NovelToon NovelToon
Aku Pergi, Mas!

Aku Pergi, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Danie A

Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.

"Aku pergi, Mas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9

Celsi berjalan cepat keluar dari restoran. Dadanya masih panas. Dia marah sekali pada Rangga karna sudah menghina Aska. Dia juga marah pada dirinya sendiri karena terlalu mengikuti egonya.

Begitu sampai cukup jauh dan area restoran sudah tidak terlihat lagi, langkahnya melambat. Dia berhenti, lalu menoleh ke Azka.

"Ko..."

Azka memasukkan tangan ke saku celana.

"Hm?"

Celsi menarik napas.

"Maaf."

Azka diam menunggu. Celsi menunduk.

"Aku asal narik Ko masuk ke masalah pribadi aku."

Dia tertawa kecil, canggung.

"Harusnya aku nggak ngomong calon suami. Aku terlalu terbawa suasana... tadi itu... Aah, aku minta maaf. Itu aja. Aku minta maaf."

Azka hanya mengangguk pelan.

"Enggak masalah kok."

Celsi langsung tambah tidak enak.

"Beneran maaf. Rangga sampai ngehina Koko juga."

Azka menoleh.

"Santai aja. Aku juga cuma kurang suka sama mulut lemes mantanmu itu."

Celsi menghela napas. "Masalahnya, dia sampai menghina Koko mokondo."

Azka malah tertawa. "Iya, kok bisa ya dia mikir aku numpang hidup sama kamu?"

Celsi yang awalnya merasa tak enak, akhirnya malah ikut tertawa juga.

Azka mengusap perutnya.

"Udah ah. Masih laper nih. Tadi nggak jadi makan kan?"

Celsi menepuk jidatnya. "Ya ampun, maaf lagi, Ko!"

Azka tertawa.

"Jadi makan nggak nih?"

"Jadi. Koko mau makan di mana? Biar aku yang traktir. Sebehai permintaan maaf."

Aska terdiam sebentar, berpikir.

"Ke Geprek Cinta aja yuk."

Celsi kaget. "Hah? Kok malah ke tempat aku?"

Azka mengangkat bahu. "Kan favorit."

"Tapi..."

"Aku udah lama pengen makan lagi."

Celsi masih ragu.

"Tapi masa habis aku bikin drama terus makan di tempat aku."

Azka mengangguk santai.

"Ya bagus."

"Loh?"

"Jadi Teteh bisa traktir balik."

Celsi tertawa lagi.

Akhirnya mereka pergi ke geprek Cinta. Begitu sampai, Wati langsung melongo.

"Teh?!"

Joko ikut mendekat.

"Loh, Koko ini temannya Teteh ya, ternyata?"

Azka menunjuk.

"Tuh kan. Mereka kenal aku."

Celsi menggeleng sambil tertawa. "Enggak. Baru ketemu hari ini, kok."

"Eh, kirain. Koko ini langganan loh, Teh." Wati menimpali.

"See."

Celsi tersenyum.

"Biasa ya, Teh," kata Aska pesan menu yang biasa dia pesan.

"Siap ko!" Joko menempelkan tangan di keningnya.

Mereka duduk.

Azka pesan ayam geprek sambal matah level dua.

Saat makan, pembahasan kembali ke ruko.

Azka buka tablet dan menunjukkan detail.

Celsi mencatat serius.

Harga sewa.

Jangka waktu.

Renovasi.

Target pembukaan.

Sampai akhirnya Azka menuliskan angka.

Celsi diam.

Lalu mengernyit.

"Ko salah nulis?"

Azka santai.

"Enggak."

"Ini... murah banget."

Azka menunjuk.

"Diskon empat puluh persen."

Celsi langsung mengangkat kepala.

"Ko jangan bercanda."

Azka tertawa.

"Aku serius."

"Tapi kenapa?"

Azka menaruh sendok.

"Karena aku yakin."

Celsi diam.

Azka lanjut.

"Kalau Geprek Cinta buka di sana dan rame, area aku ikut naik."

Dia tersenyum.

"Ini investasi."

Celsi menggenggam pulpen pelan.

Lalu berkata pelan.

"Makasih ya, Ko."

Azka mengangguk ringan.

"Jangan gagal."

.

.

.

Di sisi lain.

