NovelToon NovelToon
Janji Yang Terkubur

Janji Yang Terkubur

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jun

Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur

Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8: Ledakan yang Mengguncang Segalanya

Suara detak itu semakin jelas, semakin cepat, seolah berpacu dengan detak jantung Lira yang sudah hampir meledak karena ketakutan. Ia dan Bu Sumi berlari sekuat tenaga menyusuri lorong gelap lantai dua, napas mereka tersengal-sengal, kaki mereka terasa berat seolah ada yang menarik ke bawah, namun rasa takut akan kematian yang mengintai membuat mereka tidak berani berhenti sedetik pun.

Di belakang mereka, dari arah kamar tidur Lira, terdengar suara mendesis halus yang makin lama makin keras, tanda bahan peledak itu sudah mulai aktif dan siap meledak kapan saja.

“Cepat, Bu! Lebih cepat lagi!” teriak Lira dengan suara parau, tangannya masih erat mencengkeram lengan Bu Sumi yang sudah gemetar hebat.

“Ya, Nak… Kita lari, kita lari…” gumam Bu Sumi dengan suara menangis, kakinya yang sudah tua itu bergerak secepat mungkin meskipun terasa sakit dan pegal.

Saat mereka baru saja sampai di ujung lorong, tepat di depan tangga utama yang menuju lantai bawah, tiba-tiba—

DARRR!!!

Suara ledakan dahsyat mengguncang seluruh bangunan rumah besar itu, seolah bumi bergeser dan langit runtuh. Getaran yang kuat membuat lantai bergoyang hebat, kaca-kaca jendela pecah berhamburan dengan suara nyaring, dan dinding-dinding kamar di belakang mereka runtuh seketika, menyemburkan asap hitam tebal, debu, serta puing-puing beton yang beterbangan ke segala arah.

Guncangan keras itu membuat tubuh Lira dan Bu Sumi terlempar ke lantai dengan keras. Mereka terguling beberapa kali sebelum akhirnya terbentur dinding ujung lorong, rasa sakit yang tajam menusuk seluruh tubuh mereka, namun rasa sakit itu sama sekali tidak terasa dibandingkan rasa syukur yang luar biasa karena mereka selamat sepersekian detik saja sebelum kematian datang menjemput.

Asap hitam tebal segera memenuhi seluruh lorong, bau tajam bahan kimia dan debu pembakaran menusuk hidung, membuat mereka batuk-batuk hebat dan sulit bernapas. Di kejauhan, api merah mulai terlihat menjilat puing-puing kayu dan kain di dalam kamar yang sudah hancur itu, suara kerusakan dan suara benda-benda berat jatuh terdengar terus-menerus, menambah kepanikan yang luar biasa.

Lira mengangkat kepalanya dengan susah payah, matanya perih karena debu, tubuhnya terasa sakit di mana-mana. Hal pertama yang ia cari adalah sosok Bu Sumi yang tergeletak tidak jauh darinya.

“Bu Sumi! Bu Sumi, kamu baik-baik saja?!” seru Lira panik, merangkak cepat mendekati wanita tua itu.

Bu Sumi mengerang pelan, perlahan mengangkat kepalanya yang berdarah sedikit di pelipisnya. Wajahnya pucat pasi, matanya kabur, namun saat melihat wajah cemas Lira di depannya, ia tersenyum lemah dengan air mata yang bercampur debu.

“Aku… aku baik-baik saja, Nona… Aku masih hidup… Kita selamat…” gumam Bu Sumi dengan suara tersendat.

Lira segera memeluk tubuh Bu Sumi dengan erat, air mata bahagia dan lega mengalir deras di pipinya yang kotor oleh debu.

“Syukurlah… Syukurlah kamu selamat, Bu… Aku kira aku akan kehilangan kamu juga…” isak Lira dengan suara gemetar.

Namun kelegaan itu tidak berlangsung lama. Suara teriakan orang-orang terdengar dari lantai bawah, disusul suara langkah kaki banyak orang yang berlari tergesa-gesa naik ke lantai dua.

“Ada ledakan! Ada kebakaran di atas!”

“Cepat selamatkan Nona Lira dan Bu Sumi!”

“Tolong! Cepat ke sana!”

