Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Ujian Pertama, Menjaga Tungku Inti
Malam pertama di Distrik Bawah Kota Toga bergulir dalam keheningan yang mencekik bagi dunia luar, namun di dalam bengkel usang milik Moses, atmosfer terasa begitu bising dan membara. Hawa panas dari Tungku Api Inti (Core Furnace) menyembur keluar dalam gelombang tak kasat mata yang membuat dinding-dinding batu di sekitarnya berguncang samar.
Di depan tuas kayu raksasa yang terhubung dengan pipa pemompa angin, Askara telah mengambil posisinya.
Kedua tangan kasar Askara menggenggam erat permukaan kayu tuas yang terasa panas menyengat. Dengan satu entakan otot fisiknya, ia menarik tuas itu ke bawah, lalu mendorongnya kembali ke atas dalam gerakan ritmis yang konstan.
Khhh-wusss! Khhh-wusss! Setiap kali tuas itu bergerak, embusan angin masif mengalir ke dalam lambung tungku berbentuk kepala monster, memicu batu-batu magis api di dalamnya meludahkan lidah api berwarna jingga keunguan yang kian ganas.
Moses duduk di sebuah kursi kayu tua di sudut ruangan yang agak gelap, dengan sebotol minuman keras murah di tangannya. Sepasang mata kelabunya tidak pernah lepas dari sosok Askara yang mulai dibasahi oleh cucuran keringat. Jubah hitam misterius pemuda itu telah diturunkan hingga ke pinggang, memperlihatkan punggung tegapnya yang dipenuhi guratan otot kencang dan beberapa bekas luka cambuk masa lalu.
"Jangan kurangi kecepatan pompamu, Bocah!" bentak Moses, suaranya menggelegar mengalahkan deru angin tungku.
"Batu magis di dalam sana memiliki instingnya sendiri. Jika sirkulasi udara yang kau berikan melambat bahkan hanya untuk satu ketukan jantung, apinya akan langsung memakan energinya sendiri dan padam! Dan jika itu terjadi, ujianmu selesai!"
Askara tidak menjawab. Fokusnya telah terkunci sepenuhnya pada pergerakan tuas di tangannya. Udara yang ia hirup terasa kering dan membakar tenggorokannya, membuat setiap tarikan napasnya terasa seperti menelan serpihan kaca. Kulit dadanya perlahan memerah akibat paparan radiasi panas magis dari tungku, namun sepasang mata hitamnya tetap menatap lurus ke depan dengan ketenangan yang kokoh.
Hari kedua pun tiba. Matahari di luar bengkel mungkin sudah naik dan tenggelam, namun bagi Askara yang berada di dalam ruang tanpa jendela itu, waktu seolah melebur bersama kobaran api. Jam-jam yang melelahkan mulai mengikis stamina murni di dalam tubuh fisiknya. Otot-otot lengannya mulai bergetar hebat, dan sendi-sendi bahunya terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum perak. Rasa kantuk yang luar biasa berat mulai menyerang kesadarannya, membujuk kelopak matanya untuk terpejam meski hanya sesaat.
Moses yang memperhatikannya sejak semalam bangkit berdiri. Ia melangkah mendekat, bersandar pada sebuah meja kerja penuh peralatan besi dengan tatapan menelisik yang tajam.
"Kau mulai melambat, Askara," ucap Moses dengan nada suara yang merendah, menatap punggung pemuda itu yang kini gemetar menahan beban fisik. "Rasa lelah itu alami bagi seorang manusia. Apalagi bagi seorang Nirmala seperti dirimu yang tidak memiliki energi mana untuk memperkuat struktur otot.
Katakan padaku, apa yang membuat seorang bocah cacat sihir sepertimu memiliki tekad sekeras ini? Mengapa kau begitu terobsesi untuk mendapatkan pedang dariku dan pergi ke Hutan Sihir Kegelapan?"
Askara menarik napas dalam-dalam, mengencangkan cengkeramannya pada tuas kayu yang kini mulai licin oleh keringatnya sendiri. Khhh-wusss! Khhh-wusss!
