NovelToon NovelToon
Sang Warok

Sang Warok

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Jangkrik keluar dari gubuk dengan membawa buntalan kecil di pundaknya. Gelang Baja Wulung masih melingkari kedua pergelangan tangannya, walau beratnya kini sudah mulai terasa biasa.

Di depan gubuk, Sang Warok berdiri memandang rumah bambu yang telah mereka tempati selama bertahun-tahun. Tanpa sepatah kata, Warok masuk untuk terakhir kalinya. Ia menyapu pandangan ke setiap sudut—balai bambu, perapian, tiang yang pernah dijebol tubuh Jangkrik, hingga batang jati tempat muridnya memukul tangan sampai berdarah. Semua menjadi saksi lahirnya seorang calon pendekar.

Warok melangkah keluar. "Sudah siap?"

Jangkrik mengangguk. "Ke mana kita pergi?"

"Bukan pergi." Warok mengambil sebatang obor dari dekat perapian. "Kita berpindah sarang."

Sebelum Jangkrik sempat bertanya lagi, Warok melempar obor itu ke atap ilalang.

Wus!

Api langsung menyambar ilalang kering. Dalam hitungan detik, kobaran api membesar, melahap seluruh gubuk.

Jangkrik terdiam. "Itu... rumah kita."

Warok tetap memandang kobaran api. "Seorang Warok tidak pernah meninggalkan jejak."

Api semakin membesar dan kayu-kayu bambu mulai patah satu per satu.

Krak!

Asap hitam membumbung ke langit. Jangkrik menatap kobaran itu cukup lama. Di tempat itulah ia menangis, belajar, menderita, dan tumbuh. Anehnya, ia tidak merasa sedih. Yang ada hanya perasaan bahwa satu momen dalam hidupnya benar-benar telah berakhir.

Warok menepuk pundaknya. "Jangan melihat ke belakang."

Jangkrik membalikkan badan. "Ke depan?"

Warok mengangguk. "Musuhmu ada di depan."

Mereka mulai menuruni Pegunungan Sewu melalui jalur sempit yang belum pernah dilalui Jangkrik sebelumnya, diapit tebing batu kapur nan curam.

Beberapa jam kemudian, Warok tiba-tiba mengangkat tangan. "Berhenti."

Jangkrik seketika membeku. "Ada apa?"

Warok tidak menjawab. Ia berjongkok, menyentuh tanah yang lembap. Di sana terlihat banyak bekas tapak kaki yang masih baru.

Warok mengamatinya dengan saksama. "Delapan orang."

Jangkrik ikut berjongkok. "Kau bisa tahu?"

Warok menunjuk tanah. "Lihat. Jejak ini dalam, yang ini ringan, yang ini pincang, dan yang ini membawa beban."

Jangkrik memperhatikan lebih teliti hingga ia mulai melihat perbedaannya. Warok kemudian mengambil segenggam tanah dan mencium baunya.

"Mereka lewat sebelum fajar. Kurang dari dua jam."

Jangkrik menggenggam gagang pisaunya. "Kelompok Gagak Hitam?"

Warok menggeleng. "Bukan. Kalau mereka, jejaknya hampir tidak ada."

Belum sempat Jangkrik bertanya lagi, telinganya menangkap suara logam beradu dari tempat yang cukup jauh, disusul teriakan seseorang.

"Warok."

"Aku dengar," Warok mengangguk pelan. "Ada pertarungan."

Jangkrik menoleh ke arah datangnya suara. "Apakah kita akan menghindar?"

Warok justru melangkah ke arah suara itu. "Tidak."

"Kenapa?"

Warok menjawab singkat, "Sebab siapa pun yang bertarung di wilayah ini akan menjadi masalahku."

Semakin dekat mereka melangkah, suara benturan senjata semakin jelas.

*Trang! Clang!*

Teriakan kesakitan menyertai dentingan besi tersebut. Beberapa saat kemudian, mereka tiba di sebuah lembah kecil. Jangkrik langsung menghentikan langkahnya.

Di hadapannya, enam mayat bergelimpangan di atas tanah dengan darah membasahi rerumputan. Namun, pertarungan belum selesai. Dua orang masih bertarung sengit: seorang bertubuh tinggi dengan tombak panjang, dan seorang lagi mengenakan jubah abu-abu sambil memegang pedang tipis. Gerakan keduanya begitu cepat hingga mata Jangkrik nyaris tak mampu mengikuti.

Warok menyipitkan mata. "Hm..."

Jangkrik berbisik, "Kau mengenal mereka?"

Warok belum sempat menjawab. Tiba-tiba, lelaki berjubah abu-abu menoleh ke arah mereka. Tatapan mereka bertemu dan wajah lelaki itu seketika berubah.

"Warok..." Ia langsung melompat mundur beberapa langkah.

Pria bertombak ikut menoleh. Begitu melihat sosok besar berambut gondrong dengan golok di pinggang, raut wajahnya mendadak menegang.

Tanpa saling mengenal, kedua orang yang baru saja saling membunuh itu secara naluriah menghentikan pertarungan. Sebab kini mereka sama-sama menyadari, monster yang sesungguhnya baru saja tiba.