Di antara keributan itu, tampak sosok Pak Darto berlari paling depan, wajahnya tampak kaget dan panik yang luar biasa, namun di balik keterkejutan itu, ada kilatan rasa kecewa yang samar terlihat di matanya, rasa kecewa karena rencana pembunuhan itu gagal total.

Saat melihat Lira dan Bu Sumi yang tergeletak di lantai dengan kondisi masih hidup, Pak Darto berhenti melangkah sejenak, napasnya terengah-engah, sebelum akhirnya ia segera berlari mendekat dengan wajah pura-pura cemas yang berlebihan.

“Ya Tuhan! Nona Lira! Bu Sumi! Kalian tidak apa-apa?!” seru Pak Darto keras, lalu bersiap ingin mengangkat tubuh mereka berdua.

Namun Lira segera menarik tubuh Bu Sumi ke belakang, menjauh dari jangkauan tangan lelaki itu. Matanya menatap Pak Darto dengan pandangan yang penuh kebencian dan kecurigaan yang tidak lagi disembunyikan. Ia sudah tahu semuanya. Orang ini adalah pengkhianat, orang ini yang membantu Tuan Handoko memasang bom itu, orang ini yang berniat membunuhnya malam ini bersama tuannya yang kejam itu.

“Jangan sentuh kami!” bentak Lira dengan suara keras dan tajam, membuat Pak Darto tersentak mundur kaget. “Kamu pikir aku masih tidak tahu siapa kamu sebenarnya, Pak Darto? Kamu adalah mata-mata, kamu adalah kaki tangan Tuan Handoko! Kamu yang membantu dia memasang bom di kamarku, kamu yang berniat membunuhku malam ini bersama dia! Jangan berpura-pura peduli lagi di depan mataku, aku sudah muak melihat wajahmu yang penuh kepalsuan itu!”

Kalimat itu meledak seperti petir di tengah keributan. Semua orang yang ada di sana—para pelayan, tukang kebun, dan pekerja rumah lainnya—seketika terdiam kaget, saling bertatapan dengan wajah tidak percaya. Selama ini Pak Darto dikenal sebagai orang yang setia, tegas, dan sangat dihargai oleh almarhum Tuan Ardiansyah. Tidak ada yang menyangka bahwa lelaki itu ternyata adalah pengkhianat besar yang diam-diam bekerja untuk menghancurkan keluarga itu.

Wajah Pak Darto berubah menjadi pucat lalu merah padam, keringat dingin mengalir deras di pelipisnya. Ia tahu kedoknya sudah terbongkar sepenuhnya, tidak ada gunanya lagi berpura-pura baik. Perlahan, wajahnya yang tadi sopan dan cemas itu berubah menjadi dingin, tajam, dan penuh kebencian yang sama sekali tidak disembunyikan lagi. Ia tidak lagi menunduk hormat, tidak lagi bicara halus, melainkan menatap Lira dengan pandangan jahat yang mengerikan.

“Kamu memang wanita yang cerdas dan berani, Nona,” ucap Pak Darto dengan suara rendah dan kasar, nada bicaranya sudah berubah total menjadi kasar dan tidak sopan sama sekali. “Sayang sekali… kecerdasan dan keberanianmu itu tidak akan membawamu ke mana-mana. Kamu berhasil lolos kali ini, tapi kamu tidak akan bisa lolos selamanya. Tuan Handoko tidak akan pernah berhenti mengejarmu sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan, dan sampai nyawamu melayang sama seperti nyawa ayah dan ibumu yang bodoh itu.”

Orang-orang di sekitar terkejut mendengar pengakuan itu, ada yang langsung marah dan ingin menyerbu Pak Darto, namun lelaki itu dengan cepat mengeluarkan sebilah pisau tajam yang tersembunyi di balik punggungnya, lalu mengacungkannya ke arah orang-orang itu dengan wajah galak.

“Jangan mendekat! Siapa pun yang berani mendekat, aku akan menikamnya mati!” ancam Pak Darto dengan suara mengerikan, lalu perlahan ia mundur selangkah demi selangkah ke arah tangga, sambil terus menatap tajam ke arah Lira. “Ingat kata-kataku, Nona Lira… Ini baru permulaan. Kematianmu sudah ditentukan, dan tidak ada siapa pun di dunia ini yang bisa menyelamatkanmu, bahkan anak kesayangan Tuan Handoko itu sekalipun!”