"Aku... tidak punya pilihan lain, Tuan Moses," jawab Askara, suaranya terdengar parau dan berat, menahan rasa sesak di dadanya. "Dunia ini... tidak pernah ramah pada mereka yang terlahir tanpa kekuatan. Keluarga Barata... mereka membuangku dan memperlakukanku lebih rendah daripada binatang hanya karena aku seorang Nirmala. Jika aku tetap diam dan menerima takdir itu, aku akan mati sebagai debu yang diinjak-injak."
Moses terdiam sejenak, mengelus janggut putihnya yang panjang. Tatapannya melunak untuk sepecahan detik sebelum kembali mengeras. "Jadi ini tentang balas dendam? Kau menginginkan senjata terhebatku hanya untuk membantai mereka yang pernah menghinamu? Jika itu tujuanmu, maka pedangku tidak akan pernah sudi berada di genggamanmu, Bocah. Kemarahan egois seperti itu adalah bahan bakar yang sangat rapuh. Energi itu akan habis membakarmu sebelum kau sempat menyentuh gerbang hutan sihir."
Askara menghentakkan kakinya ke lantai batu, memaksakan sisa tenaga dari pinggangnya untuk mendorong tuas kayu tersebut ke atas dengan entakan yang lebih kuat. Kobaran api di dalam tungku kembali menyalak ganas, menerangi wajahnya yang penuh keringat.
"Ini bukan sekadar tentang balas dendam, Tuan Moses!" potong Askara dengan penekanan yang tegas, menatap lurus ke arah sepasang mata sang maestro. "Kemarahan memang membakar masa laluku, tapi tekadku hari ini lahir dari sebuah janji. Seseorang yang sangat berharga bagiku... dia mengorbankan segalanya agar aku bisa tetap hidup dan melangkah sejauh ini. Aku tidak pergi ke Hutan Sihir
Kegelapan untuk memamerkan kekuatan instan. Aku pergi ke sana karena tempat terkutuk itu adalah satu-satunya ladang tak terbatas di mana wadah kosong di dalam tubuhku ini bisa melatih staminanya hingga menembus batas tertinggi!"
Moses menyipitkan matanya, meresapi kata-kata yang keluar dari mulut sang pemuda. "Ladang tanpa batas, katamu? Kau melihat sarang monster maut itu sebagai tempat latihan?"
"Benar," desis Askara, napasnya tersengal namun matanya berkilat penuh kegilaan yang murni. "Aku ingin membuktikan pada dunia... bahwa seorang Nirmala yang mereka anggap sebagai sampah cacat, bisa berdiri di puncak tertinggi dengan kekuatannya sendiri. Aku ingin menjadi benteng yang tidak akan pernah bisa diruntuhkan oleh siapa pun lagi. Untuk itulah aku membutuhkan pedang darimu!"
Moses mendengus, namun kali ini seulas senyuman tipis yang penuh kepuasan terukir di sudut bibirnya yang keriput. "Sebuah filosofi yang menarik... Kau tidak menganggap wadah kosongmu sebagai kutukan, melainkan sebagai kebebasan tanpa batas untuk menelan dunia. Kau tahu, Askara? Pedang sejati bukan diciptakan untuk membunuh musuhmu, melainkan untuk menjaga dan menegakkan apa yang ada di dalam hatimu.
Jika hatimu goyah, pedang paling tajam sekalipun hanya akan menjadi sepotong besi mati yang tidak berjiwa."
Malam ketiga tiba, menjadi puncak dari siksaan fisik yang sesungguhnya. Kesadaran Askara sudah berada di ambang batas terdalam murni kemampuannya. Pandangannya mulai mengabur, berbayang, dan dipenuhi oleh ilusi visual akibat dehidrasi ekstrem dan kurang tidur selama puluhan jam di depan hawa panas magis. Otot-otot tangannya sudah mati rasa sepenuhnya; ia tidak lagi menggerakkan tuas menggunakan kekuatan lengannya, melainkan menjatuhkan seluruh berat tubuh fisiknya secara bergantian untuk menekan dan menarik kayu besar tersebut.