Mobil berjalan pulang. Suasana diam. Vena menatap keluar jendela. Rangga fokus menyetir. Sampai akhirnya Vena bicara.

"Tadi dia bilang kamu kesal."

Rangga diam.

Vena menoleh.

"Yang cowok itu."

Rangga menarik napas.

"Udah lah."

"Tapi dia bilang kamu sampai mau mempengaruhi calon pasangan mantan istri."

Rangga mulai tidak nyaman. "Ngapain dibahas lagi?"

Vena tertawa kecil. "Kok sensi?"

Rangga langsung menoleh.

"Vena."

Vena ikut emosi. "Aku salah ngomong ya?"

Rangga diam. "Aku nggak mau bertengkar. Tapi, memang kita nikah karena sebuah kesalahan."

"Kesalahan? Jadi Mas anggap aku dan bayi ini kesalahan?" dada Vena turun naik oleh emosi. Rangga diam karena dia sendiri terlalu lelah dan marah. Setelah melihat Celsi tadi, merangkul dan marah saat Rangga menyebut mokondo.

Vena diam, menggigit bibir.

"Kalau dipikir-pikir lucu ya."

Rangga mulai kesal dengan istrinya. "Apanya?"

Vena menyilangkan tangan. "Dulu aku kasihan sama kamu."

Rangga menoleh cepat. "Maksudnya?"

Vena langsung bicara.

"Kamu bilang lelah setiap kali ditanya tentang anak, dan Kak Celsi selalu sedih."

Rangga diam.

Vena melanjutkan.

"Aku pikir kamu cuma belum ketemu orang yang tepat."

Rangga langsung mengeraskan rahangnya.

"Tapi sekarang aku hamil. Kupikir kita sudah bahagia karena ada anak ini," katanya sambil menyentuh perut yang membuncit itu.

Mobil jadi sunyi.

Vena menatap ke depan.

"Terus sekarang kamu malah keliatan kayak masih peduli sama mantan istri."

Rangga menginjak rem sedikit lebih keras.

"Udah cukup."

Vena tertawa sinis. "Kenapa marah? Berati bener ya apa yang dibilang Koko itu? Kamu masih mengharapkan kak Celsi?"

Sampai rumah. Mereka turun tanpa bicara.

Rangga masuk duluan. Vena memanggil.

"Mas!"

Rangga berhenti.

Vena menatapnya.

"Aku capek jadi orang yang harus terus buktiin kalau aku pilihan yang benar."

Rangga diam. Lalu masuk ke rumah. Entah kenapa hari itu dia malas bicara.

.

.

.

Hari berjalan.

Persiapan cabang baru dimulai. Celsi sibuk dari pagi sampai malam. memilih kursi dan meja, alat dapur. Percobaan memasak dan melatih pegawai.

Wati resmi jadi penanggung jawab cabang baru. Joko sampai keliling bilang dirinya sekarang kepala ayam.

Malam sebelum pembukaan, Celsi membuka ponsel. Dia mengirim pesan.

"Ko, besok launching. Kalau sempat datang ya."

Balasan datang tidak lama. "Oke."

Celsi tersenyum. Lalu menghubungi orang tuanya.

"Assalamualaikum, ayah."

"Wa'alaikum salam, Si. Gimana kabarmu?"

"Alhamdulillah, baik, yah. Ayah sama ibuk sehat kan? Di sana enggak ada apa-apa kan?"

"Sehat, Si. Di sini banyak apa-apa terjadi. Nggak usah dipikirin. Gimana usaha ayam geprekmu?"

"Alhamdulillah. Kemarin kan Celsi bilang mau launching kan?"

Bu Rahman tampak kaget, lalu menyela, "Jadi mau buka cabang baru, Si?"

"Iya, buk."

"Alhamdulillah."

"Besok datang ya. Aku ser lokasi."

"Iya. Pasti. Besok kami datang," ucap ibunya berjanji. Terselip rasa syukur dan bangga di hati bu Rahman.

.

.

.

Cabang kedua Ayam Geprek Cinta resmi buka. Spanduk besar terpasang. Orang mulai berdatangan. Pak Rahman berdiri lama melihat papan nama. Bu Rahman memegang tangan suaminya.

"Coba lihat."

Pak Rahman mengangguk.

"Anak kita hebat ya."

Celsi yang mendengar langsung mendekat.