Setelah berkata demikian, Pak Darto segera berbalik badan, lalu berlari cepat menuruni tangga, melompat melewati orang-orang yang terkejut, dan berlari keluar dari rumah itu, menghilang ke dalam kegelapan malam secepat kilat, dibantu oleh orang-orang suruhan Tuan Handoko yang sudah menunggu di luar.

Semua orang terdiam terpaku, kaget dan marah bercampur menjadi satu. Mereka tidak menyangka bahwa orang yang selama ini mereka hormati dan percayai itu ternyata adalah musuh yang paling berbahaya dan kejam.

Sementara itu, api di dalam kamar Lira semakin membesar, lidah api merah mulai menjilat pintu-pintu kamar sebelah, asap hitam semakin tebal memenuhi seluruh lantai dua. Suara orang-orang mulai bergerak cepat, ada yang berlari mengambil air, ada yang berlari mencari selang air, ada yang membantu membawa Lira dan Bu Sumi turun ke bawah agar selamat dari jangkauan api dan asap beracun itu.

Lira dan Bu Sumi dibawa turun ke halaman depan rumah, duduk di atas kursi yang disediakan orang-orang, sementara beberapa orang segera datang memeriksa luka-luka kecil yang ada di tubuh mereka berdua.

Di luar sana, suara sirene mobil pemadam kebakaran terdengar dari kejauhan, makin lama makin keras, tanda bahwa tetangga sudah melaporkan kejadian itu dan bantuan sudah datang. Namun bagi Lira, itu bukan hal yang paling penting saat ini. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: Raga.

Ia selamat malam ini hanya karena peringatan tepat waktu dari Raga. Jika saja Raga tidak tahu rencana jahat ayahnya, jika saja Raga tidak memberitahunya secepat itu, ia dan Bu Sumi pasti sudah menjadi abu di dalam kamar itu sekarang. Raga kembali menyelamatkan nyawanya untuk kedua kalinya, dan nyawanya sendiri pasti berada dalam bahaya besar sekarang.

Tiba-tiba, dari balik kerumunan orang dan cahaya lampu sorot mobil pemadam kebakaran yang baru saja tiba, tampak sosok laki-laki berlari tergesa-gesa mendekat, napasnya tersengal-sengal, wajahnya penuh ketakutan dan kepanikan yang luar biasa. Pakaiannya kusam dan kotor, ada banyak goresan luka di lengan dan wajahnya, seolah ia baru saja bertarung atau lari mengejar nyawanya sendiri.

Itu Raga.

Begitu melihat sosok Lira yang duduk di sana dengan wajah penuh debu dan noda darah, Raga langsung berlari cepat dan berlutut di depan wanita itu, kedua tangannya gemetar memegang kedua bahu Lira, memeriksanya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan yang cemas dan takut setengah mati.

“Lira… Kamu selamat… Kamu benar-benar selamat…” bisik Raga dengan suara parau dan bergetar, air mata bahagia mengalir deras di pipinya yang kotor itu. “Syukurlah… Syukurlah kamu selamat… Aku kira aku sudah terlambat, aku kira aku sudah kehilangan kamu selamanya…”

Lira tidak bisa menahan diri lagi. Ia langsung menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Raga, menangis tersedu-sedu melepaskan semua rasa takut, rasa lega, dan rasa cintanya yang sudah tertahan sedemikian lama. Ia memeluk Raga seerat-eratnya, seolah takut jika ia melepaskan sedikit saja, pemuda itu akan lenyap dan hilang dari sisinya selamanya.

“Raga… Raga… Aku takut sekali… Aku kira aku akan mati malam ini… Terima kasih… Terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku lagi… Kamu kembali menyelamatkanku…” isak Lira dengan suara tersendat. “Tapi kamu kenapa begini? Kenapa ada banyak luka di tubuhmu? Apa yang terjadi padamu? Apakah Ayahmu yang melakukan ini padamu?”

Raga mengusap lembut rambut dan punggung Lira dengan tangan yang gemetar, mencium kening wanita itu berulang kali dengan rasa syukur yang luar biasa. Ia tidak peduli lagi dengan orang-orang yang ada di sekitar mereka, tidak peduli lagi bahwa semua orang sedang melihat dan memperhatikan mereka. Di saat ini, baginya hanya ada Lira di dunia ini, hanya ada keselamatan wanita itu yang paling berharga baginya.