Air Mata Efrit di dalam jiwanya sempat bergetar, mencoba merespon kelelahan ekstrem ini. Namun, Askara secara sadar menahan dan mengunci energi pemulihan otomatis dari item sihir tersebut.
Jangan sekarang... batin Askara berteriak kencang di dalam kepalanya. Jika aku mengandalkan pemulihan sihir untuk melewati ujian ini, aku tidak akan pernah bisa melatih stamina murniku untuk melampaui batas manusia. Aku harus melewati ini dengan tubuh fisikku sendiri!
Moses berjalan mendekat, berdiri tepat di samping Askara yang tubuhnya sudah gemetar hebat seperti selembar daun ditiup badai. Hawa panas dari tungku kini sudah mencapai titik tertingginya, memancarkan pendaran ungu yang sangat intimidatif.
"Tinggal beberapa jam lagi menuju pagi hari keempat, Askara," ucap Moses dengan suara yang berat, memotong keheningan malam yang sunyi. "Tubuhmu sudah berteriak menuntut istirahat. Lepaskan tuas itu sekarang. Kau sudah bertahan lebih lama daripada kesatria mana pun yang pernah mencoba ujian ini. Menyerahlah secara terhormat, dan aku akan membelikanmu pedang terbaik di pasar barat."
Askara mengatupkan rahangnya begitu rapat hingga gusi fisiknya mengeluarkan sedikit darah. Di bawah tekanan rasa sakit yang luar biasa runtuh menyerang mentalnya, bayangan Rose yang tersenyum hangat di masa lalu dan tatapan meremehkan dari ayahnya kembali melintas bersamaan di dalam benaknya, memicu sisa-sisa adrenalin terakhir di dalam sel tubuhnya meledak serentak.
"Jangan... pernah... menyuruhku... menyerah!" raung Askara dengan sisa energi terakhirnya.
Dengan satu entakan brutal yang menghancurkan batasan rasa sakit di ototnya, Askara mencengkeram tuas kayu itu dan melakukan rangkaian pemompaan tercepat dan terkuat sepanjang tiga hari ini. Khhh-wusss! Khhh-wusss! Khhh-wusss!
Embusan angin yang begitu masif berhamburan masuk ke dalam lambung tungku, memicu batu magis api di dalamnya meledak dalam pendaran cahaya jingga keunguan yang luar biasa terang, menerangi seluruh sudut bengkel yang usang dengan kemegahan membara yang mutlak.
Bersamaan dengan itu, seberkas cahaya matahari pagi hari keempat menerobos masuk dari celah atap bengkel, menandakan bahwa waktu tiga hari tiga malam telah genap terlampaui.
Moses menatap kobaran api yang tetap stabil dan menyala sempurna di dalam tungkunya, lalu mengalihkan pandangannya pada Askara yang kini berdiri mematung sembari memegangi tuas kayu, napasnya memburu kasar dengan tubuh yang basah kuyup oleh keringat. Pria tua itu tertawa renyah, sebuah tawa lepas yang penuh dengan rasa bangga yang mendalam.
"Hahaha! Luar biasa! Kau benar-benar monster yang keras kepala, Askara!" seru Moses, menepuk punggung Askara dengan keras hingga membuat pemuda yang kelelahan itu hampir terjatuh. "Kau berhasil! Syarat pertama telah kau penuhi dengan tubuh fisik murnimu tanpa setetes pun bantuan mana! Kau telah membuktikan padaku bahwa kau memiliki stabilitas mental dan disiplin besi yang layak untuk memegang karyaku!"
Askara mengendurkan cengkeramannya dari tuas kayu, tubuhnya terasa sangat lemas namun seulas senyuman puas terukir di wajahnya yang babak belur. "Satu... syarat... selesai, Orang Tua," gumam Askara pelan.
Moses mengangguk mantap, matanya berkilat penuh misteri.
"Benar. Tapi jangan senang dulu, Bocah. Beristirahatlah hari ini, karena besok pagi, syarat keduaku akan membawamu ke tempat yang jauh lebih mematikan daripada hawa panas tungku ini!"