"Udah jangan berdiri terus."

Dia menarik kursi.

"Ayah Ibu duduk aja. Hari ini tamu VIP."

Bu Rahman tersenyum. Pak Rahman melihat sekitar. Tampak beberapa pembeli sampai mengantri. Meja-meja penuh pelanggan yang menikmati ayam gepreknya.

"Ramai juga, ya, si?"

"Iya, Yah. Alhamdulillah. Beberapa pelanggan dari kedai utama," jelas Celsi.

"Dulu Ayah takut kamu nggak bisa bangkit."

Celsi tersenyum.

"Sekarang aku juga masih belajar."

"Enggak nyangka banget, ya Si. Ternyata penghianatan itu justru jadi titik balik buat kamu," ucap bu Rahman seraya mengusap kepala anaknya.

Tak lama dari arah depan, seorang pria tinggi memakai baju kasual masuk. Celsi refleks menoleh.

itu Aska.

"Bentar ya, Yah, Buk."

"Iya, santai aja, Si. Layani pembelimu."

Celsi mendekat, "Koko beneran datang."

"Penuhin janji."

"Anak-anak mana?" Celsi melihat ke belakang. Lalu kanan kiri.

Azka mengernyit, "Anak-anak?"

"Koko nggak ajak anak-anak?"

Aska masih bingung.

"Waktu itu kan Ko Azka bilang duda. Udah punya dua anak."

Azka menatap Celsi. Lalu tiba tiba tertawa. Celsi makin bingung. Azka sampai geleng kepala.

"Ya ampun. Aku belum nikah."

"Belum nikah?"

"dan nggak punya anak."

Dia mengeluarkan dompet. Lalu menunjukkan KTP. Celsi membaca.

Status: Belum Kawin.

Dia langsung membulatkan mata.

"Loh?!"

Azka masih tertawa.

"Waktu itu aku ngarang aja."

Celsi membeku.

"Kok ngarang?!"

Azka santai.

"Soalnya mantan kamu tuh, rese banget kan."

Celsi langsung malu. "Ya Allah..."

Azka tertawa.

Celsi langsung menutup wajah.

"Maaf."

Azka senyum.

"Udah dibayar pake sambal matah aja."

Lalu dia makan.

Dan seperti biasa.

Begitu selesai.

Dia angkat jempol.

"Gepreknya enak."

Celsi senyum.

Azka lanjut.

"Tapi sambal matah tetap juara."

Tak lama beberapa orang masuk.

Tiga.

Lima.

Delapan.

Mereka langsung pesan.

Azka melambaikan tangan.

"Tuh."

Celsi bingung.

"Itu siapa?"

"Temen."

Celsi terdiam.

Azka santai.

"Aku suruh datang."

Celsi menatap dia.

"Mereka suka Geprek Cinta."

Dadanya hangat.

Hari itu ramai.

Hari berikutnya juga ramai.

.

.

.

Minggu berganti.

Cabang baru berjalan sangat baik.

Siang itu Celsi sedang melayani pembeli. Pesanan penuh. Suara dapur ramai. Dia tersenyum menerima pembayaran.

"Aku ke depan dulu buang sampah ya."

"Iya, Teh."

Celsi membuang sampah kecil di tong depan dekat jalan raya. Tiba tiba...

BYUR.

Air dingin bercampur bau menyengat mengguyur tubuhnya. Celsi membeku. Bajunya basah. Rambutnya menempel.

Dan bau itu...

Busuk.

Orang orang langsung menoleh padanya, karena terlalu menarik perhatian. Ada yang merekam, ada yang hanya melihat, ada yang berbisik-bisik.

Celsi mengangkat wajah perlahan. Di depannya... seseorang berdiri sambil menatapnya penuh kebencian.

1
Ma Em
Semoga Celsi berjodoh dgn Aska dan bisa hamil agar tdk dihina terus sama keluarga Rangga juga sama Bu Weni .
Danie a: semoga ya kak😅
total 1 replies
Lyeend
buat apa lagi mau tunggu di sana Celsi. pergilah bawa diri dan move on
Sri Rahayu
apa itu palsu...sengaja suaminya buat agar punya alasan utk mencari pr lain 🙃🙃🙃....lanjut Thorr😘😘😘
Danie a: makasih kak. kaka masih ngikuti aja ya😭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!