin aku Sha "
" Maafin aku "
Ucap Dirga dengan suara bergetar
Tubuh Asha membeku, jantungnya berdebar-debar dengan kencang
" Dirga.. "
" Kamu nggak salah "
Asha berbalik badan, sedangkan Dirga ia kini menundukkan wajahnya sambil menangis
" Dirga, liat aku Dir "
Asha mengangkat wajah Dirga, pria itu masih saja menangis
" Jangan nangis Dirga "
" Aku merasa jadi orang paling jahat Sha "
" Kevin, Reza, Bayu mereka tau semua kecuali aku Sha "
Asha mengusap lengan Dirga, menenangkan pria yang masih menangis itu
" Aku yang minta sama Kevin buat rahasiakan semuanya, Dir "
" Aku nggak masalah kalau saat itu kamu benci sama aku "
" Karena bagi aku, ngeliat kamu bahagia itu udah cukup Dir "
Dirga memberanikan dirinya menatap wajah Asha
" Kamu pikir tujuh tahun ini aku bahagia Sha ? '
" Enggak, Sha aku ga pernah bahagia "
" Semakin aku benci sama kamu, semakin aku lupain kamu yang ada aku semakin inget sama kamu Sha "
Dirga mengatur nafasnya..
" Aku pikir saat kita bertemu kembali, aku bisa meluapkan rasa benci aku Sha "
" Tapi aku salah, rasa cinta aku lebih besar dibandingkan rasa benci aku ke kamu Sha "
Asha menghapus air mata Dirga
" Udah ah jangan nangis, kamu makin jelek kalau nangis tau "
Asha mencoba menghibur Dirga..
Disaat bersamaan, Asha mencium bau gosong masakan
Asha baru ingat jika ia belum mematikan kompor, begitu ia menoleh ia melihat roti miliknya sudah gosong
" Astaga Dirga, kamu sih jadi gosong deh rotinya "
Asha langsung mematikan kompor yang masih menyala
Dirga tertawa kecil
" Berarti kita satu sama Sha "
" Enggak ya, kalau kamu itu murni karena kamu nggak bisa masak Dir "
" Sedangkan aku, ini itu gara gara kamu tau "
" Yaudah iya aku salah, aku minta maaf yah "
" Kayaknya emang harus sarapan di luar Sha "
" Kita sarapan di luar aja ya, aku mandi dulu sekalian siap-siap "
" Hmm yaudah aku juga siap-siap deh "
Dirga mengusap pucuk kepala Asha, kemudian berlari meninggalkan area dapur
Asha tersenyum tipis
" Dirga.. Dirga "
...
Sebelum ke kantor Asha dan Dirga memutuskan untuk sarapan di sebuah kafe
Namun sejak makanannya datang, Dirga justru lebih sibuk menatap Asha dibanding menyantap makanannya
" Liatin aku nggak bikin kamu kenyang Dir "
" Tapi bikin aku bahagia, Sha "
Asha yang mendengar ucapan Dirga pun langsung tersedak
" Pelan-pelan Sha "
" Aku cuma bilang bahagia liat kamu, bukan ngajak kamu nikah "
" Dirga, stop "
Wajah Asha memerah karena ucapan Dirga
Asha menunjuk wajah Dirga dengan garpu yang ada di tangannya
" Pokoknya di kantor aku nggak kamu ya kamu bikin karyawan lain curiga, Sha "
" Curiga gimana ? "
" Ya pokoknya di kantor kamu dan aku itu tetap atasan dan bawahan "
" Terus di rumah apa ? "
" Mantan "
Dirga tersenyum tipis
" Nggak enak di dengar"
" Biarin, kan emang bener kalau kita itu mantan "
" Iya Iyah mantan, puas kamu Sha "
Asha mengangguk sambil kembali menikmati makanannya
" Mantan ko satu rumah "
Ucap Dirga pelan
" Yaudah kalau gitu aku keluar aja, aku tinggal sama Naufal "
" Enggak" jawab Dirga cepat
" Kenapa ? "
" Nggak boleh, udah paling benar mantan tinggal satu rumah "
" Benar darimana ? "
" Biar bisa balikan "
" Kalau nggak mau balikan ? "
" Yaudah nikah aja kalau gitu "
" Dirga.. "
" Ashaaa "
" Dirga nyebelin "
" Tapi sayangkan ? "
" Enggak "
Dirga tersenyum, kemudian ia pun mulai menyantap makanan miliknya.
...
Ditempat lain..
Naufal sedang duduk sendiri di sebuah kafe
Malam tadi ia menerima sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal
Pesan itu sebuah ajakan untuk bertemu, dan menyangkut Asha
Saat Naufal sedang menatap ponselnya, suara seorang wanita menyapa dirinya
" Pagi, Naufal "
Naufal mengangkat wajahnya dan menatap wanita paruh baya yang ada di hadapannya
" Siapa ya ? "
Wanita paruh baya itu tersenyum
" Saya ingin menawarkan kamu sebuah kerjasama "
" Kerjasama ? " Naufal mengangkat satu alisnya
Wanita itu duduk di kursi yang berhadapan dengan Naufal
" Kamu mencintai Asha bukan ? "
" Tujuan kita sama "
" Memisahkan Asha dan Dirga.. "
Naufal pun sadar siapa wanita yang ada di hadapannya saat ini
Perempuan yang memisahkan Asha dan Dirga tujuh tahun yang lalu
" Apa yang saya dapat dari kerjasama ini ? " tanya Naufal dengan wajah serius
" Kamu bisa meminta apapun, asalkan Asha dan Dirga berpisah "
Naufal tersenyum tipis
" Oke, tapi ada syaratnya "