Lembah itu mendadak senyap.

Angin yang tadi bertiup kencang kini seolah ikut menahan napas.

Dua pendekar yang baru saja bertarung saling menjauh beberapa langkah, tetapi mata mereka kini sama-sama tertuju kepada Sang Warok.

Warok melangkah pelan. Goloknya masih tersarung. Tatapannya menyapu enam mayat yang bergelimpangan. Sebagian tewas akibat tusukan tombak, sementara sebagian lagi akibat sayatan pedang tipis.

"Enam orang mati," ucap Warok datar. "Terlalu banyak darah untuk pagi yang masih muda."

Pendekar bertombak menggenggam senjatanya lebih erat. "Warok... aku tidak datang mencarimu."

Warok melirik sekilas. "Aku juga tidak mencarimu."

Lalu pandangannya beralih kepada lelaki berjubah abu-abu. "Dan kau?"

Lelaki itu tersenyum tipis. "Aku hanya kebetulan lewat."

Warok mendengus. "Orang yang 'kebetulan lewat' tidak akan meninggalkan enam mayat."

Jangkrik berdiri beberapa langkah di belakang gurunya. Matanya bergerak cepat, mengamati cara kedua orang itu berdiri. Pendekar bertombak bertumpu kuat pada kaki depan. Napasnya berat dan ia terluka di bahu kiri. Sedangkan lelaki berjubah abu-abu tampak lebih tenang, walau lengan kanannya sedikit gemetar.

"Warok," bisik Jangkrik. "Yang berjubah lebih berbahaya."

Warok tidak menoleh. "Bagus. Kau mulai bisa membaca orang."

Ucapan itu membuat lelaki berjubah abu-abu tersenyum. "Jadi itu muridmu?"

Warok diam.

Lelaki itu kembali berkata, "Pendengarannya bagus. Tatapan matanya juga tajam. Sayang... masih terlalu hijau."

Belum sempat Jangkrik membalas, Warok mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat agar muridnya tetap diam.

Warok kemudian bertanya, "Siapa namamu?"

Lelaki berjubah itu membungkuk tipis. "Aku dipanggil Bayu."

"Bukan nama asli."

"Tentu saja bukan."

Warok mengangguk pelan. "Kalau begitu, apa urusanmu di Pegunungan Sewu?"

Bayu memandang keenam mayat itu. "Mereka ingin membunuhku, jadi kubunuh lebih dulu."

"Lalu dia?" Warok menunjuk pendekar bertombak.

Bayu mengangkat bahu. "Dia mengira aku pembunuh rombongannya."

Pendekar bertombak langsung membentak. "Karena memang kau pembunuhnya!"

Bayu tersenyum santai. "Mereka menyerangku. Aku hanya membela diri."

Warok menghela napas pelan. "Cukup."

Suasana mendadak kaku. Warok menatap keenam mayat itu sekali lagi. Kemudian, ia berjongkok di samping salah satunya. Tangannya membuka pakaian mayat tersebut. Di dada mayat itu terdapat bekas luka berbentuk silang.

Warok menyipitkan mata. "Hm."

Ia berpindah ke mayat kedua. Luka yang sama. Mayat ketiga, tetap sama.

Jangkrik ikut mendekat. "Ada apa?"

Warok menunjuk luka itu. "Lihat baik-baik."

Jangkrik memperhatikan. Sayatan itu terlalu rapi, seolah dibuat dengan sengaja. "Bukan luka pertarungan..." gumam Jangkrik.

Warok mengangguk. "Benar. Luka ini dibuat setelah mereka mati."

Pendekar bertombak tampak terkejut. "Apa?"

Bayu pun tak lagi melempar senyumnya.

Warok berdiri perlahan. "Luka silang. Ini tanda."

"Tanda apa?" tanya Jangkrik.

Warok memandang ke arah hutan yang membisu. "Tanda berburu. Mereka yang membuat tanda ini ingin semua orang tahu bahwa mangsanya telah mati."

Jangkrik merasakan hawa dingin menjalar di tengkuknya. "Siapa mereka?"

Warok menjawab dengan suara pelan. "Orang-orang yang jauh lebih berbahaya daripada Kelompok Gagak Hitam."

Ucapan itu membuat Bayu dan pendekar bertombak saling berpandangan.

Bayu bertanya, "Kau mengenal tanda ini?"

Warok mengangguk. "Sudah sangat lama. Seharusnya... mereka sudah punah."

Belum sempat ada yang bertanya lebih jauh, terdengar tepuk tangan pelan dari balik pepohonan.

Tep... tep... tep...

Semua kepala menoleh bersamaan.

Dari balik kabut, muncul seorang pria tua berjubah putih lusuh. Rambutnya memutih seluruhnya dan tubuhnya kurus. Di pinggangnya tidak ada senjata, tetapi senyum di wajahnya membuat atmosfer tempat itu terasa amat mencekam.

Pria tua itu memandang Warok sambil tersenyum.

"Sudah lama tidak bertemu... murid Ki Brantas."

Sejak Jangkrik mengenal gurunya, baru kali ini raut wajah Sang Warok benar-benar berubah. Bukan marah, bukan pula tenang—ia tampak terperanjat hebat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!