NovelToon NovelToon
Pembalasan Sang Figuran

Pembalasan Sang Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bearbee

Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.

Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.

Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.

Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.

Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.

Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

"Tidak biasanya Kakak masih berada di rumah," ujar Leon dengan nada datar, menatap sosok kakaknya yang sedang duduk tenang di ruang keluarga.

Oscar mengalihkan pandangan sejenak dari tumpukan dokumen di tangannya. Matanya melirik sekilas ke arah Leon yang tampak rapi dengan setelan jas berwarna gelap, lalu kembali fokus pada berkas-berkas yang ia pelajari. Suaranya tenang, namun terkesan dingin. "Jika kau memiliki urusan mendesak, sebaiknya segera pergi. Jangan buang waktumu di sini."

Leon menyunggingkan senyum kecut, penuh tekanan terselubung di balik setiap katanya. "Tentu saja. Bukan karena aku yang menginginkan ini semua. Jika bukan karena ulahmu, mungkin aku masih bisa menikmati akhir pekan ini dengan damai."

Oscar, yang semula tampak enggan menanggapi, akhirnya menutup map dokumen di tangannya. Tatapannya kini benar-benar terarah pada sang adik. "Harusnya kau bersyukur, Leon. Jika ini keluarga lain, sudah tentu mereka akan berebut kursi pewaris tanpa peduli caranya. Namun aku… aku memberikannya dengan sukarela padamu."

Senyum sinis kembali terbit di bibir Leon, seolah ingin menyembunyikan gejolak emosi yang sebenarnya.

"Kalau begitu, terima kasih," jawabnya dingin, penuh sindiran.

Ketegangan antara keduanya terputus ketika langkah ringan terdengar dari arah taman. Liliana, masuk ke ruang keluarga. Wanita itu menatap kedua putranya dengan ekspresi lelah namun penuh kasih. Rambutnya yang mulai beruban disanggul rapi, menambah kewibawaan sosoknya.

"Tidak bisakah setiap kali kalian bertemu, kalian tidak terlibat pertengkaran?" suaranya lembut, namun sarat dengan teguran. Ia menoleh dari Oscar ke Leon, kemudian berhenti pada putra bungsunya. "Dan kau, Leon. Kakakmu jarang sekali pulang ke rumah. Sambutlah dia dengan baik, bukan dengan cemoohan."

Leon hanya mencibir, tatapannya tajam. "Lebih baik dia tetap berada di barak militernya. Bukankah itu yang selalu dia inginkan? Menyingkirkan tanggung jawab dan melemparkannya pada orang lain."

"Leon…" Liliana ingin menambahkan teguran, namun kalimatnya terhenti ketika putranya itu memilih pergi begitu saja, tanpa pamit bahkan kepada sendirinya.

Suasana hening menyelimuti ruangan setelah kepergian Leon. Liliana menarik napas panjang sebelum akhirnya mendekat dan duduk di samping Oscar yang kembali membuka dokumen. Jemari putranya bergerak lincah, membalik setiap lembar dengan penuh perhatian.

Di ujung dokumen, Liliana menangkap selembar foto yang menempel di sisi kanan atas kertas. Ia menyipitkan mata, mencoba mengenali wajah gadis dalam foto itu.

"Bukankah itu Alma?" tanyanya pelan, penuh rasa ingin tahu.

Oscar menoleh, sedikit terkejut mendengar ibunya menyebut nama itu. "Mamag mengenalnya”

Senyum hangat terbit di wajah Liliana. "Tentu saja. Dia putri keluarga Morrison. Mamah pernah bertemu dengannya. Gadis itu cantik, anggun, dan penuh dengan kesopanan. Ada kehalusan dalam sikapnya yang jarang dimiliki gadis seusianya."

Mendengar pujian itu, pikiran Oscar melayang sejenak. Ingatannya kembali pada momen ketika ia duduk berhadapan dengan Alma di ruang interogasi. Tatapan mata gadis itu begitu tenang, seolah tak terguncang sedikit pun meski berada di bawah tekanan. Wajahnya serupa danau yang permukaannya tak pernah terusik riak.