“Ya, Lira… Ayahku… Dia yang melakukannya,” jawab Raga dengan suara penuh rasa sakit dan kemarahan. “Setelah dia mengirim orang dan bom ke sini, dia tahu aku sudah mencurigainya. Dia menangkapku, mengurungku di ruang bawah tanah rumahku, memukulku, dan mengancam akan membunuhku jika aku berani membocorkan rencananya sedikit pun. Dia marah besar karena aku berani membela kamu, berani melawan dia. Dia bilang aku anak durhaka, pengkhianat yang tidak tahu diri.”

Suara Raga pecah karena emosi, namun matanya menatap lurus ke mata Lira dengan keteguhan yang luar biasa.

“Aku dikurung, dipukul, disiksa… tapi aku tidak peduli. Aku rela menanggung semua rasa sakit itu, asalkan kamu selamat, asalkan kamu masih ada di sini di depanku. Aku berhasil kabur dari sana dengan susah payah, memanjat dinding tinggi, lari sejauh mungkin, hanya untuk memastikan kamu selamat, hanya untuk melihatmu sebentar saja.”

Semua orang yang ada di sekitar mereka mendengar cerita itu, dan rasa hormat serta rasa haru perlahan tumbuh di hati mereka. Mereka melihat betapa besarnya cinta yang dimiliki pemuda itu, betapa beraninya ia melawan ayahnya sendiri, menanggung siksaan dan bahaya, hanya demi menyelamatkan nyawa wanita yang dicintainya. Bahkan orang-orang yang tadinya masih curiga pada Raga karena ia anak Tuan Handoko, kini mulai melihat dengan jelas: Raga berbeda. Ia bukan seperti ayahnya yang jahat dan kejam. Ia adalah orang yang jujur, berani, dan penuh cinta serta hati nurani.

Namun suasana haru itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, suara deru mobil besar terdengar keras dari arah gerbang rumah, dan beberapa mobil mewah berwarna hitam masuk dengan cepat, berhenti tepat di halaman depan di tengah keramaian.

Pintu mobil terbuka, dan tampak Tuan Handoko turun dengan wajah yang gelap, penuh amarah yang meledak-ledak, diikuti oleh puluhan orang berbadan besar bersenjata kayu dan besi yang berdiri rapi di belakangnya dengan sikap mengancam.

Wajah Tuan Handoko merah padam, matanya melotot tajam menatap ke arah Raga dan Lira yang sedang berpelukan di sana. Ia tampak seperti seekor binatang buas yang sedang marah besar karena mangsanya berhasil lolos dan anak kandungnya sendiri malah menjadi musuhnya.

“RAGA!!!” teriak Tuan Handoko dengan suara menggelegar, mengguncang seluruh halaman rumah. “Kamu benar-benar sudah keterlaluan! Kamu berani kabur dari kurungan, kamu berani menghalangi rencanaku, kamu berani melawan ayahmu sendiri demi wanita pengganggu ini! Kamu benar-benar sudah tidak tahu diri!”

Raga perlahan melepaskan pelukannya pada Lira, lalu berdiri tegap di depannya, melindungi tubuh wanita itu dengan tubuhnya sendiri. Ia menatap ayahnya dengan pandangan yang tidak lagi takut, tidak lagi bimbang, melainkan penuh ketegasan dan keberanian yang mutlak.

“Ya, Ayah! Aku melawan Ayah! Aku melawan semua kejahatan yang Ayah lakukan!” teriak Raga balik dengan suara keras dan tegas, membuat semua orang yang ada di sana terkejut. “Aku tidak akan lagi diam melihat Ayah membunuh orang, menghancurkan nyawa orang lain, dan melakukan hal-hal keji yang tidak punya rasa manusiawi! Aku bukan lagi anak Ayah yang penurut dan bodoh yang mau menuruti semua perintah jahat Ayah! Mulai hari ini, aku bukan lagi bagian dari keluarga Ayah! Aku memutuskan hubungan darah dengan Ayah selamanya, karena aku malu dan jijik memiliki ayah yang kejam, pembunuh, dan tidak punya hati nurani seperti Ayah!”

