Semua benda di dunia memiliki harga.
Rumah, restoran, perusahaan, bahkan kesempatan yang tidak bisa dibeli dengan uang sekalipun.
Saat hidup Lin Liu berada di titik terendah, sebuah sistem misterius memilihnya sebagai pemilik baru. Sistem itu tidak memberinya uang, kekuatan, ataupun keberuntungan.
Yang diberikannya hanyalah... diskon.
Semakin besar target yang berhasil dicapai, semakin langka kartu diskon yang diperoleh. Dengan satu kartu, sesuatu yang mustahil dimiliki bisa berubah menjadi kesempatan yang berada dalam jangkauan.
Namun, setiap pilihan memiliki konsekuensinya.
Di balik setiap transaksi, tersembunyi rahasia yang membuat dunia tidak sesederhana yang terlihat. Kini Lin Liu harus menentukan apa yang layak dibeli... dan apa yang seharusnya tidak pernah memiliki harga.
Karena ketika segalanya bisa dibeli, batas antara keberuntungan dan keserakahan menjadi sangat tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Hari-hari berikutnya, Lin Liu menjalani rutinitas yang semakin padat namun juga semakin teratur. Pagi hari dia membantu Su Yan di toko, siang hingga sore dia menerima pekerjaan serabutan lewat aplikasi, dan malam hari dia menyisihkan waktu untuk mempelajari cara berpakaian yang lebih pantas, mengikuti nasihat yang diberikan Huang Ruoxi beberapa hari sebelumnya.
Dia membeli beberapa potong pakaian sederhana dengan warna netral, memadukannya dengan lebih hati-hati kali ini, dan meskipun penampilannya masih jauh dari sempurna, setidaknya dia tidak lagi terlihat seperti badut yang berjalan di tengah keramaian.
Su Yan yang memperhatikan perubahan itu sesekali melontarkan komentar. "Kau kelihatan lebih rapi belakangan ini. Ada yang beri saran, ya?"
"Begitulah," Lin Liu menjawab singkat, tersenyum kecil tanpa menjelaskan lebih jauh, meskipun bayangan wajah Huang Ruoxi tanpa sadar melintas di kepalanya.
Namun di balik rutinitas yang mulai teratur itu, tekanan dari deadline yang terus berjalan tidak pernah benar-benar hilang. Setiap malam sebelum tidur, Lin Liu selalu memeriksa layar sistemnya, menghitung kemajuan yang dia capai sekaligus waktu yang tersisa, baik untuk misi sistem maupun untuk ultimatum tiga puluh hari dari Chen Datong yang terus mengintai di belakang pikirannya.
...[MISI "JEJAK YANG HILANG": Rp6.800.000 / Rp15.000.000]...
...[WAKTU TERSISA: 187:33:09]...
Kemajuannya cukup baik, meskipun masih jauh dari target. Dia bekerja lebih giat setiap harinya, mengambil setiap pekerjaan serabutan yang bisa dia temukan, bahkan rela begadang menyelesaikan pekerjaan tambahan demi mengejar target yang semakin mendesak.
Suatu sore, saat dia sedang mengantar pesanan makanan menggunakan sepeda pinjaman Su Yan—karena motor ojek onlinenya belum juga diperbaiki—dia melewati sebuah baliho besar yang terpasang di tepi jalan utama kota, menampilkan foto seorang gadis yang sangat familiar mengenakan gaun elegan, tersenyum anggun di samping tulisan besar bertuliskan promosi sebuah acara amal.
"HUANG RUOXI, DUTA MUDA YAYASAN AMAL KOTA, MENGAJAK ANDA BERBAGI KASIH."
Lin Liu menghentikan sepedanya sejenak, menatap baliho itu dengan perasaan campur aduk. Gadis dalam foto itu tersenyum begitu sempurna, jauh berbeda dari sosok yang dia kenal beberapa hari lalu—yang menangis diam-diam di balik topeng keangkuhannya, yang terjebak dalam pertunangan yang tidak dia inginkan demi menyelamatkan bisnis keluarganya.
"Dia sebenarnya baik, cuma caranya aneh," gumam Lin Liu sendiri, tersenyum tipis mengingat cara ketus Huang Ruoxi mengajarinya berpakaian, meskipun jelas-jelas gadis itu melakukannya dengan tulus.
Dia melanjutkan perjalanannya, namun pikirannya masih dipenuhi bayangan gadis itu, hingga tanpa sadar dia hampir menabrak seseorang yang tiba-tiba menyeberang jalan.
"Woi, hati-hati kalau naik sepeda!" seorang pria berteriak kesal, namun Lin Liu buru-buru meminta maaf dan melanjutkan perjalanannya, mencoba mengusir bayangan yang terus mengganggu konsentrasinya.
Sesampainya di toko Su Yan menjelang malam, dia mendapati suasana yang tidak biasa—beberapa orang berpakaian rapi berdiri di depan toko, tampak sedang berbicara serius dengan Su Yan yang wajahnya terlihat tegang.
"Ada apa ini, Kak?" tanya Lin Liu begitu mendekat, menyadari sesuatu yang tidak beres dari raut wajah Su Yan.
Su Yan menoleh ke arahnya, matanya menunjukkan kekhawatiran yang jelas. "Ini orang dari yayasan amal kota. Mereka bilang toko kita direkomendasikan jadi salah satu penerima donasi untuk usaha kecil, tapi ada syarat yang harus dipenuhi—dan salah satu syaratnya melibatkan namamu."
Lin Liu mengerutkan kening bingung, tidak mengerti bagaimana namanya bisa tersangkut dalam urusan yayasan amal yang bahkan tidak pernah dia dengar sebelumnya.
"Namaku? Kenapa bisa begitu?" tanyanya heran.
Salah satu orang berpakaian rapi itu melangkah maju, menyerahkan sebuah amplop kepada Lin Liu dengan ekspresi formal. "Anda direkomendasikan langsung oleh Nona Huang Ruoxi untuk menerima bantuan modal usaha, Saudara Lin Liu."