Liliana memperhatikan perubahan raut wajah Oscar, lalu berkata dengan nada menggoda, "Kenapa kau begitu serius menatap profilnya? Apakah kau mengenalnya juga? Atau jangan-jangan… kau tertarik pada putri keluarga Morrison itu?"

Oscar memutar bola matanya malas, ekspresinya dingin. "Tidak. Aku tidak mengenalnya secara pribadi. Aku hanya sedang menyelidikinya."

"Penyelidikan?" Liliana menaikkan alisnya. "Seorang gadis sopan seperti Alma? Apa menurutmu dia seorang teroris yang membahayakan negara hingga seorang letnan sepertimu harus turun langsung menyelidiki?"

Nada suaranya terdengar setengah bercanda, namun tatapannya menyelidik.

Oscar menutup berkas dengan gerakan tegas, lalu meletakkannya di meja. "Jika aku menjelaskan alasannya pun, mamah tidak akan mengerti."

Liliana mendengus pelan, seolah tidak puas dengan jawaban itu. "Cih… katakan saja kau menyukainya. Tidak perlu berdalih. Lagipula, umurmu sudah cukup untuk mencari pasangan. Jangan hanya terpaku pada kariermu."

"Umurku baru dua puluh lima tahun," sanggah Oscar cepat, nada suaranya sedikit kesal.

"Itu usia yang sangat tepat untuk menikah, Nak," Liliana menimpali dengan tegas. "Jangan menunda terlalu lama. Hidup bukan hanya soal tugas negara atau ambisi pribadi. Kau juga butuh pendamping."

Oscar terdiam. Ia memilih tidak menanggapi lebih jauh, meski benaknya masih dipenuhi bayangan wajah Alma yang tenang dan misterius. Ada sesuatu yang tak bisa ia jelaskan, seakan gadis itu menyimpan rahasia besar yang hanya menunggu waktu untuk terungkap.

Liliana, yang tak menyadari pergolakan batin putranya, hanya menghela napas. Matanya menatap penuh kasih, meski terselubung kekhawatiran. Ia tahu, kedua putranya selalu membawa beban yang berbeda. Leon dengan sikap keras kepala dan pengaturan keluarga, sedangkan Oscar dengan kesunyian dan kewajiban yang ia pikul.

🥀🥀🥀

Balai lelang malam itu berdiri anggun bagaikan istana modern di tengah kota metropolitan. Dinding-dindingnya dilapisi marmer putih berkilau, dihiasi kristal lampu gantung yang bergelantungan dari langit-langit tinggi. Aroma parfum mahal bercampur dengan wangi anggur merah yang disajikan pelayan berbalut seragam hitam putih.

Para pria berjas rapi mulai memasuki gedung tersebut, langkah mereka mantap, penuh percaya diri, seakan setiap hembusan napas membawa nilai saham dan kontrak bisnis bernilai miliaran. Kursi-kursi beludru lembut berwarna merah darah anggur terisi perlahan, masing-masing ditempati oleh tokoh berpengaruh di bidangnya.

Di lantai atas, ruang khusus VVIP telah dipisahkan dengan kaca transparan tebal. Dari sana, mereka dapat menyaksikan jalannya lelang tanpa harus bercampur dengan khalayak umum. Setiap orang membawa papan kayu bundar dengan angka-angka tertera jelas, simbol dari kekuatan finansial mereka yang siap diadu dalam permainan senyap penuh gengsi.

Namun ini bukan sekadar lelang biasa. Malam itu, bukan lukisan klasik atau perhiasan antik yang diperebutkan. Di atas meja, yang dipertaruhkan adalah tanah, gedung, bahkan pulau, harta karun dunia nyata yang dapat mengubah peta kekuasaan bisnis dalam sekejap.