Kalimat itu keluar dari mulut Raga dengan tegas dan jelas, seperti pisau tajam yang menghunjam tepat di dada Tuan Handoko. Pengakuan itu membuat seluruh orang yang ada di sana terdiam hening, bahkan napas pun tertahan. Memutus hubungan darah dengan ayah kandung sendiri adalah hal yang sangat berat, hal yang tidak mudah dilakukan siapa pun, namun Raga melakukannya dengan tegas demi kebenaran dan cintanya pada Lira.

Wajah Tuan Handoko berubah menjadi pucat pasi, lalu menjadi merah padam karena marah yang meledak habis-habisan. Ia merasa dipermalukan, dihina, dan dikhianati habis-habisan di depan ratusan orang yang ada di sana. Rasa gengsi, rasa malu, dan rasa marah bercampur menjadi satu, membuat akal sehatnya hilang seketika.

“Baiklah!!! Kalau begitu, kamu juga adalah musuhku sama seperti wanita itu!!!” geram Tuan Handoko dengan suara mengerikan, matanya melotot penuh kebencian. “Karena kamu sudah memilih dia daripada keluargamu sendiri, maka jangan salahkan aku kalau aku akan menghancurkanmu bersama-sama dengan dia sampai tidak tersisa apa pun! Kalian berdua akan mati malam ini, di sini juga!”

Tuan Handoko mengangkat tangannya tinggi-tinggi, lalu memberi isyarat pada orang-orang di belakangnya.

“Serang!!! Hancurkan semua orang di sini! Tangkap wanita itu hidup-hidup, dan bunuh siapa saja yang berani menghalangi!!!”

Orang-orang kasar itu segera berteriak keras, lalu bersiap menyerbu masuk ke halaman rumah dengan senjata di tangan. Suara kepanikan segera terdengar dari orang-orang di rumah itu, para pelayan, tetangga, dan petugas pemadam kebakaran segera mundur ketakutan, menghindari serangan orang-orang kasar yang ganas itu.

Namun di saat itu, Raga kembali berdiri tegak di depan Lira dan Bu Sumi, diikuti oleh beberapa orang pekerja rumah yang setia dan berani, serta beberapa tetangga yang sudah muak dengan kelakuan Tuan Handoko. Mereka berdiri membentuk barisan pelindung yang kokoh, siap bertarung habis-habisan untuk melindungi Nona Lira dan mengusir orang-orang jahat itu keluar dari sana.

“Maju saja kalau kalian berani!” teriak Raga dengan suara keras dan berani, matanya menatap tajam ke arah musuh yang jumlahnya jauh lebih banyak. “Selama aku masih berdiri di sini, kalian tidak akan bisa menyentuh sehelai rambut pun dari kepala Lira! Kalian harus melewati mayatku dulu sebelum kalian bisa menyakiti dia!”

Di halaman rumah yang diterangi cahaya api dan lampu sorot itu, pertarungan besar pun siap dimulai. Di satu sisi ada kekuatan jahat yang penuh kebencian, penuh kekuasaan, dan tidak punya belas kasihan. Di sisi lain ada kekuatan kebenaran, cinta, dan kesetiaan yang siap bertarung sampai titik darah penghabisan demi melindungi orang yang mereka cintai dan kebenaran yang mereka yakini.

Di tengah keributan dan ketegangan itu, Lira memegang erat tangan Raga, hatinya penuh rasa bangga, rasa cinta, dan rasa tekad yang kuat. Ia tahu, perang terbuka antara kebaikan dan kejahatan akhirnya pecah sudah, dan ia harus bertarung bersama orang yang dicintainya sampai kemenangan berpihak pada kebenaran.

Namun di sudut halaman yang gelap, mata Lira tiba-tiba tertuju pada arah gudang belakang rumah yang tertutup rapat, gudang yang menyimpan rahasia besar dan kemungkinan besar tempat tersembunyinya kalung peninggalan ibunya. Di saat ini, di tengah kekacauan dan bahaya yang mengancam nyawa mereka, tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang memanggilnya dari sana, sesuatu yang akan menjadi kunci akhir dari semua masalah ini.

 

(Bersambung ke Episode 9)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!