Di salah satu ruang VVIP, dua pewaris muda telah duduk bersebelahan. Leon dengan setelan jas hitam pekat yang disesuaikan sempurna dengan tubuhnya, tampak berwibawa meski wajahnya menyiratkan kebosanan. Di sampingnya, Kaiden, duduk santai sambil merapikan kancing jas abu-abunya. Keduanya kebetulan bertemu di pintu masuk tadi, lalu memutuskan untuk duduk bersama, ditemani masing-masing seorang asisten pribadi.

Pandangan Leon tertuju pada seorang pria paruh baya yang baru saja memasuki ruangan utama. Dengan langkah mantap, pria itu naik ke podium, lalu berdiri tegak di belakang mimbar. Dialah pembawa acara sekaligus pemimpin lelang malam ini.

Leon mendengus kecil, lalu menoleh malas kepada Kaiden. "Apakah kau berniat mengincar sesuatu di sini?" tanyanya dengan nada bosan, seakan apa pun yang ditawarkan tidak cukup menarik baginya.

Kaiden menyeringai tipis, sama-sama menampakkan kejenuhan. "Tidak juga. Aku hanya ingin mencari sedikit hiburan. Lagi pula, apa yang bisa lebih menyenangkan daripada melihat para pengusaha berebut sesuatu yang mungkin tidak benar-benar mereka butuhkan?"

Seakan mengantisipasi kebosanan tuan mereka, kedua asisten bergerak cepat, menyodorkan sebuah katalog tebal berisi daftar properti yang akan dilelang malam ini. Kaiden membuka halaman demi halaman dengan malas. Namun tiba-tiba, alisnya bertaut. Ia berhenti di salah satu lembar, menatap sebuah foto tanah lapang kering kerontang.

"Oh," gumamnya pelan, nada suaranya bercampur heran. "Aku tidak tahu perusahaan kita sedang membutuhkan uang. Kenapa tanah ini ikut dimasukkan dalam daftar lelang?"

Asisten Kaiden menunduk hormat sambil tersenyum sopan. "Tidak, Tuan Muda. Bukan karena kebutuhan dana. Tanah itu sudah lama tidak termanfaatkan, hanya menjadi beban di daftar aset. Dewan direksi akhirnya memutuskan untuk melepasnya. Mereka menganggapnya tidak lagi berguna."

Kaiden mengangguk kecil, matanya masih terpaku pada foto tanah gersang di bagian barat kota. Ingatannya berkelana jauh. Ia hampir lupa bahwa tanah itu dulunya dibeli kakeknya, entah karena spekulasi atau sekadar ambisi. "Sudah lama sekali… aku bahkan tidak mengingat lagi alasan kakek membelinya," gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri.

Sementara itu, di sisi lain lantai atas, sebuah ruangan eksklusif lain dihuni oleh tamu istimewa. Philip, duduk dengan tenang di kursi berlapis kulit. Di hadapannya, seorang pria dengan rambut yang sudah mulai memutih masuk dengan langkah berwibawa. Dialah Sean Margaretha, kepala keluarga Margaretha yang dikenal keras namun penuh perhitungan.

"Selamat malam, Tuan Perdana Menteri," sapa Sean dengan sopan, menjabat tangan Philip.

"Selamat malam juga, Tuan Margaretha. Silakan duduk," balas Philip dengan senyum tipis.

Begitu keduanya duduk, Sean segera membuka percakapan. "Bolehkah saya tahu, apa gerangan yang membuat Tuan Perdana Menteri berkenan memanggil saya di tengah acara lelang seperti ini?"

Philip terkekeh kecil, nada tawanya seperti tidak sungguh-sungguh. "Tidak ada hal yang terlalu serius. Aku hanya ingin mengobrol, sekaligus membicarakan sesuatu yang mungkin akan menarik perhatianmu."

"Begitu?" Sean mengangguk pelan. "Kalau begitu, silakan. Aku siap mendengarkan."

Philip menatap Sean dengan sorot mata yang sulit ditebak, seakan ada permainan licik yang tersembunyi di baliknya. "Aku dengar, keluarga Margaretha kehilangan sebidang tanah di timur, jatuh ke tangan keluarga Morrison. Benarkah?"

Mata Sean menyipit. "Bahkan kabar itu sudah sampai ke telinga Tuan Perdana Menteri rupanya."

"Tentu saja," jawab Philip santai, meraih gelas anggurnya. "Tanah di timur itu sudah lama menjadi incaran banyak pihak. Namun pada akhirnya, justru keluarga Morrison yang berhasil menguasainya. Sungguh disayangkan." Ia lalu mencondongkan tubuh sedikit ke depan, sorot matanya tampak bersimpati namun mengandung sesuatu yang lebih dalam. "Bagaimana jika aku menawarkan sebuah ganti rugi? Sebidang tanah sebagai pengganti milikmu yang direbut itu."

Sean mengangkat alisnya tinggi. "Maksudmu?"

Philip meneguk sedikit anggur sebelum menjawab. "Aku memiliki sebuah rencana. Sesuatu yang akan menguntungkan kedua belah pihak. Namun, tentu saja, aku tidak bisa memaksakanmu. Apakah kau ingin mendengarnya atau tidak, itu sepenuhnya hakmu."

Hening sesaat menyelimuti ruangan. Sean menatap Philip dengan tajam, mencoba membaca maksud tersembunyi dari tawaran itu. Ada sesuatu dalam cara Philip berbicara yang membuatnya yakin bahwa hal ini bukan sekadar basa-basi politik.

Akhirnya Sean bersandar ke kursinya, menautkan jemari di atas meja. "Baiklah," katanya dengan nada berat namun penuh wibawa. "Aku akan mendengarkan. Katakan apa yang ada di kepalamu, Tuan Perdana Menteri."

Philip tersenyum lebar, kali ini lebih tulus namun tetap menyisakan kesan penuh misteri. "Bagus. Karena apa yang akan kita bicarakan malam ini, bisa saja mengubah peta kepemilikan yang ada di ruangan ini,!dan mungkin juga mengubah arah masa depan keluarga besar kita masing-masing."

🥀🥀🥀

"AKHHHHHHH!!!"

Suara jeritan itu memecah keheningan malam, menggema di seluruh sudut kamar megah yang kini berantakan bak arena perang. Jasmine meraih vas kristal di atas meja lalu menghantamkannya ke lantai. Pecahan kaca berhamburan, memantulkan cahaya lampu gantung mewah yang bergoyang akibat hentakan keras. Napasnya memburu, dadanya naik turun, matanya merah menyala penuh amarah.

Segala rencana yang ia bangun dengan penuh kalkulasi, hancur berantakan dalam sekejap. Calvin, lelaki yang seharusnya terperangkap dalam jaring permainannya. Bahkan tak sedikit pun memberi perhatian. Semua sorot matanya hanya tertuju pada satu nama yang kini menjadi duri menusuk sanubari Jasmine: Alma.

"Nona..." suara seorang pria terdengar hati-hati, penuh kehati-hatian. Dialah tangan kanan Jasmine, seseorang yang seharusnya menjadi pilar kokoh untuk menopang setiap langkah liciknya.

Namun, bukannya tenang, suara itu justru memantik amarah Jasmine semakin membara. Tubuhnya bergetar, dan dalam sekejap, telapak tangannya mendarat keras di wajah pria tersebut. Suara tamparan membelah udara, bergema di antara dinding kamar yang lapisannya berlapis beludru.

"Semua ini SALAHMU!" bentaknya, suara Jasmine bergetar antara amarah dan luka harga diri. "Jika informasi yang kau berikan tidak cacat, aku tidak mungkin dipermalukan seperti ini! Tidak mungkin Calvin akan melirik perempuan rendahan itu!"

Pria itu menundukkan kepala, rasa perih dari tamparan terasa jelas, namun dia tidak berani mengangkat pandangan. "Maaf, nona... Ini sepenuhnya kelalaian kami. Saya akan segera memperbaikinya."

"Cepat pergi dari sini! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi!" teriak Jasmine, hampir histeris. Matanya berkilat tajam, seakan ingin menelan siapa pun yang berani menentangnya.

Pintu kamar terbuka lalu tertutup dengan suara keras. Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, pria itu menyunggingkan senyum sinis, cibiran samar yang nyaris tak terdengar.

Kini, hanya ada Jasmine seorang diri. Ia berdiri di tengah reruntuhan amarahnya. Bahunya naik turun, bibirnya bergetar, tangannya mencengkeram gaun sutra yang melekat di tubuhnya.

"Alma..." desisnya lirih, namun penuh bisa. "Gadis sialan itu berani menghalangi jalanku. Kau pikir siapa dirimu? Calvin seharusnya sudah terpana padaku, bukan kau."

Matanya berkaca-kaca, bukan karena kelemahan, melainkan oleh dendam yang menyesakkan. Jasmine menatap bayangannya di cermin besar di sudut ruangan. Wajah cantiknya masih terpoles sempurna, meski kusut oleh amarah. Alisnya berkerut, bibirnya menipis, dan matanya yang biasanya memancarkan keanggunan. Kini membara seperti bara api yang siap membakar siapa saja.

Ia menghampiri cermin itu, menelusuri refleksi wajahnya dengan jemari gemetar. "Aku... tidak akan kalah darinya. Ketiga lelaki itu adalah milikku. Aku tidak peduli bagaimana caranya, aku akan memastikan perempuan itu lenyap dari hadapanku. Bahkan jika aku harus menyeretnya ke dalam jurang kehancuran."

Sejenak, Jasmine terdiam. Air matanya menetes, jatuh membasahi lantai marmer yang dingin. Namun air mata itu bukanlah tanda kelemahan, melainkan api dendam yang semakin menyala.

Dengan suara bergetar namun sarat tekad, ia berbisik pada dirinya sendiri. "Saat masih kecil, aku sudah kehilangan terlalu banyak. Aku tidak akan membiarkan Alma merampas satu-satunya alasan yang seharusnya menjadikanku ratu di puncak kekuasaan."

Tangannya mengepal. Ruangan yang tadinya penuh dengan luapan amarah kini berganti dengan ketenangan semu, sebuah kesunyian yang justru menegangkan. Jasmine tahu, ini bukan akhir. Kekalahannya hari ini hanyalah awal dari permainan yang lebih besar.

"Lihat saja, Alma," gumamnya dingin. "Aku akan merobek senyummu satu per satu. Hingga yang tersisa hanyalah penyesalan."

Jasmine memandang bulan yang menggantung di langit malam, sinarnya menembus jendela besar. Namun bagi Jasmine, cahaya itu tampak dingin, menyayat, mengingatkannya bahwa di luar sana ada seseorang yang sedang merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya.

Tangisan teredam bercampur tawa sinis terdengar samar dari bibirnya. Malam itu, dendam telah tumbuh menjadi benih gelap dalam hati Jasmine. Benih yang kelak akan tumbuh menjadi badai yang siap menghancurkan segalanya.

1
tutiana
woowwww ,
tutiana
nextt Thorr ☕️
aku
semangat lanjut
wahyu andria
semngat thorrr. .double up 🤭🙏💪
falea sezi
hmmm alma kurang perhitungan g bs bela diri menye menye bisa bunuh doank itu aja dia minta bantuan jean😒
falea sezi
siapapun yg bangkit dr kematian karena fitnah bully pasti bakal dendam 😒
falea sezi
g bakalan lupa Leon lu uda bunuh alma di kehidupan b sebelum nya😒
falea sezi
alma uda benci sama loe kaiden
falea sezi
q benci bgt bullying kayak gini semoga anak ku g dpet bully di sekolah karena itu mental bs kena😕
Winda Napitupulu Moment
semangat trus yah thor... 💪💪💪💪
Lippe
apa alma ini karena trauma masa lau jadi punya kepribadian ganda?

atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?
Rina Yuli
wow luarr biasa lu bikin cerita best thor 👍👍👍👍
Winda Napitupulu Moment
seru ceritanya thorr... ditunggu crazy updatenya...🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!